Sutiyoso: Kalau Masyarakat Menggebuki, Saya Sudah Siap

Jakarta membuka tahun 2004 dengan sebuah perdebatan panas: busway. Dan siapa lagi bintangnya kalau bukan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Meski kerap mendapat hujatan soal pelbagai proyeknya, Sutiyoso selalu jalan terus—lihat saja proyek pemagaran Monas, air mancur Bundaran Hotel Indonesia, dan patung Jenderal Sudirman. Kini, Sutiyoso kembali meluncurkan proyek yang kontroversial: busway jalur Blok M-Kota. Bukan hanya kemacetan yang dipersoalkan, tapi juga hingga ke pohon palem plastik—yang tampaknya berfungsi sebagai lampu—yang “ditanam” di beberapa bagian bersama dengan shelter. Aduh, kenapa pula bukan pohon beneran aja? Demikian gerutu para aktivis lingkungan dan arsitektur tata kota.


Toh, gempuran dari berbagai arah itu tak menyurutkan langkah Sutiyoso. Kepada Majalah TEMPO, Sutiyoso mengungkap rencana besarnya untuk masa depan transportasi publik di Jakarta. Pensiunan jenderal bintang tiga ini menyatakan akan mengintegrasi transportasi busway, kereta monorel, dan angkutan air. Meski waktunya terbatas, Sutiyoso berjanji akan merampungkan sekitar 60 persen pekerjaan yang sudah direncanakannya. Selanjutnya, ujar Sutiyoso, “Akan diselesaikan penerus saya.”

Untuk mengupas proyek busway dan masa depan transportasi publik di Jakarta, wartawan TEMPO Setiyardi pekan lalu mewawancarai Sutiyoso di balai kota. Selama dua setengah jam wawancara, Sutiyoso didampingi pemimpin proyek busway Irzal Djamal, Kepala Dinas Perhubungan Rustam Effendi, dan Kepala Biro Protokol dan Humas DKI Jakarta Muhayat. Berikut cuplikannya.

Mengapa Anda sangat bersikeras mengerjakan proyek busway?
Kondisi transportasi umum kita semakin berat. Tak ada keseimbangan antara pertambahan kendaraan dan pertambahan jalan. Setiap hari orang Jakarta membeli 138 unit mobil. Soalnya, harga mobil murah meriah dan bisa dicicil sampai mati. Kalau 138 mobil itu dibariskan dengan jarak 1 meter, akan menghabiskan jalan sepanjang 800 meter. Artinya, setiap hari jalanan kita berkurang 800 meter. Sedangkan kita tak bisa menambah panjang jalan.

Bagaimana dengan kondisi transportasi umum?
Itu juga persoalan besar. Perbandingan kendaraan umum dan pribadi juga tak imbang—yakni 15 persen banding 85 persen. Nah, kendaraan umum yang berjumlah 15 persen itu pun dalam kondisi parah dan sementara tidak ada bus baru. Selama 40 tahun, tak ada perubahan substansial dalam sistem angkutan umum. Kita juga tak punya sistem angkutan umum yang terintegrasi—dari bus, kereta api, dan angkutan air. Kalau kondisi ini didiamkan, pada 2014 akan terjadi stagnasi yang membuat kemacetan total.

 

Apakah busway akan menyelesaikan masalah kemacetan lalu-lintas?
Busway memang bukan solusi kemacetan lalu-lintas. Apalagi, busway jalur Blok M-Kota hanya merupakan satu koridor dari 14 koridor yang kami rencanakan. Kemacetan baru akan teratasi bila sistem transportasi umumnya sudah terintegrasi—busway, kereta monorel, dan angkutan air di Banjir Kanal Timur. Jadi, potret besarnya utara-selatan ada busway, timur-barat ditusuk monorel dan akan dilingkari pelabuhan-pelabuhan kecil.

Apakah Anda sanggup merealisasi seluruh megaproyek itu?
Itu bukan pekerjaan mudah. Sutiyoso pasti tidak akan sanggup. Apalagi Sutiyoso itu cuma tentara yang tak bisa apa-apa. Maka, saya menggunakan orang-orang pintar dari UI, UGM, ITB, dan dari luar negeri. Saya tantang mereka.

Masa jabatan Anda sebagai Gubernur DKI tinggal empat tahun lagi. Bagaimana kelanjutan megaproyek 14 koridor ini?
Saya akan bekerja keras. Mudah-mudahan saya bisa menyelesaikan 60 persen pekerjaan. Paling tidak, saya telah meletakkan dasarnya. Saya akan minta penerus saya melanjutkan proyek ini. Sedangkan koridor monorel cuma butuh waktu dua setengah tahun. Jadi, bisa selesai di zaman saya.

Bagaimana bila penerus Anda tak melanjutkan proyek ini?
Setelah zaman reformasi, segala sesuatu memang tak mudah. Dulu, air mengalir dari atas ke bawah. Sekarang banyak air yang mengalir dari bawah ke atas. Artinya, sorotan masyarakat saat ini sangat tajam. Kalau gubernur mendatang tidak mau melanjutkan proyek ini, ia akan cepat lengser.

Mengapa busway, bukan subway seperti di negara-negara maju?
Saat pertama kali jadi Gubernur DKI, saya ingin membuat subway. Saya sudah melakukan studi banding ke Tokyo. Bahkan pemerintah Jepang menjanjikan pinjaman U$ 1,5 miliar dengan bunga 0,75 persen per tahun. Jangka waktunya 40 tahun. Tapi akhirnya proyek itu mentok karena terkait dengan lima departemen: Bappenas, Departemen Perhubungan, Departemen Keuangan, Lingkungan Hidup, dan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Masing-masing punya kepentingan berbeda. Lagi pula, saat itu kabinetnya selalu gonta-ganti.

Mengapa proyek itu tidak Anda teruskan?
Orang Jepangnya sudah bingung, “Sutiyoso ini maunya apa, sih.”

Anda sempat berkunjung ke Bogota, Kolombia, yang juga menerapkan busway. Apa hasilnya?
Saya memang langsung ke Bogota. Mereka bilang Jakarta lebih memungkinkan untuk menerapkan busway. Awalnya, pemerintah Kolombia diserang habis-habisan oleh masyarakat. Sekarang masyarakat Bogota kembali ngomel karena ingin koridornya ditambah, ha-ha-ha.
Jadi, kalau sekarang masyarakat menggebuki saya, saya sudah siap. Sebagai pemimpin, saya harus yakin dengan keputusan yang diambil.

Mengapa Anda mulai dengan busway Blok M-Kota?
Dari semua koridor dan konsep, yang paling memungkinkan dan mendesak adalah jalur Blok M-Kota. Karena itu, langsung saya bangun saja.

Ada kritik bahan yang digunakan untuk shelter tak cocok dengan iklim tropis. Mengapa tak menggunakan bahan yang ramah lingkungan?
Shelter-nya memang masih panas karena belum bisa pasang AC. Nanti, kalau sudah ada uang, mungkin akan dipasangi AC. Agar tak kepanasan, sekarang kami buka atapnya. Tahun 2004 akan diberi canopy (atap tambahan). Sekarang, kalau hujan, pakai payung saja. Soal tangga shelter, ada juga yang bilang terlalu panjang. Menurut saya, kalau mereka malas, lebih baik tidur di rumah saja.

Benarkah busway ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah?
Busway memang untuk kalangan menengah ke bawah. Tak mengherankan bila yang ngomel sekarang ini adalah orang-orang kaya yang punya mobil pribadi. Mereka keberatan karena satu jalur akan hilang. Padahal sekali-kali orang kaya harus berkorban untuk orang kecil.

Anda sangat ingin segera mengoperasikan busway. Ada agenda politik menjelang pemilu?
Saya bukan politikus. Saya cuma ingin bekerja untuk rakyat saya. Kalau ada kesan saya ngotot, itu harus saya akui. Soalnya, setiap proyek ada batas ruang dan waktu. Kalau pada 15 Januari 2004 nanti belum siap, ya ditunda saja. Itu persoalan yang sangat teknis.

Menteri Agum Gumelar meminta pelaksanaan busway ditunda. Bagaimana?
Saya berharap Agum cuma salah omong. Direktur jenderalnya saya libatkan sejak awal. Tanpa diberi tahu Agum, busway akan saya tunda bila belum siap. Yang pasti, monorel dan busway memang wewenang Pemerintah Daerah DKI.

Bagaimana operasional busway nanti?
Secara teknis, busway akan dikelola oleh Badan Pengelola TransJakarta. Lembaga itu akan berada langsung di bawah Gubernur DKI. Kelak, badan ini akan menjalankan semua koridor transportasi di Jakarta. Khusus busway, awalnya akan beroperasi dari pukul 5 pagi hingga 10 malam. Kalau masih ada kebutuhan, jam operasinya bisa ditambah.

Jadi, BP TransJakarta akan menghilangkan peran Organda?
TransJakarta adalah konsorsium di bawah pemda. Pemda DKI yang akan menentukan tarif. Soal Organda, biar saja. Selama ini mereka selalu bicara dari sisi kepentingannya saja.

Ada kesan kuat sosialisasi busway amat kurang. Benarkah?
Memang ada kesan sepeti itu. Makanya, kalau 15 Januari 2004 jadi beroperasi, sampai akhir bulan akan saya gratiskan. Langkah ini agar publik mengenal busway. Namun, saya optimistis busway akan sukses. Soalnya, jarak Blok M-Kota hanya akan ditempuh dalam waktu 48 menit.
Selain itu, agar sopir tak ngetem sembarangan, mereka digaji tetap 2 juta per bulan. Jadi, mereka tak perlu memusingkan uang setoran. Angka itu sudah di atas rata-rata penghasilan sopir sekarang, yang berkisar Rp 1,75 juta per bulan.

Mengapa anggaran busway membengkak dari Rp 54 miliar menjadi Rp 180 miliar?
Setelah berkunjung ke Bogota, saya mengubah spesifikasi teknis shelter. Kami juga menambahkan lift untuk orang cacat di shelter depan Sarinah. Semua itu menyebabkan pembengkakan biaya.

Apa hambatan implementasi busway?
Harus diakui, opini publik soal busway sangat negatif. Itu hambatan yang sangat berpengaruh. Tapi saya sudah berpengalaman menjadi Gubernur DKI. Banyak keputusan yang awalnya ditentang publik tapi belakangan malah didukung. Contohnya soal pagar di Monas. Padahal setiap keputusan saya sudah melalui pemikiran yang sangat matang.

Ada tiga operator jalur Blok M-Kota—PPD, Bianglala, dan Steady Safe—yang harus kehilangan trayek. Bagaimana nasib mereka?
Kami akan memindahkan mereka ke trayek yang lain. Soal ini sepenuhnya merupakan wewenang Pemerintah Daerah DKI. Lagi pula, kalau tak dipindah, mereka tak akan dapat penumpang karena orang memilih busway. Jadi, semua sudah dipikirkan.

Pemindahan trayek justru berpotensi merugikan trayek lain yang sudah ada. Bagaimana?
Tenang saja, semua sudah ada petanya di Dinas Perhubungan.

Anda akan meminta pegawai Pemda DKI supaya naik busway?
Ya, saya mengimbau pegawai DKI menggunakan busway. Memang belum bisa terlalu berharap. Saat ini baru ada satu koridor.

Apakah Anda juga akan menggunakan busway?
Saya mau menggunakan busway, bahkan mbahnya mau.

Bagaimana dengan privasi Anda sebagai gubernur?
Privasi? Saya akan memberi contoh ke masyarakat. Jadi, andaikata ada acara di Hotel Hilton, lebih baik saya naik busway. Meski pakai jas, dijamin tidak akan keringatan. Nanti sopir saya menyusul ke Hilton.

Anda membuat busway. Tapi Anda juga mengizinkan pendirian mal di pusat-pusat kemacetan Jakarta. Mengapa?
Harus diakui, permintaan mal sangat tinggi. Lagi pula setiap wilayah ada peruntukannya. Bila wilayah itu memang untuk kegiatan ekonomi, saya tak bisa melarangnya bila ada yang akan membangun mal. Hanya, harus ada kajian soal dampak lalu-lintasnya.

Bagaimana dukungan Megawati terhadap proyek busway?
Ibu sangat mengerti dengan otonomi daerah. Yang penting, saya bertanggung jawab.

Sebagai Gubernur DKI Jakarta, apa konsep Anda tentang Jakarta masa depan?
Jakarta adalah kota yang unik. Canberra dan Washington, DC, hanya menjadi pusat pemerintahan. Sementara Jakarta menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, pelajar, dan kota budaya. Makanya, saya sering melakukan penertiban-penertiban untuk mengakomodasi semua fungsi tersebut. Saya ini gubernur bonek alias bondo nekat. Kalau mau jadi gubernur yang biasa-biasa saja, lebih baik tak usah saja.

Mengapa Anda memilih jadi gubernur “bonek”?
Karena karakter dan keadaan. Saat di pasukan khusus, Saya biasa mengemban tugas yang mempertaruhkan nyawa. Hasilnya, saat ini saya tidak keder menghadapi caci-maki. Saya juga sering mendapat SMS yang isinya sangat kasar. Bahkan ada yang bilang akan mencabuti semua gigi saya.

Benarkah Anda ingin dikenang seperti Bang Ali?
Kami punya karakter masing-masing. Lagi pula zamannya juga beda. Sekarang, setiap hari saya diomelin dan didemo. Patung saya sering dibakar demonstran.

Apa perasaan Anda saat melihat patung Anda dibakar demonstran?
Saya tahu mereka tidak mengerti persoalan. Lihat saja Wardah Hafidz, yang cuma mengurusi orang miskin. Sedangkan saya mengurus semua orang miskin, kaya, pelacur, dan kiai. Singkat kata, saya mengurus mulai dari sajadah sampai haram jadah.

Mengapa Anda tak mencoba merengkuh mereka?
Susah. Wardah sudah bersikap pokoke, pokoke. Sebagai warga non-governmental organization, dia hidup dari kegiatan-kegiatan seperti itu.

Apakah memang Jakarta bukan kota untuk orang miskin?
Kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang miskin. Sejak dulu pembangunan kita sangat sentralistik. Jakarta menguasai sekitar 70-80 persen keuangan. Ada gula, ada semut. Dulu kita akan melaksanakan otonomi daerah. Tapi sayangnya tidak berjalan. Contohnya: Sekretariat Negara masih mengurusi Gelora Bung Karno dan Kemayoran. Mereka kurang kerjaan.

Ini soal lain. Apa pesan Megawati saat memilih kembali Anda sebagai gubernur?
Pekerjaan rumah saya yang utama adalah mengamankan pemilu di DKI. Megawati berpikir saya punya jam terbang dan telah teruji. Saya menjadi gubernur di bawah empat presiden. Sebelumnya, saya sudah bilang kepada keluarga saya bahwa saya tak akan memperpanjang jabatan gubernur. Tapi, setelah dipanggil Ibu Mega, saya tak bisa menolak perintahnya. Soalnya, sebagai presiden, Megawati adalah Panglima Tertinggi TNI.

Bukankah Anda terkait dengan penyerbuan 27 Juli 1996?
Saya sudah menjelaskan ke PDI Perjuangan DKI Jakarta. Umumnya mereka mengerti. Memang, Tarmidzi, pimpinan PDI Perjuangan Jakarta, tak bisa menerima. Mungkin dia menganggap ada peluang jadi gubernur.

Anda juga menjelaskan kasus tersebut kepada Presiden Megawati?
Beliau memahami soal 27 Juli. Dia tahu persis posisi tentara, yang seperti anjing herder. Sebagai herder, tentara hanya mengikuti perintah tuannya. Lagi pula saat itu tentara tak melakukan apa-apa kok. Jadi, justru tentara jadi martir. Saya sudah bilang kepada keluarga saya, kalau saya masuk penjara karena 27 Juli, mereka jangan malu. Itu persoalan politik.

Sekarang Anda justru dituding menggembosi PDI Perjuangan lewat penggusuran. Bagaimana?
Memang yang digusur itu selalu mengaku sebagai wong cilik. Padahal mereka wong licik. Tanah Tanjung Duren, misalnya, itu milik H. Munawar. Tapi orang-orang merebutnya. Bahkan ada yang punya kos sampai 60 pintu. Setiap bulan dia mendapat Rp 18 juta. Sebagai gubernur, saya harus menertibkannya. Saya harus menegakkan hukum untuk menjamin hak-hak rakyat saya.

Kami mendengar bahwa Presiden Megawati juga merasa Anda “gembosi”. Bagaimana ceritanya?
Saya langsung menjelaskan ke Ibu Mega. Kami bicara di kursi yang sama saat Ibu Mega meminta saya kembali jadi gubernur. Saya bilang tak ada untungnya menggembosi PDI Perjuangan. Saya jadi gubernur juga atas dorongan Ibu Mega. Saya cuma menegakkan hukum. Beliau cuma bilang, “Oh iya, Mas.”

Sebagai Gubernur DKI, Anda punya banyak pekerjaan rumah yang berat, misalnya soal banjir. Bagaimana Anda menanganinya?
Kalau Banjir Kanal Timur selesai, banjir tahunan akan dapat diatasi. Tapi, kalau banjir yang terjadi sangat besar, tetap tak bisa diatasi. Secara geografis, Jakarta tak lagi ideal sebagai ibu kota. Sepuluh persen tanahnya sudah di bawah permukaan laut. Hari ini tinggi permukaan laut sudah 1,25 meter. Air sudah tak bisa mengalir ke laut.

Bagaimana realisasi pembangunan proyek Banjir Kanal Timur?
Proyek Banjir Kanal Timur dibangun melalui perjanjian dengan pemerintah pusat. Biaya keseluruhan akan mencapai Rp 4,9 triliun. Saya sudah mulai membebaskan tanah, yang akan menelan biaya Rp 2,5 triliun. Sedangkan bangunan fisiknya akan menjadi kewajiban pemerintah pusat.

Omong-omong, apa enaknya jadi Gubernur DKI Jakarta?
Gubernur DKI Jakarta punya tantangan yang besar. Setiap hari didemo orang. Saat pertama jadi gubernur, saya juga harus belajar tersenyum. Saya juga belajar cengengesan. Itu sangat berat. Soalnya, dulu saya bertampang sangar. Selain itu, setiap tahun baru saya harus berjoget di Ancol, padahal saya tidak bisa joget.

Tapi mengapa Anda mau jadi Gubernur DKI Jakarta?
Ceritanya panjang. Lagi pula, tak bisa saya ungkapkan karena menyangkut rahasia militer yang harus dijaga.

Toh, sebagai Gubernur DKI, kehidupan Anda lebih mewah dari seorang menteri?
Mungkin saja. Tapi saya tak pernah tahu besarnya gaji saya setiap bulan. Sungguh, saya tak tahu. Fokus saya hanyalah pekerjaan. Lagi pula, saat diangkat menjadi gubernur, situasi ekonomi saya sudah mapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: