Jalan Panjang Menuju Mars

EKONOMI Rusia boleh runtuh. Warga Kota Moskow, ibu kota Rusia, boleh saja melarat. Tapi pecahan negeri adidaya Uni Soviet itu masih memiliki proyek ambisius. Pekan lalu, Institute of Biological and Medical Problem (IBMP) memulai simulasi pengiriman manusia ke Planet Mars. Lembaga penelitian milik pemerintah Rusia itu menyatakan akan mengirim manusia ke Planet Mars\impian besar dunia sains dan teknologi.

Untuk mewujudkan impiannya, enam orang kosmonot saat ini telah memulai simulasi perjalanan ke Mars. Mereka akan menjalani uji coba kemampuan hidup dalam modul yang didesain mirip wahana ruang angkasa. Modul ruang angkasa seluas 400 meter persegi itu menjadi tempat tinggal para kosmonot selama 15 bulan. Kondisi suhu dalam modul antigravitasi itu disesuaikan dengan kondisi yang akan dihadapi para kosmonot. Mereka harus mampu bertahan hidup dan menjalankan aktivitas penelitian di dalam modul percobaan.

Selama uji coba, keenam kosmonot tak boleh keluar dari modul uji coba. Segala kebutuhan biologis minimum\berupa makanan, minuman, dan oksigen (O2)\tersedia dalam modul. Untuk makanan saja, lemari pendingin di modul dipenuhi pelbagai jenis makanan instan yang kandungan gizinya telah diperhitungkan secara cermat. Pemilihan makanan instan ini dimaksudkan untuk menghemat ruang secara maksimal. Sedangkan penggunaan air, kecuali air minum, didesain untuk penggunaan secara “daur ulang”.

Valeri Polyakov, Wakil Direktur IBMP, menyatakan penetapan waktu uji coba berdasarkan perkiraan lamanya misi. Dengan teknologi wahana ruang angkasa yang dimiliki Rusia saat ini, perjalanan ulang-alik ke Mars akan memakan waktu 12 bulan. “Kelebihan tiga bulan merupakan waktu untuk riset di Mars,” ujar Polyakov.

Rencananya, wahana luar angkasa menuju Mars ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan berisi keenam awak (seorang komandan, pilot, teknisi, dokter, dan dua peneliti). Sedangkan bagian kedua akan menjadi pesawat kargo yang mengangkut seluruh kebutuhan logistik selama misi berlangsung.

Perjalanan manusia ke Mars, meski secara teoretis memungkinkan, bukanlah pekerjaan tanpa risiko. Pelbagai ancaman akan menghadang para awak pesawat ulang-alik. Radiasi sinar matahari serta radiasi kimia dan biologi dalam pesawat ulang-alik mengancam kesehatan para awak. Apalagi perjalanan ulang-alik ke Mars akan menghabiskan waktu berbulan-bulan\waktu yang lama untuk proses kontaminasi.

Sebagai sebuah proyek ruang angkasa, perjalanan manusia menuju Mars merupakan impian lama ahli ruang angkasa. Rusia (dulu bernama Uni Soviet) dan Amerika Serikat, dua negara adidaya dalam eksplorasi ruang angkasa, menjadikan Mars sebagai target prestisius mereka (lihat Perlombaan Mencari Koloni Baru).

Bagi ilmuwan, Planet Mars memang menjanjikan banyak harapan. Jarak antara bumi dan Mars yang “hanya” sekitar 200 juta kilometer (12.500 kali jarak Jakarta_New York) membuat perjalanan ke Mars menjadi sebuah keniscayaan. Selain Venus, Mars merupakan planet tetangga luar terdekat bagi bumi. Dengan massa 0,646 x 1.024 kilogram, hanya sekitar 1/925 dari massa bumi, Mars termasuk planet yang berukuran kecil. Planet yang memiliki dua satelit ini membutuhkan waktu 678 hari (berdasarkan waktu bumi) untuk sekali mengitari matahari. Artinya, dibandingkan dengan bumi, hari-hari di Planet Mars akan berjalan dua kali lebih lambat.

Meskipun secara teknis Rusia memiliki kemampuan menjalankan misi ke Mars, banyak kalangan meragukan kesuksesan program itu. Soalnya, setelah gelombang glasnost dan perestroika memporak-porandakan Uni Soviet pada 1989, ekonomi pecahan negara adidaya itu terus menurun. Meski masih memiliki pendapatan per kapita US$ 8.800 per tahun (menurut data terbaru Badan Intelijen Amerika tahun 2002), Rusia terus dilanda pelbagai kesulitan ekonomi.

Toh, Rusia seperti tak peduli. Vitaly Semyonov, Direktur Proyek Perjalanan ke Mars Rusia, menyatakan optimistis dapat melaksanakan misi itu. Bahkan Rusia telah membuat perencanaan secara detail semua program penelitian yang akan dilakukan dalam misi selama 440 hari itu. “Ini proyek bagi masa depan umat manusia,” ujar Semyonov.

Memang, pada mulanya Rusia mengajak NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) dan ESA (Badan Antariksa Eropa) bergabung dalam Proyek Mars. Soalnya, dalam perkiraan awal, megaproyek ini akan menghabiskan biaya US$ 20 miliar (sekitar Rp 160 triliun). Tapi, ESA hingga kini belum memberikan jawaban yang lugas. Amerika Serikat sendiri, pascatragedi pesawat Columbia pada 1 Februari 2003, belum kembali bernafsu meneruskan pelbagai proyek angkasa luar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: