Lee Diajak, Soros Dilobi

MENIKMATI udara segar Raffles Boulevard dengan santai mungkin jadi cerita masa lalu. Merenung di sudut-sudut bising Kuala Lumpur juga tinggal kenangan. Jika Abdurrahman Wahid mengunjungi dua negeri jiran itu, boleh jadi ia, yang kini presiden Republik ke-4, tak bakal sempat bernostalgia di kawasan favoritnya itu. Ia praktis bakal sibuk dengan agenda pokok kenegaraan yang melelahkan.

Dengan pesawat kepresidenan, Presiden Gus Dur, didampingi Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Kwik Kian Gie, dan 40 anggota rombongan termasuk belasan wartawan, meninggalkan Jakarta menuju Singapura, Sabtu pagi pekan lalu. Perjalanan dilanjutkan ke delapan negara anggota ASEAN, lalu disambung ke Amerika Serikat dan Jepang. Ini memang lawatan ke luar negeri pertama sejak santri Jombang itu terpilih menjadi presiden pada 20 Oktober lalu. Ia terbang jauh setelah kabinet komprominya terbentuk dua pekan lalu.

Dalam muhibah tak resmi ini, Gus Dur melakukan pembicaraan serius dengan koleganya, Perdana Menteri Goh Chok Tong. Goh bertekad membantu memulihkan perekonomian Indonesia, yang kini masih morat-marit. ”Saya akan memimpin delegasi bisnis Singapura ke Jakarta guna mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia,” kata Goh kepada rekannya dari Indonesia itu. Presiden Wahid juga bertemu Presiden S.R. Nathan.

Tapi yang paling seru agaknya road show dengan 400 pengusaha asal Singapura dan beberapa negara sahabat yang berlangsung di sebuah hotel berbintang di negara kota itu. Tiap pengusaha yang berminat ikut serta dalam acara jamuan makan itu oleh pihak panitia dikenai fee sebesar 500 dolar Singapura, atau sekitar Rp 20 juta. Daya tarik presiden baru Indonesia ini sungguh luar biasa. Banyak pengusaha yang terpaksa gigit jari karena tak kebagian tempat.

Saat itu, Gus Dur bicara soal peluang bisnis di Indonesia seusai pemilihan presiden. Ia mengajak para pengusaha itu untuk melakukan investasi di Indonesia. Kabarnya, dari para pengusaha yang umumnya keturunan Tionghoa itu, Gus Dur berharap akan ada capital inflow sebesar US$ 80 miliar bagi Indonesia. Ia pun lalu mengajak sang magnet ”kaum Cina perantauan”, bekas Perdana Menteri Lee Kwan Yew, untuk duduk sebagai penasihat khusus ekonominya. Belum ada jawaban dari tokoh yang kini menjadi menteri senior itu.

Seperti dua sisi mata uang, persoalan bisnis selalu terkait dengan situasi politik. Para pengusaha Singapura, yang sempat kapok dengan eskalasi politik pada akhir rezim Orde Baru, meminta Gus Dur memaparkan situasi mutakhir politik Indonesia. Persoalan kemelut di Aceh menjadi pusat perhatian mereka. ”Saya akan memberikan otonomi yang lebih luas dan merealisasikan status Aceh sebagai suatu daerah istimewa,” kata Gus Dur, mencoba meyakinkan.

Sore harinya, rombongan menuju Kuala Lumpur. Di negeri jiran, Gus Dur, yang didampingi Ibu Negara Sinta Nuriyah, melakukan pembicaraan ringan dengan Yang Dipertuan Agong Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, yang juga didampingi oleh Raja Permaisuri Agong Tuanku Siti Aishah. Pertemuan di Istana Negara itu lebih bersifat basa-basi politik. Pembicaraan serius baru dilakukan malam harinya dengan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Pertemuan pemimpin kedua negara ini menandai suatu babak baru hubungan bilateral Indonesia-Malaysia. Hubungan antartetangga ini sempat memburuk akibat dukungan tak resmi pemerintahan Habibie, tempo hari, terhadap bekas Wakil Perdana Menteri Malaysia Dr. Anwar Ibrahim, seteru Mahathir. Pada akhir 1998, pers Indonesia sangat menyoroti kasus tokoh reformasi Malaysia, Anwar Ibrahim, yang dituduh melakukan liwath (seks anal) dengan bekas sekretarisnya.

Selama ini, Gus Dur memiliki kedekatan khusus dengan tokoh oposisi Malaysia nomor wahid itu. Sebagai Ketua Tanfidziyah PB Nahdlatul Ulama, Gus Dur selalu memberikan dukungan moral bagi gerakan reformasi di Malaysia. Tampaknya, hal ini masih menjadi ”duri dalam daging” buat Malaysia. ”Kami mengerti bahwa Presiden Abdurrahman Wahid dikenal cukup dekat dengan Dr. Anwar Ibrahim. Namun, beliau adalah seorang pemimpin Indonesia yang akan membangun saling pengertian,” kata Menteri Luar Negeri Syed Hamid Albar seperti dikutip kantor berita Bernama.

Agenda lain yang juga dibicarakan oleh Gus Dur dengan Dokter M, panggilan akrab Mahathir, adalah masalah tuntutan referendum di Aceh. Selama ini, Malaysia dikenal sebagai tempat ”penampungan” tokoh-tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ahmad Kandang, sebuah nama yang sempat menggegerkan Lhokseumawe, dikabarkan sempat bermukim lama di Malaysia. ”Malaysia akan membantu Indonesia untuk mencari jalan terbaik bagi penyelesaian masalah Aceh,” tutur Menteri Syed Hamid Albar.

Setelah genap berkunjung ke negara-negara ASEAN, sang Presiden akan menuju Amerika Serikat untuk bertemu dengan Presiden Bill Clinton-sekalian berobat mata. Dalam kesempatan itu pula, Menteri Alwi Shihab dijadwalkan bertemu dengan para fund manager, spekulan kelas dunia George Soros, dan bekas Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger. Keduanya dikenal sebagai tokoh penting dalam Jewish Community, sebuah komunitas Yahudi yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian dan percaturan politik dunia. Sebuah resep baru untuk menambal ekonomi yang sempat tercabik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: