Jusuf Kalla: “Saya Memang Oportunis”

HARI itu, Rabu pekan lalu, air hujan tumpah dari langit Jakarta nyaris tiada henti. Tapi, sementara radio dan televisi mulai memberitakan kemacetan parah yang melanda seantero ibu kota Republik, perhatian Jusuf Kalla, 62 tahun, tercurah ke tempat lain. Ucu–begitu panggilan Kalla di kampung kelahirannya di Watampone, Makassar–bergegas meninggalkan kantornya di Merdeka Barat. Bekas Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ini berusaha menembus kemacetan, menuju rumahnya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. “Banyak tamu penting yang menunggu di rumah,” ucapnya.

Jusuf Kalla memang makin sibuk. Setelah mundur dari konvensi calon presiden Partai Golkar, Kalla melakukan manuver politik yang–di mata sejumlah kalangan–dipandang genius. Ia memilih berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilu presiden/wakil presiden 5 Juli 2004 mendatang. Keputusan itu membuat Kalla langsung meroket. Maklum, Susilo merupakan calon presiden yang namanya tengah menjulang.

Apa alasan pribadi Kalla memilih Susilo? Bagaimana persiapannya dalam pemilu presiden/wakil presiden mendatang? Berapa jumlah dana kampanyenya? Untuk menjawabnya, wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarai Jusuf Kalla. Wawancara dilakukan di dalam mobil dinasnya yang tengah terjebak kemacetan. Berikut kutipannya.

Beberapa calon presiden melirik Anda untuk jadi calon wakil presiden. Mengapa Anda memilih Susilo Bambang Yudhoyono?

Saya memang berharap dapat duduk di pemerintahan. Saya ingin menyelenggarakan negara dan membangun pemerintahan yang kuat. Bila menjadi wakil presiden, saya berharap dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan saya. Nah, dengan dasar inilah saya kemudian memilih pasangan. Menurut pertimbangan saya, Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dapat menjadi partner yang baik. Kami akan menjalankan tugas sesuai dengan kapabilitas masing-masing.

Benarkah Anda memilih SBY karena dia sedang naik daun?

Harus saya akui bahwa SBY sedang sangat populer. Karenanya, pasangan SBY dan Jusuf Kalla lebih punya peluang untuk menang dalam pemilu presiden/ wakil presiden. Kami merupakan pasangan yang cocok dan saling mengisi. Sebagai duet, kami juga saling menguatkan. SBY dari Jawa dan militer. Sedangkan saya dari luar Jawa dan memiliki kemampuan ekonomi.

Anda mendompleng popularitas SBY?

Mendompleng? Tidak mungkin. Saya tidak datang dengan modal nol. Saya punya basis massa di kawasan timur Indonesia. Saya memiliki konstituen kultural. Orang boleh menyebut saya mendompleng SBY bila saya tak memberikan nilai tambah. Lagi pula, saya tidak datang ke SBY untuk menawarkan diri jadi calon wapres. SBY yang mengontak dan mengharapkan saya jadi calon wapresnya. SBY tahu bahwa saya tidak datang dengan nol.

Bagaimana bila ada yang bilang bahwa Anda oportunis?

Itu memang benar. Saya memang oportunis. Dari sudut bahasa, oportunis adalah orang yang suka memanfaatkan setiap peluang yang ada. Saya berangkat dari dunia usaha, yang selalu harus memanfaatkan peluang. Tapi, tolong hal itu dilihat dari sudut pandang yang positif. Dalam konteks pencalonan sebagai wakil presiden, saya oportunis karena ingin memberikan sumbangsih untuk negara. Itu bisa diwujudkan bila saya ada di dalam pemerintahan.

Kapan Anda dan SBY sepakat menjadi pasangan calon presiden/wakil presiden?

Belum lama, baru setelah pemilu lalu. Dalam pertemuan di sebuah tempat yang netral, kami bersepakat maju menjadi pasangan calon presiden/wapres. Kami berharap dapat saling mengisi sesuai dengan kemampuan dan pengalaman masing-masing.

Anda akhirnya memilih SBY. Apakah berarti Anda tak cocok dengan Megawati dan Amien Rais?

Jangan disimpulkan begitu. Ini soal pilihan politik. Benar, saya juga punya latar belakang yang berbeda dengan Ibu Megawati dan Pak Amien Rais. Tapi, untuk bisa melakukan perubahan dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, akan lebih efektif bersama SBY. Kami sudah bekerja sama dan saling mengisi selama empat tahun. Saya merasa cocok dengan beliau.

Pernah ada lamaran dari Megawati dan Amien Rais?

Secara informal, saya memang sudah berbicara dengan orang-orangnya Ibu Megawati. Mereka pernah melakukan pelbagai lobi politik. Tapi, secara formal, saya belum berbicara dengan Ibu Megawati. Belum ada kesepakatan apa pun dengan Ibu Megawati. Saya tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan pertemuan informal. Sedangkan dengan Pak Amien, saya tak pernah membicarakan soal ini.

Bagaimana kalkulasi peluang pasangan Anda?

Masyarakat sebetulnya menginginkan dua hal: keamanan dan kenyamanan. SBY punya pengalaman di bidang polkam. Sedangkan saya punya pengalaman di bidang kesra. Nah, duet ini dijamin akan mampu memberikan rasa aman dan nyaman di masyarakat. Jadi, saya yakin pasangan SBY-Kalla akan laku. Lihat saja hasil pelbagai polling yang menjagokan kami. Saya berharap itu merupakan cerminan dari keinginan rakyat.

Siapa saingan terberat pasangan Anda?

Dengan asumsi ada empat pasangan (SBY, Amien Rais, Megawati, dan Wiranto–Red), saya menghitung bahwa Ibu Mega dan Pak Wiranto adalah saingan terberat kami. Saya kira peluang Ibu Mega dan Pak Wiranto sama. Soalnya, jumlah basis massa PDI Perjuangan dan Partai Golkar hampir sama.

Anda mengaku tetap sebagai kader Partai Golkar. Bagaimana bila bertarung dengan calon dari Partai Golkar?

Pemilu presiden/wapres mendatang bukanlah pertarungan antarpartai. Pemilu nanti merupakan pertarungan antarfigur. Bahwa calon itu didukung oleh partai, memang benar. Tapi itu bukan representasi mutlak dari partai-partai. Lagi pula, saya tidak lagi memperebutkan suara Partai Golkar. Dalam pemilu ini kita bersaing untuk memperebutkan 147 juta suara rakyat Indonesia. Saya sendiri berharap dapat mengambil suara dari kawasan timur Indonesia (KTI). Jumlah mereka sekitar 20 persen dari total suara. Kalau saya dapat memetik 7 persen suara dari KTI, itu sudah bagus.

Apakah Anda sudah menyiapkan strategi khusus?

Berpolitik itu seperti bermain pingpong. Poin akan kita dapatkan akibat kesalahan lawan. Sekarang rakyat tengah menimbang-nimbang semua calon presiden/wapres. Di masyarakat kini beredar informasi tentang kelemahan saingan kita. Akibatnya, suara bisa lari ke kami.

Anda dikenal sebagai pengusaha sukses. Anda akan menggunakan kekayaan Anda untuk kampanye?

Tentu saja saya akan memanfaatkan kekayaan untuk kampanye. Jangankan untuk kampanye sekarang, untuk konvensi Partai Golkar saja saya sudah menghabiskan banyak uang. Tapi kampanye kepresidenan sebenarnya untuk kepentingan negara. Jadi, kami juga akan melakukan fund-raising.

Berapa dana yang Anda siapkan untuk kampanye presiden/wakil presiden?

Saya dan Pak SBY sudah bersepakat menggunakan dana seminimal mungkin. Secara nasional, kami mungkin hanya akan menghabiskan dana Rp 50 miliar. Okelah, mungkin saya akan menyum-bang sekitar Rp 10 miliar. Itu bukan jumlah yang besar. Saya tak ingin menjalankan politik uang.

Mengapa Anda tidak bertarung habis-habisan?

Saya akan fight mati-matian. Tapi itu tidak selalu berarti dengan mengeluarkan uang yang banyak. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa uang bukanlah segalanya. Pada Pemilu 1999, misalnya, Partai Golkar sebetulnya masih menjadi partai terkaya. Soalnya, Golkar adalah partai pemerintah. Tapi PDI Perjuangan akhirnya keluar sebagai pemenang pemilu. PDIP menang bukan karena uang, melainkan karena dukungan image. Setelah itu, dalam Sidang Umum MPR, yang terpilih menjadi presiden justru Gus Dur, yang uangnya jauh lebih kecil dari PDI Perjuangan.

Apakah karena persoalan uang Anda keluar dari konvensi Partai Golkar?

Saya sadar bahwa politik memang membutuhkan biaya. Tapi, meneruskan konvensi hanya akan menghabiskan segala sumber daya dan dana. Bagi saya, pengeluaran itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Kepada TEMPO, Surya Paloh bilang sudah menghabiskan Rp 100 miliar. Dan ternyata pengeluaran itu percuma. Saya jauh lebih kecil dari jumlah yang dikeluarkan Surya Paloh. Ya, paling sekitar Rp 10 miliar. Mungkin saja saya mampu mengeluarkan uang lebih banyak. Tapi untuk apa pengeluaran yang berlebih-lebihan itu?

Anda mundur dari konvensi karena takut kalah?

Saya tidak takut dengan kekalahan. Tapi saya tidak mau jadi orang yang kalah. Itu dua hal yang berbeda. Saya ingin menang dengan membuat strategi yang lain. Itulah sebabnya saya keluar dari konvensi.

Bukankah langkah Anda mengecewakan konstituen di Partai Golkar?

Sebelum mundur dari konvensi, saya menelepon para Ketua DPD Partai Golkar di daerah. Saya bilang kepada mereka bahwa saya harus tahu diri. Saya tidak mungkin menang dalam konvensi Partai Golkar.

Mengapa justru Wiranto yang menang dalam konvensi Partai Golkar?

Di atas kertas, saya berharap pada Akbar Tandjung. Soalnya, dia adalah ketua umum partai. Makanya saya mendukung langkah pemberian suara DPP ke Akbar. Tapi, bahwa Wiranto yang menang, saya juga tak terlalu terkejut. Ini adalah demokrasi. Analisis memang menyebut Akbar dan Wiranto yang bersaing ketat. Memang, dibandingkan dengan Akbar, Wiranto kurang berkeringat dalam membina Partai Golkar. Tapi barangkali Wiranto lebih berkeringat dalam konvensi. Itu sebabnya Wiranto menang.

Anda terkesan kecewa karena justru Wiranto menjadi pemenang?

Saya tidak berhak kecewa karena sudah keluar dari konvensi. Yang paling kecewa adalah Akbar. Seorang Akbar, yang membela Golkar lima tahun terakhir, digebukin kiri-kanan, tiba-tiba seat-nya diduduki orang lain. Saya tidak bisa membayangkan kekecewaan Akbar.

Bukankah Akbar harus menerima risiko kekalahan dalam konvensi?

Saat membuat konvensi, Akbar sedang menjadi terpidana. Partai kemudian mencari alternatif penjaringan calon presiden. Bahwa dua bulan sebelum konvensi Akbar bebas, sebenarnya alasan konvensi sudah melemah. Tapi kita tak bisa menyetop konvensi karena sudah berjalan.

Benarkah Wiranto akan menjadi lawan tangguh buat SBY?

Ini pemilu langsung. Jadi, sangat tergantung figur. Kalau dalam berbagai polling, figur SBY jauh lebih baik daripada Wiranto. Meski keduanya memiliki latar belakang TNI, resistansi orang terhadap Wiranto lebih tinggi. Soal dukungan dari TNI tak ada masalah. TNI sudah mengambil sikap untuk tetap netral.

Apakah Anda dan SBY telah membuat konsep kabinet?

Saya dan SBY sepakat, kabinet harus membawa pemerintahan yang sustainable. Kabinet juga harus berdasar pada kemampuan. Memang bisa saja orang-orangnya dari parpol, tapi tetap harus dengan kapabilitas. Tentu saja anggota kabinet juga harus jujur dan amanah.

Benarkah SBY akan menyusun kabinet di bidang polkam dan Anda di bidang ekonomi?

Ya, itu karena kita memang akan berdasarkan kapabilitas. Jadi, wajar bila saya akan concern ke bidang yang saya kuasai. Kebetulan saya menguasai bidang ekonomi atau dunia usaha. Soal militer, misalnya, sampai jungkir balik pun saya tak akan menguasai.

Apakah sudah ada “calon menteri” yang melobi Anda?

Belum. Mungkin karena orang tahu bahwa sekarang adalah masa perjuangan. Nanti, setelah pemilu presiden pada 5 Juli, dan kalau kami menang, tentu saja akan banyak yang melobi.

Anda baru mundur dari kabinet. Apa yang Anda bicarakan dengan Presiden Megawati saat mengundurkan diri?

Saya bertemu empat mata dengan Presiden. Saya tegaskan bahwa saya akan maju ke pemilu presiden. Ibu Mega bilang, sebaiknya kami tetap bersahabat, tetap bersaudara, meskipun memiliki perbedaan pilihan politik. Tentu saja saya juga mengucapkan terima kasih karena dipercaya untuk menjadi Menko Kesra.

Anda pernah kecewa selama berada di kabinet?

Saya tak mau menceritakan hal-hal yang buruk di kabinet. Itu etika saya.

Banyak pengamat dan politisi menyebut Megawati tidak memiliki kapabilitas sebagai presiden. Bagaimana?

Saya tidak mau menggunakan istilah itu. Mungkin istilah yang tepat adalah Megawati lebih banyak diam. Makanya, karena presiden banyak diam, saya yang banyak bicara. Waktu harga BBM naik, misalnya, saya yang akhirnya bicara. Saya pasang badan. Padahal teman-teman menteri yang lain diam saja.

Anda pernah mengeluh soal gaya Presiden Megawati yang banyak diam itu?

Dua tahun lalu saya menyarankan secara tertulis agar Ibu Megawati mengangkat juru bicara. Saya bahkan mengusulkan nama Pramono Anung atau Rizal Mallarangeng sebagai kandidat juru bicara. Alternatif lain yang saya usulkan, agar tiap bulan dibuat konferensi pers. Secara teknis, para menteri akan membantu Presiden menjawab soal-soal teknis. Ini sangat penting. Kalau Presiden tidak pernah bicara ke media, masyarakat akan bilang ia tak bekerja. Tapi Presiden tak setuju dengan usul tersebut.

Anda termasuk menteri yang mengusulkan nilai tiap pelajaran dalam ujian akhir nasional minimum 4,01. Benarkah hal itu untuk mengganjal Megawati?

Alamak.c (Kali ini suara Jusuf Kalla terdengar meninggi.) Apa urusan nilai ujian murid sekolah kita dengan mengganjal Megawati? PDI Perjuangan jangan menilai semua kebijakan untuk mengganjal Mega. Itu hanya besar omong. Kebijakan ini sudah dilakukan sejak tahun lalu. Cuma, tahun lalu angkanya 3, sekarang dinaikkan jadi 4. Kalau kita tak mau meningkatkan standar pendidikan nasional, kita tetap akan menjadi bangsa yang bodoh. Ini tak ada urusannya dengan politik dan pemilu.

Apakah kekayaan Anda bertambah selama menjadi menteri?

Secara materi, jadi menteri tak terlalu rugi. Segala biaya hidup saya ditanggung negara. Kalau pergi, hotel dan transpor dibayar negara. Saya juga dapat gaji, rumah, dan mobil. Harus saya akui, untuk bisnis, posisi menteri ada manfaatnya juga. Saya bisa tahu ada peluang atau informasi. Meski saya tak aktif di perusahaan, direktur saya bisa bertemu orang lebih mudah dan cepat.

Bila jadi wakil presiden, apakah Anda akan menaikkan gaji menteri?

Seperti kata Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra, gaji menteri memang kecil. Saya rasa gaji itu sekarang memang tidak layak bagi kehidupan seorang menteri di Jakarta. Setiap bulan saya mendapat penghasilan (dari gaji dan pelbagai tunjangan menteri) sekitar Rp 30 juta. Padahal pengeluaran seorang menteri sangat besar. Harus hadir di resepsi ini-itu. Bila jadi wapres, wajar bila saya berusaha menaikkan gaji menteri ke tingkat yang pantas, yakni Rp 50 juta. Sedangkan gaji presiden/wakil presiden paling tidak Rp 100 juta.

Bagaimana hubungan Anda dengan wartawan dan publik kelak?

Insya Allah, bila jadi wakil presiden, saya tetap akan membawa telepon genggam. Ini soal kepraktisan saja. Selama ini saya kerap menjawab pertanyaan wartawan lewat telepon. (Jusuf Kalla dikenal sebagai menteri yang mudah dihubungi melalui telepon genggamnya–Red.)

Apakah tetap akan berbisnis?

Saya memang menjaga agar bisnis saya tetap jalan. Tanpa bisnis, bagaimana saya bisa hidup? Tapi, tiga tahun belakangan, tongkat bisnis sudah saya serahkan ke adik dan anak saya. Saya tidak terlibat langsung. Kalau jadi wakil presiden, tentu saya akan lebih repot.

Anda memiliki nazar tertentu?

Kalau punya cita-cita, saya selalu bernazar. Sekarang, kalau terpilih jadi wakil presiden, saya akan berpuasa. Tapi belum saya putuskan berapa jumlah hari puasanya. Mungkin sekitar seminggu. Kalau puasa sebulan, rasanya terlalu lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: