Mehdi atau Kemenangan Reformasi (Barangkali)

PENAHANAN anggota parlemen adalah sebuah kezaliman,” terdengar suara keras bercampur marahMehdi Karroubi. Sesaat kemudian, Ketua Majlis Syura (parlemen Iran) yang mengenakan sorban putih dan cincin batu hitam ini langsung meninggalkan ruang sidang. Jadwal sidang Majlis hari itu, Selasa pekan lalu, pun berantakan. Sekitar 200 anggota parlemen dari kelompok reformis segera mengikuti langkah ketuanya.

Hampir saja Iran masuk kubangan krisis politik bila saja Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi republik Islam ini, tak lalu turun tangan. Hari itu juga, beberapa jam setelah walk out ramai-ramai di Majlis Syura itu, Ayatullah mengeluarkan surat pengampunan untuk seorang anggota parlemen yang sejak tiga bulan lalu ditahan: Hussein Loghmanian. Dan memang Loghmanian inilah yang menjadi pemicu keberangan Karroubi. Keruan saja, kelompok reformis di Iran merasa memperoleh kemenangan besar.

Loghmanian, 60-an tahun, anggota parlemen kelompok reformis, beberapa waktu lalu mengkritik kebijakan penegakan hukum yang cenderung membela kelompok konservatif. Tanpa keterbukaan, siapa saja boleh mengkritik pemerintah, Iran akan bangkrut\begitu kira-kira Loghmanian bicara dari mimbar parlemen.

Pernyataan veteran perang Iran-Irak yang kehilangan kakinya itu sebenarnya mendapat dukungan luas. Tapi para hakim konservatif di Mahkamah Agung Iran rupanya tersinggung, lalu dibukalah pengadilan terhadap Loughmanian itu, mengabaikan undang-undang bahwa anggota parlemen kebal hukum sejauh ia bicara di mimbar Majlis. Dan Loghmanian kalah.

Tindakan kaum konservatif itu bukan baru sekali itu saja, dan sejauh ini sukses. Benar, Iran setelah kemenangan Ayatullah Khomeini pada 1979 menjadi republik dan menjalankan demokrasi. Dan justru karena itu Presiden Muhammad Khatami, yang berpihak pada kaum reformis, tak bisa begitu saja menggunakan kekuasaannya membendung sepak terjang kaum konservatif. Untuk itu, ia harus menempuh upaya hukum. Celakanya, Mahkamah Agung dikuasai oleh kaum konservatif. Dalam dua tahun terakhir sejumlah reformis yang berani bicara ditahan, puluhan surat kabar dan majalah yang mengampanyekan reformasi dibredel.

Kini gebrakan Mehdi Karroubi membuka harapan baru. Sikapnya bukan saja tak membawanya ke ruang pengadilan, malah menyebabkan orang yang dibelanya dibebaskan langsung oleh sang pemimpin tertinggi yang adalah pemimpin spiritual, Ayatullah Ali Khamenei.

Sejak Iran diubah oleh Revolusi 1979\yang dilancarkan oleh para mullah dan dipimpin Ayatullah Rohullah Khomeini\menjadi Republik Islam Iran, kekuasaan tertinggi berada di tangan para mullah. Bahkan presiden dan ketua parlemen, yang nota bene dipilih langsung oleh rakyat, tak berkutik bila berhadapan dengan pemimpin spiritual ini. Berdasarkan konstitusi Republik Islam Iran, pemimpin spiritual punya hak memveto untuk semua keputusan yang dikeluarkan presiden dan parlemen. Dan sejauh ini para mullah memang cenderung konservatif.

Dari sisi ini, keberanian Mehdi Karroubi menakjubkan. Sebenarnya, Karroubi bukan seorang radikal. Ia salah seorang “anak emas” Ayatullah Khomeini. Di masa itu, Karroubi sering mendapat tugas memimpin sekitar 150 ribu jemaah Iran yang menunaikan ibadah haji ke Baitullah, Mekah. Agaknya, Karroubi terpaksa merintis jalan radikal setelah imbauan pertamanya agar Loghmanian dibebaskan tak mendapat reaksi apa pun. Dengan keberaniannya itu, ruang untuk kebebasan berpendapat bisa dipertahankan.

Di sisi lain, tak bisa dibilang Ayatullah Khamenei terpengaruh gertakan di Majlis Syura. Ayatullah satu ini tetap mencoba mempertahankan keseimbangan. Surat pembebasannya tidaklah membebaskan Loghmanian dari dakwaan di pengadilan, melainkan semacam pemberian amnesti. Loghmanian secara implisit tetap dianggap salah karena mengampanyekan reformasi.

Karena itu, masih sulit untuk mengatakan Iran bergeser ke reformasi, betapapun kaum reformis pada pekan lalu merasa memperoleh kemenangan. Masih harus ditunggu, apa yang akan terjadi terhadap dua anggota Majlis Syura yang juga dijatuhi hukuman karena mengampanyekan reformasi. Mereka, berbeda dengan Loughmanian, memang belum masuk penjara. Akankah mereka dimasukkan ke balik jeruji, atau dibebaskan, mungkin bakal menentukan jalannya republik Islam ini selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: