Andi M. Ghalib: “Sampai Mati pun Akan Saya Tuntut…”

JAKSA Agung Andi Muhammad Ghalib bagai duduk di atas bara. Setelah pekan lalu Indonesian Corruption Watch (ICW) membongkar rekening pribadinya-berisi dana miliaran rupiah “sumbangan” sejumlah konglomerat, di antaranya ada yang sedang beperkara dengan kejaksaan-Ghalib bagai dibombardir dari segala penjuru. Kantornya setiap hari didemonstrasi-termasuk oleh wartawan karena Ghalib melarang tiga wartawan meliput di kantornya (akhir pekan ini, soal pencekalan ini dianggap selesai). Ia didesak mundur dari jabatannya. Presiden Habibie, yang sempat menerima delegasi ICW, juga didesak masyarakat agar secepatnya mengganti Andi Ghalib. Sesudah mengadukan ICW, kini Ghalib malah balik diadukan karena ia melontarkan kata-kata “seperti binatang” ke alamat Teten Masduki dari ICW.

Jaksa agung asal Bone, Sulawesi Selatan, berusia 53 tahun ini memang amat emosional menghadapi tuduhan suap dari ICW itu. Ketua Umum Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) ini bersikukuh tak bersalah. Meski masuk ke rekening pribadinya di Bank Lippo Cabang Melawai, Jakarta Selatan, ia berdalih, dana miliaran itu diperun-tukkan bagi pembinaan gulat. Kamis pekan lalu, ia balik mengadukan Teten Masduki dan Bambang Widjojanto dari ICW, yang dituduh telah memfitnahnya, ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya. Ia juga sampai bersumpah akan mengejar kedua pengacara itu hingga ke liang kubur.

Semula, majalah ini termasuk salah satu sasaran gugatannya. Seperti dilansir berbagai media, ada tiga hal yang dibantah Ghalib dalam pemberitaan TEMPO edisi lalu.

Pertama, soal keroyalannya menghabiskan US$ 43 ribu-dengan kurs Rp 8.000 per dolar, jumlah itu berarti hampir Rp 350 juta-di mal supermewah Tyson Corner, Washington, pada Maret lalu. Ghalib menyangkal telah berbelanja dan mengaku “cuma melihat-lihat.” Padahal, informasi ini diperoleh TEMPO dari seorang sumber tepercaya yang ikut mendampingi Ghalib sewaktu “jalan-jalan” di Tyson Corner itu.

Kedua, soal pembangunan rumah mewahnya di Ujungpandang yang ditaksir bernilai tak kurang dari Rp 1 miliar. Ghalib menyangkal bahwa rumah itu baru dibangun. Ia telah memilikinya sejak menjabat Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, tiga tahun lalu. Kebetulan, wartawan Biro TEMPO di Ujungpandang tinggal tak jauh dari sana. Ia memastikan pembangunan rumah itu baru rampung Februari lalu. Menurut keterangan beberapa tetangganya, rumah itu dibangun setelah Ghalib menjabat sebagai jaksa agung. Sebelumnya, tanah itu merupakan lahan kosong. Bangunan itu megah, berlantai dua, didominasi warna kuning hijau, dengan luas 25 x 30 meter persegi. Letaknya di Hertasning, salah satu kawasan termahal di Ujungpandang. Harga tanah di situ mencapai Rp 2 juta per meter persegi.

Ketiga, ia menyangkal bahwa istrinya telah membelanjakan anggaran Dharma Wanita Kejaksaan. Padahal, TEMPO sama sekali tidak pernah menulis hal itu. Yang ditulis TEMPO-dan itu lalu dibenarkannya-anggaran Dharma Wanita itu juga disimpan di rekening atas nama Andi Murniati, istrinya. Tapi, yang terpenting, Ghalib justru tak sepatah kata pun menyangkal kesahihan data rekening dan proses transfer itu.

Untuk mengonfirmasikan berbagai hal di atas, Kamis sore pekan lalu, wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarainya. Saat itu, Ghalib didampingi Direktur Hukum Angkatan Darat Brigjen P. Sihombing dan empat petinggi kejaksaan yang lain.

Suaranya kerap meninggi saat menjawab pertanyaan TEMPO, terutama kalau ia tengah berbicara soal harga diri. “Ini sudah menyangkut siri (harga diri),” katanya sambil terus mengisap rokoknya. Ghalib sangat sadar bahwa posisinya sulit. Saat wawancara berlangsung, di luar pagar Kejaksaan Agung berlangsung aksi demonstrasi memprotes pencekalan tiga wartawan di kejaksaan. Di Istana, Presiden Habibie juga tengah menerima rombongan ICW yang mengadukan Ghalib. Itu sebabnya, di tengah wawancara, berkali-kali ia memerintahkan kepada ajudannya, “Bilang, saya ingin menghadap Presiden!” Berikut ini kutipan wawancara sekitar satu setengah jam itu.

Anda diduga menerima suap. Apa tanggapan Anda?

Pada akhir Februari 1999 sampai awal Maret 1999, saya didatangi formatur PGSI dan diminta menjadi ketua. Saya menolak. Saya katakan bahwa saya sibuk. Rupanya, mereka menghubungi Pak Wismoyo dan kemudian Pak Wismoyo menelepon saya. “Saya tahu, mungkin Pak Ghalib tidak bersedia, tapi saya berharap Pak Ghalib bersedia menerima mereka di rumah. Saya tahu, Pak Ghalib adalah pejuang olahraga,” kata Pak Wismoyo ketika itu. Pak Wismoyo tahu bahwa saya pernah menjadi Ketua Harian KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Sulawesi Selatan. Saya cukup giat dan berperan dalam meningkatkan olahraga. Lantas, datanglah sekitar tujuh orang ke rumah saya, termasuk Pak Endro (Endro Sumarjo, Ketua Harian PGSI), sebagai tim formatur. Nah, karena merasa terpanggil dengan kata “pejuang olahraga”, saya menerima permintaan itu dengan syarat. Syaratnya, pengurusnya harus siap, terutama pembantu terdekat saya seperti sekjen (sekretaris jenderal), ketua harian, dan bendahara. Akhirnya, suatu hari kami mengadakan rapat untuk PGSI di ruang sebelah ini (Ghalib menunjuk ruang di sebelah ruang kerjanya).

Kapan rapat pertama itu?

Tanggal 22 Maret 1999. Waktu itu belum ada pelantikan pengurus. Setelah rapat, saya buatkan surat keputusan. Rapat itu membuat program, tapi keputusan yang paling penting adalah program untuk mengumpulkan dana abadi. Kalau tidak ada dana, pengurus sulit untuk dilantik. Akhirnya, program itulah yang didahulukan. Kemudian, kami cari nama-nama yang bisa menjadi ketua bidang dana dan juga bendahara. Untuk bendahara, ditunjuk Saudara Tahir Mayapada (salah satu komisaris Bank Mayapada). Waktu itu, Tahir Mayapada sangat gembira, bahkan mengusulkan agar ditunjuk wakil bendahara yang akan dipilihnya sendiri. Dia sendiri yang memilihnya. Maka, dipilihlah… siapa? (Sekjen PGSI yang juga Kepala Pusat Operasi Intelijen Kejaksaan Agung, Chaeruman Harahap, menjawab: Husein Djojonegoro.) Padahal, saya tidak kenal dengan yang namanya Husein. Tapi kok di Majalah TEMPO dikatakan bahwa saya yang meminta dia. Memang mungkin saja Saudara Tahir memakai nama saya untuk mencari wakil bendahara PGSI itu.

Apa keputusan rapat yang lain?

Nah, hari itu juga Tahir menelepon Bank Lippo untuk membuka rekening. Tapi saya tanyakan kepada mereka, “Dulu PGSI sudah punya rekening?” Mereka menjawab memang ada. Tapi rekening itu sudah tidak ada uangnya. Saya kan orang yang teliti, maka saya perintahkan memeriksa terlebih dahulu uang yang ada di rekening itu. Ternyata memang sudah tidak ada. Ya sudah, kita buka rekening baru untuk PGSI dengan nama saya.

Kok, dengan nama pribadi?

Memang rekening itu atas nama pribadi saya, tapi uangnya bukan untuk pribadi. Kan, untuk mengeluarkan uang dari rekening itu perlu ada yang teken. Kalau pakai nama “gulat”, nanti yang teken siapa? Tapi, kalau saya mengeluarkan uang, bendahara harus mengetahuinya juga. Hal itu disetujui rapat. Sebagai bendahara, Pak Tahir itu sangat baik. Dia berkeliling untuk mencari dana abadi. Siapa saja yang dihubungi oleh Pak Tahir, tentu saja, tanpa sepengetahuan saya. Jadi, nama-nama yang sekarang itu menyumbang, saya tidak tahu. Saya tidak menyuruh mereka menyumbang. Jadi, kedua orang itu, The Ning King dan Prajogo Pangestu, yang ada masalah dengan kejaksaan, bukan saya yang menyuruh untuk menyumbang.

Rapat pertama pengurus gulat bulan Maret 1999, tapi mengapa sudah masuk sumbangan untuk gulat sejak Februari 1999?

Wah, saya tidak tahu soal itu. (Ghalib lantas membuka TEMPO untuk mengecek tanggal pengiriman uang dari penyumbang.) Nah, ini yang saya tidak tahu. Kok, bisa begini? (Ghalib kembali melihat daftar sumbangan di TEMPO.) Tapi nomor rekeningnya lain, toh…!

Tapi sumber kami menyebut transfer Februari 1999 itu juga untuk gulat.

Itu berarti salah alamat. Ini akan kami cek.

Kalau Anda tidak meminta, kok, mereka bisa tahu nomor rekening Anda?

Lo, itu kan gampang. Buktinya, you tahu nomor rekening saya itu. Inilah kelemahan dari perbankan kita. Data itu bisa dicolong. Seharusnya tidak boleh terjadi.

Karena ada dua rekening Anda, mana yang untuk gulat dan mana yang untuk pribadi?

Nanti akan saya cek lagi. Tapi beginilah. Kalau ada orang yang menyumbang untuk you, apa you mau menuntut? Tapi kemarin saya juga memprotes, kok ada orang menyumbang, saya tidak tahu. Kan, bisa saja mereka berusaha untuk menjatuhkan saya.

Mana rekening yang Anda buka untuk PGSI tanggal 22 Maret 1999?

Yang ini (Ghalib menunjuk nomor rekening 502-30-80470-0 di Majalah TEMPO).

Sumbangan gulat pada bulan Februari juga masuk ke rekening nomor 502-1-52221-1 di bank yang sama. Itu rekening Anda?

Nanti saya cek ke bank dulu. Saya akan mengecek ke bank, dari mana data ini didapat.

Kok, ada penarikan dana untuk membayar kartu kredit?

Itu memang pribadi. Tentu saja kalau data di TEMPO benar.

Sumbangan dari The Ning King dan Prajogo Pangestu akan dikembalikan?

Itu kan uang untuk gulat. Tentu tidak akan saya kembalikan. (Chaeruman Harahap, Jamdatun Jacob T. Saleh, dan Direktur Hukum AD Brigjen P. Sihombing tertawa. “Kok, dikembalikan?” tanya mereka heran.) Kecuali ada sumbangan yang salah alamat, yang tentu akan saya kembalikan.

Apakah etis menerima sumbangan dari orang yang bermasalah dengan Kejaksaan Agung?

Saya tidak tahu siapa saja yang menyumbang. (Brigjen P. Sihombing ikut menjawab, “Kalau tahu sebelumnya, tentu saja tidak akan diterima. Masalahnya, Pak Jaksa Agung tidak tahu sebelumnya tentang asal usul sumbangan itu.”)

Menurut Anda sendiri, etiskah sumbangan itu?

Kalau saya tahu, tidak akan saya terima.

Sekarang Anda sudah tahu. Kok, tidak dikembalikan kepada The Ning King dan Prajogo?

Sekarang uangnya adalah uang PGSI. Nanti tim yang akan memutuskan. Nanti akan saya rapatkan. Bahkan, setelah masalah ini selesai, saya akan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PGSI.

Muladi yang meminta Anda mundur?

Pak Muladi itu kawan dekat saya. Saya tanya ke Pak Muladi tentang persoalan ini. Saya katakan bahwa sebenarnya saya sangat berat menerima jabatan di PGSI ini. Setelah dengan segala kesungguhan saya, dan saya berhasil, kok malah begini jadinya. Lebih baik saya mundur saja.

Apa tanggapan Ketua KONI Wismoyo Arismunandar?

Beliau mencoba mempertahankan saya. Tapi, kalau gara-gara ini nama saya dan keluarga saya jadi hancur, lebih baik saya mundur.

Kondisi Kantor PGSI sangat menyedihkan. Karpetnya pun bau….

Saya belum pernah ke kantor itu. Pak Sekjen yang pernah ke sana. (Sekjen PGSI menjawab, “Kantor itu memang akan segera kita pindahkan ke Gedung KONI Pusat. Sekarang sedang kami proses.”)

Anda akan menuntut Bank Lippo?

Bukan hanya Lippo Bank. Semua orang yang terlibat dalam pembocoran ini akan saya tuntut.

Siapa saja?

Pokoknya semuanya. Nanti dululah soal itu. Yang penting sekarang yang menyangkut pribadi saya. Saya ingin membantah pemberitaan soal rumah itu. Selama menjadi Wakil Gubernur Sul-Sel, saya sudah punya rumah di Ujungpandang.

Kapan dibangun?

Sejak dua atau tiga tahun yang lalu.

Akan menuntut ICW?

Bukan ICW-nya, tapi pribadinya. Yang saya tuntut Saudara Teten Masduki dan Saudara Bambang Widjojanto. Dua orang itulah yang saya tuntut.

Kok, tidak menuntut ICW?

Jangan. ICW itu kan lembaga, sama dengan kejaksaan. Saya tidak bisa menuntut lembaganya.

Apa tindakan Teten Masduki dan Bambang Widjojanto yang menyebabkan Anda menuntut mereka?

Pernyataan mereka di pers. Mereka melemparkan isu bahwa saya telah disuap oleh dua pengusaha tanpa mengonfirmasikannya kepada saya. Dia mengatakan saya disuap oleh The Ning King dan Prajogo Pangestu. Itu fitnah yang luar biasa.

Anda mengatakan akan menuntut sampai ke liang kubur….

(Ghalib langsung memotong.) Akan saya tuntut dia sampai ke mana pun. Sampai mati pun akan saya tuntut. Dunia-akhirat akan saya tuntut karena ini persoalan siri.

Anda juga akan menuntut TEMPO?

(Suara Ghalib mereda.) Nah, untuk urusan dengan Majalah TEMPO, begini. Untung sekarang you datang. Saya minta you mengembalikan nama baik saya. Itu saja. Selama ini saya baik dengan Majalah TEMPO. Tolong tulis itu. Saya pernah datang ke Kantor TEMPO. Saya lihat niat TEMPO baik. Sayangnya, Anda tidak mengeceknya ke saya. Itu koreksi dari saya. Tapi, kalau Anda tidak mengembalikan nama baik saya, saya akan melakukan langkah hukum. Sebab, beritanya tidak benar. Saya akan melihat hasil wawancara ini. Kalau TEMPO tidak meng-clear-kan nama baik saya, saya akan melakukan langkah hukum untuk TEMPO. Nama baik saya sudah dicemarkan. Tolong jelaskan ke masyarakat bahwa intel tidak pernah memeras, seperti kalimat you (TEMPO mengutip sebuah sumber di edisi lalu). Sudah puluhan orang intel yang menelepon saya. Mereka sakit hati. Orang-orang yang sudah pensiun pun bangkit dan sangat tersinggung dengan tulisan Saudara. Kalau ada yang memeras, mungkin itu oknum. Dan yang harus ditulis, sebagai pejabat intel, saya tidak pernah memeras. (Soal konfirmasi berita, wartawan TEMPO menjelaskan kepada Ghalib bahwa upaya mengontak Ghalib lewat humas kejaksaan sudah dilakukan sejak hari Kamis, empat hari sebelum TEMPO terbit. Tapi humas kejaksaan tak memberikan nomor telepon Ghalib di Austria. Koresponden TEMPO di Austria, Yenny Kutrowatz, juga tak berhasil mendapatkan waktu mewawancarai Ghalib.)

Anda tidak pernah menjadi oditur militer?

Di TEMPO juga disebutkan bahwa Pak Ghalib tidak pernah menjadi oditur. Sejak mayor, saya sudah menjadi penuntut umum. Saya ini seorang jaksa karir. Sejak mayor, letkol, hingga kolonel, saya sudah menjadi penuntut, sampai saya menjadi oditur jenderal, seorang jaksa agung ABRI. Kurang apa lagi pengalaman saya? Hakim yang menjadi sumber Anda adalah hakim yang tidak benar karena tidak tahu masalahnya. (Hakim sumber TEMPO itu di edisi lalu mengatakan, “Dia (Ghalib) tak pernah menjabat oditur, melainkan hanya sebagai penasihat Pangdam untuk masalah hukum.”)

Bagaimana dengan belanja di Washington itu?

Omong kosong itu. Saya memang jalan-jalan di sana. Saya melongo-longo, melihat-lihat saja. Kalau you ke luar negeri, pasti you juga mau melihat-lihat. Apakah kalau melihat-lihat, otomatis you membeli? Lagi pula, tidak masuk akal kalau saya berbelanja sebanyak US$ 43 ribu. Itu kan sama dengan Rp 400-an juta. Pakai kartu kredit juga tidak mungkin. Ada batas maksimal penggunaan kartu kredit.

Anda menyanggah soal rekening Dharma Wanita Kejaksaan Agung yang atas nama istri Anda?

Orang yang mengatakan hal itu kepada Anda adalah orang yang sentimen. Saya tahu orangnya. Tadinya rekening itu atas nama istrinya dan itu bertahan selama berbulan-bulan. Istri saya melarangnya.

Sebelumnya atas nama siapa?

Waktu itu atas nama Ibu Suhandjono (bekas Jaksa Agung Muda Bidang Tata Usaha Negara).

Benarkah rekening Dharma Wanita itu sekarang atas nama istri Anda?

Istri saya kan Ketua Dharma Wanita. Memang rekening itu atas nama istri saya. Tapi uangnya dipegang bendaharanya. Bendaharanya adalah Ibu Ramelan (istri Jampidsus). Dialah yang mengontrol pengeluarannya.

Anda juga punya rekening pribadi untuk operasional kejaksaan?

Sebagai jaksa agung, saya tentu punya dana operasional. Dan tentu saja itu harus atas nama saya. Kalau melakukan operasi rahasia, tentu saya memerlukan dana. Hal itu juga dilakukan oleh jaksa agung sebelum saya. Yang penting tidak tercampur dengan uang pribadi saya. Saya hanya melanjutkan pola yang dilakukan Pak Singgih, Pak Djono, dan lain-lainnya.

Banyak yang berpendapat bahwa pencampuradukan rekening pribadi dan rekening organisasi adalah hal yang salah. Apa pendapat Anda?

Saya sendiri ketika itu sudah membuat pernyataan bahwa saya tidak mau seperti itu. Tapi kan harus ada yang menandatangani. Nah, dengan menggunakan nama saya, secara administrasi menjadi mudah. Tapi, biar tidak saya salah gunakan, semuanya dicek oleh bendahara.

Anda pernah membeli emas sebanyak 6 kilo….

(Ghalib menyela.) Nah, itu tidak benar. Dari mana sumbernya? Kok, orang bisa menduga seperti itu? Saya mendengar ada toko emas yang dikejar oleh wartawan. Dia disuruh mengaku bahwa Ibu Ghalib membeli emas. Dia diintimidasi. Ada di Majalah TEMPO ini. Kalau kita membeli sesuatu, masa kita boleh memaksa orang untuk mengatakannya? Emangnya uangnya dari perampokan atau dari korupsi? Ini sudah tidak benar. (Wartawati TEMPO memang mengecek ke toko emas itu, tapi jelas tanpa intimidasi. Sumber kami yang lain ada di kejaksaan.)

Gaya hidup Anda berkesan mewah?

Saya pernah bertugas di luar negeri. Kalau saya mau bergaya hidup mewah, kesempatan sudah banyak. Sebagai jaksa agung, saya termasuk yang biasa saja. Bahkan, di kalangan perwira, saya termasuk yang sederhana dibandingkan dengan yang lain. Saya tidak berlebihan.

Tapi apa benar gaji Anda sebagai jaksa agung Rp 7 juta?

Ya… kurang-lebihlah.

Anda sudah membicarakan kasus Anda ini dengan Presiden Habibie?

Saya tentu melaporkan ke Presiden Habibie. Saya laporkan bahwa saya difitnah, bahkan bukan cuma saya, tapi seluruh keluarga saya. Tolong tulis, sebagai orang Ujungpandang, ini sudah siri. Saya benar-benar dipermalukan. Karena persoalan siri, saya akan menuntut orang yang mempermalukan saya.

Kapan Anda melaporkan ke Pak Habibie?

Bukan melaporkan, cuma mengatakan saya begini, begini…. Saya melakukan begini, Pak. Dan saya akan melakukan tindakan begini. Tidak ada diskusi. Beliau pasti sudah baca di koran.

Kapan persisnya?

Waktu saya menghadap bersama Pak Muladi.

Apa tanggapan Pak Habibie?

Selesaikan secara hukum. Pak Habibie adalah orang yang sangat reformis dalam hukum. Karena itulah Pak Habibie meminta agar diselesaikan secara hukum. Makanya, hari ini saya datang ke Polda untuk melaporkan masalah ini. Kurang apa lagi? Seorang jaksa agung mendatangi Polda.

Apakah Pak Habibie meminta Anda mundur?

Jangan begitu pertanyaannya. Saya bisa menjelaskan semua uang itu kepada Bapak Presiden.

Banyak yang meminta Anda mundur, bagaimana?

Saat ini saya sedang dalam keadaan difitnah dan dihujat. Sebagai pejabat, nama baik saya dicemarkan. Nah, kalau saya mundur, itu berarti saya menerima sesuatu yang belum jelas. Saya mau menjelaskan semuanya dulu, nama baik saya, istri saya, dan keluarga saya. Setelah clear, baru saya akan mengambil sikap. Jabatan ini tidak abadi. Yang abadi adalah nama kita.

ICW meminta Anda mundur, bagaimana?

Itu hak mereka. Bagi saya, jabatan ini untuk apa. Tapi semuanya harus clear dulu. Itu uang siapa. Prinsip hidup saya, segala sesuatu yang saya terima harus bersih, harus secara wajar, dan juga harus halal.

Apakah Pusat Polisi Militer (Puspom) mengirimkan surat panggilan kepada Anda?

Saya yang proaktif. Karena Indonesia adalah negara hukum, saya menuntut balik orang-orang itu. Yang lebih hebat dalam sejarah republik ini, seorang jaksa agung mendatangi polisi secara langsung. Saya merasa sebagai seorang reformis, saya tidak lagi pro-status quo. Makanya, saya datang sendiri.

Biar penyelidikannya fair dan obyektif, bagaimana kalau Anda diminta mundur dulu?

Kalau logika itu dipakai, itu sudah bergeser dari konsep negara hukum. Nanti semua pejabat yang tidak disenangi bisa dilaporkan dan semuanya harus turun. Presiden, menteri, gubernur dilaporkan korupsi dan harus turun. Habis semua pejabat kita.

Sebagai jaksa agung, mungkinkah Anda menyatakan diri sebagai tersangka agar rekening Anda bisa diperiksa?

Apa masalahnya? Saya bisa mengeluarkan surat perintah itu agar rekening saya diperiksa.

Teten Masduki melaporkan Anda ke Markas Besar Kepolisian RI karena diancam dan disebut sebagai binatang….

(Ghalib kembali menyela.) Saya tidak menyebut Teten. Yang saya sebut sebagai binatang itu adalah perbuatannya, perbuatan yang tanpa mengonfirmasikannya ke saya. Itu fitnah luar biasa.

Teten itu manusia atau binatang?

Kalau manusia, kan, perbuatannya tidak begitu, dong. Jangan menuduh saya disuap. Tidak mungkin itu.

Bagaimana tanggapan keluarga Anda soal skandal ini?

Keluarga saya, anak-istri saya, malu. Bahkan, seluruh keluarga saya di Sulawesi Selatan merasa malu. Kejaksaan pun dipermalukan. Kemarin ada laporan dari Medan bahwa seorang anak jaksa disebut oleh teman-temannya, “Jaksa koruptor… jaksa koruptor….”

Sewaktu sidang kabinet kemarin, apakah ada menteri lain yang bertanya kepada Anda soal kasus “gulat” ini?

Semua menyatakan prihatin, apalagi setelah membaca TEMPO. Semua orang tahu bahwa hidup saya begini. Kalau you menulis bertentangan dengan kenyataan, majalah Anda yang hancur.

Ada bukti telah terjadi pemerasan di Hutama Karya oleh jaksa sebesar Rp 10 miliar?

Kalau memang ada dan informasi dari Hutama Karya itu benar, Jamwas (Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan) kami akan bertindak tegas. Tentu saja itu harus disertai dengan bukti dan fakta yang kuat. You tahu sendiri bahwa sekarang ini banyak orang yang sentimen kepada kejaksaan. Makanya, banyak orang yang melaporkan.

Jamdatun (Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara) Jacob T. Saleh memprotes ke TEMPO: “Saya menerima laporan dari anak buah saya yang bernama Faried Harianto. Dia mengatakan bahwa dia merasa diinvestigasi oleh TEMPO. Rumahnya di Madura didatangi, bahkan difoto segala.”

Bagaimana dengan suap Rp 10 miliar di Hutama Karya itu?

Jampidsus (Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus) Ramelan menjawab, kalau jumlahnya sekitar itu, mungkin itu adalah uang untuk barang bukti. Saya tidak ingat persis. Tapi, kalau tidak salah, barang buktinya sekitar Rp 9 miliar. Nah, mungkin itu uang yang diminta kejaksaan sebagai barang bukti.

About these ads

One Response

  1. really interesting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: