Ali Sadikin : Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka

ALI Sadikin tak pernah lepas dari kontroversi. Bekas Gubernur Daerah
Khusus Ibu Kota Jakarta (1966-1977) ini kembali mengusung “ide liar”. Di
depan anggota DPRD Jakarta, bulan lalu ia mengusulkan agar bisnis judi di
Jakarta mendapat payung hukum. Sebab, “Pemda DKI Jakarta bisa mendapat uang
Rp 15 triliun per tahun,” ujar Ali Sadikin, mantap.

Usulan legalisasi judi bukan barang baru bagi pensiunan letnan jenderal
marinir yang akrab disapa “Bang Ali” itu. Saat menjadi Gubernur DKI
Jakarta, dia pula yang melegalkan judi di Ibu Kota. Hasilnya, saat itu kas
DKI Jakarta mendapat gelontoran dana segar Rp 20 miliar per tahun. Uang itu
digunakan untuk membangun jalan, puskesmas, dan gedung sekolah.

Namun, zaman telah berubah. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kini
mendominasi DPRD Jakarta. Partai yang mengusung “semangat Islam” ini
jelas-jelas menolak legalisasi judi, apalagi sebagai sumber pendapatan
resmi Pemda DKI Jakarta. “Kami sadar kita butuh uang. Tapi tak harus
menghalalkan yang haram,” ujar Tri Wisaksana, Ketua PKS Jakarta.

Ali tak peduli. Penasihat Gubernur DKI Sutiyoso itu malah mengejek politisi
partai Islam hanya mencari popularitas dan jabatan. Seperti 34 tahun lalu,
ketika ia melegalkan judi di Jakarta, ia menantang. “Demi judi, saya rela
masuk neraka,” katanya.

Untuk mengupas polemik legalisasi judi dan pelbagai persoalan Ibu Kota,
wartawan Tempo Setiyardi dan fotografer Bernard Chaniago pekan lalu
mewawancarai Ali Sadikin. Meski hanya ditopang satu ginjal cangkokan,
lelaki kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927, itu masih sanggup melayani dua jam
wawancara. Berikut kutipannya.

 

Mengapa Anda mengusulkan agar judi kembali dilegalkan di Jakarta?

Saya ingin bersikap realistis dan tidak munafik. Ketika menjadi Gubernur
DKI Jakarta (1966-1977), saya melegalkan judi karena pemda tak punya
anggaran cukup. Padahal saat itu butuh banyak uang untuk membangun sekolah,
puskesmas, dan jalan. Alim ulama semua meributkan, tapi saya bilang ke
mereka, kalau mengharamkan judi, mereka harus punya helikopter. Soalnya,
jalan-jalan saya bangun dari uang judi. Jadi, jalan di Jakarta juga haram.

Jadi, Anda tahu bahwa agama sebenarnya mengharamkan judi?

Ya! Saya tahu judi itu haram. Tapi kita harus memikirkan masyarakat kecil.
Demi judi, saya rela masuk neraka. Tapi saya yakin Allah mengerti apa yang
saya perbuat. Saya jengkel dengan orang-orang yang mengaku Islam itu.
Mereka merasa dirinya malaikat. Mereka masih berpikir seperti abad ke-15.

Bagaimana potret judi di Jakarta sekarang? Apakah akan memberi kontribusi
besar?

Dari pelbagai sumber saya, jumlahnya mencapai triliunan rupiah per tahun.
(Ia menyebut nama-nama sumbernya, “Tapi jangan dimuat, off the record,”
katanya.) Kalau judi di Jakarta legal, Pemda DKI Jakarta bisa mendapat uang
sekitar Rp 15 triliun per tahun. Itu jumlah yang besar. Bisa untuk
membangun macam-macam. Untuk melanjutkan Proyek Banjir Kanal Timur,
mendalamkan sungai, membuat rumah susun, membangun jalan-jalan.
Proyek-proyek itu tak bisa ditunda lagi. Padahal pemerintah tak punya uang
untuk menjalankannya.

Siapa penguasa bisnis judi di Jakarta sekarang?

Jangan tanya saya. Tanyakan ke aparat keamanan yang sekarang jadi beking
mereka. Polisi pasti tahu siapa saja pemain yang ikut terlibat.

Bagaimana bila rakyat miskin ikut bermain judi?

Itu bisa diatur. Judi bisa ditujukan hanya untuk orang kaya etnis Cina.
Bagi orang Cina, bermain judi adalah budaya. Itu untuk membuang sial.
Makanya, dulu zaman Belanda kegiatan berjudi juga disahkan. Sekarang
sebetulnya banyak bisnis judi di Jakarta. Banyak aparat keamanan yang jadi
beking. Tapi kita ini orang munafik.

Tapi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang mendominasi DPRD Jakarta, tak
setuju usul Anda…

Alaaa, itu…. (Bang Ali mengeluarkan kata mengumpat?Red). Waktu saya
bicara soal judi di DPRD Jakarta, yang berani bicara cuma satu orang. Tapi
di surat kabar persoalannya jadi ramai. Kalau berani, suruh PKS bicara
dengan saya. Saya akan tanya, apakah mereka bisa memberikan pekerjaan ke
para pengangguran. Apakah bisa memberi uang Rp 15 triliun per tahun untuk
Jakarta. Kalau memang bisa, bolehlah PKS mengharamkan judi.

PKS juga ingin menghapuskan hiburan malam yang berbau maksiat?

Itu sikap sok-sokan. Mereka harus sadar kita hidup di abad modern. Jangan
merasa hebat dengan Islam-nya. Pemerintah, pengadilan, tentara, semua orang
Islam. Tapi toh korupsi nomor satu. Jadi, jangan sombong dengan
membawa-bawa Islam. Kalau cuma bicara sambil mengutip ayat, itu cuma untuk
mencari popularitas. Mereka mau jadi penguasa.

Apakah Anda juga setuju dengan lokalisasi prostitusi?

Ya. Saya yang membuat lokalisasi di Kramat Tunggak. Soalnya, ketika itu
banyak berkeliaran “becak komplet” yang isinya wanita tunasusila. Daripada
berkeliaran di jalan, lebih baik dibuat lokalisasi khusus. Sekarang juga
banyak ABG di mal-mal yang menjadi wanita tunasusila. Mengapa tidak kita
lokalisasi saja? Itu lebih baik. Saya heran Pemda DKI dan DPRD menutup
Kramat Tunggak. Saya sudah bilang ke Sutiyoso, “Memang nanti Sutiyoso masuk
surga. Kalau saya, sih, akan masuk neraka.”

Anda juga mengusulkan konsep megapolitan, kesatuan Jakarta dan kota-kota di
sekitarnya. Apa ide dasarnya?

Kota-kota kabupaten itu?Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok?pembangunannya
harus disatukan dengan DKI Jakarta. Konsep ini telah dirintis sejak zaman
Bung Karno. Belakangan, kita mengenal sebutan Jabotabek. Kalau perencanaan
pembangunannya bisa disatukan, kita akan memiliki konsep yang terpadu.
Mereka dapat saling menunjang.

Apakah mungkin?

Sangat mungkin. Saya mengirim surat ke Presiden Yudhoyono untuk memberi
masukan soal ini. Saya dan Sutiyoso lalu diterima Presiden membicarakan
konsep ini. Pada prinsipnya, Presiden mendukung. Beliau bahkan sudah
terlihat akan bergerak ke arah usulan itu. Untuk menjalankannya, Presiden
bisa membuat keppres. Tapi akan lebih baik bila pemerintah mengusulkan
sebuah undang-undang tentang megapolitan itu.

Mengapa perencanaan pembangunan Jakarta dan kota sekitarnya harus jadi
satu?

Agar terintegrasi. Banyak contoh kasus akibat perencanaan yang tak sinkron.
Misalnya persoalan pabrik pengolahan sampah di Bojong, Bogor. Mereka tak
mau wilayahnya dibuat jadi pabrik sampah. Padahal Jakarta tak punya tanah
untuk mengolah sampah. Mereka tak tahu bahwa pabrik sampah Bojong dibuat
perusahan Jerman. Semua sampah diangkut truk khusus yang tertutup. Tak ada
sampah yang ditimbun di tanah. Semua akan diolah dalam pabrik menjadi batu
bata. Pabrik itu membutuhkan 1.300 pegawai yang bisa direkrut dari
masyarakat sekitar. Penolakan itu karena ada yang menghasut. Mungkin juga
karena melihat kasus di Bantar Gebang, Bekasi. Padahal konsepnya sangat
berbeda.

Apakah konsep megapolitan akan mencaplok wilayah Jawa Barat dan Banten?

Konsep ini tak mencaplok wilayah Jawa Barat dan Banten. Sebagai orang
Sunda, saya tak setuju kalau Jakarta mengambil wilayah Jawa Barat. Konsep
ini untuk menyatukan perencanaan pembangunan Jakarta, Bogor, Tangerang,
Bekasi, dan Depok. Semua jadi satu konsep dan satu arah. Soal administrasi,
mereka masih ikut Jawa Barat dan Tangerang ikut Banten. Pajak daerah masih
untuk mereka.

Mengapa tanggung? Bukankah lebih mudah bila dilebur jadi satu provinsi?

Memang ada yang ekstrem. Bupati Bekasi, misalnya, ingin jadi bagian
Jakarta. Selama ini mereka merasa ketinggalan. Tapi saya tak ingin Jawa
Barat kehilangan wilayah. Jawa Barat juga punya sejarah panjang yang harus
dijaga. Sebagai orang Sunda, saya merasa terhina bila wilayah Jawa Barat
dicaplok Jakarta. Saya tak ingin kasus Banten terulang. Karena Bandung tak
memperhatikan Banten, lalu mereka jadi provinsi sendiri. Tapi sekarang
Banten tak maju-maju. Gubernurnya malah jadi tersangka korupsi.

Bila konsep megapolitan dijalankan, apa keuntungan kota-kota di sekitar
Jakarta?

Jakarta harus membantu keuangan Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Bisa
saja Jakarta memberi tiap kota Rp 500 miliar per tahun. Jakarta juga bisa
memberi bantuan tenaga ahli. Kita harus saling mengisi. Jadi, ini akan
saling menguntungkan. Saya sudah membicarakan konsep ini di DPRD Jakarta.
Sekarang menunggu reaksi mereka.

Konsep Anda sejalan dengan gagasan Gubernur Jakarta Sutiyoso?

Saya memang penasihatnya. Saya bilang ke Sutiyoso untuk merencanakan
Jakarta dengan matang. Dulu saya membuat master plan Jakarta untuk 20
tahun. Itu membuat saya dibanggakan oleh masyarakat Jakarta, bahkan oleh
rakyat Indonesia. Sayangnya, hal itu tidak dilakukan gubernur selanjutnya.
Padahal membangun sebuah kota tidak mudah.

Mengapa Anda mau menjadi penasihat Sutiyoso?

Saya tahu dia dimusuhi banyak orang. Dia juga kontroversial. Tapi saya suka
Sutiyoso karena keberaniannya. Dia juga punya ide untuk Jakarta. Memang
Sutiyoso harus menerima pelbagai risiko. Selain itu, saya merasa Sutiyoso
orang yang mengerti adat ketimuran. Dialah satu-satunya Gubernur DKI
Jakarta yang pada awal jabatannya tahun 1996 menemui saya. Ketika itu
Soeharto masih memusuhi saya. Sutiyoso datang untuk minta masukan. Gubernur
yang lain tak pernah melakukan hal itu. Mereka tak tahu adat-istiadat.
Padahal, kalau mereka datang, mereka yang untung. Itulah sebabnya dulu saya
juga mendatangi bekas gubernur dan wali kota di DKI Jakarta untuk minta
masukan mereka.

Anda resmi diangkat sebagai penasihat Gubernur DKI?

Ya. Sebagai gubernur, dia berhak mengeluarkan SK pengangkatan penasihat
gubernur. Dengan jabatan itu, setiap bulan saya mendapat gaji Rp 600 ribu.
Itu saya anggap tambahan saja. Soalnya, sebagai pensiunan gubernur,
menteri, dan tentara, saya mendapat sekitar Rp 5 juta. Selain itu, pemda
juga memutuskan saya tak perlu membayar listrik dan air PAM. Saya dianggap
sebagai tokoh masyarakat.

Apa pendapat Anda soal kondisi Jakarta sekarang?

Makin berat. Kemacetan lalu-lintas terjadi di mana-mana. Saya orang yang
tidak sabar dan bersikap kepala batu. Makanya saya berharap konsep
megapolitan itu bisa menolong. Kota-kota di sekitar Jakarta harus menjadi
satelit yang mandiri. Jadi, mereka harus mengurus kotanya. Ada perkantoran,
industri, dan lain-lain. Kota Rotterdam di Belanda, misalnya, jumlah
penduduknya turun karena ada kota-kota satelit di sekitarnya.

Anda pernah membuat perencanaan pembangunan Jakarta untuk 20 tahun. Mengapa
tak jalan?

Gubernur Tjokropranolo, penerus saya, melakukan gerakan
de-Ali-Sadikin-isasi. Semua kebijakan saya dihapuskan. Soalnya, ketika itu
saya mulai bicara keras soal pemerintahan. Bersama Bung Hatta dan Jenderal
Nasution, tahun 1978 saya mendirikan Yayasan Kesadaran Berkonstitusi. Kami
melihat Soeharto mulai melenceng. Setelah itu, tahun 1980 saya membuat
Petisi 50 yang menjadi oposisi bagi Soeharto. Itu membuat saya dianggap
menjadi musuh pemerintah. Tapi saya merasa Tuhan menjaga saya. H.R.
Dharsono, Ali Moertopo, dan tokoh lain sudah meninggal. Sampai sekarang
saya tidak ada apa-apa. Saya malah bisa berlebaran ke Cendana. Soeharto
saya rangkul dan saya beri sun. Saya tidak menaruh dendam ke Soeharto.

Anda juga tokoh penting dalam sejarah TNI-AL. Bagaimana Anda melihat
Angkatan Laut kita saat ini?

Saya sedih melihat nasib Angkatan Laut. Padahal kita ini negara maritim,
tapi kita takut dengan laut. Yang dibesar-besarkan justru konsep
teritorial. Itu kebijakan yang salah arah. Akibatnya, kondisi AL nyaris
lumpuh. Yang ada kapal-kapal tua. Bagaimana mungkin berperang dengan
Malaysia? Kita bahkan tak mampu menjaga perairan kita dari serbuan nelayan
asing.

Dulu, apa yang Anda lakukan?

Untuk merebut Irian Barat, tahun 1960 saya lima kali ke Rusia. Ketika itu
jabatan saya Deputi II Menteri Kepala Staf Angkatan Laut. Kita membeli 150
kapal perang dari Rusia. Empat belas di antaranya kapal selam. Total harga
kapal-kapal itu US$ 800 miliar. Karena tak punya uang, kita pinjam dari
Rusia. Untuk mengoperasikannya, saya mengirim para prajurit kita ke Rusia.
Nah, melihat kekuatan mesin perang kita, Amerika dan PBB akhirnya
memerintahkan Belanda keluar dari Irian Barat.

Omong-omong, mengapa Anda masih saja bersikap keras?

Itu sudah bawaan saya. Saya ini kepala batu. Kalau marah sering keluar kata
“goblok!” Saat jadi gubernur, saya juga sering menempeleng bawahan yang
salah. Saya juga ikut memukul copet yang tertangkap. Tapi, kalau sudah
sampai di rumah, saya justru sedih. Saya kemudian sering memanggil
orang-orang yang saya pukul. Saya tanya tentang keadaan mereka.

3 Responses

  1. […] referensi : referensi 1 dan referensi 2 […]

  2. saya pun rela masuk neraka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: