Cermin Lopa buat Pejabat Republik

Setelah kepergian Lopa, masihkah ada pejabat bersih di negeri ini?
SUNGGUH mulia Tuhan memperlakukan Prof. Dr. Haji Baharuddin Lopa. Ia dipanggil sang Pencipta pada Rabu dini hari pekan lalu, tak berapa lama setelah menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci Mekah. Kepercayaan Islam meyakini, begitu seseorang selesai menjalankan ibadah itu, ia putih bersih dari dosa, sebersih bayi yang baru lahir. Continue reading

Shirin Ebadi: Agama Jadi Tameng Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Shirin Ebadi, 57 tahun, seperti telaga. Ia tenang, penuh percaya diri. Bahasa Prancis atau Inggrisnya lemah. Satu-satunya bahasa yang dikuasai hanya Parsi, bahasa ibu. Tapi itu ternyata tidak penting. Kita tahu, perempuan Iran yang meraih Nobel Perdamaian 2003 ini pekan lalu menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional soal nilai-nilai Islam di Jakarta.

“Islam bukanlah agama yang patriarkis. Orang-orang membuatnya seolah Islam berpihak pada laki-laki,” ujar Shirin Ebadi. Peserta seminar—antara lain Ketua Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif, Duta Besar Swiss George Martin, dan tokoh Islam Liberal Ulil Abshar Abdala—bertepuk tangan. Continue reading

Sutiyoso: Kalau Masyarakat Menggebuki, Saya Sudah Siap

Jakarta membuka tahun 2004 dengan sebuah perdebatan panas: busway. Dan siapa lagi bintangnya kalau bukan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Meski kerap mendapat hujatan soal pelbagai proyeknya, Sutiyoso selalu jalan terus—lihat saja proyek pemagaran Monas, air mancur Bundaran Hotel Indonesia, dan patung Jenderal Sudirman. Kini, Sutiyoso kembali meluncurkan proyek yang kontroversial: busway jalur Blok M-Kota. Bukan hanya kemacetan yang dipersoalkan, tapi juga hingga ke pohon palem plastik—yang tampaknya berfungsi sebagai lampu—yang “ditanam” di beberapa bagian bersama dengan shelter. Aduh, kenapa pula bukan pohon beneran aja? Demikian gerutu para aktivis lingkungan dan arsitektur tata kota.
Continue reading

Ali Sadikin : Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka

ALI Sadikin tak pernah lepas dari kontroversi. Bekas Gubernur Daerah
Khusus Ibu Kota Jakarta (1966-1977) ini kembali mengusung “ide liar”. Di
depan anggota DPRD Jakarta, bulan lalu ia mengusulkan agar bisnis judi di
Jakarta mendapat payung hukum. Sebab, “Pemda DKI Jakarta bisa mendapat uang
Rp 15 triliun per tahun,” ujar Ali Sadikin, mantap.
Continue reading