Sterilisasi ala Dokter M

IRING-IRINGAN truk polisi melaju kencang ke arah Pelabuhan Malaka. Muatan truk itu adalah 69 pria Indonesia yang duduk berdempet dengan tangan diborgol. Ada 20 polisi bersenjata lengkap yang turut dalam iring-iringan tersebut. Mereka mengawal penumpang truk ini hingga ke atas kapal yang akan berlayar menuju Pelabuhan Dumai, Riau. “Ini tahap awal. Banyak yang akan menyusul,” Mohamad Yunus Othman, Kepala Kepolisian Negeri Sembilan, menegaskan. Peristiwa pada pekan lalu ini adalah deportasi sebagian tenaga kerja Indonesia (TKI) menyusul kerusuhan yang pecah di pabrik tekstil Hualong, Negeri Sembilan.

Kerusuhan itu bermula dari langkah polisi untuk menangkap 16 pekerja yang diduga menggunakan dadah alias obat-obatan ter-larang. Tapi sekitar 500 pekerja asal Indonesia ikut mengamuk dan mencatat aksi rusuh terbesar dalam sejarah TKI di Malaysia. Tak mengherankan jika Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad naik darah. Apalagi 70 pekerja bangunan asal Aceh juga melakukan aksi perusakan beberapa rumah makan di kawasan Cyberjaya Selatan, Kuala Lumpur. “Kalau bisa, kami tak akan menerima pekerja asal Indonesia lagi,” kata Mahathir.

Urusan bersih-bersih pekerja asal Indonesia ini tampaknya kian merepotkan Mahathir, yang kini tengah sibuk membongkar pelbagai jaringan “teroris” di Malaysia. Sampai-sampai ada guyonan di kalangan sejumlah pengusaha muda Kuala Lumpur, “Jangan-jangan Mahathir mulai mengira jaringan teroris sudah menyusup pula hingga ke para pekerja Indonesia itu,” ujar Eddie Lie, pengusaha otomotif dari kawasan Petaling Jaya, kepada TEMPO via telepon internasional.

Komentar Lie mungkin sekadar lucu-lucuan. Tapi bahwa polisi Malaysia menahan 23 laki-laki anggota Kumpulan Militan Malaysia (KMM) dan Jamaah Islamiyah, yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin, tentu itu bukan canda belaka. Kepala Kepolisian Malaysia, Norian Mai, menyatakan masih ada sekitar 200 tersangka yang akan ditangkap dengan tudingan terlibat jaringan terorisme internasional.

Aksi bebersih Pak Dokter M terhadap warganya yang dianggap “radikal” sebetulnya kisah lama, jauh sebelum ribut-ribut soal jaringan Al-Qaidah. Dengan senjata Internal Security Act (ISA), sejumlah anggota PAS, misalnya, pernah dibekap. PAS\partai oposisi terkuat di Malaysia\memang dituding “fundamentalis dan radikal” oleh beberapa kalangan. Contoh lain adalah Anwar Ibrahim\mantan deputi perdana menteri\dari Partai Keadilan, yang kini masih mendekam di bui. Isu perang “melawan terorisme” menyusul tragedi World Trade Center dan perang Afganistan ibarat amunisi yang memberi Mahathir semangat untuk membersihkan calon teroris.

Dalam wawancara dengan majalah bulanan Jepang, Chuokoron, beberapa waktu lalu, Mahathir mengakui bahwa sekitar 50 warganya terkait kegiatan terorisme melalui jaringan Al-Qaidah. “Kami telah melacak beberapa di antaranya. Mereka dilatih di Afganistan,” ujarnya. Sebagian dari mereka telah ditahan, lagi-lagi dengan senjata ISA. “ISA adalah undang-undang pencegahan. Kami menahan mereka sebelum kejahatan itu dilakukan,” kata Mahathir dalam wawancara tersebut.

Penerapan ISA telah menuai kritik tajam, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Human Rights Watch, sebuah lembaga swadaya masyarakat di bidang hak asasi manusia, misalnya, menyebutkan beberapa tindakan pemerintahan Mahathir sebagai kejahatan hak asasi manusia. Misalnya penangkapan dan penganiayaan pendukung Anwar Ibrahim serta pemberangusan media massa yang kritis, seperti majalah Harakah (milik Partai Islam Se-Malaysia), majalah Detik, majalah Al-Wasilah, dan tabloid Eksklusif.

Aksi bersih-bersih Pak Dokter akhir-akhir ini mengundang sindiran tajam pula dari sebagian warganya. Irene Fernandez, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Tenaganita Malaysia, yang pernah dijebloskan ke penjara oleh pemerintahan Mahathir, berpendapat bahwa sikap keras dr. M adalah cermin dari upaya dia memperbaiki citra pemerintahannya. “Mahathir memiliki dua tujuan: memperkuat posisi United Malay National Organization (UMNO) dan memperbaiki hubungannya dengan pihak Barat,” ujar Irene kepada TEMPO via saluran telepon internasional.

Di atas kertas, posisi Mahathir belum ter-goyahkan hingga saat ini. Partai UMNO\kendaraan politik Mahathir\masih unggul di 12 negara bagian dalam pemilu 1999. Wajar bila dr. M merasa perlu menjauhkan semua kerikil yang bisa mengganjal roda pemerintahannya: entah itu dari warganya yang tersangkut kegiatan “terorisme” ataupun sekadar amuk massa yang menumpang cari makan di Kerajaan Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: