Kisah dari ”Istana Terapung”

ALUNAN tembang My Way tiba-tiba seolah menghadirkan roh penyanyi legendaris Frank Sinatra di Kafe Oceana Hotel Central Maritime Dili, suatu malam pada awal September silam. Puluhan pengunjung yang necis dan wangi bersandar santai di kursi-kursi berselimut kain linen putih bersih. Matahari baru saja menghilang di ujung horizon Teluk Ombai, meninggalkan semburat merah di atas langit Kota Dili. Di seberang kafe, kegelapan mulai membungkus daratan. Cahaya listrik yang suram seperti sia-sia menerangi deretan bangunan yang kusam dan rompal selepas huru-hara besar dua tahun silam. Panorama itu terasa asing dan berjarak dari balik kaca jendela kafe yang berpendar cemerlang oleh sinar lampu.

Dari jalanan di seberang pantai, Central Maritime\sebuah hotel terapung di Pantai Dili\terlihat seperti dunia impian yang disaput cahaya malam. Tadinya sebuah kapal angkut, Central Maritime disulap menjadi hotel bintang empat\tempat paling mewah di seantero Timor Loro Safe saat ini. Hotel ini menjadi rujukan utama orang-orang berkantong tebal yang mampir ke negeri miskin itu. Ratusan staf internasional UNTAET (pemerintahan transisi PBB di Timor Loro Safe), yang rata-rata bergaji US$ 7.000 (setara dengan Rp 70 juta pada kurs Rp 10 ribu) sebulan, menjadikan Central Maritime sebagai tempat tinggal atau sekadar rendezvous\bertemu dengan kenalan dan tamu-tamu.

Untuk menjamin keamanan setiap tamu, Central Maritime memberlakukan pengamanan superketat selama 24 jam. Lima pria bertubuh gempal dari Chubb Security akan memeriksa dengan teliti setiap orang yang melangkah ke pintu masuk. Anda hanya bisa lolos bila dapat menunjukkan kartu indentitas yang jelas atau tanda masuk penghuni Central. Sebuah lorong di atas laut sepanjang 150 meter menghubungkan pintu masuk dan meja resepsionis yang ditunggui seorang perempuan cantik berwajah Thailand.

Hotel terapung ini memuliki 133 kamar berukuran 4×3 meter. Di setiap kamar berpenyejuk udara itu, terdapat televisi warna merek Sharp berukuran 17 inci. Meja rias berukuran besar turut mempercantik ruangan. Di pojok kamar, tegak sebuah kulkas berisi minuman ringan yang bisa ditenggak setiap saat. Di kamar mandi, tersedia pancuran air panas dan dingin yang akan menghilangkan penat tamu-tamu setelah menyusuri daratan Timor Loro Safe yang berdebu.

Dalam hal fasilitas dan hiburan, Central Maritime tak kalah dengan hotel mewah di Jakarta. Empat buah bar dan restoran yang menyajikan aneka menu dunia siap memuaskan lapar dan dahaga seratus pengunjung sekaligus. Tentu saja, semuanya harus ditebus dengan tumpukan dolar. Seporsi steak sapi dan kentang goreng nilainya US$ 25. Ingin mencicipi sepiring spageti? Tolong siapkan US$ 20 lebih dahulu. Dan setiap gelas jus jeruk bisa hditukarh dengan US$ 7. Kalau dompet sedang tebal, cobalah red wine. Harga sebotolnya US$ 50. Michael Dorant, seorang bartender asal Filipina, menuturkan kepada TEMPO bahwa restoran terapung itu punya banyak stok anggur merah. hKami punya red wine produksi tahun 1940 dari Prancis,h uarnya berpromosi.

Promosi lain tentang hotel ini bisa ditemukan di pojok dekat buritan. Di situ terbentang kolam renang yang dapat melemaskan ketegangan otot. Seorang perempuan setengah baya tengah asyik berenang dalam balutan bikini hijau toska. Di sisi lain kapal, tersedia sauna dengan berbagai layanan: mandi uap, pijat biasa sampai pijat siatsu. Fasilitas di atas hotel tersebut menjadikan Central Maritime seperti sebuah histana terapungh.

Pada malam hari, komposisi warna lampu yang berpendar di pojok-pojok hotel menjadi sarana warga Dili mencuci serta memanjakan mata dan angan-angan. Dari jauh, hotel itu mirip hbangunan kukuhh yang mengapung di atas air laut. Cahaya listrik yang berpendar di permukaan air memantulkan panorama yang memikat mata. Juga, memancarkan ironi yang luar biasa dengan dunia lain yang cuma berjarak puluhan meter dari kapal. Di seberang pantai, penduduk Dili harus bertahan dengan arus listrik yang byar pet setiap satu jam.

Untuk menerangi seluruh kota berpenduduk 150 ribu jiwa itu, pihak UNTAET hanya menyediakan listrik berkekuatan 20 ribu kilovolt. Sedangkan Central Maritime punya generator berkekuatan 15 ribu kilovolt, yang membuat kamar para tamu terang-benderang setiap saat. Surga terapung ini tak lupa menyediakan para hbidadarih yang bersedia melakukan apa saja bagi kesenangan para penghuninya. hTarifnya murah, untuk all in cuma US$ 200 dolar,h ujar seorang petugas Central Maritime.

Kemewahan di hotel ini sebetulnya contoh menarik dari kesenjangan sosial dalam sebuah komunitas perkotaan yang baru belajar tumbuh setelah babak-belur dihajar huru-hara berdarah dan pertikaian politik bertahun-tahun.

Di trotoar kusam Pantai Dili tempat Central Maritime bersandar, sepotong wajah Dili yang babak-belur bisa ditemukan pada Olu Lobato, seorang gelandangan asal Bobonaro. Di atas lantai semen saat malam mulai turun, Olu tidur beralaskan sepotong plywood. Tubuhnya yang kurus setengah telanjang tampak tidak terawat.

Kepada TEMPO, ia mengaku telah dua tahun berpisah dengan istri dan kedua anaknya. Prahara kemanusiaan yang lahir pascajajak pendapat pada Agustus 1999 membuat ke-luarga Lobato tercerai-berai. Rumahnya di Bobonaro ludes dilahap si jago merah. Tak ada harta tersisa. hTrotoar ini menjadi rumahku,h tuturnya dalam bahasa Tetum.

Toh Lobato bukanlah makhluk aneh yang layak dipergunjingkan dalam potret Timor Loro Safe sekarang. Ribuan penduduk lain bernasib serupa. Mereka tak punya tempat tinggal, uang, keterampilan khusus yang bisa menopang kehidupan, dan tentu saja masa depan. Pemuka umat Katolik Uskup Filipe Ximenes Belo sempat gusar tatkala TEMPO menanyakan situasi terakhir di Dili. hPara pemimpin asyik berebut jabatan. Mereka melupakan kemiskinan dan kesenjangan ini,h kata peraih Nobel Perdamaian 1996 itu.

Keluhan Uskup Belo tak berlebihan. Dari jendela istananya yang berjarak sepelempar batu dari pantai, sang Uskup bisa pula menyaksikan pameran kemewahan lain di atas kapal Amos. Dibandingkan dengan Central, Amos memang lebih hsederhanah. Kendati bentuk luarnya seperti tumpukan kontainer yang tersusun rapi, Amos juga tak lalai menyajikan aneka kesenangan hidup. Hotel ini melengkapi kamarnya dengan fasilitas standar seperti televisi, pendingin udara, air panas dan dingin. Tarifnya lebih kompetitif\sekitar US$ 90 semalam. Kalau sedang sepi, pihak hotel berani memberi diskon hingga US$ 15.

Central Maritime dan Amos bukan hotel terapung pertama yang hberlabuhh di Pantai Dili. Tatkala ribuan hbuleh mengalir ke Timor Loro Safe pada akhir 1999, Hotel Olympia men-jadi tempat bersemayam para staf internasional UNTAET. Tapi harga ketika itu, jangan ditanya. Kamar standar ukuran 3×2 meter saat itu dipatok US$ 200 alias sekitar Rp 2 juta. Toh semua tamu membludak di Olympia karena tak ada pilihan lain. Api yang membakar dan meluluhlantakkan bangunan di Dili rupanya tak menjalar ke hotel terapung ini.

Sejumlah kalangan di Dili menuturkan, selama setahun bersandar di Pantai Dili, hotel milik seorang pengusaha Australia itu meraup tak kurang dari US$ 40 juta (sekitar Rp 400 miliar) dari hasil kontrak dengan UNTAET. Angka ini sama dengan delapan kali lipat dari dana yang dikeluarkan untuk membayar sekitar 2.000 staf lokal UNTAET selama setahun. Olympia kemudian angkat sauh dari Dili. Tempatnya digantikan oleh Central dan Amos. Selain itu, hotel kelas melati pun mulai menjamur.

Penginapan kelas melati di Dili umumnya dibangun para investor Singapura. Tarifnya sekitar US$ 50 semalam\walau kondisinya amat bersahaja. Papan reklame dari tripleks bertuliskan hroom for renth menjadi petunjuk bagi orang-orang yang hendak ngamar. Tarif ini tetap saja tak bisa dijangkau kebanyakan warga pribumi. Mari kita hitung gaji seorang polisia. Dengan penghasilan US$ 100, seorang polisi akan bangkrut jika ia nekat menginap dua malam di hotel melati. hTidur di hotel itu cuma mimpi. Untuk makan pun gaji kami tak cukup,h ujar Alfredo Tilman, bekas anggota Polres Dili yang kini menjadi polisia.

Impian Tilman seperti gema lonceng yang menyadarkan warga Dili tentang musuh baru yang harus mereka hadapi setelah merdeka: kemiskinan. Aroma kemakmuran yang mengalir dari Kafe Oceana Hotel Central Maritime ke trotoar jalanan yang berlubang atau bangunan-bangunan kusam yang berderet mengikuti garis pantai adalah kontras yang mempertegas kisah kemiskinan tersebut.

Alunan My Way baru saja berakhir. Tamu-tamu bertepuk tangan. Dan seorang pramusaji berparas jelita berkeliling menawarkan menu a la carte yang harganya melebihi sebulan gaji Alfredo Tilman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: