Demi Kepuasan Amerika

RADIKALISME adalah awal dari petaka,” kata Presiden Republik Yaman, Ali Abdullah Saleh. Pernyataan keras itu meluncur hanya sepekan setelah Saleh bertelepon dengan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush. Dalam perbincangan itu, Bush menegaskan komitmen Amerika untuk segera merealisasi paket bantuan militer senilai US$ 400 juta atau sekitar Rp 4 triliun bagi Yaman. Gedung Putih menjanjikan paket itu ketika Saleh berkunjung ke sana dua bulan setelah serangan teroris ke Amerika pada 11 September lalu.

Saleh bergerak cepat. Dalam sepekan, tak kurang dari 115 mahasiswa asing yang tengah menempuh pendidikan di pelbagai pesantren dan perguruan tinggi di Yaman diciduk polisi. Sejumlah 43 di antaranya adalah mahasiswa asal Indonesia. Sisanya berasal dari Prancis, Inggris, Sudan, Somalia, Mesir, dan Filipina. “Mereka terlibat dalam kelompok radikal yang berhubungan dengan Al-Qaidah,” ujar Jenderal Rashid Alimi, Menteri Dalam Negeri Yaman.

Sekitar 65 mahasiswa yang ditangkap tengah kuliah di Dar Al-Hadith\pesantren internasional yang terletak di Provinsi Mahrib, sekitar 100 kilometer di sebelah timur pusat pemerintahan, Sana’a. Selama puluhan tahun, Dar Al-Hadith menerima mahasiswa dari pelbagai negara. Tak ada bukti kuat soal keterkaitan pesantren itu dengan organisasi Islam radikal. Tapi Presiden Saleh sepertinya tak membutuhkan bukti-bukti konkret. Dar Al-Hadith, yang memiliki sekitar 1.000 mahasiswa, bahkan ditutup pekan lalu.

Sikap membabi-buta Yaman dalam soal penangkapan mahasiswa asing itu segera memicu protes. “Itu tindakan berlebihan yang akan mengganjal hubungan bilateral,” kata Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirajuda. Protes itu tak banyak artinya. Meski telah melepaskan 17 mahasiswa Indonesia yang ditangkap, Yaman masih memenjarakan sisanya. “Kami yakin mereka termasuk dalam barisan pendukung Al-Qaidah,” ujar Jenderal Rashid Alimi.

Kritik keras juga muncul dari dalam negeri. Parlemen dan kalangan media massa lokal mempertanyakan niat di balik penangkapan itu. “Penangkapan ini sekadar memuaskan Amerika Serikat,” kata Syekh Abdallah Ahmar, ketua parlemen Yaman.

Memuaskan Amerika? Yaman tidak hanya membutuhkan bantuan militer Amerika. Negeri di ujung Semenanjung Arabia ini juga berada dalam titik lemah pusaran “perang Amerika melawan terorisme”. Negeri berpenduduk 20 juta jiwa ini dikenal sebagai negeri asal keluarga besar Usamah bin Ladin, juragan Al-Qaidah, yang oleh Amerika dituding sebagai dalang serangan 11 September. Mohamad Ladin, ayah Usamah, yang hijrah ke Arab Saudi pada 1930, lahir di Hedramaut, Yaman.

Sebagai salah satu negeri termiskin di kawasan Teluk, Yaman juga sasaran empuk tekanan Amerika, yang kini getol memperluas perangnya. Setelah sukses menjungkirkan rezim Taliban di Afganistan, Presiden Bush dua pekan lalu mengancam Iran, Irak, dan Korea Utara, yang ditudingnya sebagai anggota persekutuan jahat\the axis of evil.

Amerika merasa punya alasan untuk menuding Yaman sebagai sarang teroris pula. Tak kurang dari 17 dari 158 tahanan Taliban dan Al-Qaidah di Pangkalan Militer Guantanamo tercatat sebagai warga negara Yaman (lihat Ranting-Ranting Pepohonan Al-Qaidah). Dan jauh sebelum itu, pada 12 Oktober 2000, kapal perang Amerika USS Cole menjadi sasaran serangan bom yang menewaskan 17 orang awaknya. Kapal itu tengah berlabuh di Aden, Yaman.

Pemerintah Yaman memang harus berusaha keras agar tidak masuk daftar persekutuan itu. Bahkan jika harus menginjak-injak hak asasi rakyat dan orang asing yang tidak berdosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: