Agar Bumi Tak Berasap

BAYANGKANLAH sebuah dunia tanpa polusi udara. Pelbagai sarana transportasi, pabrik, dan peralatan rumah tangga tak lagi mengepulkan asap tebal. Udara terasa segar tanpa kontaminasi karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO). Para ahli lingkungan dunia tak perlu repot-repot merancang Protokol Kyoto untuk membatasi emisi gas beracun itu.

Meski masih khayalan, kondisi ideal itu bukanlah tak bisa dicapai. Perkembangan teknologi energi hidrogen merupakan salah satu jawaban yang menarik. Para pakar energi alternatif saat ini berlomba-lomba mengembangkan fuel cell yang memanfaatkan unsur alam hidrogen. Proton Energy System, perusahaan pemasok energi hidrogen asal Inggris, memastikan efisiensi energi hidrogen relatif besar. Hasil uji laboratorium menunjukkan energi yang dihasilkan satu galon bahan bakar minyak (1/264 meter kubik) setara dengan energi 10 Nm3 gas hidrogen. “Secara ekonomi, penggunaan hidrogen akan memangkas biaya secara signifikan,” ujar Dr. John Lieberman, Direktur Teknik Proton Energy System.

Saat ini, penggunaan gas hidrogen makin berkembang. Selain untuk alat transportasi, energi hidrogen telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar roket pendorong wahana ruang angkasa, generator listrik, alat pemanas ruangan, dan beberapa peralatan rumah tangga. Toh, meski terbilang murah, para ahli dan konsumen memerlukan sistem penyimpanan hidrogen yang aman. Untuk memperoleh hidrogen dalam jumlah memadai, dibutuhkan sebuah tangki penyimpan yang mampu menahan tekanan gas hingga 3.000 psi.

Kini pengembangan energi hidrogen dilakukan secara serius. Maklumlah, pakar energi dunia sadar bahwa masa depan umat manusia bisa jadi akan sangat bergantung pada hidrogen. Setiap tahun, Badan Energi PBB mengadakan Hydrogen Community Symposium untuk membahas kemajuan teknologi yang ada. Selain menjadi ajang bertukar informasi, simposium itu kerap menjadi tempat uji kemampuan produk yang menggunakan fuel cell dari hidrogen.

Sebenarnya, teknologi fuel cell bukanlah barang baru. Konsep ini diperkenalkan oleh Sir William Grove\yang kemudian dikenal sebagai Bapak Fuel Cell\pada 1839. Saat itu, pakar fisika Inggris ini menemukan kemungkinan mendapatkan energi listrik dari unsur hidrogen (H2). Gas hidrogen itu didapat dari proses elektrolisis air (H2O).

Temuan spektakuler Grove kemudian dikembangkan oleh banyak ilmuwan. Pada 1932, misalnya, untuk pertama kali pembuatan fuel cell terbilang sukses. Francis Bacon saat itu berhasil membuat fuel cell yang berkekuatan 5 kilowatt. Bacon menggunakan alkalin dan nikel sebagai perangsang (katalisator) proses elektrolisis air menjadi unsur hidrogen dan oksigen.

Perkembangan teknologi fuel cell sempat jalan di tempat akibat eksplorasi minyak bumi besar-besaran. Para teknokrat seolah merasa tak membutuhkan fuel cell. Kini, setelah kandungan minyak bumi makin menipis dan polusi udara makin menyesakkan, dunia kembali melirik fuel cell. Soalnya, selain tersedia dalam jumlah melimpah, penggunaan hidrogen untuk teknologi fuel cell tergolong sangat ramah lingkungan. Jadi, berterima kasihlah kepada alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: