A.M. Hanafi: “Jadi Buangan Politik Seperti Penderita Lepra”

SEHELAI surat bertanggal 26 Januari 1966 tiba di tangan Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro. “…Kawanku Fidel yang baik. Sebenarnya Duta Besar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia, tetapi saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Indonesia dan Kuba adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadapi musuh, yaitu Nekolim. Sekian dahulu, kawanku Fidel. Salam hangat dari rakyat Indonesia kepada rakyat Kuba….”

Duta Besar RI untuk Kuba, A.M. Hanafi (1963-1966), menyampaikan sendiri surat yang ditulis tangan oleh Bung Karno itu kepada sang Perdana Menteri.

Empat bulan setelah surat Bung Karno itu diserahkan, Mei 1966, Hanafi-kini 82 tahun-dilengserkan dari semua jabatannya oleh pemerintah Orde Baru. Hal ini hanya satu dari sejumlah besar “pembersihan” yang dilakukan Presiden Soeharto-setelah kejatuhan Bung Karno dan pemberantasan G30S/PKI. Inilah awal titik balik yang menyedihkan dalam kehidupan bekas diplomat itu. Pemerintah Orde Baru juga memutuskan agar paspor Hanafi dan keluarganya tidak lagi diperpanjang, sejak 1966.

Kendati tetap tinggal di Havana hingga 1972, Hanafi dan keluarganya tidak punya status yang jelas. “Perlakuan rezim Soeharto kepada saya tidak konstitusional dan menyalahi kelaziman aturan diplomatik,” ujarnya kepada TEMPO. Perubahan sikap Jakarta rupanya tidak diikuti Havana. Fidel Castro dan para pejabat di Kuba justru menaruh simpati yang dalam pada nasib ayah lima anak ini. Buktinya? Pada 17 Agustus 1968-saat ia sudah berstatus buangan politik-para petinggi Kuba hadir dalam perayaan Hari Proklamasi Indonesia di Hotel Riviera, Havana. Hadir di antara para tamu, Menteri Luar Negeri Kuba, Dr. Raul Roa, dan tokoh revolusi Kuba, Che Guevara.

Dari Havana, Hanafi pindah ke Paris pada 1972. Di sana, lelaki asal Desa Lubukngatungan, Marga Ulutalo, Bengkulu, ini meneruskan hidupnya dalam kesunyian panjang. Ia dipaksa menjadi manusia tanpa paspor dan kewarganegaraan. Selama di Paris, bekas Menteri Negara Pengerahan Tenaga Rakyat (Petera, 1957-1959) ini menafkahi keluarganya dengan mengajar bahasa Indonesia dan membuka kedai makan.

Walau sangat lama tercerabut dari Tanah Air, cinta Hanafi kepada tanah airnya dan Bung Karno tak lekang sedikit pun. “Sukarno adalah guru yang mengajarkan kebenaran dan membukakan dunia politik kepada saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Pertemuan pertama Bapak dan Anak Marhaen-julukan yang diberikan Bung Karno kepadanya-ini terjadi di Bengkulu, pada 1938. Sejak itu, Hanafi menjadi pengikut setia Bung Karno.

November silam, A.M. Hanafi dan istrinya, Sukendah, dengan mata berlinang-linang kembali menginjakkan kaki di Indonesia-setelah 35 tahun menjadi buangan politik. “Ini tanah air yang selalu saya rindukan dalam pengasingan,” katanya.

Pekan lalu, penulis buku Menggugat: Kudeta Jenderal Soeharto, dari Gestapu ke Supersemar ini menerima wartawan TEMPO, Setiyardi, untuk sebuah wawancara khusus, di kediaman seorang kawannya, di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

Petikannya:

Apa yang membuat Anda ingin pulang ke Indonesia?

Ini negeri tempat saya lahir dan dibesarkan. Selama puluhan tahun, saya memendam kerinduan kepada Tanah Air. Jelek-jelek begini, saya terlibat dalam pendirian Republik Indonesia (RI). Bersama kawan-kawan dari “Menteng 31” (saat ini menjadi Gedung Djoang 45 di kawasan Menteng, Jakarta Pusat-Red.) kami turut aktif dalam gerakan merebut kemerdekaan.

Apa rasanya melihat Indonesia kembali setelah 35 tahun?

Sedih! Teman-teman saya, khususnya dari kelompok Menteng 31, seperti Chaerul Saleh, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dan lain-lain, sudah meninggal.

Tapi nasib Anda-menjadi orang bebas di luar negeri-bukankah masih lebih baik dibandingkan dengan, misalnya, para tapol/napol yang ditahan bertahun-tahun tanpa pengadilan?

Kalau boleh memilih, saya lebih suka ditahan bertahun-tahun tanpa pengadilan, tapi tetap tinggal di tanah air sendiri. Menjadi buangan politik di luar negeri lebih menyakitkan ketimbang ditahan di Pulau Buru.

Siapa saja buangan politik Indonesia di Paris, selain Anda?

Ada Sobron Aidit. Kami tidak saling berhubungan, tapi sama-sama “saling tahu”. Selain itu, ada Umar Said-bekas wartawan surat kabar Trompet milik PKI. Ia hidup di Paris dengan jaminan pemerintah Prancis. Ada juga beberapa orang yang berasal dari KBRI di Beijing yang kemudian melarikan diri ke Paris. Pemerintah Prancis terbuka terhadap orang-orang seperti kami. Lagi pula, Jakarta tidak akan berani menekan Paris, cuma berani dengan orang-orang di KBRI.

Bagaimana sikap pemerintah Prancis terhadap Anda?

Pada awal keberadaan saya di Paris, 1973, mereka menawarkan sejumlah uang secara tetap untuk menghidupi saya dan keluarga. Tawaran itu saya tolak karena tidak ada yang gratis dalam hidup. Bila mereka menawarkan sesuatu, pasti ada imbalan yang diharapkan.

Seperti apa misalnya?

Setidaknya, saya harus mengikuti kemauan pemerintah Prancis. Makanya, lebih baik saya hidup pas-pasan, tapi tetap jadi orang merdeka. Untuk memenuhi nafkah keluarga, saya menjadi guru bahasa Indonesia dan membuka restoran.

Siapa saja tanggungan Anda di Paris?

Saya harus menafkahi istri dan lima orang anak. Sejak 1996, istri saya harus menjalani cuci darah seminggu tiga kali. Jadi, yang terpenting bagi saya adalah berusaha menyambung hidup.

Bagaimana proses kepulangan Anda ke Tanah Air?

Setelah Gus Dur jadi presiden, saya mengirim surat ke pemerintah Indonesia di Jakarta. Tanggal 1 November 1999, sebuah surat yang ditandatangani Presiden Abdurrahman Wahid memerintahkan KBRI Paris untuk mengurus kepulangan saya. Ini hal yang sangat membahagiakan.

Anda kenal Gus Dur?

Tidak. Saya kenal orang tuanya, K.H. Wahid Hasyim. Saya dan Pak Wahid berjumpa dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pak Wahid orang yang baik dan cerdas. Tapi kepulangan saya tidak ada hubungannya dengan perkenalan itu. Ini memang kebijakan pemerintah sekarang.

Apa yang akan Anda lakukan sekarang?

Pertama, tentu saya harus bisa bertahan hidup. Saat ini, saya masih mempunyai empat orang anak. Salah satu anak saya, Chandra Leka Damayanti, meninggal dalam pembuangan di Paris dalam usia 35 tahun. Dia meninggal sebagai buangan politik. Saya merasa berdosa. (Mata Hanafi berkaca-kaca. Suaranya lirih. Setelah terdiam beberapa saat, ia menyeka air matanya-Red.)

Harta apa yang masih Anda miliki di Jakarta?

Sebuah rumah di Jalan Madura nomor 5. (Sekarang Jalan Muhammad Yamin-Red.) Dulu, rumah itu disita oleh tentara. Kini, saya mau menuntut hak saya itu. Semoga pemerintah mau mengembalikannya. Boleh dibilang, itulah harta saya yang masih tersisa.

Sebelum Gus Dur jadi presiden, apakah Anda sempat mencari jalan untuk pulang?

Saya sangat ingin pulang. Bekas Menteri Sekretaris Negara Moerdiono (1988-1998) pernah mengatakan, kepulangan saya ke Indonesia bisa membahayakan posisi Orde Baru. Sebelumnya, pada 1979, saya bertemu Wakil Presiden Adam Malik di Brussel, Belgia. Menurut Adam-dia seorang kawan lama-saya sebenarnya terkena “akibat sampingan saja”. Jadi, saya ini korban permainan politik Soeharto.

Tapi, Soeharto kini sudah jatuh. Apakah Anda akan memaafkannya?

Soeharto tidak bisa dimaafkan begitu saja. Justru dia yang seharusnya minta maaf. Gus Dur jangan seperti pendeta, yang bisa memaafkan begitu saja dosa orang lain. Sebagai orang Islam, Soeharto harus bertobat kepada Tuhan secara sungguh-sungguh, bukan tobat orang makan cabe. Hari ini tobat, besok diulang.

Mari kita pindah ke Bung Karno. Benarkah pertemuan dengan Sukarno mengubah seluruh jalan hidup Anda?

Benar. Pertemuan dengan beliau (terjadi saat Sukarno dibuang Belanda ke Bengkulu dari Februari 1938 sampai 9 Juli 1942-Red.) telah mengubah jalan hidup saya. Sebelumnya, saya buta politik. Bung Karno yang memberi pelajaran politik pertama kepada saya.

Seperti apa pelajaran politik pertama tersebut?

Suatu ketika, saya menanam sebatang pohon kemuning di depan rumah. Ketika melihat itu, Bung Karno berkata: “Hanafi, pohon ini harus disiram tiap hari.Tapi, kalau suatu saat pucuknya layu, itu tanda dia akan mati. Jangan disiram lagi. Cabut dan ganti tanaman lain.”

Apa pesan politik yang Anda terima dari ibarat ini?

Bahwa di dunia ini tidak ada yang tetap, apalagi dalam dunia politik. Kita harus selalu siap dengan perubahan, meski itu menyakitkan.

Sukarno juga menjuluki Anda “Anak Marhaen”-sebutan yang Anda gunakan sebagai nama di semua dokumen resmi sampai sekarang. Bagaimana awal mulanya?

Sudah lama Bung Karno menyebut saya sebagai “Anak Marhaen”. Saya sering makan “singkong marhaen” bersama Bung Karno. Tapi, nama “Anak Marhaen”-disingkat AM-baru mulai diperkenalkan Bung Karno kepada orang banyak saat saya dilantik menjadi Menteri Petera (Pengerahan Tenaga Rakyat) dalam Kabinet Djuanda. Terus terang, saya bangga karena menteri yang namanya ditambah oleh Bung Karno rasanya cuma saya seorang.

Pada 19 Desember 1963, Anda diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Kuba. Jabatan ini tadinya sempat Anda tolak. Mengapa?

Memang, mula-mula saya menolak, kendati jabatan duta besar sangat prestisius pada masa itu. Keluarga saya kemudian meminta saya memikirkan lagi tawaran itu. Saya timbang-timbang dan saya perkirakan bahwa saya akan meninggalkan Bung Karno selama empat-lima tahun jika menjadi duta besar. Maka, tawaran itu saya tolak. Saya tidak ingin meninggalkan Bung Karno.

Mengapa presiden memilih Anda? Bukankah Laksamana Suryadharma seharusnya mengisi jabatan tersebut?

Benar. Tapi Fidel Castro tidak mau menerima Suryadharma. Castro adalah orang yang agak urakan. Maka, yang jadi dubes di Havana haruslah orang yang agak “kurang ajar” juga. Bung Karno lantas memanggil saya. Bersama istri saya Sukendah, kami menghadap presiden di Istana Bogor. “Sukendah, saya memanggil Hanafi ke sini untuk saya mintai pendapat. Apakah Hanafi berani dijadikan duta besar di Kuba untuk mewakili saya?” kata Bung Karno. Saya diam saja. Istri saya menjawab dengan diplomatis: “Kalau masalah itu, tergantung pada Hanafi. Ke mana pun dia pergi, saya pasti ikut.”

Mengapa Bung Karno justru bertanya kepada istri Anda?

Secara pribadi kami memang sangat dekat dengan Bung Karno. Saya kemudian angkat bicara. Saya minta agar diberi kesempatan untuk berpikir dan berbicara dengan abang saya, Asmara Hadi.

Anda berani melawan Bung Karno ?

Kepada saya, Bung Karno sering bersikap kekanak-kanakan. Mendengar jawaban saya, ia membuka peci dan membantingnya ke meja. “Hanafi, in plaats dat je mij helpt, geef jij mij nu problemen (Hanafi, kamu bukannya membantu saya, malahan membuat saya pusing),” ujarnya dengan muka merah padam. “Saya anggota DPA, juga bekas menteri. Berikan saya kesempatan untuk berpikir,” saya ganti menjawab Bung Karno.

Anda kemudian menerima jabatan itu. Mengapa?

Tiga minggu setelah pertemuan di Bogor dengan Bung Karno, datang Tante Jo (istri Wakil PM J. Leimena-Red.) ke rumah saya. “Mas Hanafi, saya tahu bahwa Bung Karno sedang marah-marah. Om Jo berpesan agar Mas Hanafi menerima saja penugasan ke Havana itu. U heeft het verdiend (Anda pantas menerimanya-Red.),” kata Tante Jo. Lalu, pada sidang DPA berikutnya, saya mengatakan kepada Bung Karno, saya siap berangkat ke Kuba. Bung Karno sangat gembira dan memerintahkan Menteri Luar Negeri Soebandrio menyiapkan pelantikan.

Benarkah Anda masih menyimpan kaset rekaman pidato Bung Karno pada saat pelantikan tersebut?

Benar. Kaset itu menjadi dokumen yang amat berharga bagi hidup saya. Dalam pidato sekitar satu jam, Bung Karno memberi banyak nasihat. “Saudara Hanafi saya tunjuk menjadi wakil revolusi yang sedang berjuang dan sebagai duta besar di Kuba-negara yang punya posisi amat penting di Amerika Latin.”

Mengapa Kuba begitu penting?

Karena kedua negara punya kesamaan sikap terhadap kolonialisme. Selama tiga setengah abad, kita dijajah Belanda. Mereka dijajah Spanyol. Petani di Kuba itu menderita seperti budak. Bertahun-tahun mereka menggarap tanah yang bukan miliknya. Sampai kemudian Fidel Castro menumbangkan rezim Batista (penguasa Kuba 1952-1959-Red.)

Seberapa kuat poros Jakarta-Havana dibandingkan dengan Jakarta-Peking, yang juga sangat kuat ketika itu?

Ini dua hal yang agak berbeda. Saat itu, Kuba menjadi sangat penting karena menjadi sentral revolusi rakyat di Benua Amerika. Indonesia dan Kuba memiliki kesamaan yang sangat prinsipiil, yaitu sama-sama menentang imperialisme.

Bung Karno dan Fidel Castro adalah dua kawan baik. Seperti apa persahabatan mereka?

Sangat akrab. Keduanya sama-sama revolusioner. Pada 1960, Bung Karno berkunjung ke Kuba untuk pertama kalinya. Saat itu, beliau harus menunggu Fidel Castro, yang molor sekitar satu jam dari jadwal. Ketika bertemu, Bung Karno mengomel: “Saya ini orang tua. Kok, malah disuruh menunggu. Jangan kurang ajar dengan orang tua.” Untuk mengambil hati Bung Karno, Castro menunduk-nunduk sambil menciumi tangan dan dengkul Bung Karno. Rupanya ia ketakutan. Dia terlambat karena asyik memancing ikan. Kalau sedang memancing, Castro memang bisa lupa segalanya, ha-ha-ha.

Seberapa dekat hubungan Anda dengan Castro?

Saya pernah marah kepada Tentara Revolusi Kuba yang meminta saya mematikan lampu rumah saya. “Ini wilayah Indonesia. Mengapa jam tiga pagi Anda datang ke tempat duta besar?” kata saya sambil marah-marah. Tentara tersebut menerangkan bahwa laki-laki yang duduk dalam jip adalah Fidel Castro. Presiden Kuba itu mau datang ke rumah saya asal semua lampu dimatikan, agar tak ada yang melihat kedatangannya.

Kunjungan mendadak itu dalam rangka apa?

Waktu itu Fidel Castro hendak mengirim surat untuk menyatakan “dukungan Kuba” kepada Bung Karno dalam menghadapi pemberontakan G30S-PKI. Itu hal yang sangat istimewa. Rasanya, baru rumah Duta Besar RI saja yang ia datangi. Selama saya bertugas di sana, Castro tidak pernah tinggal di istana kepresidenan. Demi keamanannya, dalam satu malam ia bisa pindah tempat sebanyak empat kali.

Sayangnya, hubungan strategis Kuba-Indonesia tidak didukung telekomunikasi langsung Jakarta-Havana?

Saat itu, Kuba seperti diisolasi dari dunia internasional-termasuk dalam hal telekomunikasi. Kalau saya mau menghubungi Jakarta, harus lewat KBRI di Washington. Memang sangat ironis dan mengganggu pekerjaan. Ketika pertama kali datang ke Havana, Fidel Castro menanyakan langkah Bung Karno, yang hendak keluar dari PBB. Saya tidak bisa langsung menjelaskan karena sulit mendapat keterangan dari Jakarta.

Bagaimana kondisi ekonomi kita dibandingkan dengan Kuba?

Saat itu keadaan ekonomi kita lebih baik. Alam kita juga lebih subur. Tanah di sana sangat keras. Makanya, orang Kuba juga keras.

Ketika terjadi peristiwa G30S-PKI, Anda masih menjabat Dubes RI di Kuba?

Masih. Saat itu saya sedang menyiapkan kehadiran Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika-Amerika Latin. Rencananya, konferensi akan berlangsung pada 1 Januari 1966 di Havana.

Sebelum Konferensi AAA berlangsung, pecah peristiwa G30S-PKI. Nama Anda disebut-sebut sebagai orang yang merekayasa jumlah korban yang dibunuh akibat dianggap terlibat PKI. Benarkah?

Ya. Ketika itu, Bung Karno membentuk tim pencari fakta untuk mengetahui jumlah korban G30S-PKI. Ketuanya, Mayjen Soemarno, didampingi Menteri Negara Oei Tjoe Tat, pada Desember 1965, menghadap Bung Karno dan melaporkan bahwa korban yang mati mencapai satu juta orang.

Wah, angka itu tinggi sekali, lebih besar dari jumlah korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.

Angka ini juga lebih besar dari korban Perang Vietnam (1957-1975). Saya katakan kepada Bung Karno, “Kalau jumlahnya sebesar ini, saya tidak berani ke Havana lagi”. Hal itu akan menghancurkan nama Indonesia di KAAA. Maka, saya minta agar jumlah yang diumumkan menjadi 78.000 saja. Bung Karno setuju. Lalu, ia memerintahkan Oei Tjoe Tat agar mengumumkannya kepada wartawan yang sudah menunggu di tangga istana.

Dari mana tim Mayjen Soemarno mendapat angka satu juta orang?

Mereka turun ke daerah-daerah dan mengecek jumlah korban berdasarkan penghitungan di lapangan, dari Aceh sampai Bali.

Setelah itu, apakah Anda ke Havana menghadiri konferensi?

Situasi dalam negeri sedang kacau. Bung Karno menahan saya untuk tidak segera kembali ke Havana. Gara-gara persoalan ini, Fidel Castro marah kepada saya.

Anda dicopot dari jabatan duta besar pada Mei 1966. Siapa yang memerintahkannya?

Departemen Luar Negeri mengirim kawat pemberhentian saya dari jabatan duta besar-sesuatu yang tidak bisa saya terima begitu saja. Yang mengangkat saya jadi duta besar adalah Bung Karno. Jadi, yang berhak mencopot juga Bung Karno. Pemberhentian saya oleh Soeharto adalah inkonstitusional dan tidak mematuhi peraturan diplomatik yang lazim.

Bukankah Anda sempat dituduh melakukan “desersi jabatan”?

Memang. Jakarta mengirim kawat kepada seluruh diplomat Indonesia di luar negeri untuk mencari tahu keberadaan saya. Ini sangat aneh. Isu itu sengaja dibuat untuk merusak nama saya. Saya dikatakan melarikan diri dari pos saya di Havana. Padahal, saya sudah “menyerahkannya” kepada Sekretaris I KBRI Mohammad Hatta. Saya tidak bisa segera kembali ke Havana setelah mengikuti konferensi internasional di Meksiko karena Kuba dilanda badai. Dan semua jalur ke sana terputus.

Lalu, ke mana Anda pergi kalau tidak ke Havana?

Tidak ke mana-mana. Saya tetap di Kota Meksiko karena transportasi Meksiko-Havana masih putus, kemudian saya kembali ke Havana lewat Madrid, Spanyol.

Anda masih tinggal di Kuba tanpa status yang jelas hingga 1972. Bagaimana sikap pemerintah Kuba?

Mereka tahu, ini persoalan politik. Meski tidak lagi jadi duta besar, banyak kedutaan tetap mengundang saya dalam acara-acara mereka. Fidel Castro sendiri sangat menaruh simpati.

Lantas, mengapa Anda pindah ke Paris?

Saya harus mencari nafkah buat keluarga saya. Beberapa teman menyarankan saya pindah ke Paris. Pada awalnya, saya masih bisa mengandalkan bekal uang yang tersisa untuk bertahan hidup. Beberapa tahun kemudian, saya mulai mengajar bahasa Indonesia di beberapa sekolah di Paris.

Lalu, bagaimana dengan usaha restoran Anda?

Pada 1978, saya mendirikan restoran di 9 Rue Vauviller 75001, Paris. Namanya Restoran Djakarta-Bali, dengan menu makanan Indonesia. Sayangnya, kami tetap dipersulit.

Dipersulit bagaimana?

Pihak KBRI di Paris melarang orang Indonesia makan di restoran saya. Para penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia diancam dicabut beasiswanya bila ketahuan makan di tempat kami. Makanya, kebanyakan pelanggan saya orang-orang Prancis. Banyak tamu menyatakan keheranannya karena saat mereka bertanya apakah ada restoran masakan Indonesia di Paris, pihak KBRI selalu menjawab “tidak ada”.

Apakah itu upaya menjauhkan Anda dari masyarakat Indonesia?

Benar sekali. Saya dan keluarga seperti penderita lepra. Saya benar-benar tidak mengerti mengapa rezim Orde Baru menganiaya saya seperti itu.

Tapi era Orde Baru sudah lewat. Kini, duet Gus Dur-Megawati yang memimpin Indonesia. Seberapa jauh Anda percaya pada pemerintahan baru ini?

Semua tetap tergantung pada kita juga. Rakyat harus membantu mereka. Apalagi Megawati, dia seorang perempuan. Tentu saja geraknya akan terbatas. Namun, melihat Mega jadi wakil presiden, saya sangat terharu. Seperti melihat sukarnoisme bangkit dari kubur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: