Adu Brutal di Timor

Indonesia menuai kecaman akibat tragedi Atambua. Siapa membunuh Olivio Mendosa Moruk?

CARLOS Caceres sempat menulis e-mail melalui komputernya ketika ribuan milisi pro-Indonesia datang merangsek kantornya di Atambua, Timor Barat. Pekerja UNHCR itu (badan PBB untuk urusan pengungsi) menulis untuk seorang teman karibnya, sesama pekerja UNHCR yang bertugas di Skopje, Semenanjung Balkan. Ada nada putus asa dalam surat itu:

“Kami hanya bisa menunggu di sini seperti umpan di hadapan binatang liar. Orang-orang ini bisa membunuh tanpa berpikir dulu, semudah menjentik nyamuk di kamar.”

Rabu pekan lalu, enam jam setelah mengirim surat itu, Carlos-bujangan asal Puerto Riko-seakan benar-benar jadi nyamuk tanpa daya. Bersama Samson Aregahegn dan Pero Simundza, Carlos tewas dibantai ribuan milisi pro-Jakarta. Tubuh malang ketiga staf UNHCR itu diseret ke halaman kantor mereka. Berbagai senjata tajam dan benda tumpul menghantam tubuh dan kepala. Darah mulai muncrat, dan menggumpal di tanah. Massa yang beringas tak lagi mempedulikan rintihan. Tanpa perlawanan, ketiganya mati dengan cara mengenaskan.

Kebrutalan tidak berhenti di situ. Meski ketiga tubuh itu sudah hancur dan tak bernyawa, massa belum juga puas. Mereka menumpuk mayat ketiganya. Lalu, menyiramkan bensin dan membakarnya. Para penyerbu pun bersorak puas. “Mereka benar-benar biadab. Mayat staf UNHCR itu hangus jadi arang,” kata seorang pejabat pemda di Kabupaten Belu yang membawahkan Kecamatan Atambua.

Para penyerbu merasa punya dalih melakukan kebrutalan itu. Sehari sebelumnya, para pengungsi pro-Indonesia itu menemukan Olivio Mendosa Moruk tewas dibunuh dengan cara yang tak kurang brutalnya. Moruk adalah komandan batalyon milisi Lak Saur, satu dari banyak milisi pro-Indonesia. Namanya masuk dalam daftar pelanggar hak asasi di Timor Timur pascajajak pendapat yang diumumkan Kejaksaan Agung dua pekan lalu. Jenazah Moruk ditemukan di Dusun Umalorto, Kecamatan Besikama, 60 kilometer dari Atambua, dalam keadaan mengenaskan. Lehernya digorok hingga putus. Mayat Moruk yang sudah tak berkepala itu diusung anggota milisi ke Atambua, salah satu pusat konsentrasi pengungsi Tim-Tim.

Arak-arakan jenazah Moruk segera menyulut emosi anggota milisi lainnya. Mereka menuduh pasukan Falintil, angkatan bersenjata Timor Loro Sa’e, bertanggung jawab. (Tuduhan itu belakangan terbukti keliru). Bentrok dan kontak senjata antara milisi pro-Indonesia dan Falintil memang terus berlangsung setelah jajak pendapat yang mengantarkan Timor Timur menuju kemerdekaan.

Sekitar 5.000 milisi mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Belu untuk meminta perhatian atas terbunuhnya salah satu pemimpin mereka. Tak puas dengan aksinya, mereka mendatangi kantor UNHCR, yang terletak persis di tengah Kota Atambua. Petugas keamanan yang sedang berjaga tak berani menghalau massa. Mereka bahkan belakangan lari tunggang-langgang. Nahas bagi ketiga staf yang tertinggal. Tanpa ampun, mereka jadi sasaran balas dendam massa yang sudah kalap.

Seperti bola salju, tragedi kemanusiaan itu menyebar ke penjuru dunia dalam waktu singkat. Apalagi, kematian ketiga staf UNHCR itu bertepatan dengan pembukaan KTT Milenium di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York. Saat membuka acara yang dihadiri 155 pemimpin negara itu, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan meminta hadirin mengheningkan cipta bagi ketiga korban. “Saya menyesal, harus membuka KTT ini dengan berita duka cita,” kata Annan. Presiden Abdurrahman Wahid, yang hadir dalam acara tersebut, segera menjadi sorotan kamera TV yang ada di ruang sidang. Presiden Abdurrahman tampak tertunduk.

Selesai acara pembukaan KTT Milenium, Kofi Annan langsung mengadakan pertemuan empat mata dengan Presiden Abdurrahman. Annan mengajukan protes keras kepada pemerintah Indonesia, yang dianggap tak sanggup melindungi para pekerja kemanusiaan PBB di Timor Barat. Sebagai pembelaan, kepada pers Presiden menyatakan bahwa pembunuhan tiga staf UNHCR itu merupakan suatu konspirasi jahat tingkat tinggi. “Kasus ini sengaja dirancang bersamaan dengan KTT Milenium,” katanya. Tidak jelas siapa yang ditudingnya.

Bagaimanapun, Indonesia memang untuk kesekian kalinya harus membayar ongkos politik yang sangat mahal dalam kaitan dengan masalah Timor Timur. Memperoleh persetujuan diam-diam dari Amerika Serikat dan Australia, pada pertengahan 1970-an pasukan Indonesia menyerbu Timor Timur antara lain untuk mencegah berdirinya sebuah negara komunis di bekas koloni Portugal itu.

Hingga dua dekade berikutnya, Indonesia menjadi sasaran kecaman dunia-PBB tak pernah mengakui integrasi Timor Timur ke Indonesia. Secara terus-menerus, pelanggaran hak asasi manusia di sana menjadi sorotan dunia. Sementara itu, di dalam negeri muncul pandangan yang kian kritis bahwa Timor Timur telah dianak-emaskan secara ekonomi dibandingkan dengan provinsi lain. Timor Timur juga cenderung sekadar menjadi “tempat latihan perang” dan ujian kenaikan pangkat dalam kemiliteran.

Setelah Soeharto jatuh, pada awal 1999 Presiden B.J. Habibie menawari Timor Timur pilihan: menerima otonomi khusus atau merdeka. Militer Indonesia, yang banyak anggotanya tewas dalam “mengintegrasikan” wilayah itu ke Indonesia, tak menyukainya. TNI mendukung kemunculan banyak milisi-kesatuan paramiliter-yang prointegrasi. Beberapa instruktur dari Kopassus secara reguler memberikan latihan militer bagi anggota milisi. Lebih dari itu, anggota milisi juga diberi seragam yang sama dengan seragam milik prajurit TNI AD. Tiap kabupaten memiliki milisi sendiri, seperti Aitarak di Dili atau Mahidi (Mati Hidup Ikut Indonesia) di Maliana. Sedangkan milisi Lak Saur, milisi yang dipimpin Olivio Mendosa Moruk, bermarkas di Kovalima.

Milisi-milisi itu melaksanakan berbagai strategi yang oleh kalangan internasional dicurigai hasil rancangan TNI: mulai dari kampanye soal otonomi khusus, mengintimidasi kelompok prokemerdekaan, sampai aksi bumi hangus Timor Timur setelah kelompok otonomi khusus kalah telak. Hanya mendapat 22 persen suara.

Dalam perkembangannya, para anggota milisi yang hidup bergabung bersama pengungsi di Timor Barat bukan lagi “harimau peliharaan”. Mereka menjadi harimau besar dan liar. Pihak TNI tak lagi mampu mengendalikannya.

Pembantaian tiga staf UNHCR tadi menjadi tamparan yang tak tertanggungkan. Akibat tekanan dunia internasional yang luar biasa, pihak keamanan segera membentuk tim investigasi untuk mengungkap kasus yang memalukan ini. Pangdam IX/Udayana, Mayjend (TNI) Kiki Syahnakrie, Gubernur Nusatenggara Timur Piet Alexander Tallo, dan Kapolda NTT Brigjen Jhon Lalo, menyusun tim investigasi yang terdiri dari unsur polisi militer dan Polri. Sudah 15 orang yang dimintai keterangan.

Polisi juga menahan seorang laki-laki bernama Aloysius Bere, yang sudah dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Olivio Mendosa Moruk-picu dari tragedi di kantor UNHCR itu. Moruk dibunuh di wilayah Indonesia, dan sebegitu jauh belum jelas benar siapa Bere, serta apa motif pembunuhannya, jika benar dia membunuh Moruk.

Salah satu motif bisa ditelusuri dengan mengidentifikasi siapa yang paling diuntungkan oleh kematian Moruk. Akibat kondisi pengungsian yang memburuk, Moruk dikabarkan mulai tidak tahan, dan dikhawatirkan membelot serta mengungkapkan keterlibatan militer Indonesia. Di samping Moruk, ada tiga orang jenderal dan beberapa perwira menengah TNI dari 19 nama yang dua pekan lalu diumumkan Kejaksaan Agung untuk segera disidang dalam kasus pelanggaran hak asasi Timor Timur. “Dia memang sulit diatur. Tentara tidak percaya lagi pada Moruk,” kata salah satu nama dalam daftar 19 orang tadi kepada TEMPO. “Saya dengar, dia memang harus dihabisi. Biar tidak bisa nyanyi,” ujarnya lagi.

Pihak militer Indonesia membantah spekulasi seperti itu. Pangdam IX/Udayana, Mayjen Kiki Syahnakrie, justru mengajukan teori lain. Menurut dia, kematian Moruk bermula dari persoalan pribadi dengan penduduk di daerah Besikama, Kabupaten Belu. “Gara-gara judi, Moruk sempat memukul penduduk setempat,” katanya. “Moruk dibunuh karena motif sakit hati.”

Kemungkinan lainnya, pembunuhan Moruk didalangi kelompok tertentu yang mengerti suasana psikologis milisi. Mereka paham benar, kematian Moruk bisa menyulut emosi milisi dan akan memunculkan anarki. Tujuannya: merontokkan kredibilitas pemerintah.

Tidak pasti mana yang benar dari berbagai spekulasi itu. Tapi, mana pun yang benar, aparat keamanan Indonesia memang sulit mengelak dari tudingan telah lalai dan tidak sanggup melindungi sukarelawan sipil seperti Carlos Caceres.

Sementara kredibilitas pemerintah Indonesia dipertaruhkan untuk mengungkap penjahat dalam tragedi ini, Kota Atambua sendiri, yang berbatasan langsung dengan Timor Loro Sa’e, masih seperti kota mati pada akhir pekan lalu. Di setiap sudut kota, tampak tentara yang berjaga-jaga dengan senjata lengkap. Aktivitas perkantoran dan siswa sekolah dihentikan. Ketegangan masih sangat terasa. Penduduk asli yang hanya berjumlah sekitar 34 ribu jiwa itu, atau sekitar separuh jumlah pengungsi Timor Timur, tak berani keluar rumah saat malam datang.

Ratusan warga Dusun Umalorto, Kecamatan Malaka Barat, Besikama-tempat terbunuhnya Moruk-juga mulai waswas. Sebagian besar warga telah mengemas barang-barangnya dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. “Daripada mati konyol dibunuh milisi, lebih baik kami mengungsi,” kata seorang warga Besikama yang telah mengungsi.

Pengungsi dan pengungsi. Kematian dan kematian. Seperempat abad setelah invasi yang direstui Amerika dan Australia itu, Indonesia-sendirian saja-belum berhenti membayar ongkosnya. Sangat mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: