Ferry Santoro: “GAM Sempat Mengancam Membunuh Saya”

FERRY Santoro, 35 tahun, tampak letih. Wajah tirus kamerawan RCTI ini terlihat makin cekung. Dibanding 11 bulan lalu, kini kulitnya makin gelap. Ya, sejak disandera pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 29 Juni 2003 silam, tubuh Ferry berubah drastis.

Berat badannya memang anjlok 22 kilogram. Toh, Ferry tetaplah Ferry. Meski sempat menjalani hari-hari menegangkan, ia tetap memiliki sense of humor yang tinggi. “Kalau Aceh jadi merdeka,” ujarnya, “saya boleh ke sana tanpa paspor.”

Ferry letih, tapi juga sedang menghabiskan rasa rindunya pada orang-orang tersayang. Dari belantara Aceh, pekan lalu Ferry kembali berkumpul dengan keluarga. Mayawati, sang istri, kembali meladeni makan dan minum Ferry dengan telaten. Sedangkan Muhammad Ferdian Santoro, 6 tahun, anak semata wayangnya, kerap bergelayut manja di pangkuan. Bahkan TEMPO melihat Ferdian hanya mau makan bila disuapi oleh ayahnya. Setelah makan, Ferdian merengek-rengek agar sang ayah mengeloninya di kamar tidur.

Untuk mengungkap kisah penyanderaan Ferry yang dramatis, wartawan TEMPO Setiyardi dan Nezar Patria mewawancarainya di sebuah tempat yang dirahasiakan. Berikut kutipan wawancara dengan Ferry Santoro.

Setelah 11 bulan disandera GAM, bagaimana rasanya jadi orang bebas?

Ini karunia Allah Swt. Saya masih diberi kesempatan untuk hidup dan kembali berkumpul bersama keluarga. Selama dalam penyanderaan GAM, saya sempat terpikir akan segera menemui ajal. Apalagi setelah Pak Ersa Siregar tertembak. Karenanya, saya sangat berterima kasih kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Su-tarto, Penguasa Darurat Militer Mayjen Endang Suwarya, ICRC, PMI, serta rekan-rekan jurnalis yang selalu memberi dukungan. Secara khusus, saya ucapkan terima kasih kepada enam wartawan yang menjadi barter dalam pembebasan saya.

Apa yang akan Anda lakukan se-karang?

Sebenarnya saya sangat kangen dengan pekerjaan. Kalau boleh, sih, setelah dua hari istirahat bisa langsung bekerja kembali. Tapi RCTI meminta saya istirahat total selama dua bulan.

Anda mengalami trauma?

Ya, saya memang masih mengalami trauma. Itu sangat saya rasakan. Sekarang, saya sering merasa mendengar suara tembakan dan rentetan peluru. Dar…dar…dar…. Padahal sekarang saya sudah di Jakarta. Tak ada apa-apa. Suara itu biasanya terdengar bila saya sedang melamun.

Bisa tidur nyenyak?

Alhamdulillah saya bisa tidur. Biasanya saya tidur bersama Ferdy, anak saya. Dia jadi ngalem sekali. Makan pun sering minta disuapi papanya.

Kami ingin tahu kisah Anda saat disandera GAM. Bagaimana proses penangkapan Anda?

Pada tanggal 29 Juni 2003, Pak Ersa dan saya akan mengunjungi pengungsi. Dua istri perwira TNI juga ikut bersama kami. Dalam perjalanan dari Kuala Langsa ke Lhok Seumawe, mobil kami dihadang beberapa pasukan GAM bersenjata lengkap. Saya dan sopir langsung disuruh tiarap di belakang. Kami dibentak-bentak dengan kasar. Saya tak tahu dibawa ke mana. Saat itu saya hanya bisa berdoa agar diberi keselamatan. Saya takut sekali. Harus saya akui, saat itu saya sangat ketakutan.

Kemudian, apa yang menimpa Anda?

Saya dan tawanan lain mengalami hari-hari yang panjang dan melelahkan. Hari-hari pertama sangat menekan dan menakutkan. Pasukan GAM kerap membentak saya dan menanyakan asal-usul saya. Ketika saya bilang saya dari Jawa, mereka bilang saya tak bakal hidup. Mereka sempat mengancam akan membunuh saya. Saat itu, saya pikir besok pagi sudah jadi mayat.

Berapa lama kondisi tegang tersebut?

Sekitar sebulan. Kemudian, setelah hari-hari kami lewatkan bersama, orang GAM yang sering membentak-bentak meminta maaf. Saya terima maafnya. Kemudian, ia berkata, “Sebetulnya kami tak membenci orang Jawa. Kami membenci pemerintahan Jawa.” Ia mengaku benci pada pemerintah karena merasa rakyat Aceh tak diperlakukan secara adil. Saat masa daerah operasi militer (1989-1998–Red.), banyak orang tua mereka yang mati dibunuh ABRI.

Berapa orang yang menjaga Anda?

Tergantung keadaan. Kalau mencekam, yang menjaga saya bisa mencapai 20 orang. Tapi, kalau situasi aman, yang menjaga cuma lima orang. Semua bersenjata lengkap. Senjata mereka jenis AK-47 atau M-16.

Bagaimana cara Anda bertahan hidup?

Para sandera harus hidup dengan cara GAM. Setiap hari kami berjalan dan berjalan. Bisa mencapai puluhan kilometer per hari. Awalnya, adaptasinya sangat berat. Belum lagi soal menu makanan yang sangat sederhana. Kami sering hanya makan nasi dengan ikan asin. Cuma itu. Bahkan pernah suatu kali cuma makan nasi sekali selama tiga hari berturut-turut. Untuk mengganjal perut, kami makan daun-daunan di hutan. Saya tak tahu jenis dan nama daun yang saya makan itu. Tapi kami menerima saja. Soalnya, pasukan GAM juga begitu. Prinsipnya, apa yang mereka makan, kami juga akan makan.

Tak pernah mendapat makan yang lebih baik?

Tergantung keadaan. Bila GAM bisa mendapat pasokan logistik, saya bisa makan pakai telur atau ayam. Tapi itu jarang sekali. Apalagi saat pengepungan TNI makin intensif. Pasukan GAM sering kesulitan mendapat logistik makanan. Sekarang, berat badan saya turun sekitar 22 kilogram.

Apa kegiatan Anda sehari-hari?

Kami selalu bangun pagi sekitar pukul lima subuh. Kami tak pernah telat salat subuh. Memang ada juga yang tak salat. Tapi sebagian besar mereka rajin mengerjakan salat. Biasanya, saat yang lain salat, sebagian pasukan berjaga-jaga. Mereka adalah orang yang taat agama, karena banyak yang keluaran pesantren.

Apakah Anda kerap terjebak dalam kontak senjata?

Saya sering terjebak dalam kontak senjata antara GAM dan TNI. Biasanya, dalam baku tembak itu, saya langsung tiarap di belakang. Soalnya, TNI tidak bisa membedakan antara saya dan GAM. Peluru mereka tidak mungkin bisa melihat dan mengenal Ferry Santoro.

Anda selalu selamat dalam kontak senjata tersebut?

Pasukan GAM sangat melindungi saya. Mereka takut saya cedera atau tewas. Biasanya, saat kontak senjata, mereka langsung membentengi saya dengan formasi huruf “U”. Saya ada di tengah. Agar selamat, saat TNI menembak, saya tiarap. Kemudian, setelah GAM membalas dan terjadi baku tembak, saya lari ke belakang.

Pernahkah mengalami pemukulan?

Tak pernah. Mereka betul-betul menjaga keselamatan saya. Mereka bahkan bilang saya harus memberi tahu bila sedang sakit. Kalau saya tak bilang, mereka akan marah. Mungkin mereka baik karena saya seorang wartawan.

Rupanya, Anda mendapat perlakuan istimewa….

Ya, saya dan (almarhum) Pak Ersa tak pernah dicampur dengan tawanan GAM yang lain.

Anda sempat sakit parah?

Suatu kali saya terkena diare parah selama dua minggu. Saya sampai buang air besar yang berdarah-darah. Sangat kental. Badan saya sangat lemas. Tak ada obat, apalagi dokter. Setelah beberapa hari, GAM berhasil mendapatkan Entrostop. Tapi tak mempan. Saya justru sembuh karena makan biji rumbia.

Apakah saat sakit Anda tetap ikut rombongan yang selalu berpindah?

Ya, saya tetap berjalan. Kami tak mungkin cuma diam di tempat. Mobilitas pasukan GAM sangat tinggi. Tiap hari mereka berpindah tempat. Saat saya sakit, mereka bertanya apakah saya kuat ikut berjalan. Saya bilang, “Insya Allah kuat.” Tapi, saat baru berjalan beberapa kilo, saya sudah sempoyongan. Akhirnya seorang pasukan GAM membawakan tas saya.

Apakah sering bertemu binatang buas?

Beberapa kali kami bertemu binatang buas. Suatu hari kami bertemu seekor gajah yang besar sekali. Saya takut dia mengamuk. Tapi, alhamdulillah, meski hanya berjarak 20 meter, dia tak mengganggu kami. Dia cuma lewat. Selain itu, kami juga sempat tidur bersama seekor harimau besar. Rupanya, kami tidur di sarang harimau itu. Buktinya, tanah di sekitar kami adalah rawa-rawa yang sangat becek. Harimau itu datang saat sore hari. Dia sempat menabrak penjaga saya. Untungnya, harimau itu tak mengamuk. Akhirnya kami tidur bersebelahan dengan harimau itu. Jarak kami cuma sekitar 10 meter. Besok paginya, harimau itu langsung pergi. Mungkin malam itu ia memang sengaja menjaga kami, ha-ha-ha….

Mengapa pasukan GAM tak menem-bak hewan-hewan liar itu?

Pasukan GAM tak pernah menembak hewan liar yang ada di hutan. Mereka percaya, bila membunuh hewan liar itu, mereka akan terkena tulah atau kutukan. Mereka menganggap hutan itu keramat dan dihuni para aulia. Bila ingin buang hajat, mereka pasti menggali tanah. Setelah selesai, kembali ditutup dengan tanah. Menurut mereka, bila melanggar tata cara itu, mereka akan didatangi ular besar yang berbisa. Saya pun ikut tata-cara mereka.

Anda sempat mengalami peristiwa mistis?

Suatu sore, saya mendengar suara salam, “Assalamualaikum.” Suaranya sangat jelas. Saat itu saya tidak sedang melamun. Saya lantas menjawab salam tersebut. Tapi, anehnya, tak ada siapa-siapa. Pasukan GAM bilang itu adalah salam dari aulia yang menjaga hutan tersebut.

Selama dalam tawanan, Anda sempat marah ke GAM?

Tentu saja saya memendam amarah ke GAM. Cuma, saya tak berani mengungkapkannya. Saya marah karena menderita dan jauh dari keluarga. Itu sangat menyedihkan. Saya juga sering tanya, kok ditahan sangat lama. Jawaban mereka selalu sama: saya belum dibebaskan karena tak ada mediator. Mereka takut kalau saya tertembak oleh pasukan TNI.

Mengapa tak mencoba melarikan diri?

Dalam benak saya sempat terbersit (pikiran) untuk melarikan diri. Tapi, setelah saya pikir masak-masak, saya tidak tahu medan di sekitar saya. Jangan-jangan malah tertangkap lagi. Tentu saja risikonya lebih berat. Bisa-bisa saya ditawan lebih dari setahun.

Apa sebenarnya yang menghambat pembebasan Anda?

Hambatan utama adalah tak adanya saling percaya antara GAM dan TNI. Saya cuma menunggu hari demi hari dengan kebosanan, dengan ketakutan.

Anda menyimpan dendam terhadap pasukan GAM yang telah menyandera?

Saya tidak dendam terhadap GAM. Meski mereka sempat menyinggung perasaan saya, saya sudah tidak marah. Saya pikir, saya dan GAM sama-sama manusia. Kami sama-sama muslim. Saya sudah memaafkan kesalahan mereka.

Sebenarnya, berapa jumlah anggota pasukan GAM?

Di seluruh Aceh mungkin mencapai 15 ribu orang. Tapi saya tak tahu persis jumlah mereka. Yang pasti, mereka memiliki persenjataan yang sangat lengkap. Mereka juga adalah orang-orang militan yang siap mati dalam kontak senjata dengan TNI. Mereka beranggapan sedang menghadapi penjajah dari Indonesia.

Dari mana asal senjata mereka?

Menurut mereka, sebagian didapat de-ngan membeli dari oknum TNI. Saya tak tahu harganya. Itu urusan internal mereka. Selain itu, ada yang diselundupkan dari luar negeri. Wilayah Aceh dikelilingi lautan yang sangat memudahkan penyelundupan senjata. Tentu saja, untuk itu, mereka membutuhkan dana operasi yang sangat besar. Saya tak tahu asal dana mereka.

Bagaimana cara pasukan GAM saling berkoordinasi?

Mereka menggunakan handy talkie. Sedangkan komandan pasukan membawa telepon satelit. Untuk bergerak, mereka juga menggunakan kompas. Tapi sering juga mereka tak memakai kompas karena sudah sangat hafal dengan hutan tersebut.

Benarkah GAM juga memaksa rakyat agar menyetor pajak?

Mereka mengaku tak memeras. GAM cuma bilang bahwa rakyat memberi sumbangan. Biasanya persentasenya ditentukan dari besarnya hasil bumi rakyat. Yang paling banyak dari petani karet dan kelapa sawit.

Jadi, GAM tak kesulitan dana untuk membeli logistik?

Saya tak tahu pasti. Yang jelas, mereka selalu memiliki persediaan logistik seperti sabun dan rokok. Jenis rokok mereka umumnya Dji Sam Soe, Djarum, dan Gudang Garam. Setiap pasukan mendapat jatah sebungkus rokok per hari. Saya pun mendapat sebungkus Dji Sam Soe kretek per hari. Saya sering meledek mereka, “Katanya benci orang Jawa. Kok rokoknya dari Jawa.” Mereka cuma tertawa.

Apa alasan mereka menjadi pasukan GAM?

Macam-macam. Yang lucu, ada yang mengaku dulu sempat mendaftar jadi anggota TNI, tapi tak lulus. Akhirnya masuk GAM. Tapi sebagian besar alasan menjadi pasukan GAM karena dendam. Mereka adalah korban DOM. Orang tua mereka mati ditembak ABRI. Mereka menuntut balas dengan menjadi pasukan GAM.

Apakah pasukan GAM bergaji tetap?

Tidak. Mereka cuma diberi uang saku sekitar Rp 10 ribu tiap minggu. Memang, kalau sedang melakukan operasi, mereka diberi uang sekitar Rp 50 ribu per orang. Itu untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu. Toh, dengan kondisi seperti itu, mereka tetap sangat berdisiplin. Bila ada yang melanggar aturan, akan dihukum oleh atasannya.

Anda sempat melihat hukuman seorang pasukan GAM?

Penjaga saya bercerita, ia pernah dihukum. Soalnya, ia sempat menembak asal-asalan karena mengaku melihat kuntilanak. Akibatnya, selama dua bulan ia diskors tak boleh membawa senjata. Selain itu, ia juga dihukum supaya membersihkan markas GAM dan kamar mandi.

Bagaimana peristiwa penembakan Ersa?

(Ferry mengambil pulpen dan kertas. Ia menggambar denah posisi saat penyerangan pasukan TNI–Red.) Saat itu kami di gubuk berbentuk huruf “T” yang tingginya sekitar 1 meter. Di sekitarnya banyak pohon nipah. Saat saya dan Almarhum sedang tiduran di gubuk tersebut, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan. Mata saya jadi kabur. Saya lompat ke belakang. Almarhum melompat ke arah lain. Setelah jarak beberapa meter, saya ingin balik ke gubuk, tapi dicegah oleh GAM. “Jangan. Bang Ersa pasti selamat,” katanya.

Bagaimana kondisi Anda?

Saya merayap dalam lumpur. Semua peralatan saya saya tinggal, termasuk pakaian dan kamera RCTI. Sehari kemudian, Ishak Daud memberi tahu bahwa Pak Ersa meninggal. Awalnya, saya tak percaya. Tapi, setelah diyakinkan, saya percaya. Saya pun pingsan sekitar 15 menit. Tentu saja, selain trauma dan sedih atas kematian Pak Ersa, saya semakin ketakutan.

Saat bersama Ersa, Apa yang menjadi topik obrolan?

Selama dalam hutan, kami saling menguatkan. Kalau sakit, kami saling memberi tahu. Kami juga sering salat tahajud, meminta pertolongan Allah. Pak Ersa orang yang sangat romantis terhadap keluarga. Beliau sering bercerita tentang keluarganya. Anaknya yang paling besar sudah tak bertemu selama dua tahun karena kuliah di Solo. Pak Ersa pernah bilang, “Kalau pulang, saya ingin pergi bersama istri menengok anak yang di Solo.” Dia juga sering cerita dua orang anak lainnya.

Setelah kematian Ersa Siregar, Anda lebih berhati-hati?

Tentu saja. Say a juga merasa sudah dekat dengan ajal saya. Tinggal soal waktu. Tapi seorang anggota pasukan GAM memberi saya doa untuk keselamatan. Lafalnya “Lailahailallah Muhammadarasulullah salallahu’alaihi wasalam. La hawlawala quwata ila billahil ‘aliyil’adzim”. Mereka bilang, bila membaca doa itu, Insya Allah para malaikat akan selalu menjaga. Doa itu selalu saya baca setiap mau berjalan.

Anda sudah menjadi orang bebas. Merasa jadi terkenal?

Ha-ha-ha…, ada rumah makan yang memberi saya hidangan istimewa karena tahu saya Ferry Santoro. Selain itu, di kampung tempat kelahiran saya di Purworejo juga akan diadakan selamatan syukuran. Itu semua berkah buat saya dan keluarga.

Apa usulan Anda untuk solusi Aceh?

Saya ingin Aceh menjadi wilayah yang damai. Tak ada lagi penculikan dan pembunuhan. Biarkan rakyat Aceh membangun daerahnya sendiri.

Anda ingin Aceh tetap bersama Indonesia atau menjadi negeri yang merdeka?

Itu pertanyaan yang sangat politis. Saya tak bisa menjawabnya, karena saya bukan politisi.

One Response

  1. nice blog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: