Si Anak Hilang di Pengadilan AS

JOHN Walker Lindh muncul di ruang sidang pengadilan Alexandria, Virginia, dua pekan silam. Ia meluncur ke ruangan itu dengan menyandang tuduhan berat:berkhianat kepada tanah air. Dalam sepuluh pekan perang melawan Afganistan\sejak awal Oktober 2001\remaja asal California berusia 20 tahun itu angkat senjata memerangi tentara AS demi membela Afganistan dan Taliban. Dalam salah satu wawancaranya, Walker mengaku berjihad di jalan Allah, yang ia lakukan sebagai buah dari “pengembaraan rohani”-nya selama beberapa tahun terakhir ketimbang niat menentang negaranya, Amerika.

Jangan buru-buru mengira semua orang Amerika melecehkan alasannya. Sejumlah warga kelas menengah Amerika bangga dengan tindakan mbalelo John Walker. Seorang kolumnis San Francisco Chronicle, misalnya, memuji anak muda ini punya “semangat kaum pesisiran” California, yang berani melihat Amerika dengan kacamata yang kritis. Tetangga Walker berkomentar, “Sulit membayangkan anak itu menjadi pengkhianat.”

Rupanya, si tetangga masih ingat betul anak pemalu yang kerap dibanggakan Tuan dan Nyonya Walker Lindh\kedua orang tua John Walker\sebagai bocah penurut. Saat muncul di ruang sidang, tampang Walker juga lebih mirip remaja yang belum lama tanggal dari masa ABG-nya, ketimbang pengkhianat yang meruntuhkan citra Amerika di mata dunia.

Tapi tuntutan hukum pemerintah AS kepada Walker juga bukan tanpa dasar.

Konstitusi Amerika Pasal 3 ayat 3 jelas-jelas mencatat bahwa setiap tindakan menolong musuh dalam perang adalah pengkhianatan kepada negara.

Jaksa Agung AS, John Ashcroft\dalam laporannya kepada Presiden Bush\merincikan lagi dosa-dosa Waker sebagai berikut: terlibat konspirasi untuk membunuh prajurit Amerika, membantu kelompok teroris, dan melakukan transaksi dengan kelompok teroris.

Maka si Walker pun ditahan dan diajukan ke pengadilan. Serta-merta keputusan ini mengundang banjir kritik kepada George Bush dan para punggawanya dari berbagai penjuru. Amerika dituding bersikap dobel standar dalam perkara para tawanan Taliban. Si Walker boleh diadili di pengadilan sipil, sementara 158 tawanan Taliban lain dikerangkeng di Guantanamo dalam kondisi amat buruk tanpa status hukum yang pasti. Meringkuk dalam sel sempit\berpengaman sinar X\dengan tangan dan kaki yang diringkus jadi satu, mereka tidur di atas kasur setebal dua sentimeter. Sedangkan Walker mendapat perawatan medis dan makanan yang amat memadai. Berat badannya naik 3 kilogram dibandingkan dengan saat ia ditangkap.

Anak muda ini juga punya pembela yang bersiaga untuk membetotnya dari jaring-jaring hukuman. James Brosnahan, salah satu pengacaranya, menyatakan proses penahanan atas diri kliennya mengandung beberapa cacat. Misalnya, selama 54 hari setelah penangkapannya, John diisolasi.

Brosnahan baru dapat berbicara dengan kliennya sesaat sebelum ia memasuki ruang sidang. Maka Broshanan pun menuding, “Amerika telah melanggar hak-hak tahanan menurut Konvensi Jenewa.

Nasib Walker alias Sulaiman Al-Faris\nama Islamnya\sebetulnya bisa “tertolong” oleh beberapa preseden dari kasus serupa dalam sejarah hukum Amerika. Pengadilan AS belum pernah menjatuhkan hukuman mati dalam kasus “pengkhianatan kepada negara” dalam 100 tahun terakhir. Dan sejak lahirnya negara AS pada 1776, baru ada 30 tuntutan hukum dalam kasus semacam ini, antara lain bekas wakil presiden Aaron Burr (1756-1836). Ia didakwa dengan tuduhan menghimpun balatentara untuk melawan negara AS. Namun, pengadilan membebaskan Burr.

Pada masa pemerintahan Gerald Ford, sang Presiden juga membuat keputusan yang menggegerkan saat ia mengampuni Tokyo Rose, nama samaran Ikuko Toguri, seorang perempuan Amerika berdarah Jepang. Tokyo Rose disebut-sebut sebagai pengkhianat AS paling kondang dalam Perang Dunia II karena menyiarkan propaganda Jepang melalui Radio Tokyo kepada para prajurit Amerika di Pasifik Selatan. Pada 19 Januari 1977 Presiden Ford memberi pengampunan kepadanya.

Maka, jika Presiden Bush bertekad langsung “main keras” kepada Walker, ia akan berhadapan dengan beberapa preseden tersebut. Para pengritiknya menyebut Bush terlalu “cari aman” dalam menangani Walker, di samping perihal standar ganda.

Meminjam kata-kata The Economist, “Jika Bush sudah bersumpah untuk menghancurkan segala kegiatan teroris dan pelakunya dari seluruh muka bumi, ia tak bisa memberi keleluasaan kepada Walker hanya karena warna kulitnya yang putih.”

Satu hal, Walker punya modal lain yang bisa lebih menyandung Bush dan para punggawanya: ia masih resmi memegang “KTP” Amerika berikut segala hak-hak yang tercantum di atasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: