‘Ayam Bersepatu’ di Negeri Sakura

MALAM membekap kawasan Akasaka di jantung Tokyo. Tapi salah satu daerah “esek-esek” terkemuka di ibu kota Jepang itu terasa kian panas. Beberapa turis asing dan lelaki hidung belang Jepang tampak menikmati pemandangan. “Young and beautiful, young and beautiful,” ujar seorang perempuan, berpromosi. Setengah merengek, perempuan dengan kostum ketat itu memaksa TEMPO mengikutinya ke dalam bar.

Dengan cekatan, sang salesgirl dari Bar Somaru itu menjanjikan pelbagai kenikmatan duniawi. Bila tak cukup dengan kata-kata (maklumlah, bahasa Inggris seorang salesgirl umumnya sangat terbatas), ia langsung menggunakan tangan dan tubuhnya. Tanpa sungkan, ia menggandeng dan memeluk pinggang calon pengunjung bar. Cukup hanya dengan membayar 7.000 yen (sekitar Rp 500 ribu)\jumlah yang kecil bagi ukuran warga Jepang\seorang pengunjung bebas melenggang masuk. Tarif itu termasuk dua gelas minuman dan pertunjukan berupa tarian semi-striptease.

Suasana di dalam bar tak ubahnya seperti bar-bar di Jakarta, temaram dan dijejali perempuan berbaju seronok. Seorang pelayan yang menyebut dirinya Michiko menyambut dengan sesungging senyuman ala Jepang. Perempuan dengan aroma parfum yang lembut itu segera menawarkan “teman” selama kongko di bar. “Japan, Thailand, Philippine, or Indonesia?” ujarnya. Tanpa pikir panjang, TEMPO meminta seorang “teman” yang berasal dari Indonesia.

Indonesia? Ya, perempuan Indonesia rupanya menjadi salah satu ikon dalam dunia malam di Negeri Sakura. Di Bar Somaru Akasaka, misalnya, ada seorang Nurlela (bukan nama sebenarnya), yang berdarah asli Indonesia. Perempuan berusia 23 tahun ini mengaku berasal dari Desa Johar Sari, Kadugede, Kabupaten Kuningan. Nurlela sudah dua tahun bekerja di kawasan Akasaka. Selama dua tahun pula Nurlela berlumur peluh lelaki hidung belang di Jepang. “Mau bagaimana lagi? Sudah kepalang basah,” ujar Nurlela.

Alasan klasik. Tapi justru itulah yang selalu menjadi dalih para pekerja yang terjun di dunia keremangan malam. Nurlela, yang cuma mengenyam sekolah hingga kelas 2 SMA, mengaku tak punya pilihan lain. Jika bertahan hidup di Indonesia, tak akan ada perubahan nasib. Padahal, ujar Nurlela, masih ada dua orang adiknya yang duduk di bangku SMU dan SMP.

Nurlela mengaku tak sendirian. Di kawasan Akasaka saja diperkirakan ada sekitar 30 perempuan asal Indonesia. Mereka bekerja di pelbagai bar dan pub di sepanjang kawasan “esek-esek” itu. Hubungan antarperempuan asal Indonesia terbilang ketat. Mereka kerap berkumpul untuk saling “curhat” atau sekadar ngerumpi. “Karena jauh dari keluarga, kami seperti bersaudara,” kata Nurlela.

Bagi Jepang, persoalan prostitusi seperti pedang bermata dua. Secara resmi sejak 1958 Jepang menyatakan prostitusi sebagai kegiatan yang melanggar hukum. Meski begitu, seperti negeri maju lainnya, Jepang tak berdaya membendung pertumbuhan bisnis pemuas syahwat itu. Selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan bisnis itu seperti cendawan di musim hujan. Cepat dan maju pesat. Tak percaya? Tengok saja Tokyo. Beberapa kawasan bisnis, seperti Akasaka, Shinjuku, dan Roppogi, merupakan kawasan esek-esek terkemuka.

Buntutnya sebenarnya cukup merepotkan pemerintah Jepang. Pertumbuhan pengidap HIV/AIDS di Jepang terbilang relatif tinggi untuk kawasan Asia-Pasifik. Penyakit yang kerap menimpa pekerja seks komersial itu kini menjadi ancaman serius bagi masyarakat Jepang. Data Badan Intelijen Amerika (CIA) tahun 2002 menyebut angka prevalensi HIV/AIDS di kalangan warga Jepang dewasa mencapai 0,02 persen. Saat ini diperkirakan sekitar 20 ribu penduduk Jepang terinfeksi virus mematikan itu.

Di sisi lain, Jepang merupakan salah satu negara penting bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI). Maklumlah, Jepang memang tak memiliki pasokan pekerja untuk sektor-sektor tertentu. Negeri yang memiliki pendapatan per kapita US$ 28 ribu (sekitar Rp 225 juta) itu tiap tahun membutuhkan ratusan ribu tenaga kerja asing. Umumnya para pekerja asing itu bekerja di sektor infrastruktur, industri manufaktur, dan “dunia hiburan”. Di dunia, Jepang merupakan satu-satunya negara yang memberikan visa “pekerja hiburan” bagi para tenaga kerja asing.

Arti penting Jepang bagi Indonesia tecermin pada jumlah TKI yang bekerja di sana. Hingga akhir tahun lalu, Kedutaan Besar RI di Jepang memperkirakan ada 12.779 orang TKI yang bekerja di Jepang. Tapi tak ada catatan yang jelas soal jumlah devisa yang diperoleh para pekerja Indonesia itu. Maklumlah, tak semua pekerja memiliki identitas dan status yang jelas. Pihak KBRI memperkirakan ada sekitar 4.000 orang tenaga kerja Indonesia yang berstatus “ilegal”. Para tenaga kerja ilegal ini umumnya adalah pekerja yang sudah overstay dan tak memegang kontrak kerja. Bahkan, sebagian besar dari mereka tak memegang paspor yang menjadi identitas penting di luar negeri. Soalnya, paspor mereka ditahan oleh majikan lama atau oleh agen tenaga kerja di Jepang.

Ada hal lain yang menarik. Kedutaan Besar RI di Jepang menyebut ada 235 orang tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di sektor hiburan. Secara resmi, mereka disebut sebagai “artis atau entertainer”. Angka ini bisa jadi jauh lebih kecil dari fakta sebenarnya. Soalnya, para TKI yang berstatus ilegal juga banyak yang bekerja di dunia hiburan. Masalahnya, para pekerja di sektor hiburan ini sangat rawan terhadap eksploitasi seksual. Eddy Purwanto, Koordinator Bantuan Hukum Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (Kopbumi), memastikan para pekerja sektor hiburan akan menjadi pekerja seks komersial. “Hampir semua pekerja hiburan di Jepang akan dijadikan pemuas syahwat,” ujar Eddy.

Eddy tak asal bicara. Kopbumi kerap menerima pengaduan soal pelacuran yang berkedok duta seni atau duta budaya untuk Jepang. Apalagi proses audisi saat perekrutan “artis” untuk Jepang umumnya sangat menonjolkan keindahan fisik calon tenaga kerja wanita. Bahkan banyak perusahaan yang meminta calon “artis” berlenggak-lenggok sambil menanggalkan pakaian. Tak mengherankan, para TKW yang akan menjadi pekerja hiburan di Jepang ini kerap disebut sebagai “ayam bersepatu”. Istilah ini, ujar Eddy, telah menjadi joke di kalangan perusahaan pengirim TKW.

Untunglah, tak semua “ayam bersepatu” pasrah dengan keadaan. Lihat saja sikap Dewi (bukan nama sebenarnya), seorang pekerja asal Blitar, Jawa Timur. Perempuan lugu yang sempat berbulan-bulan dipaksa melayani nafsu lelaki Jepang di Bar Hotaru Snac, di kawasan Ibaraki, ini berani melarikan diri dari tempatnya disekap (baca Tergiur Gemerincing Yen). Pelarian itu bukan tanpa risiko. Jaringan Yakuza (organisasi mafia Jepang), yang menjadi beking bisnis prostitusi Jepang, akan melacak para pekerja yang kabur. Bila tertangkap, siksaan yang berat menanti para pelarian itu. Bahkan, “Mereka tak segan membunuh orang yang membantu melarikan diri,” ujar Dewi.

Kini, kasus yang menimpa Dewi telah ditangani pihak kejaksaan Jepang. Dengan didampingi staf Kedutaan Besar RI di Jepang, Dewi mengajukan tuntutan kepada Murai, bekas muncikarinya. Beberapa tuntutannya, antara lain, pengembalian paspor, pembayaran gaji selama bekerja, dan ganti rugi imaterial selama bekerja sebagai budak nafsu di Bar Hotaru.

Hanya, Dewi tak bisa berharap banyak. Saat diperiksa jaksa dari Distrik Mito pada 29 Juli 2003, terungkap bahwa visa yang dimiliki Dewi adalah visa untuk kunjungan wisata singkat. Dewi dianggap tak memiliki hak-hak sebagai seorang pekerja di Jepang. Akibatnya, “Tuntutannya menjadi sulit dipenuhi pihak Jepang,” ujar Cahyo R. Muzhar, Sekretaris II Kedutaan Besar RI di Jepang.

Namun, kepergian Dewi meninggalkan “bom waktu”. Selain Dewi, di Bar Hotaru Snac sebenarnya ada empat perempuan Indonesia. Ada Ririn Setyawati, Eka Dianti, Herlina, dan Endang. Sama seperti Dewi, keempat perempuan lugu itu juga terjebak penipuan para calo tenaga kerja. Mereka tak berani melarikan diri akibat ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh anggota Yakuza. Polisi Jepang memang telah mengamankan Ririn dan Eka. Keduanya kini menginap di kantor polisi setempat. Keberadaan Herlina dan Endang hingga kini tak jelas. Bisa jadi, keduanya masih terbelenggu oleh hari-hari laknat dalam pelukan lelaki Jepang.

Seperti kebanyakan pekerja seks komersial asal Indonesia, Dewi, Ririn, dan Eka tak pernah menikmati hasil keringat mereka. Ini akibat “keteledoran” saat menandatangani kontrak kerja. Dalam salah satu klausul kontrak kerja mereka disebutkan bahwa para pekerja berutang 5 juta yen (sekitar Rp 350 juta) kepada sang muncikari di Jepang. Angka sebesar itu konon merupakan segala ongkos yang harus dikeluarkan untuk menjadi pekerja di Jepang. Sialnya, para perempuan lugu itu dipaksa membayar utang tersebut dengan tubuh mereka. Bila menolak, “Kami dihajar seperti binatang,” ujar Dewi, setengah berbisik.

Memang ada Nurlela, pekerja seks komersial di kawasan Akasaka, yang akhirnya bersikap pragmatis. Daripada tak bisa pulang ke kampung, ia menerima dan menikmati kehidupan malam di kota metropolis Tokyo. Tapi, bukan tak mungkin, jauh lebih banyak perempuan seperti Dewi, yang ingin keluar dari cengkeraman sang muncikari. Para begundal anggota Yakuza-lah yang membuat mereka kehilangan harapan.

Peta Bisnis Prostitusi Jepang

Secara resmi, sejak 1958 pemerintah Jepang melarang bisnis prostitusi. Untuk mengakalinya, pelaku bisnis prostitusi di sana mengemas bisnis mereka dalam pelbagai bentuk\seperti pub, bar, dan tempat karaoke. Berikut peta dunia “esek-esek” di Jepang.

Fukuoka: Ada 31 pub dan bar di kota yang terletak di Jepang bagian selatan ini. Beberapa yang terkenal adalah Xayamaca, Yellow Bird, dan Voodoo.

Hiroshima: Kota yang pernah dijatuhi bom atom oleh Amerika ini memiliki 83 pub, bar, dan tempat karaoke. Beberapa yang terkenal: Sexual Apedtie, Sumatra Tiger, dan Niban Kan.

Kyoto: Kota tertua di Jepang ini memiliki 40 tempat hiburan. Beberapa yang terkenal: Darling, Garbo, dan Kiyamachi Club.

Nagoya: Secara resmi ada 41 pub, bar, dan tempat karaoke di Nagoya. Beberapa yang terkenal: Yamachan, Emporium, dan Hamutibaina.

Osaka: Di ini ada 55 pub, bar, dan karaoke. Beberapa yang terkenal: Horse Men Club, Gobankan, dan Aya.

Tokyo: Kota metropolis Tokyo memiliki tak kurang dari 350 bar, pub, dan tempat karaoke. Sebagian besar terkonsentrasi di daerah Akasaka, Shinjuku, dan Roppogi. Beberapa tempat yang terkenal: Akasaka Lips, Zona Rosa, dan The X.

Yokohama: Kota pelabuhan ini memiliki 20 tempat hiburan malam. Beberapa yang terkenal: Rumineru, Blue Moon, dan Airegin.

5 Responses

  1. permisi, mengenai peta bisnis prostitusi jepang sumbernya dapat dimana yag

  2. memang jepang terkenal gila sex, bahkan idol group macam akb 48 saja ada acara sesi foto pakai kutang dan kolor saja. untung jkt48 sesi foto begini di hilangkan dan terkesan ditutupi.

  3. unik
    nice blog

  4. seandainya ndak ada malam maka ndak akan ada dunia malam ia khan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: