Hidayat Nurwahid: “Kami Ingin Mengganti Ke pemimpinan Nasional”

HIDAYAT Nurwahid, 44 tahun,memasuki hari-hari supersibuk. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini kerap berbicara dan berjalan sambil melihat jam tangannya. Jadwalnya memang sangat padat. Kamis pagi pekan lalu, misalnya, beberapa wartawan televisi antre untuk wawancara. Para tamu juga berdatangan ke kantor Dewan Pimpinan Pusat PKS, yang sangat bersahaja, di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta. “Maaf, jadwal wawancara jadi molor,” ujar Hidayat kepada TEMPO.

Bahkan, saat wawancara dengan majalah ini tengah berlangsung, Hidayat terpaksa memotongnya. Doktor lulusan Universitas Islam Madinah ini harus menemui rombongan dari beberapa LSM lingkungan hidup yang telah menunggu selama dua jam. Sejurus kemudian, Hidayat meluncur ke sebuah stasiun televisi swasta untuk sebuah siaran langsung. Ia sempat berlari-lari di anak tangga studio karena waktu tayang telah tiba.

Kesibukan Hidayat berpangkal pada satu prestasi: Partai Keadilan Sejahtera, yang dipimpinnya, menjadi kuda hitam Pemilu 2004. Saat beberapa “partai Islam” lain melempem, PKS justru meraih suara lebih dibanding Pemilu 1999. Para pengamat memperkirakan PKS akan mendapat 7-8 persen (sekitar 11,5 juta) suara.

Untuk mengupas fenomena keberhasilan PKS serta konsep kekuasaan versi PKS, wartawan TEMPO Setiyardi dan wartawan Tempo News Room Istiqomatul Hayati mewawancarai Hidayat Nurwahid. Berikut kutipannya.

Pemilu 2004 baru saja usai. Bagaimana penilaian Anda soal pelaksanaannya?

Masih banyak kecurangan. Soal penghitungan suara di KPU, misalnya, mengapa yang didahulukan adalah suara di Tabanan, Bali? Bukankah Jakarta telah terlebih dahulu selesai? Itulah sebabnya sejak dulu saya mengingatkan adanya bahaya teroris pemilu. Yang paling berbahaya adalah manipulasi, karena sangat mudah dan dampaknya luar biasa. Di Petojo Utara, Jakarta, misalnya, suara PKS dipotong dari 67 menjadi 7 suara. Nah, pencuri finish sesungguhnya lebih berbahaya daripada pencuri start.

Meski begitu, hasil sementara pemilu menunjukkan PKS menjadi kuda hitam perolehan suara. Apa yang terjadi?

Ha-ha.., boleh saja kami menjadi kuda hitam, asal bukan kambing hitam. Selama ini umat Islam dan partai Islam sering hanya menjadi kambing hitam. Bahwa dalam Pemilu 2004 ini suara PKS meningkat, kami harus sangat bersyukur. Dalam perhitungan kami, suara yang akan kami peroleh bisa jadi mencapai 10 persen.

Bagaimana cara PKS meraup suara dalam Pemilu 2004?

PKS adalah partai kader dan partai dakwah. Kami mengedepankan penyebaran kader. Untuk itu, kami menjaring kader lewat akar rumput. Setiap satu orang kader PKS menggaet satu orang dalam setahun. Ini berlangsung terus-menerus. Secara matematik, akumulasinya akan menjadi deret ukur. Perekrutan model ini dimungkinkan karena kader PKS mayoritas anak-anak muda terpelajar yang punya semangat untuk menyebarkan nilai-nilai kami.

Selain itu, apa yang membuat suara PKS meningkat tajam dibanding Pemilu 1999?

Rakyat melihat perbuatan kader-kader PKS di lapangan. Kader kami bukanlah orang-orang yang fanatik. Mereka adalah orang-orang yang tahan uji dan tak menerima suap. Publik menjadi suka.

Apakah demi peningkatan suara itu juga Anda mengundang Rhoma Irama dan Setiawan Djody saat kampanye?

Partai ini selalu dilematis. Dulu orang mengkritik PKS sebagai partai yang eksklusif. Itu kritik yang membangun. Nah, merespons kritik itulah kami menampilkan tokoh-tokoh seperti Rhoma Irama dan Setiawan Djody. Kami mencoba menampilkan sisi positif mereka. Soal Rhoma, misalnya, kami tak meminta “raja dangdut” Rhoma untuk berjoget. Sedangkan Setiawan Djody kami anggap sebagai representasi budayawan, abangan, dan pengusaha. Selama ini PKS dibilang anti-budayawan, abangan, dan pengusaha. Nah, kehadiran Pak Setiawan Djody untuk menjawab hal tersebut.

Ada kader, seperti bekas Sekjen Departemen Kehutanan dan Perkebunan Suripto, yang kecewa dengan kehadiran Rhoma dan Setiawan Djody. Bagaimana?

Memang ada yang kecewa. Kalau Pak Suripto kecewa, saya memahami beliau. Tapi banyak juga kader yang senang. Bahkan banyak daerah yang meminta Rhoma Irama hadir.

Benarkah Setiawan Djody menyumbang Rp 100 juta?

Pak Setiawan Djody memang menyumbang Rp 100 juta. Angka tersebut dibenarkan oleh undang-undang. Tentu saja sumbangan itu halal dan tidak mengikat. Selain itu, ada beberapa nama pengusaha lain. Tapi tak ada konglomerat hitam yang sudah dikenal publik.

Berapa jumlah total sumbangan yang diterima PKS?

Sebetulnya angkanya sangat sulit diungkap. Selama ini PKS lebih banyak digerakkan oleh kader-kadernya sendiri. Makanya, ada yang bilang PKS singkatan dari “partai kantong sendiri”. Tapi memang kemudian ada juga sumbangan dari para pengusaha seperti Pak Setiawan Djody. Jumlah totalnya sekitar Rp 5 miliar. Semua sumbangan tersebut dapat kami pertanggungjawabkan.

Dengan perolehan suara di pemilu legislatif sekarang, apa yang akan dilakukan PKS untuk pemilu presiden mendatang?

Saya sedang aktif melakukan pelbagai pertemuan dengan tokoh-tokoh nasional. Meski tertunda, saya punya agenda untuk bertemu dengan Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga sudah bertemu dengan Ketua Nahdlatul Ulama K.H. Hasyim Muzadi, Ketua Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif, Cak Nur, dan lain-lain. Semua pertemuan itu intinya menyepakati bahwa diperlukan upaya bersama untuk menyelamatkan bangsa.

Penyelamatan bangsa? Apa yang akan Anda lakukan?

Ini bisa diartikan sebuah pergantian kepemimpinan nasional. Alternatif pemimpin nasional itulah yang sekarang tengah kami persiapkan lewat pelbagai pertemuan. Kami ingin mengganti kepemimpinan nasional. Untuk itu, silaturahmi politik itu sangat penting. Bagi saya, hal itu untuk menguatkan perjuangan. Bila kita merasa berjuang sendiri, kita bisa melempem dan gampang ditindas. Alhamdulillah, hasil Pemilu 2004 menunjukkan adanya kemungkinan alternatif kepemimpinan. Itu sebuah perubahan yang akan membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis.

Siapa nama kandidat calon presiden dan wakil presiden yang tengah disiapkan?

Kami belum sampai pada penyebutan nama. Tapi PKS punya tiga kriteria dalam menjalin koalisi parpol: nilai demokrasi, mendukung reformasi, dan untuk partai Islam harus sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan kriteria itu, beberapa yang bisa disebut antara lain Partai Amanat Nasional, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Bintang Reformasi.

Bagaimana dengan PDI Perjuangan dan Partai Golkar?

Secara pribadi, saya menganggap beberapa tokoh di PDI Perjuangan adalah orang baik dan reformis. Sebut saja Pak Kwik Kian Gie, Sophan Sophiaan, Meilono Soewondo, dan Indira Damayanti. Di Partai Golkar, orang seperti Marwah Daud Ibrahim dan Fahmi Idris termasuk yang menuju ke arah perbaikan. Tapi, dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan Ketua Partai Golkar Akbar Tandjung, memang sulit diajak berkoalisi.

Anda mendukung gerakan “asal bukan Mega dan Akbar”?

Saya melihat di kampus dan LSM memang menolak Megawati dan Akbar Tandjung. Mereka menilai pemerintahan sekarang gagal. Bahkan di kalangan aktivis perempuan juga bilang Megawati, yang juga perempuan, telah gagal. Waktu ada longsor di Garut, Mega lebih suka mengalungkan medali di Bali 10K. Saat puluhan ribu TKI telantar di Nunukan, Kalimantan, Megawati seperti cuek. Megawati malah mengkritik wartawan soal pemberitaan TKI di Nunukan itu.

Anda juga bilang Mega lebih berpihak pada “wong licik” ketimbang “wong cilik”. Mengapa?

Saya heran, Mega malah memihak konglomerat hitam. Mega juga membiarkan penzaliman terhadap TEMPO dan Koran Tempo oleh Tomy Winata. Dia juga tak memerintahkan pemeriksaan terhadap Jaksa Agung M.A. Rachman. Itulah sebabnya saya bilang Mega lebih berpihak pada wong licik daripada wong cilik.

Sekarang, siapa kandidat presiden dan wakil presiden dari PKS?

Beberapa nama memang telah disebut. Ada yang menyebut Amien Rais, K.H. Hasyim Muzadi, Nurcholish Madjid, dan lain-lain. Tapi mekanisme di PKS akan menjaring semua usulan dari daerah. Setelah ditabulasi dan dibuat ranking, baru nama-nama itu diusulkan ke Dewan Syuro. Nah, 52 anggota Dewan Syuro inilah yang akan menentukan siapa yang akan menjadi kandidat dari PKS.

Apakah sistem tersebut demokratis?

Tentu kami menganggapnya demokratis. Setiap suara di Dewan Syuro memiliki kualitas yang sama. Memang, dalam kasus yang sangat khusus, bila suara terbelah dua (26-26), kelompok yang didukung Ketua Dewan Syuro yang menang. Tapi probabilitasnya sangat kecil

Bagaimana dengan kemungkinan Anda yang menjadi calon presiden versi PKS?

Kalau boleh memilih, saya lebih senang dengan posisi saya sekarang. Saat ini saya bisa bertemu dan mengobrol dengan semua orang, termasuk wartawan, tanpa protokol yang berbelit. Bila jadi presiden, tentu saja saya akan kehilangan kenyamanan tersebut. Tapi saya sadar bahwa saya ini adalah kader partai. Bila partai memerintahkan saya untuk maju, tentu saja saya harus menaati perintah tersebut. Itulah yang terjadi dengan posisi saya sebagai calon anggota legislatif. Saya menolak untuk jadi calon legislatif, tapi akhirnya kalah dalam rapat pleno.

Ada beberapa daerah yang mencalonkan Anda. Bagaimana?

Ya, dalam kampanye terakhir di Bekasi, mereka membacakan usulan PKS Jawa Barat. Mereka mengusulkan saya jadi calon presiden. Tapi semua kan baru usulan. Nanti Dewan Syuro yang menentukan.

Beberapa daerah mengusulkan Jenderal (Purn.) Wiranto sebagai calon presiden PKS. Mengapa?

Sulawesi Utara dan Gorontalo memang mengusulkan nama Wiranto. Ini kasus yang bersifat sangat lokal. Di dua provinsi tersebut, Pak Wiranto dianggap sangat berjasa. Dia membuka lapangan kerja. Kasus serupa juga muncul di Nusa Tenggara Barat, yang mengusulkan nama Habibie. Rupanya, di masa Presiden Habibie, petani bawang putih menikmati kesejahteraan. Harga bawang putih melambung.

Benarkah kelompok Anis Matta, Sekjen PKS, ngotot mengusung Wiranto?

Harus saya akui bahwa partai politik tak bisa lepas dari klik kepentingan. Tapi saya tidak yakin Pak Anis melakukan manuver seperti itu. Kalau beliau melakukan komunikasi, termasuk dengan Wiranto, itu memang diperlukan oleh partai. Sebagai partai dakwah, kami selalu membuka komunikasi untuk perbaikan-perbaikan.

PKS menang di Jakarta. Apakah PKS akan mengincar kursi gubernur dan wali kota di DKI Jakarta?

Tidak bisa diingkari bahwa partai politik menuju ke kekuasaan. Kalau hanya berperan serta, cukup dilakukan oleh LSM. Jadi, kalau kawan-kawan di DKI membidik kursi gubernur dan wali kota, sah-sah saja. Namun, kekuasaan bagi PKS bukan sekadar jadi penguasa, tapi untuk menjadi pelayan. Itu sesuai dengan hadis, “Bila jadi pemimpin, sesungguhnya menjadi pelayan bagi kelompok itu.” Nah, pelayanan akan efektif bila kita terlibat dalam pembuatan kebijakan dan pelaksanaannya. Itu memang berarti harus duduk di kekuasaan.

Bila jadi presiden, apakah Anda akan memperjuangkan penerapan syariat Islam?

Anggaran Dasar PKS memang Islam. Tapi, soal penegakan syariat Islam, ada hal yang perlu diklarifikasi. Saat mengamendemen Pasal 29 UUD 1945, kami mengajukan konsep Piagam Madinah, bukan Piagam Jakarta. Di Piagam Madinah, hak-hak dan kewajiban semua agama dilindungi secara adil. Ini yang terjadi di zaman Nabi Muhammad saat membuat perjanjian damai dengan umat Yahudi di Madinah (Piagam Madinah).

Jadi, Anda akan mengupayakan proses “Islamisasi” di pelbagai sektor?

Kita tak boleh alergi terhadap Islam. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Jangan hanya membayangkan syariat Islam dengan potong tangan dan hukum rajam. Di zaman Khalifah Umar bin Khattab, saat kelaparan dan pencurian merajalela, Umar tak menghukum para pencuri. Beliau lebih berusaha menghilangkan kelaparan.

Kembali soal Jakarta. Apa yang akan terjadi di kota metropolis ini?

Kami ingin banyak orang bertobat, tidak melakukan kejahatan dan maksiat lagi.

Apakah PKS akan menutup panti pijat di Jakarta?

Kalau panti pijat itu untuk penyembuhan dan pijat reflektif, itu tetap dimungkinkan. Tapi, kalau memang prostitusi, seharusnya memang ditutup. Tapi, sebelum sampai pada penutupan, kita harus memberi solusi terlebih dahulu. Pekerja di sektor itu harus mendapat alternatif pekerjaan yang manusiawi.

Bagaimana dengan hiburan malam?

Saya sadar bahwa masyarakat kita sangat membutuhkan hiburan. Untuk itu, PKS menawarkan hiburan alternatif seperti nasyid. Nah, saya ingin lebih menawarkan alternatif-alternatifnya. Ini adalah partai dakwah.

PKS adalah partai yang berasaskan Islam. Apakah ini juga membuat PKS tak bisa mentoleransi keputusan Mahkamah Konstitusi soal calon legislatif komunis?

Keputusan itu baru berlaku pada Pemilu 2009. Saya kok tak yakin banyak orang PKI yang masih hidup. Tapi, kalau kita bicara soal ideologi, komunisme tetap merupakan ancaman. Tak ada ideologi yang benar-benar mati. Suatu saat dia masih bisa bangkit lagi.

Jadi, Anda berharap komunisme tetap dilarang?

Secara prinsip, saya berharap Tap MPRS XXV/1966 soal larangan penyebaran komunisme kita pertahankan. Kalau tidak, kita juga harus mengubah UUD 45 dan Pancasila yang berketuhanan.

Anda menolak rekonsiliasi dengan kelompok komunis?

Rekonsiliasi bisa dilakukan selama itu menghadirkan solusi yang adil dan tak menciptakan konflik baru. Dulu, banyak guru dan murid pesantren saya di Gontor yang menjadi korban komunis. Banyak kiai yang dibunuh oleh PKI. Saya tak ingin melupakan begitu saja peristiwa-peristiwa itu. Bisa saja PKI mengulangi tragedi-tragedi yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Belakangan, Anda sangat sibuk. Bagaimana dengan waktu untuk keluarga?

Ha-ha-ha, itu konsekuensi yang ada. Rata-rata saya datang ke kantor pukul 9 pagi, dan bisa sampai pukul 12 malam. Waktu untuk keluarga sebelum subuh sampai anak-anak pergi sekolah. Kalau liburan, saya ajak anak-anak ke toko buku di dekat rumah.

Apakah anak-anak juga harus bersekolah di pesantren?

Saya punya empat anak. Secara prinsip, saya membebaskan mereka. Tapi tampaknya mereka ingin seperti ayahnya, yang dulu sekolah di pesantren. Yang tertua sekarang kelas satu SMP di Pesantren Gontor. Bahkan anak yang terkecil, yang masih TK, sudah menyatakan ingin masuk pesantren. Tapi saya tak tega melepas dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: