Amien Rais: “Pemilu Presiden Merupakan The Last Battle”

AMIEN Rais, 60 tahun, kembali membetot perhatian publik. Langkah kuda Amien yang “merangkul” tokoh politik–antara lain Abdurrahman Wahid, Hidayat Nur Wahid, Eros Djarot, dan Rachmawati Soekarnoputri–langsung membuat Amien diperhitungkan dalam jagat politik nasional. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), juga doktor lulusan Chicago University, Amerika Serikat ini siap terjun ke pemilu presiden, 5 Juli 2004.

Amien politisi lihai. Meski suara PAN dalam pemilu 2004 tak sesuai dengan harapan, hanya sekitar 6,5 persen, Amien tak putus harapan. Lewat Forum Bersama Penyelamat Bangsa, yang ia dirikan bersama beberapa politisi lain, Amien mencoba memperbesar dukungan untuk pemilu presiden pada 5 Juli mendatang. “Koalisi merupakan strategi untuk memenangi pemilu presiden,” ujar Amien, tanpa malu-malu.

Langkah kuda Amien langsung mengingatkan publik pada Pemilu 1999. Setelah PAN “gagal” meraup suara yang signifikan, Amien langsung membangun “Poros Tengah”. Koalisi partai-partai Islam itu berhasil menjegal Megawati dalam pemilihan presiden di Sidang Umum MPR. Poros bentukan Amien itu kemudian mengusung Abdurrahman Wahid ke kursi RI-1.

Kini, mungkinkah langkah kuda Amien kembali berhasil? Bagaimana kans bekas Ketua PP Muhammadiyah ini dalam pemilu presiden mendatang? Siapa calon wakil presiden pilihannya? Wartawan TEMPO Setiyardi pekan lalu mewawancarai Amien Rais di rumah dinasnya di Widya Chandra IV/16, Jakarta. Berikut kutipannya.

Pemilu legislatif berakhir, dan perolehan suara Partai Amanat Nasional (PAN) merosot. Tapi mengapa Anda tetap maju ke pemilihan presiden?

Peroleh suara PAN dalam Pemilu 2004 memang tak sesuai dengan harapan. Tapi saya sudah bulat memutuskan untuk tetap maju ke pemilihan presiden. Saya ingin melanjutkan reformasi yang sekarang sudah mengalami setback luar biasa. Sebagai orang yang mengerti tentang reformasi, saya berkeputusan untuk melanjutkan perjuangan. Lagi pula, saya yakin sekali bahwa suara pemilu legislatif tak mencerminkan pemilu presiden.

Apa yang membuat Anda tetap memiliki kepercayaan diri?

Saya tak ingin meninggalkan gelanggang sebelum pertempuran berakhir. Pemilu presiden tanggal 5 juli 2004 merupakan the last battle buat saya. Alhamdulillah, Muhammadiyah sudah memberikan dukungan moral yang luar biasa. Ini merupakan gizi yang dahsyat untuk mendongkrak perolehan suara saya.

Tapi mengapa suara PAN tak memenuhi target?

Suara PAN memang mengecewakan. Awalnya saya sempat tersenyum kecut. Ternyata kader PAN bukanlah orang yang militan. Setelah duduk di DPR atau DPRD, dan bisa membawa stik golf atau raket tenis, mereka sudah merasa “sampai tujuan”. Tujuan mereka sepertinya cuma jadi anggota DPR/DPRD. Tak pernah atau sangat jarang menjenguk kantor partainya sendiri.

Anda kecewa pada kader PAN?

Luar biasa mengecewakan. Memang tak semua. Tapi yang jelek itu bisa jadi perbincangan dan merugikan yang lain. Selain itu, captive market PAN tidak disantuni dan dirawat. Ini yang membuat banyak yang hijrah. Di Yogyakarta, karena pengurus PAN bekerja, hasilnya luar biasa. Tapi lihat PAN di DKI dan Jawa Barat. Karena anggota parlemennya tidur dan pengurusnya ogah-ogahan, suaranya jeblok. Mereka hanya bisa mengandalkan popularitas ketua umumnya. Sekarang, untuk memperbaiki PAN, harus ada overhaul berupa operasi besar-besaran.

Karena PAN mengecewakan, kini apa persiapan Anda dalam pemilu presiden?

Persiapan mental sebenarnya sudah saya lakukan sejak tahun 1999. Waktu itu sebetulnya saya sudah siap maju ke pemilihan presiden, tapi karena ada dua raksasa: PDI Perjuangan (33 persen) dan Partai Golkar (22 persen), saya mundur. Saya kemudian terpental menjadi Ketua MPR RI. Jadi, persiapan telah lama saya lakukan. Saat ini rakyat bisa memeriksa track record, visi, serta komitmen masing-masing calon presiden/wakil presiden.

Bagaimana kalkulasi peluang di atas kertas?

Saya berharap rakyat yang sudah mencerna perpolitikan nasional selama lima tahun terakhir. Rakyat bisa menilai track record dan kapabilitas calon presiden/wakil presiden. Nah, saya merasa masuk ke pemilu presiden bukan tanpa modal. Sejauh batas tertentu, saya punya investasi politik yang lumayan. Sejak tahun 1993, saat Soeharto masih berkuasa, saya telah menggulirkan suksesi nasional. Ini bermuara pada keberhasilan reformasi yang menjatuhkan rezim Soeharto. Selain itu, sebagai Ketua MPR, saya juga lumayan bagus. Semua tugas selesai dan tak ada persoalan keuangan.

Anda yakin bisa mengalahkan Megawati dan SBY?

Saya harus yakin. Ibarat pertandingan olahraga, kalau tidak yakin sejak awal, itu sudah separuh kalah. Saya yakin pers akan meneliti masing-masing sosok calon presiden dan wakilnya dengan elaborasi yang sangat mendalam. Tapi saingan saya memang bukan cuma SBY dan Mega, tapi juga calon yang keluar dari konvensi Partai Golkar.

Politik adalah persoalan citra. Citra Anda meredup, sementara SBY justru sedang bersinar. Bagaimana?

Dibandingkan saat awal reformasi 1998 citra saya menurun. Itu karena posisi saya sebagai Ketua MPR RI tak memiliki kewenangan yang luas. Lagi pula masyarakat kita memiliki memori yang pendek. Tapi saya tetap yakin karena citra saingan juga menurun. Andaikata suara PDI Perjuangan dalam pemilu sekarang masih 33 persen, saya akan langsung mengumumkan pengunduran diri. Tapi kans saya sekarang lebih bagus karena raksasa PDI Perjuangan sudah menjadi lebih cebol. Calon yang akan keluar dari Partai Golkar juga bukan heavy weight. Sementara saya juga middle weight saja. Jadi, pertempuran nanti memang akan menarik. Nah, berdasarkan hitung-hitungan, kans saya untuk jadi calon presiden 2004 lebih bagus dibanding 1999.

Keberhasilan Anda sangat ditentukan oleh tokoh yang menjadi calon wakil presiden. Sudah punya nama?

Benar, nama calon wakil presiden memang sangat menentukan. Saya sudah berpikir lama, bila calon wakil presiden sesama tokoh muslim akan menjadi semacam perkawinan keluarga. Bahkan bisa jadi political incest. Jadi ini tak akan menarik dan tidak produktif. Untuk itu saya yakin dengan konsep klasik bahwa bangsa sebesar ini akan mantap bila dipimpin oleh perpaduan tokoh agama-nasionalis.

Siapa tokoh nasionalis yang Anda pilih?

Saya belum menentukan nama. Secara pragmatis saya tak mungkin mencari tokoh di kubu Megawati. Akhirnya saya menoleh ke TNI, sebab kita tak usah meragukan nasionalisme dan patriotisme mereka. Sekarang saya tinggal mencari tokoh yang kredibel dan diterima secara luas oleh masyarakat.

Beberapa nama dari kalangan TNI–SBY dan Agum Gumelar–direkomendasikan oleh Rapat Kerja Nasional PAN. Bagaimana?

Kalau saya kembali ke rekomendasi Rapat Kerja Nasional PAN di Makassar memang ada nama SBY dan Pak Agum yang dari TNI. Selain itu ada nama lain seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Jusuf Kalla, dan Siswono Yudhohusodo. Itu adalah rekomendasi yang harus saya perhatikan. Soal SBY, pada 28 Maret 2004 lalu saya bertemu beliau di rumah pengurus Amien Rais Center. Karena saya dan SBY sudah berteman lama, pertemuan empat mata itu sangat jernih. Dari hati ke hati. Kami berdua bersepakat menunggu hasil pemilu 5 April. Kemudian nanti kita bicara lagi.

Pertemuan itu tak sampai membuat komitmen. Sekarang, setelah pemilu, saya memang belum bertemu. Saya harus bersikap sangat hati-hati.

Bagaimana dengan Agum Gumelar?

Tanggal 4 April 2004 malam saya berbincang-bincang dengan Pak Agum Gumelar. Saya bertemu di sebuah hotel. Saya dan Pak Agum juga cukup akrab. Saat dia jadi Pangdam di Makassar, saya berkunjung dan membicarakan banyak hal. Akhir-akhir ini juga sering bertemu dalam forum olahraga. Kami pernah main basket di Solo dan Jakarta. Dengan Pak Agum, saya juga belum membuat komitmen. Seperti orang yang pacaran, baru saling menjajaki, sebelum pacaran betulan.

Selain SBY dan Agum, siapa lagi tokoh TNI yang Anda temui?

Pada 13 April kemarin, ditemani Ketua Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif, saya bertemu Panglima TNI Jenderal Sutarto. Pertemuan di Wisma Yani itu berlangsung sangat santai. Pertemuan itu juga tak sampai memunculkan komitmen. Kami betul-betul bertukar pikiran. Kami bicara tentang persoalan-persoalan yang dialami oleh bangsa ini. Dalam politik, semakin banyak teman dan semakin sering bertukar pikiran dengan bermacam tokoh, semakin bagus.

Banyak kalangan yang menyayangkan gagalnya duet Amien Rais_SBY. Bagaimana?

Saya juga mendengar hal itu. Tapi saya tahu bahwa kalangan dekat SBY ingin mengusung SBY sebagai presiden. Itu harus saya hormati. Sedangkan saya tak mungkin hanya jadi wakil presiden. Ini soal prinsip. Kalau sekadar mengejar kekuasaan, saya tentu mau jadi wakil presiden. Fasilitasnya juga sangat menjanjikan. Tapi saya ingin menjadi presiden karena harus meneruskan jalannya reformasi. Itu sudah harga mati.

Jadi, sekarang Anda melirik Agum Gumelar dan Jenderal Sutarto sebagai wakil?

Belum tentu begitu logikanya. Kami sedang mengeksplorasi terlebih dahulu. Ibarat hendak menggelar orkestra, sekarang kami sedang menyetel gitar, selo, dan lain-lain. Kami baru sampai tahap itu. Persoalan politik memang sangat cair. Yang pasti, soal nama calon wakil presiden harus saya pecahkan dalam pekan depan (pekan ini–Red.).

Bagaimana dengan Wiranto?

Dia tidak masuk dalam 10 nama yang diusulkan Rapat Kerja PAN.

Megawati juga akan menjual paket nasionalis_agama. Mengapa Anda tidak berspekulasi dengan memilih tokoh Islam sebagai wakil?

Saya sudah membuat kalkulasi. Kalau memilih tokoh Islam sebagai wakil, saya memang akan melewati putaran pertama. Tapi kami akan sulit menang dalam putaran kedua. Kalau kita potret kekuatan Islam–Masyumi, NU, PSII, Perti–di Pemilu 1955 cuma dapat 43 persen. Itu kondisi dua generasi yang lalu. Sekarang Islam politik sudah mengalami penurunan. Orang bilang Islam kultural yang lebih luas. Jadi, pasti suaranya akan menurun.

Siapa saingan terberat Anda?

Pemilu presiden pasti akan berlangsung dua putaran. Pada putaran pertama, Mbak Mega kemungkinan akan lolos. Saya berharap saya ikut lolos. Pada putaran kedua, kans saya jadi membesar. Karena pilihannya tinggal ini atau itu.

Bagaimana dengan persiapan keuangan?

Saya tahu bahwa untuk kampanye presiden dibutuhkan uang yang banyak. Bahkan sangat banyak. Berapa pun uang yang ada tidak akan cukup. Tapi, secara jujur, harus saya katakan bahwa saya tidak punya uang. Sekarang baru dibentuk tim pencari dana dan dukungan. Sebagai modal awal, saya yakin orang Muhammadiyah akan memberikan sumbangan. Memang jumlahnya tak akan banyak, karena orang Muhammadiyah kelompok menengah ke bawah. Tapi, karena uang itu halal, akan mendapat berkah dan berwujud. Sumbangan mereka bisa jadi kaus, buku, bendera, dan lain-lain.

Berapa jumlah warga Muhammadiyah?

Sekitar 12 persen dari bangsa Indonesia. Itu valid. Kalau asumsinya warga Muhammadiyah memilih saya, setidaknya saya mengumpulkan suara yang 12 persen dulu. Tapi, untuk menang dalam pemilu presiden, dibutuhkan suara lebih dari 50 persen. Kami butuh strategi yang jitu. Untuk itu perlu dibangun aliansi dan koalisi. Ini tak perlu harus koalisi yang ketat seperti saat pemilihan presiden di MPR. Koalisinya dapat berbentuk wacana atau gagasan.

Apakah suara warga Muhammadiyah pasti diberikan ke kubu Anda?

Saat ini warga Muhammadiyah memang terserak di pelbagai partai politik. Dalam soal partai, Muhammadiyah sangat liberal. Muhammadiyah tidak pernah membuat fatwa mengenai partai politik yang harus dipilih oleh warganya. Tapi, untuk presiden soal lain. Seperti sebuah iklan: “Apa pun partainya, kalau presiden ya Amien Rais”.

Indonesianis William Liddle menganggap masa Anda sudah lewat. Benarkah?

Ramalan William Liddle sering salah. Saya kenal dia sejak awal 1970-an, waktu dia masih muda dan menjadi peneliti sosial di Indonesia. Tahun 1980-an Liddle datang ke kantor saya di Fisipol UGM. Saat itu dia memuji-muji pemerintahan Soeharto setinggi langit. Dia bilang kehebatan Soeharto. Dia juga bilang Soeharto sangat kuat dan tak bisa digeser lagi. Ternyata saat reformasi Soeharto bisa dilengserkan rakyat. Nah, sekarang saya berharap ramalan Liddle kembali meleset.

Anda membuat Forum Bersama Penyelamat Bangsa. Apakah forum itu akan Anda jadikan kendaraan politik?

Untuk menjadikan kendaraan amat sangat sulit. Tak mungkin orang secerdas Eros Djarot, sepiawai Ryaas Rasyid, secanggih Alwi Shihab berbondong-bondong ke rumah saya untuk mengusung Amien Rais. Itu berarti saya bermimpi. Itu jawaban jujur. Tapi buat saya politik itu sebuah seni menjadikan hal yang mustahil menjadi mungkin. Selain itu, saya yakin proses alami selalu lebih bagus daripada proses rekayasa, apalagi rekapaksa.

Apa yang Anda harapkan dari forum itu?

Kita bersyukur ada forum dari politisi yang cukup disegani, meskipun partainya tak terlalu besar. Idealnya memang bisa mengerucut ke pasangan calon presiden/wakil presiden tunggal. Tapi itu hampir suatu keajaiban. Tapi, dengan sering bertemu, minimal kita akan sangat rukun. Jadi, bila ada beberapa pasangan, akan saling menghargai.

Anda sempat membicarakan pencalonan Anda?

Tidak sama sekali. Saya memang sempat bertanya ke Mas Hidayat Nur Wahid, Presiden Partai Keadilan Sejahtera, soal prosedur internal PKS. Hidayat bilang PKS punya Jaring Emas Capres. Tapi nanti Dewan Syuro PKS yang menentukan. Saya memang mendengar bahwa teman-teman PKS di Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada level akar rumput memilih Amien Rais. Tapi saya tak mau ikut campur. Biarlah mekanisme di PKS yang menyelesaikannya.

Apa yang Anda bicarakan saat bertemu dengan Gus Dur?

Kami bicara tentang persoalan pemilu dan persoalan bangsa. Ibarat kapal, bangsa ini perlu diselamatkan agar tak tenggelam. Gus Dur kemudian bilang, “Saya setuju dengan Mas Amien bahwa kita harus menyelamatkan bangsa. Tapi apa yang harus diselamatkan?” Saya bilang bahwa kita harus menyelamatkan dari korupsi, kehancuran ekologi, pengangguran yang jadi bom waktu sosial. Gus Dur kemudian setuju dan mengusulkan jadi forum tanpa bentuk. Tak ada ketua, sekretariat, dan lain-lain.

Anda tampaknya akan memanfaatkan pamor Gus Dur?

Saya dan Gus Dur punya kesamaan sikap. Hubungan saya dengan beliau juga sangat baik. Meski sempat ada rumor macam-macam, kami sering bertemu. Kami sering diskusi di ruang VIP di bandara. Sewaktu Partai Kebangkitan Bangsa berulang tahun, saya datang dan ngobrol panjang lebar dengan Gus Dur. Tak ada persoalan setelah Gus Dur dilengserkan oleh mekanisme di MPR.

Anda sangat bersemangat membangun kekuatan dan jaringan. Bagaimana bila usaha Anda akhirnya sia-sia?

(Amien terdiam dan terlihat berpikir–Red.) Saya akan mengucapkan selamat kepada pemenang. Presiden/wakil presiden terpilih harus betul-betul dihargai karena merupakan pilihan rakyat. Kemudian, sesuai dengan janji saya kepada keluarga, saya akan pulang ke Yogya dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

One Response

  1. ternyata profesor oon goblok haha dikadalin gusdur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: