Matahari di Semenanjung Korea

MUSIM dingin belum berlalu. Dijalanan Seoul, ibu kota Korea Selatan, para pejalan kaki membungkus diri rapat-rapat dengan mantol tebal yang menahan tubuh dari serangan hawa dingin. Tapi anak-anak muda Seoul tak peduli pada suhu termometer yang terus melorot. Mereka ke luar rumah, bertempik-sorak di jalan-jalan, berjingkrak di taman-taman kota. Mereka berdansa sampai pagi untuk menyambut datangnya “matahari” Korea, yang menurut mereka ada dalam sosok Roh Moo-hyun. Pekan silam, politikus kawakan berusia 56 tahun ini terpilih menjadi Presiden Korea Selatan. Mewakili Partai Demokratik Milenium, Roh mendapat 49,1 persen suara dari 35 juta pemilih aktif. Dia menang tipis dari Lee Hoi-chang, tokoh Partai Nasional, yang meraih 45,8 persen suara. “Ini kemenangan bagi seluruh rakyat di Semenanjung Korea,” ujar Roh.

Semenanjung Korea? Dalam kampanyenya, Roh Moo-hyun menyatakan akan melanjutkan langkah pendahulunya, Kim Dae-jung, yang menerapkan Sunshine Policy untuk merangkul Utara menuju sebuah Korea yang utuh. Pertarungan ideologi yang panjang, disusul Perang Korea (1950-1953), telah membelah Semenanjung Korea ke dalam dua negeri: Korea Selatan dan Korea Utara.

Soal Korea Utara menjadi salah satu isu sentral dalam pemilu kali ini. Dan Roh berhasil meyakinkan pendukungnya bahwa “jalan pedang” dengan pihak Utara tak akan pernah membuahkan hasil. Roh, yang mengaku memiliki banyak sanak kadang di Utara, menawarkan hubungan yang lebih lembut. Kelak, kata Roh, Semenanjung Korea dapat kembali bersatu.

Meski tidak orisinal, tawaran Roh soal hubungan dengan Utara mendapat sambutan hangat. Apalagi Korea Utara dipastikan telah berhasil mengembangkan persenjataan nuklir\sebuah ancaman besar bagi perdamaian dan masa depan Korea. Roh agaknya telah mengantisipasi ancaman ini dari jauh-jauh hari dan memilih “merangkul saudara kandung” di Utara ketimbang saling menuding dan menggasak.

Dr. Tat Yan Kong, pengamat politik dari Universitas Nasional Korea, menyatakan Roh akan menghadapi beban yang mahaberat. Tat menyebut budaya korupsi, pengangguran, hubungan dengan Amerika, dan ancaman nuklir Korea Utara sebagai pekerjaan rumah presiden baru itu. Tapi Tat menambahkan, Roh adalah politikus matang yang mampu menuntaskan masalah.

Roh memang sudah banyak makan asam garam politik. Pada 1988, anak sebuah keluarga petani miskin di Provinsi Gyeongsang Selatan ini menjadi anggota Majelis Nasional. Dia duduk di majelis itu sebagai salah satu wakil dari Partai Demokrasi.

Kunci sukses Roh Moo-hyun adalah dukungan kaum muda reformis\yang sejatinya punya latar belakang yang panjang. Pada 1980, saat Presiden Chun Doo-hwan menangkapi puluhan mahasiswa di Kota Busan\dikenal sebagai “Insiden Burim”\Roh Moo-hyun tampil ke muka. Ia membela para aktivis prodemokrasi. Dia kemudian memilih lakon sebagai pengacara kasus hak asasi manusia dan perburuhan. Anak-anak muda Korea Selatan memujanya. Dia dianggap jauh lebih reformis ketimbang Lee Hoi-chang, rivalnya dari Partai Nasional.

Dia juga mendapat nilai plus dari para pendukungnya karena dianggap punya sikap dalam menghadapi Amerika Serikat\sekutu politik dan militer Korea Selatan yang penting selama ini. Pagi-pagi dia sudah mengatakan agar Korea Selatan dan AS seyogianya membangun hubungan yang lebih “setara”. Presiden baru ini bahkan berani “mempertimbangkan kembali” keberadaan 37 ribu personel tentara Amerika di pelbagai kota di Korea Selatan. “Di masa depan, mereka akan pergi dari tanah Korea,” kata Roh.

Harus diakui, Roh berhasil “menumpang” pada isu sensitif yang melanda Korea Selatan saat ini: sentimen anti-Amerika. Pekan lalu, jalanan Seoul seperti lautan manusia ketika ratusan ribu warga mendemo tentara AS yang dinilai telah mencoreng kedaulatan Korea. Kematian dua gadis remaja Korea Selatan yang ditabrak serdadu Amerika yang mabuk menjadi pemicu lahirnya sentimen yang telah lama terpendam di bawah permukaan.

Alhasil, kehadiran Roh bisa saja akan mengubah konstelasi politik antara Korea Selatan, Korea Utara, dan Amerika Serikat. Roh, yang oleh lawan-lawan politiknya disebut “radikal yang berbahaya,” akan mengusung negeri ginseng itu ke anak tangga unifikasi Korea yang lebih tinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: