K.H. Hasyim Muzadi: “Saya Tak Perlu Restu Gus Dur”

K.H. Hasyim Muzadi, 60 tahun, bak sebuah magnet besar. Puluhan kiai dan pengurus Nahdlatul Ulama mulai merapat ke Hasyim. Maklum, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini pekan lalu resmi mendaftar sebagai peserta pemilu presiden/wakil presiden. Hasyim menjadi calon wakil presiden dari Megawati Soekarnoputri–duet yang diduga berpeluang lolos dalam putaran pertama pemilu presiden.

Selesai mendaftar di Komisi Pemilihan Umum, Hasyim bergerak cepat. Di rumahnya, di kawasan elite Dukuh Patra Kuningan, Jakarta, puluhan tamu terus berdatangan. Ada yang memberi dukungan, ada juga yang memberi saran dan strategi. Semua ditanggapi Hasyim dengan serius. K.H. Said Aqil Siradj (Rais Syuriah PBNU) dan K.H. Noer Iskandar S.Q. (pengasuh Pesantren As-Shiddiqiyah, Jakarta) terlihat aktif menggalang kekuatan. Berkali-kali Said Aqil, misalnya, memberikan telepon genggamnya kepada Hasyim. “Ini SMS dukungan dari daerah-daerah,” ujar Said Aqil kepada Hasyim. Hasyim mengambil kacamata dan membaca beberapa pesan singkat itu. Sejurus, ia pun tertawa renyah.

Muthomimah, sang istri, seperti tak mau ketinggalan. Ia ikut repot membantu semua aktivitas Hasyim. Urusan makanan, misalnya, diurus Muthomimah dengan cermat dan takzim. Dari es kelapa muda, tahu dan tempe goreng, telur asin, hingga opor ayam panas tersaji di meja makan. Semua tamu yang datang “ia paksa” menikmati jamuan di meja makan.

Apakah semua ingar-bingar itu strategi Hasyim meraih kursi RI-2? Bagaimana peluangnya dalam pemilu presiden 5 Juli 2004 mendatang? Dan mengapa ia tak berdamai dengan Gus Dur? Untuk menjawab pertanyaan itu, wartawan TEMPO Setiyardi pekan lalu mewawancarai Hasyim Muzadi. Berikut kutipannya.

Mengapa akhirnya Anda maju dalam pemilu presiden/wakil presiden mendatang?

Saya ingin lapisan bawah masyarakat menyatukan simbol NU dan PDI Perjuangan. Hal ini untuk melanjutkan reformasi yang mandek di tengah jalan. Kalau reformasi bisa jalan lagi, akan terjadi penguatan civil society.

Tapi, mengapa memilih Mega? Bukankah banyak kiai NU yang menentang presiden perempuan?

Harus diingat, tidak ada satu pun calon presiden yang sempurna. Semua punya kelemahan. Kelemahan utama Megawati memang karena ia seorang perempuan. Perempuan di kalangan ulama nahdliyin yang salaf tak diterima sebagai presiden.

Tapi saya yakin, presiden tak sama dengan seorang sultan yang memiliki kewenangan tak terbatas. Reformasi membuat kekuasaan presiden jadi terbatas. Jadi, bagi saya, tak masalah bila kita memiliki presiden perempuan. Apalagi hal ini demi kemaslahatan umat.

Anda berani menentang sikap ulama salaf?

Saya tak menentang. Perbedaan pendapat adalah rahmat. Di Quran, memang ada dalil arrijalu qawwamun `alanissa (laki-laki itu pemimpin perempuan). Selain itu, ada juga hadis yang bilang “tidak berbahagia sebuah kaum bila dipimpin oleh perempuan”. Tapi, Quran dan Hadis masih berupa aksioma. Orang NU memakai fiqh sebagai hukum positif. Nah, di tingkat fiqh ini masih terjadi perdebatan. Saya memakai fiqh yang menerima perempuan sebagai presiden.

Ada yang bilang Anda oportunis dan hanya mendahulukan kepentingan pribadi. Bagaimana?

Pilihan saya kepada Megawati bukan karena saya oportunis. Saya merasa lebih gampang berbicara dan mengambil posisi saat berunding dengan Mega. Soalnya, mesin NU hampir sama dengan PDIP. Imbang-imbang saja. Sebagai partner kerja sama akan sejajar. Kalau dengan mesin yang lebih kuat, belum tentu begitu.

Bagaimana bila PDI Perjuangan memanfaatkan NU dan menjadikannya sebagai komoditas politik?

Tentu saja mereka akan memanfaatkan saya. PDI Perjuangan akan mendapat angin segar dari NU. Itu biasa dalam politik. Ini adalah persoalan “berapa yang mereka ambil, dan berapa yang kami ambil”.

Angin segar, Anda katakan. Jadi, Anda menilai citra PDI Perjuangan merosot?

Itu harus diakui. Citra PDI Perjuangan merosot dan suaranya anjlok karena manajemen pemerintahan yang buruk. Tapi, yang pasti, hal itu bukan akibat kejahatan. Ini akibat kelemahan Mega. Selama ini PDI Perjuangan hanya “mengatasnamakan” wong cilik. Tapi wong cilik tak pernah disentuh kepentingannya. Akibatnya, PDI Perjuangan gagal di tengah jalan. Ini yang harus diperbaiki bersama-sama.

Apa yang menyebabkan citra Megawati dan PDI Perjuangan merosot?

Megawati itu lemah. Kepemimpinannya lemah. Akibatnya, ia ditongkrongi oleh orang-orang oportunis. Saya tak ingin menyebut nama. Yang pasti, mereka berada di lingkaran dalam Megawati sendiri. Mereka juga ada di PDI Perjuangan. Ke depan, para pengganggu ini harus dipotong.

Anda yakin Megawati dan PDI Perjuangan bisa memperbaiki diri?

Itu yang akan saya bantu. Sejak hari ini, saya memompakan dorongan kepada Megawati. Saya bilang ke Mega, “Mbak Mega harus sadar tempo hari banyak kelemahan.” Sudah saya sampaikan secara komplet. Malah pakai “f” segala, jadi “komflit….”

Kapan sebenarnya Anda dilamar Megawati?

Sejak enam bulan lalu. Tapi saat itu saya belum bisa menjawab pinangan Megawati. Kemudian saya bertemu dengan Mega seminggu atau dua minggu sekali. Pertemuan itu menjawab berbagai hal, termasuk bidang yang kelak akan menjadi wewenang NU.

Jadi, Anda sudah membicarakan paket kabinet dengan Megawati?

Belum sedetail itu. Kalau sudah menang pemilu, baru akan dibicarakan lagi. Sebab, kalau dibagi-bagi sekarang akan menimbulkan keretakan. Kami hanya bicara bidang-bidang secara umum. Ya… setidaknya yang akan menjadi wewenang NU adalah bidang agama, pendidikan, pertanian, ekonomi kerakyatan, dan soal pengembangan SDM. Soal nama departemennya, saya tidak tahu. Itu soal nanti.

Duet NU dan PDI Perjuangan gagal dijalankan Gus Dur dan Mega. Mengapa Anda kembali mencoba paket tersebut?

Ya, duet “NU-PDIP” memang pernah dicoba, tapi mereka gagal. Kegagalan ini karena mereka terlalu politis dan tidak komprehensif. Selain itu, banyak faktor pribadi dan kepentingan yang membuat mereka retak di tengah jalan. Saya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Lagi pula, saya tidak sama dengan Gus Dur.

Anda sempat minta restu pada kiai sepuh di NU?

Secara pribadi, saya berbicara sangat intensif dengan Mbah Sahal (K.H. Sahal Mahfudz, Rais `Am PBNU–Red.). Tapi bukan dalam kapasitas beliau sebagai Rais `Am PBNU yang merupakan atasan saya. Soalnya, NU tidak dalam kapasitas mencalonkan, menerima, atau menolak lamaran presiden atau wakil presiden. Nah, saya sudah minta masukan dari Mbah Sahal dan sesepuh lainnya soal lamaran Megawati.

Apa yang dikatakan Kiai Sahal Mahfudz?

Beliau berpesan agar saya bisa memberikan manfaat lebih besar terhadap NU, umat, dan bangsa. Kalau tidak, tidak usah maju sebagai calon wakil presiden. Karena banyak tawaran untuk maju, tinggal diukur mana yang paling memungkinkan.

Mengapa Anda tak maju lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)?

PKB belum bisa mewakili NU secara utuh. PKB hanyalah partai yang menjadi bagian dari NU. Bukan sebaliknya. Karenanya, gerak PKB secara holistik belum menjangkau kepentingan orang NU.

NU terkesan tak serius membesarkan PKB….

Lo, saya sudah mencoba serius dengan PKB. Berkali-kali dicoba, tapi hasilnya malah caci-maki. Orang-orang PKB itu tidak sadar bahwa PKB tidak sama dan sebangun dengan NU. Mereka merasa selebar NU. Padahal PKB cuma eksis di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. Yang lain-lain antara hidup dan mati.

Jadi, Anda menganggap PKB gagal jadi mesin politik NU?

Belum utuh, manajemen dan leadership-nya masih kacau, karena orang PKB juga mengangkat orang Muhammadiyah, orang Katolik, dan keputusan PKB tak pernah dikonsultasikan kepada NU. Ini membuat kegamangan bagi warga NU. Kalau cuma mengandalkan PKB, bisa meleset. Lebih baik sekarang NU menaruh telur di banyak keranjang.

Anda, Salahuddin Wahid, dan Jusuf Kalla adalah orang NU. Bagaimana bila suara NU di pemilu presiden terpecah?

Secara institusional, NU tak mungkin pecah. Kalau sekarang suaranya terbelah, itu wajar-wajar saja. Ini merupakan hal yang demokratis saja. Suara NU memang tidak pernah satu. Dalam pemilu legislatif juga begitu. Sebelas juta di PKB, 10 juta di PPP, dan sekian juta di Partai Golkar. Itu bukan perpecahan. Sebagai Ketua Umum PBNU, saya justru bangga. Nanti, setelah pemilu selesai, akan utuh lagi kok. Soalnya, sudah tak ada yang dipersoalkan.

Seberapa besar dukungan para kiai dan warga NU ke Anda?

Saya tidak membuat peta dukungan tersebut. Saya tak mau ada dukung-mendukung, karena bisa berakibat perpecahan di NU. Padahal harga jabatan wakil presiden di bawah harga NU. Kalau mereka senang, silakan coblos saya. Tapi tak perlu bikin proklamasi untuk dukung-mendukung.

Tapi, Anda bukan termasuk golongan “berdarah biru” di NU. Seberapa besar pengaruhnya?

Ya, memang saya kurang berdarah biru di NU. Mungkin saja itu akan berpengaruh dalam meraih suara NU dalam pemilu nanti. Tapi saya tetap optimistis bahwa warga NU sekarang tak seperti dulu lagi. Selain itu, darah saya juga sudah semakin biru. Saya sudah jadi kiai kok.

Anda tak mendapat dukungan dari Gus Dur. Apakah hal itu merugikan langkah Anda?

Tidak. Untuk maju sebagai calon wakil presiden, saya tak perlu minta restu dari Gus Dur. Saya Ketua PBNU, dan dia penguasa PKB. Tak ada hubungannya. Mungkin, kalau saya orang PKB, saya tentu akan minta restu Gus Dur, karena dia penguasanya.

Mengapa tak menempuh jalan damai dengan Gus Dur?

Aduh, Mas…, saya sudah berkali-kali datang. Tapi yang saya dapatkan adalah caci-maki. Lama-lama saya kesal. Sekarang, sudahlah. Karena dia senior saya, semua saya maafkan. Kesalahan Gus Dur yang dulu, sekarang, dan yang akan datang sudah saya maafkan. Saya tak heran, kok. Bukan cuma saya yang tidak akur dengan Gus Dur. Teman saya juga banyak yang diperlakukan tidak baik oleh Gus Dur. Hanya, kalau masalahnya menyangkut organisasi dan terus membentur-bentur, harus diluruskan.

Anda tidak takut bernasib sama seperti bekas Ketua PKB Matori Abdul Djalil?

Saya memang mendengar itu. Salahuddin Wahid bilang saya akan bernasib sama dengan Matori. Katanya, nanti saya kualat dengan Gus Dur. Wajar jika Salahuddin bilang seperti itu karena dia orang baru. Saya di NU mulai dari ketua ranting tahun 1964. Tentu saja saya berharap nasib saya tidak seperti Matori. Orang boleh berbeda pendapat. Saya tak akan kualat dengan Gus Dur.

Nurcholish Madjid menyarankan Anda mundur dari jabatan Ketua PBNU. Bagaimana?

Cak Nur boleh saja punya kehendak. Cak Nur itu cuma pengamat, sedangkan saya pelaku. Tapi, yang jadi patokan saya bukan Cak Nur, melainkan aturan main di NU. Dalam aturan yang ada, pengurus NU harus mundur bila merangkap sebagai pimpinan organisasi politik. Jadi, kalau pengurus NU direkrut sebagai calon anggota legislatif, hanya saat kampanye dia harus non-aktif. Kalau selesai kampanye, silakan balik lagi ke NU.

Salahuddin Wahid, yang juga calon wakil presiden, mundur dari PBNU. Anda tak mengikuti jejaknya?

Kalau Salahuddin mundur, itu hak pribadinya. Saya cuma mengikuti aturan yang ada. Yang bisa membuat saya mundur cuma di muktamar NU, yang akan dilakukan Desember 2004 mendatang. Tapi jangan berpikir saya akan menggunakan institusi NU untuk kepentingan politik saya.

Bukankah Khitah 1926 melarang NU terjun ke politik praktis?

Khitah itu tidak melarang orang NU berpolitik. Yang dilarang adalah institusi NU. Saat ini NU memiliki aturan yang mengatur tentang politik kebangsaan NU. Sebagai warga negara, orang NU harus terlibat dalam politik kebangsaan, bukan sekadar politik kepartaian.

Anda menolak pinangan Partai Golkar menjadi calon wakil presiden dari Wiranto. Mengapa?

Bukan apa-apa, Partai Golkar terlambat. Itu saja, kok. Setelah satu minggu saya memutuskan menerima Megawati, Partai Golkar datang. Tentu saya tidak serta-merta menolak lamaran Partai Golkar. Saya minta mereka ke Mbah Sahal. Soalnya, keputusan saya hanya bisa dibongkar oleh atasan saya. Tapi, karena Mbah Sahal mengembalikan lagi ke saya, masalahnya selesai.

Anda lebih memilih Megawati daripada Wiranto. Apakah pilihan itu karena Mega memberi banyak?

Saya juga mendengar rumor itu. Ya, alhamdulillah kalau betul. Tapi saya pastikan bahwa itu tidak betul. Mungkin saya terima uang kalau saya kawin mendadak atau kawin mut’ah. Tapi perkawinan saya dengan Mega sudah dibicarakan sejak enam bulan yang lalu.

Benarkah Anda mendapat rumah di kawasan Patra Kuningan, Jakarta, dari Rini M.S. Soewandi, pendukung Megawati?

Rumah yang saya tempati itu merupakan posko kami. Bukan dari Rini Soewandi. Rumah itu dikontrak sampai Desember 2004. Karena sering rapat di situ, sekalian tidur di rumah itu. Bisa menghemat biaya daripada harus tidur di hotel.

Apakah kubu Wiranto pernah mencoba memberi Anda uang?

Mungkin saja ada yang mencoba-coba. Tapi Anda bisa lihat apakah saya berubah jadi orang kaya. Silakan masyarakat yang menilai.

Dalam kalkulasi Anda, siapa lawan paling kuat dalam pemilu presiden mendatang?

Saya kira SBY tak boleh diabaikan. Pak Susilo punya aura tersendiri yang bisa dikembangkan. Jadi, kira-kira di putaran kedua pasangan saya dan SBY yang maju. Tapi kita tidak boleh menafikan Pak Wiranto, karena punya mesin ganda: Partai Golkar dan Wiranto sendiri. Kalau Wiranto bisa memadukannya, akan menjadi kekuatan yang dahsyat.

Bila benar-benar jadi wakil presiden, apa yang akan Anda lakukan?

Selain menguatkan civil society, saya akan membenahi law enforcement. Saat ini penegakan hukum masih sangat kacau. Untuk itu, harus dipilih Jaksa Agung, Kapolri, Menteri Kehakiman, dan Dirjen Imigrasi yang bersih. Mudah-mudahan saya bisa melakukannya. Memang saya tak bisa terlalu banyak berjanji. Medan di lapangan sangat becek.

Anda menilai pejabat di bidang hukum gagal?

Tidak efektif. Jaksa Agung, misalnya, terasa sangat tidak tegas. Selain itu, sekarang ini hukum jadi komoditas. Dari penyidikan polisi, jaksa, hingga pengadilan sudah jadi perdagangan. Sudah rusak-rusakan.

Apakah Anda akan mengajak orang PKB duduk di kabinet?

Saya hanya akan mengajak orang yang tepat. Boleh saja berasal dari latar belakang parpol. Tapi, kalau sudah jadi menteri, harus loyal pada negara. Wujudnya adalah loyalitas pada presiden dan wakil presiden.

Apakah Anda akan tetap mengajar di pesantren bila jadi wakil presiden?

Saya ini orang yang sudah jadi, ditempatkan di mana pun saya tetap seorang Hasyim Muzadi. Saya akan tetap jadi pimpinan pondok pesantren. Sekarang saya sedang membangun pesantren di belakang kampus UI, Depok. Jadi, kalau jadi wakil presiden, saya tetap akan mengajar dan menginap di pesantren. Memang saya akan lebih banyak di pesantren Depok daripada di Al-Hikam, Malang.

Anda terkesan hidup sejahtera. Punya mobil, pesantren, dan rumah yang bagus. Berapa kekayaan Anda?

Saya ini ndak punya gaji. Saya bukan orang kantoran. Saya sama sekali tak mendapat gaji dari PBNU. Saya baru mendapat uang bila mengajar. Itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: