Adu Balap di Jalur Sepi

ANDA kecewa karena pesawat telepon rewel? Atau ingin menjadi pelanggan telepon tetap tapi urusannya tak kunjung beres? Nah, hal-hal menjengkelkan seperti itu mungkin kini akan lebih cepat teratasi. Pekan lalu pemerintah memberikan lisensi operator telepon tetap kepada PT Indosat. Ini berarti monopoli PT Telkom di bidang telekomunikasi akan bersalin rupa menjadi duopoli Telkom dan Indosat. Dan konsumen kini punya dua pilihan sehingga bila tak puas dengan Telkom bisa berpindah ke Indosat. Begitu pula sebaliknya.

Tapi, untuk sementara, duopoli itu hanya berlaku di Jakarta dan Surabaya. Namun, lisensi telepon tetap bagi Indosat haruslah diakui merupakan langkah awal yang baik. Bak kata Menteri Koordinator Perekonomian, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, “Keputusan ini akan memacu kompetisi yang sehat.”

Dengan lisensi untuk Indosat, peta bisnis telekomunikasi di Indonesia pun berubah. Selama ini hanya PT Telkom yang mengoperasikan sekitar 8 juta satuan sambungan telepon (SST) dari Sabang sampai Merauke. Alangkah berkuasanya BUMN ini. Sekarang, Telkom tidak saja harus berbagi kue dengan Indosat tapi juga harus mampu memberi pelayanan sebaik-baiknya. Jika dulu “merasa lebih tinggi dari konsumen”, seperti dikatakan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Indah Suksmaningsih, kini Telkom harus bisa melakukan introspeksi.

Bagi Indosat, bermain di sektor telepon tetap adalah pilihan jitu. Selain akan memperkukuh layanan multimedia, telepon tetap dapat dijadikan tumpuan penghasilan bagi Indosat. Soalnya, sambungan langsung internasional (SLI), yang selama ini menjadi tambang emas Indosat, sedang memasuki masa suram. Gempuran teknologi voice over Internet protocol (VoIP), yang melayani sambungan internasional dengan tarif supermurah, membuat Indosat kedodoran. Tahun lalu saja pendapatan Indosat yang berasal dari SLI merosot sekitar 9 persen.

Kini, dengan mengantongi peluang di saluran telepon tetap, toh Indosat tak bepretensi menandingi Telkom. Ibarat olahraga, kata Dirut Indosat Widya Purnama, ini bukan pertandingan sepak bola yang saling menyerang. “Ini adu balap di jalur masing-masing,” ujarnya, merendah. Untuk tahap awal, Indosat siap memasarkan 20 ribu SST. Dan bila tak meleset, Indosat akan membangun sekitar 1 juta SST hingga tahun 2010 kelak.

Bagaimana peluangnya? Dari segi permintaan, peluangnya masih terbuka lebar. Pelanggan telepon tetap di Indonesia saat ini baru sekitar 3 persen. Ini berarti dari 100 penduduk hanya ada 3 sambungan telepon. Untuk ukuran negara-negara Asia Tenggara saja, kita berada di urutan buncit. Bandingkan dengan Filipina, Thailand, dan Malaysia, yang sudah mencapai tingkat kepadatan (densitas) telepon sekitar 25 persen. Bahkan di negeri jiran Singapura, densitas telepon sudah mencapai 58 persen.

Selain itu, yang juga penting adalah average revenue per unit (ARPU), yakni besarnya rata-rata tagihan tiap telepon per bulan. Saat ini ARPU Telkom sekitar Rp 75 ribu per bulan. Padahal biaya investasi telepon tetap milik Telkom sebesar US$ 1.000 (sekitar Rp 9 juta) per SST. Artinya, tanpa memperhitungkan bunga, perlu 12 tahun untuk mencapai titik impas.

Nah, Indosat memiliki pilihan teknologi yang lebih murah. Agar lebih ekonomis, Indosat memilih teknologi fixed wireless CDMA. Teknologi berbasis frekuensi radio ini hanya memerlukan US$ 350 (Rp 3,15 juta) per SST. Dengan asumsi ARPU sebesar Rp 75 ribu per bulan, dan tanpa memperhitungkan bunga, Indosat sudah akan mencapai titik impas dalam waktu tiga setengah tahun saja.

Sekalipun begitu, Telkom merasa bisnisnya tidak terancam. Apalagi soal tarif masih dikendalikan oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Bisa dipastikan, tak akan ada “perang tarif” antara Telkom dan Indosat. Sebagai pemain lama yang berpengalaman, “Kami akan unggul dalam pelayanan,” ujar Kristiono, Direktur Utama Telkom.

Sebenarnya monopoli Telkom sudah berkurang sejak 1993. Ketika itu pemerintah memberikan lisensi operator telepon tetap di kawasan Jabotabek kepada PT Ratelindo. Sayangnya, anak perusahaan Grup Bakrie ini tak mampu mengembangkan bisnisnya. Teknologi nirkabel wireless local loop (WLL) yang diterapkan Ratelindo menjadi kendala serius. Kualitas suara dan sambungan internet teknologi WLL tergolong payah. Wajar bila kini Ratelindo hanya memiliki 135 ribu pelanggan.

Dengan Indosat, densitas telepon tetap kini bisa dipastikan meningkat. Menurut International Telecommunication Union, badan dunia yang mengatur soal telekomunikasi, kenaikan densitas telepon tetap sebesar 1 persen akan merangsang pertumbuhan ekonomi hingga 3 persen. Apakah memang ada korelasi positif antara densitas telepon dan kemajuan ekonomi, tak jelas benar. Yang pasti, bagi pelanggan, duopoli tentu lebih baik dari monopoli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: