Alex Widya Siregar: “Saya Bertanggung jawab Atas Penyerbuan”

PERISTIWA 27 Juli bukan hanya cerita tentang kebrutalan, tapi juga tentang kepengecutan. Banyak pemain yang kini serta merta mencuci tangan. Tak pelak, sosok Alex Widya Siregar menjadi menarik karena ia dengan terbuka-bahkan dengan nada kebanggaan di sana-sini-mengakui dirinyalah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas penyerbuan yang menggegerkan itu. Alex, yang saat itu memegang posisi wakil bendahara di PDI versi Soerjadi, sama sekali tak menyinggung keikutsertaan pemerintah ataupun militer.

Apakah pria 57 tahun kelahiran Medan ini sedang pasang badan? Boleh jadi. Sebab, Alex yang mengaku informan Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) sejak 1978 itu juga mengisahkan skenario orang-orang di pemerintahan untuk menggulingkan Megawati Soekarnoputri dari kursi Ketua Umum PDI sejak awalnya-sebuah isyarat jelas keterlibatan rezim Soeharto. 

Berikut ini petikan wawancara Alex dengan Setiyardi dari TEMPO, pekan lalu, di kantor salah seorang pejabat tinggi negara.

Sebelum penyerbuan itu, seberapa banyak sebenarnya Anda terlibat dalam PDI?

Ceritanya panjang, dimulai dari Musyawarah Nasional (Munas) PDI pada 1994 yang menaikkan Megawati Soekarnoputri ke kursi ketua umum.
Kita tahu, setelah Soerjadi turun pada 1993, Megawati mengaku sebagai ketua umum de facto. Menteri Dalam Negeri (kala itu) Pak Yogie S. Memet tidak mau mengambil risiko menolak kepemimpinan Mega. Karena itu, pada 1994, Pak Yogie mengusahakan adanya munas.

Dan munasnya berlangsung?

Ya. Tapi, tanpa sepengetahuan Sutoyo N.K.-kala itu Direktur Jenderal Sosial Politik Depdagri -munas tadi dirampok BIA (Badan Intelijen ABRI).

Maksudnya?

Begini. Oleh Yogie, peserta munas itu ditempatkan di Hotel Indonesia. Namun, oleh Direktur A BIA, yang ketika itu dijabat rangkap oleh Komandan Jenderal Kopassus Pak Agum Gumelar, mereka digiring ke Hotel Presiden sambil ditodong pistol. Agum mengatakan kepada peserta munas, “Siapa tidak memilih Megawati akan berhadapan dengan saya.” Sebagai direktur A di BIA, dia bertanggung jawab dengan persoalan keamanan politik dalam negeri. Dia tak ingin masalah PDI bertele-tele karena akan mengganggu pekerjaannya.

(Seperti halnya PPP, hampir sepanjang sejarahnya, PDI hasil fusi partai-partai nasionalis non-Islam ini terlanda kisruh internal.)

Lagi pula, kala itu ada semacam persaingan antara Departemen Dalam Negeri dan BIA. Maklumlah, ketika itu semua orang berlomba-lomba untuk mendekati Soeharto. Ha-ha-ha…. Dan Megawati akhirnya terpilih.

Kabarnya, Yogie marah karenanya?

Dia tak bersedia melantik Mega. Sementara itu, ada banyak masalah yang terjadi di cabang-cabang setelah itu-seperti munculnya pengurus-pengurus kembar. Padahal, dalam anggaran dasar PDI ada klausul bahwa enam bulan setelah munas, harus diselenggarakan kongres. Lebih dari itu, Pak Harto tampaknya juga khawatir kalau Mega terus melaju. Jadi, ada soal internal yang berpadu dengan soal eksternal, untuk menyingkirkan Mega.

Bagaimana posisi Anda ketika itu?

Pada 2 Juni 1996, saya diminta Kepala BIA Syamsir Siregar untuk mempertemukan ABRI dengan tokoh-tokoh PDI. Yang pertama kali saya pertemukan adalah Kassospol (Kepala Staf Sosial Politik) ABRI Syarwan Hamid dengan Soetardjo Soerjogoeritno dan Panangian Siregar. Pada pertemuan itu, terjadi suatu diskusi. Tentu saja Pak Syarwan tidak berkata akan menghancurkan Mega, tapi kita sudah tahu bahwa maksudnya ke arah itu. Ha-ha-ha….

Jadi sudah dibicarakan penggusuran Megawati?

Ya…. Pak Syarwan mengatakan bahwa kisruh berkepanjangan di DPP PDI itu sudah mengganggu keamanan. Dia juga mengatakan cabang-cabang PDI telah menuntut diselenggarakannya kongres untuk menyingkirkan Mega.

(Kepada majalah Forum Keadilan kala itu, Syarwan menolak tudingan menjadi otak penggulingan Mega. “Kami memang mendukung diselenggarakannya kongres. Kami akan mendukung siapa saja yang terpilih, termasuk jika Mbak Mega yang terpilih,” katanya.)

Ketika Pak Syarwan menanyakan pendapatnya, Soetardjo memberikan jawaban setuju asalkan konstitusional. Tapi ia minta menjadi ketua umum. Soetardjo mengatakan, “Dulu Megawati itu saya panggil `Nduk’, tapi sekarang ini harus saya panggil `Ibu’. Itu merepotkan saya.” Kalau Pak Syarwan masih ingat kata-kata itu, dia pasti tertawa. Ha-ha-ha….

(Soetardjo belakangan tidak ikut kongres di Medan. Sejak saat itu, ia menjadi pendukung setia Mega, hingga kini.)

Rencana selanjutnya?

Pada 6 Juni, kami mengadakan rapat staf di BIA. Di situ diputuskan bahwa yang bisa menandingi figur Megawati adalah Soerjadi. Tanpa mengikutsertakan Soerjadi, kongres akan gagal.

Siapa saja yang ikut rapat?

Dari PDI hanya saya sendiri. Dari BIA ada Pak Syamsir Siregar dan Pak Zacky Anwar Makarim, yang sudah menggantikan Pak Agum Gumelar pada posisi direktur A. Ada juga beberapa orang kolonel yang belum saya kenal.

Apa yang dilakukan setelah rapat?

Soerjadi langsung dihubungi oleh Pak Syarwan dan Pak Zacky. Soerjadi meminta syarat, “Saya mau menjadi ketua umum hanya jika diterima oleh Pak Harto.”
Apa yang dibicarakan ketika Soeharto menerimanya pada 25 Juli 1996?

Sebetulnya, itu pertemuan biasa sebagai simbol pengakuan pemerintah. Tapi, ketika itu, Pak Harto juga mengatakan, “Tolong, Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diperhatikan. Di sana ada setan-setan gundul penjelmaan PKI.”

Sekarang tentang penyerbuan itu. Bagaimana cerita seputar rencana penyerbuan?

Begini, 16 Juli 1996, kami mengadakan rapat di DPP PDI (Soerjadi). Panangian Siregar mengeluh tentang kantor yang tidak sebagus di Jalan Diponegoro itu. Fatimah Achmad menimpali, “Apa gunanya Alex Widya Siregar di sini kalau tidak bisa mengambil Kantor DPP PDI!” Akhirnya, saya diberi mandat untuk mengambil alih kantor tersebut. Pada 22 Juli ada desakan, entah dari siapa, agar esok harinya Kantor DPP PDI segera direbut. Hari itu pula saya kumpulkan orang.

(Menurut sebuah sumber TEMPO yang dekat dengan Menteri Syarwan Hamid, pada 16 Juli itu Alex Widya meminta bantuan kepada Markas Besar ABRI untuk mengambil alih kantor. Namun, selaku Kassospol, Syarwan menolak permintaan dengan alasan kelompok PDI Mega jauh lebih besar jumlahnya.)

Berapa orang yang Anda kumpulkan?

Sekitar 800 orang PDI dari Jakarta. Di dalamnya ada 200 orang yang terlatih bela diri silat dari Tangerang. Mereka saya kumpulkan di Bumi Perkemahan Cibubur. Cuma satu hari. Saya langsung memberikan brifing kepada mereka: rencana penyerbuan 23 Juli.

Kabarnya, ada preman yang terlibat penyerbuan?

Lukman Mokoginta memberitahukan bahwa dia punya 5.000 orang preman yang dipimpin Sena Bela. Ketika itu, saya juga langsung ketemu Bela. Dia mengaku sebagai koordinator preman. Padahal, saya sendiri ketika itu belum pernah mendengar namanya. Tapi, karena Soerjadi dan Lukman sudah sangat percaya kepada Bela, saya menurutinya.

Saya minta dia mendatangkan pasukannya ke Kebun Raya Bogor untuk ketemu. Tapi ternyata yang datang cuma 13 orang. Akhirnya, saya usir dia. Bela malah ke Diponegoro dan melapor kepada Megawati. Makanya, rencana penyerbuan itu jadi bocor, dan akhirnya saya batalkan.

Bagaimana dengan orang yang sudah dikumpulkan?

Mereka pulang ke rumah, lalu pada 26 Juli berkumpul lagi di lantai 5 Gedung Artha Graha (milik Tommy Winata-Red), yang ketika itu belum jadi. Saya memilih gedung tersebut karena saya kenal dengan Yorrys Raweyai-pemimpin Pemuda Pancasila. Kami berangkat dengan delapan truk sewaan. Saya pasang pelat palsu BG, pelat kendaraan Palembang. Jadi, mereka kira yang datang itu dari Palembang yang berarti teman mereka. Taufik Kiemas (suami Mega) kan orang Palembang. Ha-ha-ha…, mereka semua saya tipu!

Waktu itu Sutiyoso ada di lapangan?

Sebagai pangdam (panglima daerah militer), dia memang ada di lapangan. Tapi itu tidak berarti saya berada di bawah komando Sutiyoso. Beberapa hari yang lalu, saya sowan ke Pak Sutiyoso. Saya berbicara soal penyerbuan 27 Juli itu. Sutiyoso berkata, selaku pangdam, ia wajib berada di lokasi kerusuhan untuk tahu permasalahan.

Saksi mata menyatakan bahwa para penyerbu adalah aparat keamanan berseragam PDI?

Yang saya tahu, tak ada tentara yang berseragam PDI. Saya memang sudah menduga akan ada perkelahian. Karena itu, saya membawa orang-orang yang bertubuh kekar seperti tentara. Mereka siap berkelahi. Ha-ha-ha….

Para penyerbu itu, kok, berambut cepak?

Ah, itu bohong. Yang menyerbu semuanya menggunakan ikat kepala. Jadi, rambutnya tidak kelihatan. Mungkin, karena itu, orang mengira mereka cepak.

Saat itu, orang-orang Mega memakai paranormal. Ketika mobil hendak ditabrakkan ke pintu pagar DPP PDI, sopirnya terkencing-kencing. Akhirnya, saya ambil alih. Saya sendiri yang menyetir dan menabrakkan mobil. Waktu itu, ada juru kamera dari CNN. Kameranya saya ambil dan saya pecahkan. Jadi, kalau ada berita bahwa ada rekaman dari CNN, itu bohong.

Senjata apa yang dibawa?

Kami tidak perlu senjata. Informasi terakhir, menyebut jumlah mereka hanya 200 orang. Lagi pula, kami membawa pesilat Tangerang. Tidak ada yang perlu ditakutkan.

Kabarnya, Anda punya informan di dalam situ?

Sewaktu penyerangan terjadi, saya tahu bahwa pagar di depan kantor DPP itu sudah dialiri listrik (saat itu aliran listrik di Kantor PDI sebetulnya sudah diputuskan). Saya tahu karena saya banyak menanam orang di sana-antara lain Antony Ewal.

Kalau saya mau jahat, gampang saja. Tinggal saya kirim Aqua yang saya suntiki valium. Pasti mereka akan tertidur. Setelah itu, kan, bisa dibacok tanpa ada perlawanan. Tapi saya tak sejahat itu….

Saya juga tahu jumlah senjata mereka dan tempat penyimpanannya. Waktu itu, saya berhasil mengamankan 64 buah golok yang disimpan di ruang ketua umum. Ada juga beberapa bom molotov di dapur. Ada juga bensin yang tadinya akan mereka pakai untuk membakar Kedutaan Palestina, Kantor Pepabri (Persatuan Purnawirawan ABRI), dan rumah Ibu Mien Sugandhi. Nah, pada 26 Juli, bensin itu sudah saya ambil semua. Ha-ha-ha….

Berapa lama penyerbuan itu berlangsung?

Tidak lama, paling-paling sekitar 10 menit. Setelah itu, mereka saya ikat dengan tali-tali yang ada di sana.

Menurut kubu Mega, penyerbuan itu memakan korban jiwa yang cukup besar di pihak mereka.

Tidak ada yang mati. Paling-paling hanya luka-luka. Kalau ada yang mati, pasti saya tahu. Malahan, ada anak buah saya yang mati. Kalau benar-benar ada yang mati atau hilang, pihak keluarganya pasti mencari saya.

Anda tak takut setelah kini Mega menang?

Saya selalu mengatakan bahwa sayalah yang bertanggung jawab. Sampai sekarang, saya aman-aman saja. Tidak ada yang mencari saya. Dan harus Anda catat, peristiwa 27 Juli itu telah membesarkan nama Megawati. Hal itu disadari betul oleh Megawati. Bahkan, kasus penyerbuan itu pun merupakan titik awal jatuhnya rezim Soeharto.

One Response

  1. Menurut kubu Mega, penyerbuan itu memakan korban jiwa yang cukup besar di pihak mereka.

    Tidak ada yang mati. Paling-paling hanya luka-luka. Kalau ada yang mati, pasti saya tahu. Malahan, ada anak buah saya yang mati. Kalau benar-benar ada yang mati atau hilang, pihak keluarganya pasti mencari saya.

    katanya tidak ada korban ternyata malah diakui sendiri
    saya ingat sekali, karena saya tinggal di kawasan itu polisi memblokir jalan, sopir saya malah dibogem karena mau pulang, penuh konspirasi hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: