Wiranto di Sana, Prabowo di Sini

KABUT misteri masih membekap Tragedi Mei 1998. Hingga kini, tragedi yang menurut Tim Gabungan Pencari Fakta telah menewaskan 1.217 orang itu tak jelas juntrungannya. Pelbagai versi cerita masih menjadi silang pendapat. Jenderal (Purn.) Wiranto dan Letjen (Purn.) Prabowo Subianto, dua tokoh utama drama berdarah itu, saling melempar opini publik. Keduanya telah merilis “buku putih” dengan versi yang berbeda.

Dalam buku Bersaksi di Tengah Badai, Jenderal TNI (Purn.) Wiranto bertutur soal sepotong perjalanan hidupnya. Buku yang diterbitkan pada April 2003 lalu itu dibuat sebagai “klarifikasi” atas berbagai tudingan miring kepadanya. Soal Tragedi Mei 1998, misalnya, Wiranto menghabiskan 11 bab khusus. Wiranto, yang kini menjadi calon presiden dari Partai Golkar, menguraikan latar belakang dan inside story huru-hara yang berbuntut tumbangnya rezim Soeharto itu.

Tak mau kalah, pada April 2004 lalu kubu Prabowo juga merilis buku soal Tragedi Mei 1998. Fadli Zon, yang dikenal sebagai “juru bicara” Prabowo, meluncurkan buku Politik Huru-Hara Mei 1998. Dalam buku setebal 172 halaman tersebut, Fadli Zon mengurai dan menjawab pelbagai tudingan terhadap Prabowo.

Berikut ringkasan kedua buku tersebut.

Kubu Prabowo menganggap keputusan Wiranto pergi ke Malang pada 14 Mei 1998 sebagai langkah aneh. Untuk mencegahnya, Prabowo mengaku telah delapan kali menghubungi Wiranto melalui telepon. Prabowo mengaku telah mengusulkan pembatalan acara di Malang. Dalam buku Politik Huru-Hara Mei 1998, Fadli Zon menyarankan kasus kepergian para jenderal ke Malang diselidiki lebih jauh. “Itu dapat mengungkap siapa dalang dan kambing hitam kerusuhan Mei 1998,” ucap Fadli Zon.

* Jenderal (Purn.) Wiranto (Bekas Menhankam/Pangab) Letjen (Purn.)

SOAL PENCULIKAN AKTIVIS
Wiranto menganggap aksi penculikan sembilan aktivis–antara lain Pius Lustrilanang, Andi Arief, dan Nezar Patria–sebagai langkah pribadi Prabowo. Mayjen Prabowo Subianto, yang ketika itu menjabat Danjen Kopassus, pada Februari hingga Maret 1998 menangkapi para aktivis secara sewenang-wenang. “Penculikan itu bertentangan dengan konsep kompromis-dialogis yang saya kembangkan,” ujar Wiranto.

SOAL PENEMBAKAN MAHASISWA UNIVERSITAS TRISAKTI
Penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 terjadi akibat suasana kacau saat demonstrasi. Sekitar pukul 16.45, tanpa komando Kapolres Jakarta Barat, pasukan Brimob menembaki mahasiswa yang berunjuk rasa. Dari atas jalan layang, pasukan Gegana juga ikut menembaki mahasiswa. “Empat mahasiswa meninggal dunia,” kata Wiranto, “Dan beberapa luka-luka.”

SOAL KERUSUHAN MEI 1998
Setelah penembakan mahasiswa Trisakti, Jakarta dan beberapa kota besar lainnya dilanda kerusuhan hebat. Akibatnya, 1.190 orang mati terpanggang kobaran api. Ribuan mobil dan ratusan toko hangus dibakar. Wiranto menyatakan peristiwa kelam itu sebagai “kehendak sejarah”. Dalam bukunya, Wiranto memastikan pelaku kerusuhan itu bukan dari ABRI. “Mereka penjarah, perampok, dan penodong,” kata Wiranto.

SOAL KEPERGIAN PARA JENDERAL KE MALANG
Pada 14 Mei 1998, saat Ibu Kota sedang dilanda kerusuhan hebat, Wiranto pergi ke Malang, Jawa Timur. Agenda Wiranto di Malang untuk melakukan serah-terima pimpinan Pasukan Pengendali Reaksi Cepat. Tapi Wiranto mengaku tak bermaksud membiarkan Ibu Kota yang kisruh menjadi tak terkendali. “Saat itu bukan zaman Romawi atau Majapahit,” kata Wiranto, “Panglima bisa mengendalikan komando dari mana saja.”

+++

* Prabowo Subianto (Bekas Danjen Kopassus dan Pangkostrad)

SOAL PENCULIKAN AKTIVIS
Buku Politik Huru-Hara Mei 1998 sama sekali tak memuat soal penculikan sembilan aktivis. Tapi, kepada Majalah TEMPO, Prabowo menyatakan penculikan tersebut sebagai operasi intelijen. “Saya melaksanakan tugas demi kehormatan Republik,” ujar Prabowo. Tapi Dewan Kehormatan Perwira (DKP), yang dibentuk Wiranto, akhirnya merekomendasikan pemecatan Prabowo dari militer aktif. Agustus 1998, dengan menggunakan satu tangan, Menhankam/Pangab Wiranto mencopot tanda pangkat Prabowo.

SOAL PENEMBAKAN MAHASISWA UNIVERSITAS TRISAKTI
Fadli Zon mempertanyakan sikap Wiranto yang tak mengusut penembakan dengan cepat dan tegas. Buktinya, baru tanggal 29 Mei 1998 Wiranto memerintahkan Kapolri Jenderal (Pol.) Dibyo Widodo supaya menyerahkan anggota Polri yang terlibat. Tapi, 11 Juni 1998 senjata kesatuan Brimob dan Gegana diserahkan ke Puslabfor Polri. “Banyak keganjilan dalam pengusutan kasus Trisakti,” ujar Fadli Zon

SOAL KERUSUHAN MEI 1998

Penembakan mahasiswa Universitas Trisakti menjadi pemicu meledaknya kerusuhan massa. Artinya, pengusutan kasus penembakan menjadi salah satu kunci mengungkap dalang Tragedi Mei 1998. Fadli Zon juga secara implisit menyebut ada “pembiaran” terhadap terjadinya kerusuhan massa.

Soal isu pemerkosaan massal, Fadli Zon menyatakan hal itu terlalu dibesar-besarkan. “Secara psikologis, hal itu tidak mungkin,” ujar Fadli Zon.

SOAL KEPERGIAN PARA JENDERAL KE MALANG
Kubu Prabowo menganggap keputusan Wiranto pergi ke Malang pada 14 Mei 1998 sebagai langkah aneh. Untuk mencegahnya, Prabowo mengaku telah delapan kali menghubungi Wiranto melalui telepon. Prabowo mengaku telah mengusulkan pembatalan acara di Malang. Dalam buku Politik Huru-Hara Mei 1998, Fadli Zon menyarankan kasus kepergian para jenderal ke Malang diselidiki lebih jauh. “Itu dapat mengungkap siapa dalang dan kambing hitam kerusuhan Mei 1998,” ucap Fadli Zon.

About these ads

5 Responses

  1. semoga Pak Wiranto dan Pak Prabowo Subianto menyadari bahwa mereka sedang di adu-domba . . Sebaiknya Pak Wiranto dan Pak Prabowo Subianto bersatu . . Bagi saya mereka berdua layak menjadi Presiden Republik Indonesia, hanya saja tidak ada dua Presiden dalam satu Negara . . Untuk Pak Wiranto dan Pak Prabowo Subianto, bersatulah memimpin Bangsa ini . . Maka saya yakin, tiap-tiap negara didunia akan memandang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara yang kuat terhadap gempuran hasutan pemecah-belah persatuan dan kesatuan . . Dan seperti kita semua pahami bahwa Persatuan dan Kesatuan adalah pondasi tak terkalahkan dari gempuran apapun . . demikian menurut pemikiran saya pak . . terimakasih.

  2. mudah2an bini atau anaknya si fadly zon di gangbang rame2 trus ntar gue jd org yg bilang “Secara psikologis, hal itu tidak mungkin”

  3. anjing emg fadli zon..enteng bgt klo pmrkosaan massal scr psikologis g mungkin..
    cb klo bini/ibu/sodara luh trmasuk slh satu korban pmerkosaan..msh bs g ente ngmg gt..??
    g ingt apa..smjk kjdian it bnyk gadis gila dmna2..mreka korban semua..

  4. Untuk yang memang bersalah, ingatlah, hukum karma itu ada, kalau tidak didunia, ya diakhirat

  5. Buat temen-temen WNI keturunan chinese lebih baik tidak pilih keduanya walaupun di belakang mereka ada Ahok dan Harry tanoe karena masih belum jelas. Kalau memang gentle lebih baik keduanya diadu di depan publik bicara mengenai kerusuhan mei jadi kita bisa menilai mana yang benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: