Berebut Warisan Si Kancil

LENGANG menyergap ruang pamer di lantai dua Museum Adam Malik, Jalan Diponegoro, Jakarta. Ribuan keramik, lukisan, dan benda sejarah bernilai seni tinggi lainnya lenyap tak berbekas. Tak kuat menanggung sepi, sebuah lukisan potret diri Adam Malik yang masih tergantung di dinding terlihat sedih. Aroma debu terasa menusuk hidung. Karpet berwarna cokelat kusam menjadi saksi bisu betapa sebuah nama besar dan kejayaan tak pernah abadi.

Museum yang diresmikan pada 1984 itu kini tinggal kenangan. Beberapa pengunjung yang datang harus menanggung kekecewaan. “Museum sudah ditutup untuk umum,” kata seorang penjaga di situ. Suasana suram memagut tiap pojok bangunan. Meski papan nama museum masih berdiri tegak, fungsinya telah berubah menjadi rumah tinggal biasa. Nyonya Nelly Adam Malik, 75 tahun, istri almarhum Adam Malik, merajut hari tuanya di rumah seluas 3.000 meter persegi itu.

Adam Malik adalah salah satu tokoh Orde Baru yang lama bertengger di lingkungan kekuasaan. Selain lama menduduki jabatan menteri luar negeri, yang membuatnya melanglang buana, dia juga pernah menjadi wakil presiden. Dua jabatan itu menjadi kombinasi bagus baginya untuk memiliki cukup uang, waktu, dan keleluasaan mengumpulkan benda-benda seni nasional dan internasional. Museum Adam Malik dinilai sebagai salah satu museum pribadi yang paling kaya koleksinya.

Menurut ahli warisnya, museum yang pernah menjadi salah satu tujuan utama wisata seni di Jakarta ini bangkrut akibat kesulitan dana. Setidaknya dibutuhkan Rp 50 juta tiap bulan untuk biaya pemeliharaan dan gaji karyawan. “Kami tak punya banyak uang,” kata Ilham Malik, putra keempat. Untuk menutup defisit anggaran museum, menurut Ilham, mereka melakukan kanibalisme ala militer. Beberapa koleksi dijual kepada kolektor dalam negeri (lihat: Yang Raib Entah ke Mana).

Pada 1987, misalnya, lukisan karya pelukis Trubus yang berjudul Penari-Penari dilego dengan harga yang “lumayan”. Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 120 x 83 sentimeter persegi itu laku Rp 200 juta. Tak berhenti di situ, koleksi lainnya juga mulai menguap. Puluhan ikon-seni pahat khas gereja ortodoks dari Eropa Timur-juga mulai berpindah tangan. Soal nilai, tak tanggung-tanggung. Sebuah ikon bisa laku sampai US$ 600 ribu. “Uangnya untuk biaya operasional museum,” ujar Ilham.

Bagaimana dengan bantuan pemerintah? Saat Moerdiono menjadi Menteri-Sekretaris Negara, Museum Adam Malik sempat mendapat bantuan dari Sekretariat Negara sebanyak Rp 7 juta per bulan. Meski tak rutin, Soedjarwo, yang saat itu menjadi Menteri Kehutanan, juga kerap memberikan bantuan dana jutaan rupiah. Tapi sumbangan pemerintah itu tak banyak menolong. “Selain tidak berlanjut, bantuan dari pemerintah tak memadai,” kata Ilham.

Namun, sang Ibu berpendapat lain. Perempuan renta yang sempat menyandang predikat istri wakil presiden itu mengaku tak ingin menjual peninggalan suaminya. Ia takut kualat. Tapi pertengkaran kelima anaknya memaksa Nelly Adam Malik berdamai dengan keadaan. “Anak-anak selalu ribut soal fulus,” kata Nelly, “Tiap hari bicara fulus.” Kegelisahan sang Ibu tak disangkal Antarini Malik, putri bungsu. Bahkan, Antarini menyatakan berniat menjual gedung museum itu. “Kalau ada yang berani bayar Rp 20 miliar, kami lepas,” kata Antarini berpromosi.

Sebenarnya, penjualan benda seni koleksi Museum Adam Malik memiliki implikasi hukum. Ada 20 arca yang berasal dari era Majapahit (abad VII Masehi) yang termasuk dalam kategori benda cagar budaya yang dilindungi. Menurut Undang-Undang Nomor 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, penjual benda cagar budaya diancam sanksi pidana yang tidak ringan: 10 tahun penjara atau denda Rp 100 juta.

Ilham Malik tak kurang akal. Agar tak menabrak undang-undang, ia meminta kolektor yang membeli tetap “memelihara” arca Hindu itu. “Harganya mencapai ratusan juta,” katanya. Sayang, Ilham tak bersedia menyebut nama sang kolektor kelas kakap itu. Selain itu, Ilham punya alasan lain. Menurut dia, pembagian harta warisan merupakan penerapan syariat Islam. “Museum merupakan monumen manusia. Ini dilarang agama,” ujar Ilham.

Benarkah? Dr. Anhar Gonggong, Direktur Permuseuman dan Sejarah Departemen Pendidikan Nasional, punya pendapat yang berbeda. Penjualan benda cagar budaya tak ada hubungannya dengan agama. Hukum tetaplah hukum. “Mereka bisa masuk penjara,” kata Anhar Gonggong.

Sementara itu, pengamat seni Amir Sidharta menyayangkan sikap pemerintah yang tak bertindak cepat. Seharusnya pemerintah berani mengambil alih tanggung jawab dengan membeli koleksi Adam Malik. Di mata kurator Museum Universitas Pelita Harapan ini, koleksi lukisan dan keramik Adam Malik menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan estetika Indonesia. “Bila pemerintah tak punya dana, bisa cari sponsor dari luar negeri,” kata Amir Sidharta.

Senada dengan Amir, ahli keramik Handojo Susanto merasa sedih dengan carut-marut nasib koleksi Adam Malik. Bagi Handojo, yang mengaku sering berburu keramik bersama Adam Malik, koleksi keramik Adam Malik telah menjadi salah satu masterpiece dunia. Ahli keramik dari Cina pernah meneliti keramik-keramik Adam Malik, khususnya keramik yang berasal dari berbagai dinasti tua di Cina. “Nilainya sulit diucapkan,” ungkap Handojo.

Apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Ribuan lukisan, keramik, ikon, arca, serta benda seni lainnya koleksi Adam Malik telah tercecer di beberapa kolektor berkantong tebal. Untuk mengumpulkannya kembali, dibutuhkan kemauan dan biaya yang sulit dibayangkan. Tapi almarhum Adam Malik dikenal sebagai si Kancil yang selalu memiliki optimisme dan akal cerdik. “Semua bisa diatur,” katanya.

One Response

  1. sayang lukisan trubus hanya laku 200 jt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: