Panggung (Bukan) Sandiwara bagi Milosevic

PERTENGAHAN April yang hangat, di pedalaman Serbia. Serombongan petani, sebagian besar ibu-ibu bersama anak-anaknya, dengan beban berat di pundak, mendaki lereng menuju kampung di puncak bukit. Mereka dalam perjalanan pulang kembali dari pengungsian. Tiba-tiba hujan bom dari udara menyapu rombongan rapuh itu, seperti badai insektisida melumatkan sekelompok kupu-kupu.

Tubuh-tubuh remuk, bergelimpangan. Tangan kaki tanpa nyawa, dan paras yang tidak lagi bisa dikenali….

Tiga tahun kemudian, Kamis pekan lalu, rekaman keganasan yang membabi-buta itu memenuhi ruang pengadilan internasional Hague, di Den Hag, Belanda, yang mengadili bekas Presiden Yoguslavia, Slobodan Milasovic, sebagai penjahat perang. Tapi jangan salah. Foto-foto brutal itu bukan diajukan jaksa penuntut, melainkan dibawa oleh sang terdakwa, Milosevic.

Seperti mau menyaingi bukti-bukti yang diajukan jaksa penuntut, Milosevic menayangkan sejumlah rekaman foto dan video tandingan. Isinya, keganasan serangan bom tentara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang meremukkan warga sipil Serbia. Ruang sidang yang dilengkapi dengan sistem suara canggih itu tiba-tiba seperti kamar mayat raksasa.

Kelompok ibu-ibu petani tadi merupakan korban salah-bom pilot pesawat tempur NATO yang mengira rombongan pengungsi itu sebagai konvoi bersenjata. Dengan modal foto dan video itu, Milosevic membalikkan tuduhan terhadap dirinya. hBukan saya, tapi NATO-lah penjahat perang yang sejati,h katanya dingin, tanpa rasa bersalah.

Tak pelak Milosevic menjadikan pengadilan Hague yang dimulai Selasa lalu sebagai panggung pembelaan diri. Kalaupun tak berhasil melepaskan diri dari tuntutan jaksa, Milosevic agaknya berharap agar ia bisa membela diri dari rakyat Serbia.

Ketika diberi kesempatan berbicara pada sidang hari kedua dan ketiga, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunjukkan bahwa Amerika Serikat (AS) telah hmemprovokasih perang di Balkan. hJustru majikan Anda yang telah meremukkan Yugoslavia dan menyeret Bosnia dengan paksa memasuki kancah perang,h katanya sambil menuding ke arah tim jaksa penuntut.

Serbia, katanya, tak punya urusan dengan perang yang meletup di Bosnia dan Kroasia. Sedangkan di Kosovo, Milosevic yang diisolasi dalam ruangan kaca antipeluru itu mengaku, pasukan Serbia hhanyah memerangi terorisme. Ini sama seperti George W. Bush yang memburu para teroris hingga ke Afganistan. Apa yang telah dilakukan, kata Milosevic, hanya refleksi dari hsuara rakyat Serbiah.

Karena itu, ia menolak mengakui pengadilan internasional ini. Ia menolak didampingi pengacara, bahkan menolak membacakan pledoi. Peradilan yang disponsori PBB ini, katanya, merupakan hsandiwara mengerikanh. Milosevic, yang memasuki ruang sidang dengan warna kebesaran Serbia merah, putih, biru itu, malah menuding seluruh prosedur pengadilan itu cuma lelucon gombal.

Tapi Milosevic tampaknya tak punya pilihan lain. Sidang yang dipimpin Hakim Richard May (Inggris), didampingi Patrick Robinson (Jamaika) dan O Gon Kwon (Korea Selatan) ini balas menolak keberatan Milosevic. hPengadilan ini sah berdasarkan hukum internasional,h kata May.

Dalam pengadilan ini, Milosevic akan menghadapi sejumlah tuduhan berlapis, mulai dari kejahatan kemanusiaan (membantai warga sipil tak bersenjata), melakukan upaya pembasmian suku bangsa (genocide), dan melanggar Konvensi Jenewa. Selama delapan tahun di bawah Milosevic, sedikitnya 300 ribu warga Yugoslavia dari etnis non-Serbia kehilangan nyawa dan sekitar sejuta lainnya kehilangan tempat tinggal.

Satu saja dari tuduhan tersebut terbukti benar, itu sudah cukup untuk membawa hJagal dari Balkanh ini ke dalam kurungan penjara seumur hidup. Sayang, pengadilan Hague tak punya vonis hukuman mati.

Bagaimana kira-kira peluang Milosevic? Tampaknya berat. Jaksa Carla del Ponte dikenal sebagai pemburu penjahat perang yang tak kenal kompromi. (lihat Perempuan di Balik Asap Cerutu). Ia telah menyiapkan segudang bukti dan saksi mata. Setidaknya, ada 90 saksi, ratusan dokumen, 167 rekaman video, 775 foto, dan 50 sketsa yang menyulitkan Milosevic untuk berkelit. Seorang gadis Bosnia berumur 14 tahun, misalnya, menceritakan bagaimana pasukan Serbia memerkosanya di depan ibu-ayahnya. hSetelah itu, mereka menembak kepala orang tua saya,h katanya.

Dengan setumpuk dosa Milosevic itu, guru besar hukum internasional dari Inggris, Christopher Greenwood, memastikan orang kuat Serbia itu mustahil lolos. hHampir tak ada celah,h katanya. Keputusan dalam kasus Milosevic, kata Greenwood, berpengaruh besar bagi masa depan sistem peradilan internasional. Bila Milosevic lolos, pamor pengadilan internasional akan rontok.

Pengadilan internasional atas pelaku ke-jhatan perang sebenarnya pernah mencatat sukses. Dalam pengadilan Nuremberg, 12 jenderal Nazi dinyatakan bersalah atas pembasmian ratusan ribu kaum Yahudi selama Perang Dunia I dan II. Mereka akhirnya diseret ke depan regu tembak.

Tapi Milosevic tak akan gampang menyerah. Selama persidangan, lulusan Fakultas Hukum Universitas Belgrade ini tak memperlihatkan rasa takut atau bersalah. Beberapa kali ia menyela jalannya persidangan dan mengetuk-ngetuk meja. Majelis hakim yang jengkel lalu memutus sambungan mikrofon yang dipakainya.

Milosevic minta hakim melepaskannya agar ia bisa mengumpulkan bukti untuk membela diri. Ia menjamin tak akan melarikan diri. hSaya cuma punya satu pesawat telepon, sedangkan Anda punya peralatan lengkap,h katanya. hAnda seperti menantang lomba renang tapi tangan dan kaki saya terikat.h

Milosevic tentu saja ingin membuktikan bahwa pengadilan ini cuma rekayasa AS dan tuduhan terhadap dia hanyalah wujud dari dendam turunan. Jika ia sukses, bukan cuma puluhan ribu korban yang akan menjadi pecundang, tapi juga umat manusia yang berharap masih ada keadilan di dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: