Setyanto P. Santosa: “Mitra KSO Harus Dipenalti”

SETYANTO P. Santosa sedang gusar. Kontrak KSO yang dipereteli kekuatannya dengan munculnya nota kesepahaman (MOU) memang membuatnya jadi emosional. “Saya tidak habis pikir, mengapa Telkom mau dikorbankan,” ujar Setyanto. Wajar bila pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah, 53 tahun lalu ini kecewa. Masalahnya, KSO lahir semasa Telkom di bawah komandonya.

Menurut direktur utama PT Telkom periode 1992-1996 ini, KSO sendiri sebetulnya hasil kompromi setelah sebelumnya Menteri Joop Ave berniat mengubah Telkom menjadi beberapa perusahaan patungan. Di ruang kerjanya, Setyanto, yang kini Deputi II Menteri Negara BUMN Bidang Industri Manufaktur dan Distribusi, menjelaskan dengan lugas kepada Setiyardi dari TEMPO, bagaimana sebaiknya mitra KSO diperlakukan. Berikut petikannya.

Ide KSO itu dulu datangnya dari mana?

Dari pemerintah. Sebenarnya, Telkom keberatan. Saya ini lahir dan besar di Telkom, masa mau menyerahkan Telkom ke orang lain? Itu tak masuk akal. Bahkan sebelumnya Telkom mau ditenderkan menjadi bentuk joint venture. Jadi, menurut pemerintah, Telkom akan terdiri dari banyak joint venture company (JVC). Semua direksi Telkom keberatan dan mengirim surat ke Menparpostel dan Menteri Keuangan. Setelah kompromi, lahirlah KSO. Maka, kalau sekarang mau di-JVC-kan lagi, saya tertawa. Itu adalah ide lama Joop Ave.

Konsep joint venture itu seperti apa?

Wah, pokoknya merugikan banget. Mereka tidak punya apa-apa, tiba-tiba jadi memiliki aset. Tentu saja Joop Ave kecewa. Tapi saya tidak mau Telkom diacak-acak. Saya kan tidak tahu apa yang ada di kepala Joop Ave?

Apa alasan pemilihan lima mitra KSO?

Ada seleksi yang sangat ketat. Terus terang saja, banyak peserta tender yang tidak membawa modal dan teknologi, tapi maunya dapat uang.

Kalau disangsikan, mengapa mereka tetap dipakai?

Itu kemauan pemerintah. Joop Ave bahkan mau menyerahkan daerah Jakarta dan Jawa Timur ke mitra KSO. Saya yang tidak setuju. Saya memakai bantuan Bank Dunia dan beberapa pihak lain, karena sendiri pasti tidak kuat.

Mitra KSO sendiri tak membawa dana segar….

Kenyataannya seperti itu. Dalam kontrak diatur soal debt ratio yang besarnya 65 : 35. Jadi, minimal 35 persen harus modal sendiri. Ternyata, semua modal didapat dari utang. Ya, repot. Setelah krisis, mereka mengaku susah. Sekarang ini, kinerja mereka tidak baik. Poin yang sangat mencolok, kegagalan memenuhi pembangunan line unit dalam jumlah dan waktu yang tepat.

Menurut mereka, jumlah yang disepakati itu tak tercapai karena angka itu berdasar target pemerintah.

Lo, mengapa mereka mau menandatangani kontrak? Semua itu adalah risiko bisnis. Jangan mau enaknya sendiri. Dalam kontrak, tidak pernah ada istilah target pemerintah. Semua adalah kesepakatan bersama. Kalau sekarang keadaannya begini, itu kesalahan mereka sendiri dalam membuat prediksi.

Apakah 2 juta sambungan yang menjadi target merupakan angka berdasarkan permintaan yang ada?

Oh, jelas. Angka itu sudah ada dalam prospektus Telkom. Dalam kontrak, memang disebutkan adanya force majeur, tapi itu bukanlah krisis ekonomi ini. Omong kosong itu. Sekarang Telkom seharusnya sudah melakukan penalti dengan mengambil alih KSO.

Mengapa itu tidak dilakukan?

Saya tidak habis pikir, Telkom bukannya menghukum malah membuat MOU yang melemahkan kontrak sebelumnya. Padahal, secara hierarki hukum posisi MOU itu jauh lebih lemah daripada kontrak. Saya pikir hal ini baru terjadi di Telkom saja.

Apa saja klausul MOU itu yang merugikan Telkom?

Semuanya. Telkom, yang semestinya beroleh pendapatan, sekarang tidak. Semestinya mereka sewa tempat, sekarang tidak perlu. Kewajiban memelihara dan membeli suku cadang yang ada di tangan mereka kini diambil alih Telkom. Pokoknya, Telkom sudah dikorbankan.

Mungkin ada tekanan?

Kalau dari luar, saya rasa tidak ada.

Memangnya ada badan usaha yang mau mengorbankan dirinya?

Badan usahanya memang tidak. Tapi pihak manajemennya mungkin saja. Itu sering terjadi. Sebuah badan usaha jatuh miskin tapi pihak manajemennya kaya-raya.

Anda menyalahkan direksi yang sekarang?

Mereka bertanggung jawab. Mereka merugikan Telkom.

Bukannya tanggung jawab pemerintah?

Lo, yang membuat MOU emangnya siapa? Telkom. Kontraknya saya yang buat. Lihat saja, tak ada yang jelek.

Tegasnya, Anda meminta Direktur Utama Telkom, Asman A. Nasution, memenalti mitra KSO?

Saya tidak kenal dengan dia. Saya juga nggak tahu, apakah dia ngerti KSO atau tidak. Kontrak KSO sangat tebal. Mungkin dia tidak membaca kontrak itu.

Apa solusi yang Anda tawarkan?

Gampang saja. MOU dicabut dan dikembalikan ke kontrak awal. Kalau ada ketakutan investor asing akan lari, itu tugas pemerintah, bukan Telkom. Kalau mereka pergi, silakan. Banyak orang Telkom yang bisa mengelola. Mengapa harus takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: