Menggugat Monumen Dinasti Keropos

“PEJAH gesang nderek Soeharto.” Begitulah bunyi sebuah spanduk di Jalan Cendana. Kalimat sindiran yang berarti “hidup-mati ikut Soeharto” itu ditulis para mahasiswa dengan tinta merah. Jangan salah, ini bukan demonstrasi mahasiswa pascareformasi, melainkan demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Penghematan Uang Rakyat (Gepur) pada 1971. Mereka memprotes rencana pembangunan Taman Mini. Sayang, saat itu, mereka kalah tangguh dengan Soeharto. “Saya akan menumpas demonstrasi dengan keras,” kata Soeharto.

Namun, kekuasaan tak pernah abadi. Setelah Dinasti Soeharto ambruk, orang kembali mempertanyakan legalitas Taman Mini. Sejarawan Anhar Gonggong, yang pada 1971 ikut berdemo menentang pembangunan Taman Mini, menyatakan bahwa Yayasan Harapan Kita, salah satu yayasan Soeharto, tak berhak mengelola obyek wisata itu. Alasannya, Taman Mini dibangun dengan uang rakyat. “Mereka tak boleh terus-terusan mengangkanginya,” kata Anhar Gonggong.

Taman Mini adalah kisah yang bertutur tentang ambisi dan kekuasaan. Saat pembebasan lahan, masyarakat Kelurahan Bambuapus, Jakarta Timur, dipaksa melepas tanahnya seharga Rp 100 tiap meter persegi–jauh di bawah harga pasaran, yang mencapai Rp 250 per meter.

Dengan bermodal kekuasaan, pembangunan Taman Mini di area yang mencapai 100 hektare itu berjalan tanpa rintangan berarti. Tien Soeharto–yang mencanangkan pembangunan Taman Mini–tak perlu repot-repot memikirkan dana. Melalui Yayasan Harapan Kita, dikeruk dana dari delapan penjuru mata angin. Tak cuma itu, ibu negara yang selalu bertutur lemah-lembut itu meminta tiap pemerintah daerah tingkat I membangun anjungan yang bercorak adat setempat. Pemda Jawa Tengah, misalnya, menghabiskan dana APBD sebesar Rp 240 juta untuk membangun anjungannya. Akhirnya, pada April 1975, Presiden Soeharto meresmikan “mahakarya” sang istri. Imelda Marcos, istri diktator Filipina Ferdinand Marcos, hadir di antara 2.000 tamu kehormatan.

Tapi itu cerita lama. Kini Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika menyatakan kesiapan pemerintah untuk mengambil oper pengelolaan Taman Mini. Langkah ini ditetapkan setelah pihak Yayasan Harapan Kita, yang diwakili oleh direksi Taman Mini, pekan lalu mendiskusikan masa depan Taman Mini dengan I Gde Ardika. Dalam diskusi itu, diketahui bahwa neraca keuangan Taman Mini negatif alias masih merugi. Sayang, tak jelas benar jumlah kerugiannya. “Pokoknya, pemerintah siap mengambil alih,” kata Ardika. Soal nombok? Ardika punya pendapat sendiri. Taman Mini nantinya akan dikelola oleh sebuah BUMN yang siap merugi. Soalnya, Taman Mini dianggap punya peran penting sebagai etalase wisata budaya nasional. “Kalaupun harus nombok, itu sudah risiko pemerintah,” katanya.

Anehnya, kepada TEMPO, pihak Taman Mini justru mengaku telah meraih untung. “Dari tiket saja, biaya operasional dan gaji karyawan sudah tertutup,” kata Kepala Humas Taman Mini, Dandoel Hardiyono. Memang, dengan jumlah pengunjung yang mencapai 5 juta per tahun, puluhan miliar rupiah akan memenuhi pundi-pundi yayasan.

Saat ini, harga tiket masuk pintu utama Rp 4.000 tiap pengunjung. Bila membawa mobil, pengunjung masih harus merogoh kocek Rp 5.000 lagi. Belum lagi bila ingin masuk ke salah satu obyek wisata di dalam Taman Mini. Teater Tanah Airku, misalnya, mengenakan tarif masuk mencapai Rp 40 ribu tiap pengunjung. Di samping itu, Taman Mini masih memiliki beberapa sumber penghasilan tambahan, antara lain dari iklan dan penyewaan fasilitas yang dimilikinya. Sasono Langen Budoyo, misalnya, menjadi tempat favorit untuk melangsungkan resepsi pernikahan. Gedung berkapasitas 800 orang itu disewakan dengan harga yang cukup bersaing: Rp 3,5 juta untuk beberapa jam.

Pendek kata, Taman Mini merupakan angsa bertelur emas yang sangat menjanjikan. Sayang, seperti badan usaha lainnya yang dikelola yayasan Keluarga Cendana, Taman Mini tertutup dalam soal keuangan. “Saya tak bisa memberikan laporan keuangan yang lengkap,” kata Dandoel Hardiyono.

Seperti bayi, Taman Mini dipaksa lahir dengan operasi caesar. Abnormal dan berdarah-darah. Setelah dewasa, ia tak juga lepas dari pelbagai masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: