Subur Budhisantoso: “Saya Siap Digusur dari Partai”

PROFESOR Subur Budhisantoso, 67 tahun, kini menjadi meteor baru di jagat politik Indonesia. Ketua Umum Partai Demokrat ini salah satu figur yang menjadi narasumber penting bagi wartawan. Soalnya, Partai Demokrat, yang dipimpin Budhisantoso, berhasil meraih 57 kursi di parlemen–melebihi perolehan Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tokoh yang diusung Partai Demokrat, menjadi pemenang pemilu presiden 2004. “Saya berhasil menciptakan kendaraan politik buat SBY,” ujar Budhisantoso.

Laksana pohon, semakin tinggi, ia semakin diterpa angin. Budhisantoso, yang baru naik ke “tampuk kekuasaan”, langsung diterpa pelbagai masalah. Pekan lalu, misalnya, beberapa tokoh yang mengaku sebagai anggota Dewan Pendiri Partai Demokrat me-minta Budhisantoso turun dari jabatannya. Soalnya, usia guru besar antropologi UI ini dianggap tak menunjang dinamika partai yang makin kompleks. Belum lagi ancaman Koalisi Kebangsaan di parlemen, yang dinilai dapat membahayakan stabilitas pemerintahan SBY.

Untuk membahas polemik seputar Partai Demokrat dan persiapan pemerintahan SBY, wartawan Tempo Setiyardi pekan lalu mewawancarai Budhisantoso di rumahnya di kawasan Ciputat, Jakarta. Saat wawancara, beberapa tamu, termasuk yang mengaku pensiunan perwira tinggi TNI, antre untuk bertemu Ketua Partai Demokrat ini. Berikut ini kutipannya.

Anda dikabarkan akan dicopot dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat oleh dewan pendiri. Bagaimana kelanjutannya?

Saya termasuk pendiri Partai Demokrat. Sebetulnya dalam AD/ART partai tak ada istilah dewan pendiri itu. Partai Demokrat bukan perusahaan yang ada pendiri atau owner-nya. Memang ada yang merasa seperti mendirikan sebuah PT. Jadi, partai ini dianggap tempat mencari duit. Nah, karena merasa berkontribusi pada saat pendirian, mereka merasa menjadi owner. Ini menggelikan sekali dan saya tak mempedulikan mereka. Saya anggap anjing menggonggong, kafilah berlalu. Yang menyedihkan, teman-teman yang dulu mendorong saya menjadi ketua umum sekarang ikut menggoyang. Dulu mereka enggak mau jadi ketua partai karena takut uangnya terpakai. Tapi sudahlah, saya tak bisa bercerita lebih jauh karena akan membongkar borok partai.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Ventje Rumenkang, termasuk yang dicopot?

(Budhisantoso terlihat terdiam–Red.) Kami susah juga. Sekarang kami harus menaruhnya di tempat yang terhormat. Bagi saya pribadi, jabatan ketua umum partai ini bukan apa-apa. Saya hanya membuat kendaraan politik buat SBY. Setelah berhasil, saya sudah merasa cukup. Saya bekerja dengan ikhlas. Kalaupun akhirnya tergusur, ya, tidak apa-apa. Saya siap digusur dari partai. Saya bahkan sudah menyiapkan generasi muda untuk kelangsungan partai ini.

Mengapa “dewan pendiri” partai ngotot mengganti Anda?

Memang ada satu-dua orang yang mencoba menggusur saya. Mungkin mereka mabuk kekuasaan. Mereka juga sedang mabuk kemenangan. Sebagai antropolog, saya sangat mafhum dengan hal ini. Saya tahu bahwa banyak orang yang takut untuk maju. Tapi, kalau orang lain sudah berhasil, dia akan mencoba menjatuhkannya. Bagi saya, ini bukan hal pertama. Saya sudah beberapa kali akan dijatuhkan.

Apa tanggapan dari SBY?

Beliau sangat marah dan malu. Pak SBY minta hal ini segera diselesaikan. Tapi, sudahlah, mungkin kita menghadapi orang yang tak terpelajar. Mungkin mereka bergelar doktor, tapi honoris causa atau hororis causa, ha-ha-ha.

Benarkah kualitas pengurus dan anggota legislatif Partai Demokrat banyak yang buruk?

Benar, banyak yang tak jelas. Itu sekarang saya sadari. Saat menetapkan susunan calon anggota legislatif, terlepas dari saya dan SBY. Penyusunan itu dilakukan oleh orang-orang yang ingin memetik profit. Itu sebabnya ada kasus Daniel Hutapea (calon legislator Partai Demokrat dari Lampung yang tertangkap tangan oleh polisi sedang berpesta sabu-sabu–Red.). Saya langsung meminta ia dipecat karena tak ingin diganggu orang-orang bermasalah. Selain itu, ada sekitar lima caleg (calon legislator) yang memalsukan ijazah. Kasus-kaus ini semua terjadi karena waktunya mepet. Selain itu, kami merupakan partai baru.

Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki Partai Demokrat?

Orang yang selama ini membantu partai secara finansial akan kami akomodasi. Orang yang telah berjasa, tapi tak mampu mengikuti dinamika partai, akan kami beri tempat terhormat.

Memang ada persoalan. Orang-orang yang sejak awal membesarkan partai merasa bahwa banyak orang berduit tiba-tiba ingin masuk. Tapi kita tak boleh mengabaikan bahwa partai memang membutuhkan uang. Makanya, keduanya akan saya akomodasi. Soal jabatan, bisa dibuatkan. Partai ini kami yang membuat. Hingga kini jumlah anggota sudah 14 juta. Proses ini agak terhenti karena pemilu.

Koalisi Kebangsaan membuat anggota legislatif Partai Demokrat membelot saat memilih Ketua DPRD Jakarta. Apa yang terjadi di Partai Demokrat?

Saya menerima berita pembelotan itu saat sedang rapat dengan Pak SBY. Beliau sangat terkejut dan tak menyangka ada pembelotan. Tapi kemudian Pak SBY menyerahkan ke partai untuk mengurusnya. Sebenarnya ada empat orang yang terlibat, tapi yang benar-benar pasti ada dua. (Budhisantoso kemudian bercerita tentang siapa saja yang terlibat dan para penyuapnya. Tapi dia minta off the record–Red.)

Berapa besar uang suap untuk anggota DPRD dari Partai Demokrat?

Masing-masing dijanjikan Rp 300 juta-500 juta. Untuk mengungkap hal ini, saya melakukan investigasi yang sulit. Banyak orang yang memberi informasi, termasuk dari yang memberi uang. Saya bahkan punya saksi mata. Dia melihat rapat-rapat yang dilakukan. Selain itu, bekas mahasiswa saya yang di kepolisian juga ikut membantu menyelidiki kasus ini.

Koalisi Kebangsaan kini menguasai parlemen. Bagaimana Partai Demokrat yang mendukung SBY menghadapinya?

Sebenarnya kita harus melupakan kepentingan kelompok. SBY adalah presiden pilihan rakyat. Setelah memenangkan SBY, tugas rakyat sekarang ikut bertanggung jawab dalam mendukungnya di pemerintahan. Dukungan ini sangat penting. Tentu, di level politik praktis, kami juga melakukan sesuatu. Untuk menghadapi Koalisi Kebangsaan, kami membuat Koalisi Kerakyatan yang melibatkan partai-partai di parlemen.

Bukankah Koalisi Kebangsaan di DPR masih dominan? Bagaimana?

Sebenarnya saya tidak melihat Golkar dan PDI Perjuangan, pilar utama Koalisi Kebangsaan, sebagai musuh pemerintahan SBY. Hal ini tentu bila mereka melihat visi dan misi partai mereka sendiri. Tentu saja mereka bisa menjadi kekuatan untuk fungsi kontrol. Kita tahu bahwa kontrol sosial memang sangat diperlukan. Kalau becermin ke masa lalu, fungsi inilah yang telah dilemahkan Presiden Soeharto. Memang, di era Presiden Abdurrahman Wahid terjadi salah kaprah. Fungsi kontrol DPR semata-mata untuk menjatuhkan pemerintah. Sekarang saya berharap DPR meluruskan kebijakan yang keliru. Jangan justru akan membengkokkan yang lurus. Hidup berdemokrasi bukan berarti jegal-menjegal. Demokrasi tanpa aturan justru menimbulkan anarki.

Apakah Partai Demokrat takut menghadapi Partai Golkar dan PDI Perjuangan?

Awalnya kami memang berkecil hati. Soalnya, mereka memiliki segalanya–kekuasaan, uang, dan pengikut yang besar. Tapi, kenyataannya, rakyat menyadari hak-hak politik mereka. Buktinya, SBY, yang menjadi calon presiden kami, memenangi pemilu. Jadi, kita tak harus silau dengan partai besar seperti Golkar dan PDI Perjuangan. Kita justru harus memperhitungkan kekuatan rakyat.

Kekuatan politik tandingan presiden ada di parlemen. Bagaimana bila mereka menjatuhkan presiden?

Itu aturan lama, saat presiden masih dipilih MPR. Sekarang presiden dipilih rakyat secara langsung. Memang DPR bisa mengajukan impeachment untuk menjatuhkan presiden. Hal itu bisa dilakukan bila presiden melakukan pelanggaran berat dalam programnya. Tapi saya yakin hal itu tak akan terjadi. Soalnya, parlemen itu bukan berisi orang-orang yang hanya menjadi mesin partai. Kalau pemerintah mengajukan program untuk rakyat tapi ditolak parlemen, justru mereka yang akan dikecam rakyat. Bahkan merekalah yang akan digusur rakyat.

Bagaimana cara Anda menggunakan “kekuatan rakyat”?

Dengan cara melakukan komunikasi secara efektif dengan rakyat. Ingat, Presiden SBY merupakan presiden pilihan rakyat. Itu merupakan posisi yang sangat kuat dan legitimate. Tapi, kami tak hanya akan menggunakan kekuatan rakyat. Kami juga akan menggalang kekuatan di parlemen. Kalau tak ada recall, saya yakin sebagian besar anggota parlemen–termasuk Partai Golkar dan PDI Perjuangan–akan mendukung pemerintahan SBY. Saya sudah mendapatkan tawaran-tawaran dari mereka. Tapi, sementara ini, saya baru menampung dulu tawaran itu.

Mengapa Anda tak menerima secara terbuka tawaran anggota parlemen itu?

Soalnya, masih ada lembaga recall. Anggota parlemen yang tak sesuai dengan kebijakan partainya bisa dicopot. Makanya, kami tak bisa mengumumkan secara terbuka siapa saja anggota parlemen yang sudah merapat ke kami. Yang pasti, kami menyadari bahwa pasangan SBY-JK tak mungkin menjalankan program tanpa partisipasi masyarakat dan elite politik.

Anda berhasil “menggembosi” Koalisi Kebangsaan dengan meraih dukungan Partai Persatuan Pembangunan. Apa yang terjadi?

Ha-ha-ha, saya tak ingin menggunakan istilah “menggembosi”. Bagi saya, semua ini demi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Kami memang menawarkan program kepada PPP tanpa bujuk rayu. Kebetulan visi-misi Partai Demokrat (PD) dan PPP tak terlalu berbeda. Kami cuma berbeda dalam trade mark. PPP kemudian menyadari bahwa PD berada di pihak yang benar. Dari sinilah kemudian kami, dan beberapa partai lain, menetapkan Endin Soefihara sebagai calon Ketua DPR. Kami memang kalah karena Endin sebetulnya masih terlalu muda. Rupanya, senioritas itu masih berpengaruh. Walaupun kita ingin bersikap modern, kita masih dipengaruhi tradisi agraris.

Mungkinkah Koalisi Kerakyatan melakukan “rekonsiliasi” dengan Koalisi Kebangsaan?

Konsep Koalisi Kerakyatan sebenarnya tak muncul secara tiba-tiba. Hanya SBY yang sejak awal dicalonkan oleh lebih dari satu partai, yakni PD, PBB, dan PKPI. Kami sadar, untuk mencapai tujuan, kami harus menggalang semua potensi kekuatan bangsa. Kami tak ingin berkuasa sendiri. Untuk itu, kami harus melakukan rekonsiliasi. Jadi, kami akan merangkul semua pihak yang masih peduli dengan nasib bangsa. Mengatasi pelbagai persoalan negeri tak bisa dilakukan oleh beberapa partai politik saja.

Bagaimana dengan tokoh-tokoh yang punya stigma negatif? Apakah akan dilibatkan?

Kami tentu akan selektif. Orang-orang yang bermasalah harus diadili, baru kemudian bisa diampuni. Masyarakat tahu siapa saja mereka. Bank-bank juga punya daftar siapa saja yang mendadak jadi kaya. Kalau mereka mau mengembalikan semua uangnya, kita bisa memberi diskon hukumannya. Jadi, maling, pencoleng tak bisa bergabung begitu saja. Itu akan membuat Partai Demokrat rusak-rusakan. Sekarang kami memang masih menggunakan orang-orang berduit. Mereka dibutuhkan untuk membesarkan partai. Kalau saja sejak awal kami punya uang, saya lebih suka menjadikan orang-orang daerah, seperti guru yang berprestasi, menjadi calon legislator. Sayang, hal itu belum dapat dilakukan.

Apakah Partai Golkar termasuk yang akan diajak berekonsiliasi?

Secara institusional, kami tak mungkin mengajak Partai Golkar karena masa lalunya. Tapi, secara individual, masih banyak orang di Partai Golkar yang brilian. Apalagi dulu semua orang, termasuk saya, adalah Golkar. Sekarang ada Forum Pembaharu Partai Golkar. Kalau memang bisa berjalan, tentu kita bisa bekerja sama dengan Partai Golkar itu.

Partai Demokrat akan menjadi “partai pelat merah” yang kaya. Apa yang akan Anda lakukan?

Ya, sekarang memang banyak sekali orang yang datang. Biasalah, kalau lampu sedang terang, akan banyak laron yang datang. Banyak yang tiba-tiba datang. Tapi percayalah, kami sangat selektif dan tak mau menerima (uang) sembarangan. Kalau orang yang datang bermasalah, tak akan kami terima. Selama ini ada rumor tentang masuknya Tomy Winata. Saya pastikan hal itu tidak benar.

Tempo melihat banyak pengusaha papan atas di rumah SBY. Mengapa mereka tiba-tiba merapat?

Saya kira para pengusaha memang seperti itu. Hal itu merupakan cara untuk survival dan make a benefit. Itulah sebabnya akhir-akhir ini saya mengalami banyak guncangan. Pada awal membangun partai ini, tak ada orang yang mau bergabung, apalagi menjadi ketua umum. Sekarang banyak sekali tawaran yang masuk. Bahkan ada yang mau menggoyang jabatan Ketua Umum Partai Demokrat yang kini saya pegang. Inilah dunia politik, sebuah dunia yang banyak dihuni oleh oportunis dan money seeker.

Bagaimana cara menghadapinya?

Seperti sebuah mobil yang berjalan di jalanan yang macet, saya harus lurus saja. Saya tak mungkin berbelok-belok. Bila sudah mendapat jalan lengang dan mobil yang bagus, saya baru bisa melakukan aksi zigzag.

Apakah Anda dilibatkan dalam penyusunan kabinet?

Sampai sekarang saya tidak tahu apakah saya akan masuk kabinet atau tidak. Sama sekali belum ada pembicaraan. Memang insya Allah ada anggota kabinet yang berasal dari Partai Demokrat. Sebab, kalau tak ada, bukan ketua umumnya yang marah, tapi anggota partai yang akan merasa terhina. Pak SBY berjanji setelah pengumuman akan duduk bersama menentukan kabinet itu. Saya yakin dengan janji beliau itu.

Anda menerima usulan calon menteri?

Memang banyak yang ingin jadi menteri dan dirjen datang ke saya. Mereka menyampaikan proposal. Karena amanah, saya lanjutkan ke Pak SBY. Kalau tidak saya sampaikan, saya yang menanggung dosa. Saya tak menyeleksinya karena di sana nanti ada semacam komisi seleksi.

Banyak kelompok yang mendekati SBY. Bagaimana petanya?

Sesungguhnya satu-satunya orang yang dekat adalah Ibu Ani, istri beliau. Yang lain adalah working group yang membantu SBY. Saya memiliki kedekatan fungsional sebagai ketua partai. Pak Sudi Silalahi sebagai penasihat senior yang membina jaringan. Sedangkan kelompok Pak Joyo Winoto membina pemikiran. Secara berkala kami bertemu untuk saling bertukar pikiran.

Apakah Anda mengalami kesulitan untuk bertemu SBY?

Kalau mau nempel setiap hari bisa saja. Tapi kerja ketua partai tidak seperti itu. Memang ada orang dalam Partai Demokrat yang bilang saya tersisihkan. Bahkan itu diucapkan seorang guru besar. Saya bilang, “Sebagai guru besar, lebih baik membuat sebuah tulisan.” Kita harus pede. Saya tak mungkin setiap hari harus ikut di panggung. Sebagai ketua umum partai, saya harus tahu diri. Saya sering lebih mementingkan bertemu dengan kader daripada ikut acara seremonial dengan SBY.

Apakah Anda merasa ada orang-orang yang sudah memanfaatkan Partai Demokrat dan SBY?

Ya, ada orang yang selalu berfoto bersama SBY. Dengan foto itu, ia bisa pinjam uang ke sana-sini. Ini memang menyedihkan.

Ini soal pribadi. Bagaimana rasanya tiba-tiba menjadi orang terkenal dan supersibuk?

Ini memang merepotkan. Saya tak pernah membayangkan akan seperti ini. Sekarang jadwal saya sangat ketat dan padat. Sejak pukul lima pagi sampai pukul tiga pagi selalu ada orang yang ingin bertemu dengan saya. Ada orang yang sampai harus tidur di beranda rumah saya supaya bisa bertemu. Padahal saya sedang tidak di rumah. Sekarang di rumah pun ada penjaga bersafari yang diberi oleh partai. Kalau saya menelepon istri saya di rumah, bahkan harus lewat mereka. Soalnya, HP istri saya sering tulalit. Bahkan saya diprotes orang karena ikut antre beli soto di tempat langganan saya. Saya dibilang tak pantas makan soto di warung itu. Ini risiko menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: