Nirwan Dermawan Bakrie: “Rekomendasi TBH Sangat Berlebihan”

SETELAH lama tak terdengar kabarnya, pekan lalu nama Nirwan Dermawan Bakrie, 51 tahun, berbunyi lagi. Bekas pemilik Bank Nusa Nasional ini ber-sama beberapa bankir lain dinyatakan tidak memiliki iktikad baik untuk melunasi utangnya di Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Kesimpulan itu dikeluarkan oleh Tim Bantuan Hukum Komite Kebijakan Sektor Keuangan (TBH KKSK).

Nirwan tak mau menerima rekomendasi TBH itu. Sebuah perlawanan pun disiapkan oleh pecandu sepak bola yang dikenal sebagai pemilik Klub Sepak Bola Pelita Jaya ini. Pebisnis yang bersama Bambang Trihatmodjo dan Sudwikatmono pernah memonopoli impor minyak mentah ini mengaku memiliki data yang berbeda dengan BPPN. “Saya ingin berunding soal jumlah utang yang sebenarnya,” kata adik Aburizal Bakrie, bos kelompok usaha Bakrie & Brothers, ini.

Malangnya, penyandang gelar M.B.A. dari University of Southern California itu berada pada posisi sulit. Soalnya, pada 15 November 2000 sebenarnya Nirwan telah menandatangani akta pengakuan utang (APU) yang berisi pernyataan utang sebesar Rp 5,1 triliun\jumlah yang kini disebutkan oleh TBH KKSK. Untuk mengetahui sikapnya soal utang Bank Nusa Nasional di BPPN, wartawan TEMPO Setiyardi mengontaknya. Sayang, Nirwan tidak ingin diwawancarai. Jawaban pertanyaan TEMPO diberikan oleh pengusaha ini beserta timnya lewat surat elektronik. Kutipannya:

Berapa kewajiban Bank Nusa Nasional (BNN) kepada BPPN?

Belum ada kesepakatan soal besarnya kewajiban BNN. Ada perbedaan yang sangat signifikan. Pihak BPPN menyebut utang pokok dan bunganya Rp 5,106 triliun. Sedangkan kami berpendapat jumlahnya hanya tinggal Rp 618,9 miliar.

Mengapa terjadi perbedaan yang sangat besar?

Karena non-performing loan BNN sebesar Rp 2,948 triliun yang telah dinyatakan lunas masih dibebankan kepada pemegang saham. Selain itu, ada beban dari pihak tak terkait sebesar Rp 205,9 miliar.

Kalau ada perbedaan, mengapa Anda menandatangani APU?

Itu merupakan bukti bahwa saya ingin menyelesaikan persoalan tersebut. Padahal penasihat hukum saya meminta agar saya tak menandatanganinya hingga jumlah utang disepakati. Dengan penandatanganan APU, itu berarti saya tak mengulur-ulur waktu. Lagi pula dalam salah satu klausul APU disebutkan bahwa BPPN akan membuat surat kesepakatan jumlah utang untuk kami konfirmasikan kembali. Nah, hingga sekarang, BPPN tak pernah membuat surat tersebut.

Bagaimana menyiasati perbedaan antara Anda dan BPPN?

Saya memiliki dokumen pendukung yang sangat lengkap. Yang diperlukan saat ini adalah sebuah perundingan yang dapat mempertemukan perbedaan tersebut.

Sebelum ditutup, bagaimana komposisi saham BNN?

Saya memegang 58 persen saham. Sisanya dimiliki beberapa pihak seperti Bakrie Finance Corporation, Bakrie Capital Indonesia, Daya Sarana Indonesia, dan pemegang saham individu.

Mengapa kinerja BNN saat itu sangat jeblok?

Pada mulanya BNN memiliki CAR minus 106,69 persen. Bank Indonesia memberikan waktu 30 hari untuk menaikkannya menjadi minus 25 persen. Kami berhasil meningkatkan CAR dengan cara memasukkan aset-aset baru sebagai modal. Semua itu sebenarnya sudah ada dalam laporan keuangan BNN tanggal 30 Juni 1999.

Tim Bantuan Hukum KKSK menganggap Anda tak kooperatif dan beriktikad buruk. Bagaimana?

Itu tidak benar. Buktinya, saya telah melakukan pembayaran awal sebesar Rp 35 miliar. Selain itu, kalau dipanggil BPPN, saya selalu datang. Saya tak pernah beralasan sakit atau berobat ke luar negeri. Kami mengerti posisi BPPN. Tapi kami juga berharap BPPN mau mengerti posisi kami. Saya tak akan lari untuk menghindari kesulitan.

Bukti Anda tidak kooperatif, misalnya, aset PT Bakrie Finance Corporation dan PT Bakrieland Development masih Anda kuasai?

Keduanya memang tak termasuk dalam daftar perusahaan yang diserahkan ke BPPN.

Tim Bantuan Hukum KKSK juga merekomendasikan paksa badan, pailit, cekal, penyitaan aset, serta tuntutan pidana akibat pelanggaran batas maksimal pemberian kredit. Apa komentar Anda?

Rekomendasi itu sangat berlebihan. Setiap saat saya menunggu panggilan BPPN guna menuntaskan perbedaan jumlah utang BNN. Saya berharap informasi soal rekomendasi itu tidak benar.

Apa langkah Anda menghadapi tindakan hukum BPPN?

Saya mengedepankan keterbukaan dan perundingan yang mengarah pada penyelesaian yang dapat diterima kedua belah pihak.

Omong-omong, bagaimana nasib bisnis Anda?

Semua berjalan baik. Saya berharap dalam waktu tak lama lagi Bakrie Group bisa bangkit kembali. BPPN telah mengumumkan restrukturisasi utang anak-anak perusahaan Bakrie. Artinya, secara finansial sudah beres. Saat ini tinggal meningkatkan nilai aset yang anjlok diterjang krisis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: