Agenda Besar Milisi Aitarak

WAJAH Taur Matan Ruak merah padam menahan amarah. Sesekali tangannya mengepal. Emosinya begitu meluap-luap. Panglima Falintil-angkatan bersenjata Timor Loro Sa’e-itu tak bisa menyembunyikan kegeramannya. “Milisi telah menyerang kami. Pilihannya cuma dua: hidup atau mati,” katanya.

Setahun meraih “kemerdekaan” dari Indonesia, Timor Loro Sa’e memang belum juga tenang. Meski dijaga 8.500 personel UNPKF (United Nations Peace Keeping Forces), negeri baru itu masih menjadi ajang pertempuran. Pada 30 Agustus lalu, saat warga ibu kota Dili hiruk-pikuk merayakan hari kemerdekaan pertama, konflik bersenjata meledak di Same dan Suai-60 kilometer dari Dili ke arah perbatasan dengan Timor Barat (wilayah Indonesia). Beberapa rumah penduduk dibakar. Kontak senjata tak bisa dihindari. Tiga anggota Falintil terluka, empat milisi Aitarak tertembak.

Milisi Aitarak yang pro-Indonesia memang telah menyingkir dari Dili setelah jajak pendapat dimenangi kelompok prokemerdekaan. Namun, kelompok sipil bersenjata itu, yang kini tinggal di kantong-kantong pengungsi perbatasan, bersumpah akan “merebut kembali Timor Timur”.

Mereka berbaur di antara 76.000 pengungsi Timor Timur yang lari dari kerusuhan menyusul jajak pendapat. Seperti para pengungsi lain, mereka menempati kantong permukiman darurat yang disediakan UNHCR-badan dunia yang mengurusi masalah pengungsi-di Kabupaten Belu, Timor Barat. Bendera Merah Putih menjadi ciri khas tenda-tenda mereka. Atambua adalah salah satu permukiman pengungsi di Belu itu.

Beberapa anggota milisi tampak menyandang senjata M-16. Mereka menyimpan rapi amunisi dengan memasukkannya dalam kotak dan menguburnya dalam tanah. “Dulu, saya sudah membunuh beberapa orang untuk membebaskan Timor Timur dari Fretilin,” kata Matheus, salah satu anggota milisi Aitarak di Atambua. “Sekarang, saya siap merebut kembali Timor Timur.” Ia tampak garang dengan seragam Aitarak yang sangat mirip dengan seragam milik TNI itu. Rambutnya yang panjang sebahu bergerai ditiup angin senja.

Orang seperti Matheus tidak sekadar omong. Wartawan TEMPO yang mengunjungi Atambua satu pekan sebelum tragedi menyaksikan mereka melakukan latihan perang. Puluhan anggota Aitarak, dengan menenteng senjata lengkap, berlatih melakukan penyergapan. Beberapa orang menyerang sasaran yang telah ditentukan sambil tiarap. Seorang berpostur tegap memberi komando. Tak ada suara tembakan. “Setelah pasukan PBB pergi dari Tim-Tim, kami butuh banyak peluru,” kata laki-laki yang memberi komando itu.

Persoalan milisi ini telah menjadi problem serius hubungan Indonesia-Timor Loro Sa’e. Kay Rala Xanana Gusmao, Presiden CNRT (Dewan Pertahanan Masyarakat Timor Loro Sa’e), menuduh TNI yang tidak rela melepaskan Timor Timur telah membiayai dan mendukung pasukan sipil yang melawan pemerintahannya. “Ratusan milisi bersenjata telah menyerbu Timor Loro Sa’e. Mereka mendapat dukungan dari elemen TNI,” katanya. Sebagai orang lapangan, Xanana tahu benar perihal strategi untuk suatu pertempuran. “Tanpa dukungan logistik yang kuat, perang gerilya ala milisi itu tak kan bertahan lama.”

TNI, sebaliknya, menyangkal tudingan itu. “Ha-ha-ha…, ngapain kami mendukung milisi. TNI itu harus membela negara, bukan membela milisi,” kata Letkol (Inf.) Joko Subandrio, Komandan Kodim 1605/Belu. Joko justru mengungkapkan keseriusan pihaknya dalam melucuti senjata milisi. “Sudah sekitar 1.000 pucuk senjata api milisi yang kami razia,” katanya.

Namun, Petrus Bria Seran, Camat Atambua Kota, justru berpendapat lain. Menurut dia, pihak TNI tidak serius dalam mengatasi masalah persenjataan milisi. “Kodim tak berani merazia senjata di kantong-kantong pengungsian. Boleh jadi, mereka juga tak mau bersikap konfrontatif, yang justru akan memicu kerusuhan,” kata Petrus, yang mengaku pernah ditodong senjata laras panjang oleh milisi itu.

Menyadari beban yang kian serius, Jakarta telah memutuskan untuk menutup kantong pengungsian itu. Akhir bulan lalu, Direktur Jenderal Politik Departemen Luar Negeri, Hasan Wirajuda, telah membicarkannya dengan Utusan Khusus Sekjen PBB, Sergio Vieira de Mello. “Kami sepakat untuk menutup kantong-kantong pengungsi. Langkah ini bisa mengatasi persoalan milisi bersenjata,” kata Hasan Wirajuda.

Namun, untuk menutup kantong pengungsi harus dilakukan terlebih dulu pendataan terperinci tentang komposisi demografis pengungsi. Selain itu, mereka juga harus dipilah mana yang memilih menjadi warga negara Indonesia dan mana yang akan kembali ke Timor Loro Sa’e. Jakarta telah memutuskan bahwa mereka yang memilih jadi WNI akan diikutkan dalam program transmigrasi lokal.

Malang. Serangan pekan lalu telah menggagalkan upaya pendataan yang tengah dilakukan para mahasiswa Universitas Nusa Cendana yang direkrut UNHCR. Bagaimanapun, tragedi Atambua pekan lalu justru membuat upaya penuntasan masalah pengungsi ini jauh lebih penting. Dan harus dilakukan segera, untuk mencegahnya menjadi bom waktu yang tak terkendali.

One Response

  1. mannntappppppppp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: