Juragan Boneka untuk Minyak Irak

PERANG bersenjata di Irak baru saja usai, dan Presiden Irak Saddam Hussein lenyap bak ditelan bumi. Tapi perang “sesungguhnya”, pertempuran untuk menguasai ladang-ladang minyak Irak, sebenarnya justru baru dimulai. Pekan lalu, Amerika Serikat menunjuk Thamer Abbas Al-Ghadban sebagai Menteri Perminyakan Irak. Bekas Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan Irak ini akan menjadi salah satu pejabat terpenting di pemerintahan boneka ciptaan Amerika.

Untuk menjalankan tugasnya, Ghadban dibantu Wakil Menteri Fadhil Usman, ahli eksplorasi minyak yang lama tinggal di pengasingan. Untuk operasional sehari-hari, kementerian ini memiliki sekitar 3.000 staf. Sebagian besar bekas pegawai di Kementerian Perminyakan dan operator di ladang-ladang minyak pada era Saddam. “Kami akan menghidupkan perminyakan Irak,” ujar Al-Ghadban.

Irak segera bangkit? Tunggu dulu. Amerika, yang telah menghabiskan lebih dari US$ 60 miliar (Rp 500 triliun lebih) untuk menyerbu Irak, tentu tak mau rugi. Untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan, satu-satunya jalan adalah dengan mengangkangi ladang-ladang minyak Irak. Penempatan Al-Ghadban di Kementerian Perminyakan hanyalah langkah politis murahan. Untuk melindungi kepentingannya, Gedung Putih masih menempatkan orang-orangnya pada posisi strategis. Phillip J. Carroll, bekas CEO Shell Oil Company, ditunjuk sebagai Ketua “Dewan Penasihat” Kementerian Perminyakan Irak. Carroll, kolega dekat Presiden George W. Bush, akan menyetir segala kebijakan dan bisnis minyak Irak. Dialah yang akan menetapkan kontraktor, pengaturan pola produksi, hingga pemasarannya.

Bagi Amerika, minyak Irak memang menggiurkan. Soalnya, Negeri 1001 Malam itu memiliki kandungan emas hitam\julukan untuk minyak bumi\yang jumlahnya mencapai 112 miliar barel. Angka perkiraan badan intelijen CIA itu belum memperhitungkan cadangan “tak terduga” yang mencapai 100 miliar barel. Dengan jumlah sebesar itu, Irak merupakan negara produsen minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Toh, langkah Amerika tak akan berlangsung dengan mulus. Irak adalah negeri berpenduduk 24 juta jiwa yang terdiri atas pelbagai faksi, suku, dan aliran agama. Keberagaman ini masih menjadi pemicu ketidakstabilan di dalam negeri. Suku Kurdi, misalnya, memang sempat menyambut terbuka kehadiran pasukan Amerika. Tapi belakangan suku yang bermukim di wilayah utara ini menginginkan Amerika meninggalkan negeri mereka. Suku Arab malah sejak awal tegas menolak kehadiran Amerika dan sekutunya.

Alih-alih mendapat sokongan penuh, gelombang protes warga Irak yang menuntut agar Amerika (dan Inggris) segera hengkang justru makin keras. Demonstrasi demi demonstrasi terus mengkristal. Karena tak tahan, dan kesal karena tak dianggap pahlawan pembebas, pasukan marinir Amerika dua pekan lalu menembaki para demonstran. Tak kurang dari 13 warga sipil mati di ujung bedil Amerika. Sebuah langkah blunder bagi negeri yang kerap mengaku sebagai kampiun demokrasi.

Tantangan lain datang dari dunia internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan beberapa negara Eropa (seperti Prancis, Jerman, dan Rusia) meminta Amerika tak mengambil keuntungan dari minyak Irak. Berbeda dengan Perang Teluk 1991, saat ini PBB tak menganggap Irak berkewajiban menanggung ongkos pertempuran yang dikeluarkan Amerika dan Inggris. “Minyak Irak seharusnya hanya untuk rakyat Irak,” ujar Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB.

Seperti biasa, Amerika tak menggubris semua protes. Al-Ghadban dan tuan Amerikanya kini mulai memompa 235 ribu barel minyak mentah per hari. Jumlah ini memang masih sangat kecil. Bahkan tak sampai separuh dari kebutuhan BBM untuk dalam negeri Irak sendiri. Untuk memperbesar produksi, beberapa perusahaan minyak Amerika seperti Halliburton, Chevron, dan Shell segera ikut mengais emas hitam di Irak. Dalam waktu dekat, “Kami akan memproduksi 1,5 juta barel per hari,” ujar Al-Ghadban. Tapi Ghadban tak menyebut berapa porsi yang akan mengalir ke jutaan perut lapar di Irak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: