Buruk Muka, Tarif Didongkrak

INILAH kabar tak sedap bagi para pengguna telepon seluler. Jangan kaget, tagihan rekening yang harus Anda bayar bulan depan sudah bisa dipastikan akan membengkak. Pasalnya, operator telepon seluler mulai menaikkan tarif. Telkomsel, misalnya, mulai bulan ini langsung mengerek tarifnya secara bervariasi. Kenaikan tertinggi menimpa para pengguna kartu prabayar Simpati. Untuk menerima panggilan saat berada di luar daerah asal, Simpati menaikkan tarif hingga 20 persen. Tak ayal, operator yang memiliki 3,6 juta pelanggan ini dipastikan akan menangguk untung besar. “Kenaikan ini akibat dari kenaikan tarif interkoneksi,” kata Azis Fuedi, Corporate Communi-cation Manager Telkomsel.

Bagaimana dengan operator lainnya? Setali tiga uang. Satelindo malah telah menaikkan tarifnya sejak Januari 2002 lalu. Operator yang kini masih menguasai sekitar 18 persen pasar seluler Indonesia itu juga menyatakan kenaikan tarif tersebut sebagai pengaruh dari kenaikan tarif PT Telkom. Alasannya sederhana: kenaikan tarif Telkom telah mendongkrak tarif interkoneksi.

Apa pun sebab-musababnya, kenaikan tarif telepon seluler alias ponsel tetap saja menuai kecurigaan. Kuat terkesan bahwa pemerintah cenderung mengikuti keinginan operator. Menurut pengamat multimedia Roy Suryo, alasan kenaikan tarif seluler semata-mata disebabkan oleh ongkos interkoneksi sungguh terlalu dibuat-buat. Aroma “ketidakberesan” dalam kenaikan tarif ini, menurut Roy, terasa sangat kuat. “Saya dengar operator menyogok pejabat Postel,” katanya. “Tapi itu memang sulit untuk dibuktikan.”

Sebenarnya, hal itu bisa dilacak dari persentase kenaikan yang terjadi. Kalau persentase kenaikan tarif interkoneksi sama dengan persentase kenaikan tarif telepon seluler, adanya “ketidakberesan” cukup pantas diragukan. Namun informasi lain segera muncul, yang memperkuat dugaan tentang ketidakberesan itu. Kabarnya, ketika beberapa waktu lalu PT Telkom menaikkan tarif, gelontoran uang juga mengalir ke pundi-pundi pejabat pemerintah dan beberapa anggota DPR. “Ada enam anggota DPR yang menerima suap,” kata Roy Suryo. “Masing-masing dapat semiliar.” Sayangnya, se-orang anggota DPR yang ketiban “rezeki nomplok” itu batal memberi kesaksian gara-gara yang lain tak mendukung.

Kecurigaan Roy Suryo boleh jadi cukup beralasan. Tengok saja sikap pemerintah dalam soal kenaikan tarif seluler ini. Pihak Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, yang menjadi regulator dalam soal tarif telepon seluler, seolah menutup mata. Alih-alih menentang pihak Ditjen Postel, ia malah menyatakan kenaikan tarif itu masih dalam koridor yang ditentukan pemerintah. “Kenaikannya masih sesuai dengan aturan,” kata Gatot S. Dewa Broto, Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Postel. Soal tudingan suap, Gatot menganggapnya isapan jempol belaka.

Sebenarnya, performa keuangan tiga operator seluler\Telkomsel, Satelindo dan Excelcomindo\cukup kinclong. Tengok saja PT Telkomsel, yang tahun 2001 menyumbang Rp 1,2 trilun (28 persen) bagi pendapatan PT Telkom. Apalagi pertumbuhan pelanggan telepon seluler di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan angka yang spektakuler. Selama lima tahun terakhir pertumbuhan pengguna telepon seluler men-capai 60 persen per tahun. Data resmi pemerintah hingga bulan Maret 2002 menunjukkan bahwa jumlah pelanggan telepon seluler telah mencapai 5,5 juta sambungan. Itu berarti cuma terpaut sedikit dari telepon biasa yang berjumlah 6,8 juta sambungan.

Tingginya permintaan telepon seluler membuat kinerja teknis para operator menjadi kedodoran. Meski tak didukung dengan jumlah base transceiver station (BTS) yang memadai, mereka tetap menambah jumlah pelanggan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Ibarat jalan-jalan di Kota Jakarta, sistem komunikasi para operator telepon seluler sering macet total.

Senada dengan Roy Suryo, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga mempertanyakan alasan kenaikan tarif telepon seluler itu. Diah Indriantari, Kepala Bidang Pengaduan YLKI, menyatakan kenaikan itu tak masuk akal. “Mereka sudah untung besar, tak ada alasan untuk menaikkan tarif,” ujar Diah Indriantari.

Toh, konsumen selalu terpojok ke posisi yang lemah, tak lain karena dalam hal ini kebutuhan pelanggan telepon seluler lebih besar ketimbang pasokan dari operator yang terbatas. Ketimpangan ini otomatis membuat operator berada di atas angin. “Pelayanannya tambah payah, tarifnya tambah mahal,” ujar Roy Suryo, jengkel. Jadi, siap-siaplah, kenaikan tagihan ponsel akan merongrong Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: