Argentino Menyelamatkan Argentina?

JANJI presiden baru tak cukup meyakinkan. Setidaknya bagi Marta Menéndez Cipriani, 33 tahun, yang berada dalam antrean panjang di sebuah bank. Cipriani rela bercapek-capek karena ia tak mau menanggung risiko tabungannya dalam dolar ditukar dengan uang baru Argentina yang disebut argentino, yang direncanakan resmi beredar Januari ini. “Tabungan saya dalam dolar dan saya ingin dolar itu kembali,” katanya kepada The New York Times, akhir Desember lalu. Kalau tidak mau bersusah payah antre, “Saya bisa kehilangan segalanya,” katanya.

Anjloknya perekonomian Argentina, meski sudah bisa diduga sejak beberapa waktu lalu, mengagetkan juga. Di awal abad ke-20, negeri di Amerika Latin ini termasuk dalam sepuluh negara termakmur di dunia bersama Jerman, Kanada, dan Prancis. Namun, pada 1930, konflik di masa Presiden Juan Peron mengucilkan Argentina dari dunia internasional. Perekonomiannya mandek, pemerintahnya gencar mencetak uang, dan inflasi melaju sampai ribuan persen.

Kemudian, pada 1991, duet Presiden Carlos Menem dan Menteri Keuangan Domingo Cavallo meluncurkan senjata pematokan kurs alias pegging currency. Satu dolar AS dihargai setara dengan satu peso Argentina. Jurus Cavallo, ekonom lulusan Universitas Harvard, AS, cukup jitu. Kurs yang anteng telah meyakinkan investor bahwa ekonomi Argentina berjalan stabil. Hantu inflasi dijinakkan sampai di bawah 10 persen dan ekonomi tumbuh 5,7 persen selama 1991-1998.

Ternyata ekonomi Argentina belum cukup kuat menahan guncangan. Pada 1994, krisis ekonomi melanda Meksiko dan investasi bisnis Meksiko senilai US$ 8 miliar pun melayang dari Argentina. Mimpi buruk berlanjut saat Brasil, pada 1999, mendevaluasi mata uangnya terhadap dolar AS sampai 28 persen. Walhasil, komoditi ekspor Argentina kalah kompetitif dan Brasil menyedot sebagian pangsa ekspor Argentina.

Akibatnya, ekonomi lesu karena perangkap deflasi (deflationary trap). Presiden baru, Fernando de la Rua, yang terpilih pada Desember 1999, harus secepatnya menolong kapal yang hendak tenggelam ini. Ia menggenjot pajak. Segera, daya beli rakyat merosot. Situasi makin buruk karena budaya korupsi makin berurat dan melibatkan pejabat tinggi seperti mantan presiden Carlos Menem.

Pajak yang sudah ditingkatkan ternyata memperburuk ekonomi. November 2000, Argentina berutang US$ 20 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF). Di dalam negeri, Presiden De la Rua, yang kehabisan akal, menggaet lagi Domingo Cavallo sebagai menteri keuangan.

Sialnya, Cavallo tak punya jurus selain menggenjot pajak. Dan celakanya, kali ini, rakyat tak hanya diam. Rakyat di sejumlah kota turun ke jalan, berdemonstrasi, lalu mogok. Gejolak makin parah menyusul kabar pemerintah bakal menggenjot bunga pinjaman antarbank sampai 1.000 persen. Masyarakat yang panik berbondong menarik uang dari bank. Langsung, cadangan bank sentral anjlok tinggal US$ 1,7 miliar.

Segera pemerintah membatasi penarikan tunai maksimal US$ 1.000 tiap orang per bulan. Alih-alih menenangkan, tindakan ini justru menyulut kekacauan lebih hebat. Puncaknya adalah demo berdarah di Plaza de Mayo, 20 Desember lalu, yang memaksa De la Rua mundur.

Kini mampukah Adolfo Rodriguez, presiden baru itu, dengan argentinonya, menyelamatkan kapal yang hendak tenggelam ini? Menurut Menteri Keuangan Rodolfo Frigeri, argentino tak ubahnya surat utang obligasi yang diperlakukan bak uang tunai. “Bisa untuk membayar semua, dari gaji sampai pajak, barang, dan jasa,” katanya sambil menegaskan bahwa argentino bukannya tanpa gigi. Pemerintah menjamin mata uang baru ini dengan seluruh aset real estate negara, termasuk istana kepresidenan Casa Rosada (Rumah Merah Muda).

Masalahnya, para ekonom meragukan likuiditas argentino karena aset real estate tak gampang dicairkan. Dukungan IMF dan Spanyol mungkin bisa membantu bilamana diwujudkan dalam bantuan keuangan yang cukup besar dan segera direalisasikan\bukan sekadar pernyataan. Toh, masih ada persoalan besar yang harus diatasi: korupsi dan penegakan hukum. Untuk dua hal itu, Rodriguez belum punya jawaban. Indonesia bisa belajar dari Argentina, di hari-hari dekat ini.

Mardiyah Chamim tiba-tiba menghilang. Ratusan penjarah supermarket dan toko kelontong tak lagi berkeliaran. Argentina kembali tenang\setidaknya untuk sementara waktu\setelah Presiden Fernando de la Rua mengundurkan diri. Tepat 20 Desember lalu, pemimpin Partai Sosial Demokrat itu meninggalkan istana kepresidenan. Keputusan sulit itu diambil setelah kerusuhan di ibu kota menewaskan 27 demonstran.

Hanya berselang tiga hari, partai oposisi Peronis, yang menguasai parlemen, sepakat mengangkat Adolfo Rodriguez Saa sebagai presiden. Bekas Gubernur Provinsi San Luis itu akan memangku jabatan presiden hingga pemilu yang digelar pada 3 Maret mendatang.

Adolfo Rodriguez Saa, 54 tahun, adalah politisi bangkotan dari partai Peronis. Saat masih berusia 25 tahun, ia telah menjadi anggota legislatif di tingkat provinsi. Sejak saat itu, karir politiknya makin moncer. Ia menjadi Gubernur Provinsi San Luis selama 18 tahun (empat periode berturut-turut), prestasi langka di kalangan politisi Argentina. Selain itu, ayah lima anak ini adalah pengacara berpengalaman.

Tapi Argentina adalah kapal bobrok sarat penumpang. Utang luar negerinya menumpuk dan pengangguran makin membengkak. Rodriguez menyadari benar tantangan di hadapannya. “Saya tak bisa berjanji apa-apa. Pokoknya, saya akan bekerja dan bekerja,” katanya.

Hasil kerja presiden pengganti itu, antara lain, Argentina tak akan membayar utang luar negerinya yang mencapai US$ 132 miliar\sebuah “pembangkangan” terbesar dalam sejarah.

Tentu saja keputusan mengemplang utang tersebut merupakan pedang bermata dua. Dalam jangka pendek, Argentina bisa bernapas lega. Uang yang sedianya untuk membayar cicilan utang yang jatuh tempo akan dimanfaatkan untuk menghidupi 10 juta orang miskin (hampir sepertiga jumlah penduduk negara itu). Tapi, dalam jangka panjang, kepercayaan masyarakat internasional akan pupus. Aliran modal asing, terutama dari investor swasta, bakal sulit diharapkan.

Untuk mengatasi pengangguran, Rodriguez meniupkan angin surga. Ia berjanji akan menciptakan lapangan kerja untuk sejuta penganggur dalam jangka waktu sebulan. “Bagaimanapun caranya, rakyat harus mendapat pekerjaan,” janji sang Presiden.

Hasil yang lain, akan dikeluarkan mata uang baru yang disebut argentino sejumlah 10 miliar argentino. Awalnya, uang tersebut akan dipakai untuk membiayai keperluan rutin pemerintah seperti membayar gaji pegawai dan belanja militer. Dengan diciptakannya mata uang baru, sementara dolar Amerika dan peso tetap berlaku, ekonomi rakyat diharapkan berputar.

Akan berhasilkah Rodriguez? Sinyal positif datang dari Dana Moneter Internasional (IMF). Direktur IMF Horst Koehler menyatakan siap bekerja sama dengan pemerintah baru Argentina. Lalu Spanyol\kreditor terbesar kedua bagi Argentina\menurut menteri luar negerinya, Josep Pique, akan selalu mendukung Argentina.

Tapi cukupkah sebuah negara yang menjelang bangkrut hanya didukung oleh IMF dan sebuah negara yang tak tergolong superpower? Dibandingkan dengan Indonesia, setidaknya yang bakal diurus oleh Presiden Rodriguez cumalah 37 jiwa, sekitar seperenam penduduk Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: