Xanana: “Kami Menjaga Tunas Pohon Besi”

BILA ada seorang “calon presiden” yang ikut sibuk mengatur kursi-kursi kongres, itulah Kay Rala Xanana Gusmao. Tanpa mempedulikan bahwa empat orang pengawalnya–dari pasukan khusus Angkatan Bersenjata Brasil–terlihat “sedikit kewalahan” mengikuti gerakannya, tokoh populer Timor Loro Sa’e ini terus saja mondar-mandir membantu panitia mengatur ruangan. Bahkan, ia kemudian meluangkan waktunya untuk berbicara dengan wartawan TEMPO Setiyardi. Sambil menghabiskan empat batang rokok Marlboro, Xanana menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan. Berikut ini adalah petikan wawancara tersebut.

Perubahan di Timor Loro Sa’e sangat cepat. Bagaimana Anda mengantisipasinya?

Kami selalu merespons keadaan yang berkembang. Karena itu, Dewan Konsultatif Nasional berubah menjadi Dewan Nasional, yang anggotanya dari CNRT, non-CNRT, wakil LSM, wakil distrik, dan wakil dari golongan agama. Yang menarik, sekarang ini juga ada wakil dari Islam. Mereka bertahan di Loro Sa’e pada masa-masa yang sulit.

Apa yang akan berubah pada CNRT?

Rasanya, CNRT sudah terlalu gemuk. Struktur besar CNRT akan kami hilangkan. Dulu, kami adalah organisasi perlawanan yang memiliki misi untuk merebut kemerdekaan. Sekarang, dalam masa transisi ini, misi kami adalah organisasi yang membantu UNTAET. Nantinya kami akan menciutkan diri menjadi think tank bagi Dewan Nasional. Jadi, kami akan membuat struktur CNRT yang very simple, very small, tapi sangat fungsional. Kami akan mulai memisahkan antara pemerintah dan Dewan Nasional, dan juga akan memisahkan tentara dari pemerintahan.

Kehidupan politik di Loro Sa’e nantinya seperti apa?

CNRT akan membantu menghidupkan partai-partai politik. Saat ini, kami sudah mempunyai suatu persepsi yang sama tentang demokratisasi di Timor Loro Sa’e. Kami akan membangun suatu masyarakat madani. Semua warga negara punya kewajiban membantu partai politik. Kami tidak ingin perang saudara terjadi lagi di sini. Untuk itu, kami harus menyiapkan diri di semua bidang.

Bidang apa yang paling penting?

Persoalan mental dalam politik. Masyarakat harus menjalani proses belajar dalam kehidupan politik yang demokratis. Kami harus menumbuhkan collective responsibility bahwa masalah negara ini sudah menjadi tanggung jawab bersama.

Tanggung jawab seperti apa?

Di sini, kami punya pohon yang kami namai pohon besi. Pohon ini sangat keras, tidak bisa dipotong dengan gergaji biasa. Kalau ada yang berusaha memotongnya, tangannya akan bengkak dan sakit selama tiga minggu. Tapi, ketika dia masih berupa tunas, dengan mudah bisa dimatikan. Nah, tanggung jawab kami adalah menjaga agar pohon besi di Timor Loro Sa’e yang kini masih kecil ini tidak mati. Kami baru mulai belajar tentang kehidupan demokrasi, tentang toleransi dan perbedaan pendapat.

Anda siap dengan pemilu tahun depan?

Saya melihat pemilu tahun depan adalah pemilu untuk membentuk suatu dewan yang akan merumuskan konstitusi bagi Timor Loro Sa’e. Jadi, belum untuk membentuk suatu pemerintahan yang legitimate. Tugasnya hanya menyusun garis besar kebijakan nasional. Selanjutnya, dewan ini akan berkonsultasi dengan rakyat secara langsung untuk menjelaskan konstitusi yang akan dipilih untuk Timor Loro Sa’e. Dengan demikian, rakyat akan merasa dilibatkan.

Anda optimistis masyarakat siap?

Kami akan melakukan beberapa workshop untuk menyosialisasikan ide ini agar jangan sampai terjadi manipulasi. Nantinya, anggota dewan tidak lagi mengenakan baju partainya ketika turun langsung menyiapkan konstitusi untuk rakyat.

Soal kebijakan hubungan dengan Indonesia?

Kami akan menjadi negara terbuka. Khusus dengan Indonesia, kami ingin menjalin suatu hubungan bertetangga yang baik dan saling menghargai.

Tampaknya, milisi pro-Jakarta menjadi kendala hubungan itu?

Itu memang hal yang menyedihkan. Tapi, meski milisi mengacau, itu bukan berarti hubungan baik harus dihentikan. Ketika saya ke Jakarta bertemu dengan Gus Dur, saya katakan kedatangan saya bukan untuk “menyelesaikan” suatu masalah. Kedatangan saya adalah untuk suatu silaturahmi.

Ada kelompok di Loro Sa’e yang melihat Indonesia sebagai ancaman….

Saya tidak melihat Indonesia sebagai suatu ancaman. Tapi saya sangat berharap persoalan milisi di perbatasan bisa segera selesai. Makin banyak milisi, makin banyak uang dikeluarkan untuk pasukan perdamaian PBB. Jangan tanya saya berapa jumlahnya. Oh…, sangat besar. Uang itu dari negara-negara donor. Padahal, uang itu bisa untuk pembangunan Timor Loro Sa’e dan Nusatenggara Timur.

Rakyat Loro Sa’e tampaknya menginginkan Anda jadi presiden ….

Ehm…(ia berpikir sebentar). Saya tidak ingin menjadi presiden. Ada orang lain yang lebih siap menjadi presiden.

Siapa?

Nanti biar rakyat yang memilih.

Bagaimana kalau rakyat memilih Anda?

Saya tidak mau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: