Bumi Persemaian Radikalisme

TAK putus dirundung malang, itulah nasib umat Islam di Filipina Selatan. Sejak awal kemerdekaan, tahun 1946, sejarah kaum minoritas Islam di “negeri Katolik” itu adalah kisah perang dan kematian.

Perang sempat berhenti begitu empat provinsi dijadikan daerah otonomi Islam pada 1996 dan Misuari, Ketua Gerakan Pembebasan Moro (MNLF), dinobatkan menjadi gubernurnya. Tapi, dua pekan lalu, konflik bersenjata kembali muncul begitu Misuari melakukan perlawanan baru, meski perlawanan tak didukung oleh semua faksi Islam, dan Misuari tertangkap sudah di Malaysia (lihat rubrik Luar Negeri, TEMPO 26 November-2 Desember).

Kondisi itu menjadikan kawasan Filipina Selatan, yang dihuni lima juta muslim (sekitar 7 persen penduduk Filipina), lahan subur tumbuhnya radikalisme yang mengatasnamakan Islam. Berikut profil kelompok perlawanan di Mindanao.

* Moro National Liberation Front (MNLF)

Pada September 1972, Presiden Ferdinand Marcos mengeluarkan Undang-Undang Perang, yang membuat sikap Manila terhadap Mindanao menjadi sangat represif. Pihak militer melucuti senjata kelompok muslim. Beberapa tokoh muda Islam yang telah mendapat pelajaran perang dari kelompok Islam radikal di Sabah, Malaysia, akhirnya mendirikan Moro National Liberation Front (MNLF). “Moro” merupakan sebutan bagi pemeluk agama Islam di Filipina. Nur Misuari, aktivis mahasiswa di Universitas Filipina, terpilih menjadi pemimpin gerakan.

Setelah perang yang memakan ribuan korban, pemerintah Filipina dan MNLF duduk satu meja. Pada Desember 1976, kedua pihak menandatangani “Perjanjian Tripoli”: gencatan senjata dan pemberian otonomi bagi Mindanao. Tapi, kesepakatan di ibu kota Libia itu tak bertahan lama. MNLF merasa otonomi yang diberikan hanyalah taktik untuk meredam pemberontakan. Celakanya, kesepakatan itu telanjur memecah-belah MNLF. Sebuah faksi garis keras yang belakangan menjadi Moro Islamic Liberation Front (MILF) menganggap MNLF mengingkari cita-cita kemerdekaan Mindanao.

Pada 2 September 1996, MNLF dan pemerintah Filipina kembali menandatangani ke- sepakatan, melahirkan Wilayah Otonomi Muslim Mindanao. Nur Misuari menjadi gubernur pertama wilayah yang meliputi empat provinsi itu.

Sikap kelompok yang diperkirakan memiliki pengikut dua juta orang ini terhadap Manila sebenarnya cukup moderat. “Yang penting, umat Islam Mindanao bisa hidup seperti warga Filipina lainnya,” kata Nur Misuari saat masih menjadi gubernur.

* Moro Islamic Liberation Front (MILF)

Salamat Hashim, lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir, pemimpin MILF ini, tetap berkeras, “Kami bukan orang Filipina. Kami adalah Bangsa Moro,” demikian ia berujar kepada Asiaweek.

Kelompok sempalan dari MNLF ini memiliki Bangsamoro Islamic Armed Forces (BIAF) berkekuatan sekitar 3.000 tentara, bersenjata M-16, granat, sampai ranjau darat. Meski begitu, Hashim tetap menyebut Nur Misuari sebagai “Brother Misuari”. Bahkan, terhadap kelompok Abu Sayyaf yang mengedepankan kekerasan, Hashim pun tak mengambil sikap permusuhan. “Sesama muslim itu bersaudara,” katanya.

* Kelompok Abu Sayyaf

Gerakan yang berbasis di Pulau Jolo, Tawi-tawi, dan Basilan ini didirikan oleh Abdurrajak Janjalani pada tahun 1991. Bekas mujahidin yang berperang melawan Uni Soviet di Afganistan (1980-1990) itu menganggap sikap MNLF dan MILF terlalu lunak. Dalam kontak senjata dengan polisi Filipina di tahun 1998, Abdurrajak tewas.

Khadafy Janjalani, adik kandung Abdurrajak, segera mengambil alih tampuk pimpinan. Belakangan, kelompok yang memiliki hubungan khusus dengan gerakan Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin ini makin ganas. Mereka tak lagi hanya bergerilya menuntut kemerdekaan, juga menculik warga sipil untuk menuntut tebusan jutaan dolar Amerika. Bila tuntutannya tak dipenuhi, kelompok dengan 700 orang bersenjata ini dengan enteng menghabisi nyawa para sanderanya. “Mereka bukan pejuang, cuma sekumpulan bandit,” kata Presiden Gloria Macapagal-Arroyo.

Bandit atau pejuang, yang jelas kelompok Abu Sayyaf tak mudah dibasmi. Sumber-sumber intelijen menyebutkan kelompok ini menyuap pejabat militer lokal dan mendapat dukungan rakyat miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: