Terpidana Kasus Uang Palsu: “Kalau Benar Tuduhan itu, Bakar Rumah Saya”

HAJI Rijai Ridwan disebut-sebut sebagai salah seorang bandar besar uang palsu. Nama-nama besar diduga melindunginya. Dari perlakuan yang ia terima saat berada di tahanan Polda Metro Jaya, tampaknya info tersebut tidak melenceng. Sudah lazim diketahui bahwa tahanan kakap macam Ridwan beroleh perlakuan khusus. Untuk Ridwan, misalnya, seorang perwira bernama Kapten Agus sering mengantar pulang-balik sang tahanan ke rumahnya di kawasan Sentul, Bogor.

Peradilan bagi Ridwan pun istimewa. Persidangan selalu dilakukan “sembunyi-sembunyi”, seperti digelar pagi sekali dan selesai sebelum pukul sembilan pagi. Saat vonis dijatuhkan pada 14 Oktober lalu, ia juga tak perlu mengajukan banding karena ia hanya dijatuhi hukuman lima bulan potong tahanan. Dengan demikian, Ridwan hanya perlu menginap gratis di LP Bulak Kapal, Bekasi, selama dua minggu lagi.

Benarkah Ridwan, pria berusia 51 tahun dan kakek 11 cucu, itu adalah bandar besar uang palsu? Saat ditemui Setiyardi dari TEMPO di Bulak Kapal, Ridwan mengaku dirinya hanya korban fitnah karena otak kejahatan yang membuatnya tersangkut, yaitu Hadi, masih buron. Ridwan mengaku dirinya adalah petani biasa saja di kampungnya. Tampaknya, dengan perut yang buncit, pria berambut putih yang tampil necis ini adalah petani yang makmur. “Punten, Bapak merokok apa?” kata Ridwan menawarkan. Berikut petikan wawancara yang berlangsung di tengah kepulan asap rokok.

Bagaimana Anda bisa terlibat dalam sindikat uang palsu ini?

Sudahlah. Saya tidak mau membicarakan hal itu.

Ada yang mengatakan, Anda otak sindikat ini.

Itu berita bohong. Demi Allah, saya tidak tahu-menahu tentang masalah ini. Kalau ditanya soal itu, saya jadi tambah stres. Sekarang ini, tensi darah saya sudah mencapai 190. Muka sebelah kanan rasanya sudah sulit digerakkan. Saya benar-benar malu.

Bagaimana ceritanya Anda bisa ditangkap?

Saya difitnah oleh orang-orang yang ditangkap lebih dulu. Saya tidak kenal mereka. (sebelum Ridwan ditangkap, polisi menangkap beberapa pelaku pengedar uang palsu di kawasan Jatiasih, Bekasi-Red.). Waktu ditangkap pada Mei 1999 lalu, saya sedang duduk-duduk di depan rumah. Saya tidak tahu apa-apa.

Anda betul-betul tidak mengenal mereka?

Saya tidak kenal mereka. Yang saya kenal cuma Dartim (salah seorang yang ikut divonis bersama Ridwan-Red). Dia memang sudah saya kenal lama, waktu dia masih kerja di Gunung Agung milik Oka Mas Agung.

Anda bekerja sama dengan Hadi, yang kini masih buron?

Dia memang pernah datang bertamu ke rumah saya. Semua orang yang datang ke rumah kita harus kita terima. Tapi tidak terjadi transaksi apa-apa. Ketika itu, saya tidak tahu siapa Hadi itu. Belakangan, saya baru tahu dari polisi bahwa Hadi adalah seorang otak pemalsuan uang. Jaringannya ada di mana-mana. Di Bandung, Cirebon, dan lain-lain.

Anda bagian dari jaringannya?

Setiap hari saya ini mengucap astaghfirullah! Mana mungkin saya terlibat dengan bisnis seperti itu. Kalau saya bisa ketemu lagi dengan Hadi, saya sendiri yang akan mencekiknya sampai mati. Harus masuk penjara lagi pun saya rela. Saya sangat sakit hati karena sudah dijerumuskan oleh dia.

Anda disebut-sebut punya hubungan bisnis dengan Tommy Soeharto saat pembebasan tanah untuk sirkuit.

Boro-boro, kenal saja tidak.

Saat ini, sisa kertas dan mesin cetaknya di mana?

Saya tidak tahu-menahu dengan urusan uang palsu itu. Saya tidak tahu apa-apa. Kalau ditanya lagi, saya jadi tambah stres.

Kabarnya, sisa kertas itu masih disimpan di rumah Anda yang di Sentul.

Lo, waktu polisi menangkap saya, rumah saya kan digeledah. Kalau memang ada kertas uang di sana, pasti sudah ditemukan oleh polisi. Begini saja, sekarang ini silakan geledah rumah saya. Kalau berhasil menemukan kertas uang itu, silakan bakar saja rumah saya. Bakar saja istri dan anak-anak saya sekalian (wajah Ridwan memerah)

Anda menerima putusan majelis hakim yang memvonis anda lima bulan?

Ya, sudah. Mau apa lagi?

Hukuman Anda ringan, ya, minggu depan sudah bebas.

Saya tidak bersalah, kok. Saya cuma difitnah.

Anda menyuap polisi dan hakim?

Tidak mungkin. Saya ini cuma seorang petani tumpang sari di Sentul. Kalau polisi dan hakim bersikap baik, itu karena mereka tahu bahwa saya memang tidak bersalah.

Anda akan menuntut orang-orang yang Anda anggap memfitnah Anda?

Kalau orang-orang yang sekarang ini sama-sama dihukum seperti saya, tidak akan saya apa-apakan. Kami kan sudah sama-sama menderita, sama-sama dipenjara di sini. Kalau si Hadi, saya sangat dendam dengan dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: