Mayjen (TNI) Sriyanto Muntasram: “Saya Siap Dihukum”

SEMBILAN belas tahun lalu, nama Sriyanto Muntasram bukan “siapa-siapa”. Ia Kepala Seksi Operasi di Komando Daerah Militer (Kodim) Jakarta Utara dengan pangkat kapten. Dalam geger yang membakar Tanjung Priok, nama Sriyanto, perwira lapangan yang menghadapi massa pada sebuah malam yang gerah pertengahan September 1984, hampir tak pernah disebut media massa. Ia tenggelam dalam kebesaran Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Benny Moerdani dan Panglima Daerah Militer (Pangdam) Jaya, Mayor Jenderal Try Sutrisno. Dua orang petinggi militer inilah yang kala itu dianggap bertanggung jawab atas tragedi Tanjung Priok.

Namun, 19 tahun kemudian, publik hanya mengenal nama Sriyanto sebagai terdakwa dalam pengadilan peristiwa Priok. Pejabat militer lain, yang dulu membawahkan perwira menengah ini, justru seperti luput dari sentuhan tangan hukum. Sriyanto, kapten yang kini mayor jenderal itu, merupakan pejabat militer dengan pangkat tertinggi yang duduk di kursi terdakwa dalam sidang kasus yang memilukan tersebut.

Hari-hari ini Mayor Jenderal Sriyanto, 53 tahun, yang kini menjabat Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Angkatan Darat, menghadapi tuduhan yang tak ringan gara-gara kasus Priok: pelanggaran hak asasi manusia berat, dengan sanksi maksimal hukuman mati.

Geger Priok meletup 12 September 1984, menjelang tengah malam. Massa, yang menuntut pembebasan empat pemuda yang ditangkap lantaran berselisih paham dengan tentara, bergerak memenuhi jalanan. Di Jalan Yos Sudarso, mereka dihadang petugas. Kerusuhan tak bisa dicegah. Bedil menyalak, korban berjatuhan. Senapan dengan peluru timah itu ditembakkan ke arah kerumunan massa.

Hingga hari ini, berapa persisnya jumlah korban tak ada yang tahu pasti. Pemerintah menyatakan jumlah korban 32 orang, tapi keluarga mengaku telah kehilangan ratusan jiwa.

Untuk mengetahui duduk perkara kasus Priok dan bagaimana peran para pejabat militer kala itu, wartawan TEMPO Setiyardi berusaha menemui Sriyanto sejak awal pekan lalu. Setelah dua kali menjadwal ulang janji pertemuan, akhirnya Jumat lalu Sriyanto dapat ditemui untuk sebuah wawancara selama tiga jam di kantornya di markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.

Selain berkisah tentang kerusuhan Priok, Sriyanto juga bertutur soal bisnis dan tingkat kesejahteraan anggota pasukan khusus Angkatan Darat yang kini dipimpinnya itu. Berikut petikannya.

Geger Priok hanya mengadili Anda, tapi tidak pejabat lain yang dulu membawahkan Anda. Apakah Anda tak merasa dikorbankan?

Tidak. Persidangan ini justru akan saya manfaatkan untuk menjelaskan tragedi Tanjung Priok. Saya ingin menjernihkan pelbagai isu, seperti soal pembantaian dan kuburan massal. Sayang, banyak saksi kunci, seperti Pak (Kolonel) Sampoerna (bekas Asisten Intelijen Kodam Jaya) Kepala Kepolisian Resor Jakarta Utara, dan Sersan Hermanu (bekas bintara pembina desa yang memicu kerusuhan Priok), yang saat ini sudah meninggal. Ini merepotkan. Apalagi peristiwanya sudah lama. Banyak barang bukti yang hilang atau tak lengkap.

Dalam wawancara dengan TEMPO tahun 1993, Kolonel Sampoerna mengakui adanya perintah langsung Pangdam Try Sutrisno untuk menindak massa. Menurut Anda?

Secara struktur, saat itu kami memang berada di bawah Kodam Jaya. Tapi saya tak tahu soal perintah tersebut.

Dengan perintah itu, bukankah Try Sutrisno mestinya ikut memikul tanggung jawab?

Ini tergantung hasil pemeriksaan. Memang malam itu, sekitar pukul satu dini hari (tak sampai dua jam setelah senapan pertama meletup\Red.), Panglima ABRI L.B. Moerdani dan Pangdam Jaya Try Sutrisno datang ke lokasi. Rupanya, mereka sangat memantau perkembangan.

Ada yang mengatakan, Anda seperti ingin mengambil alih tanggung jawab pemimpin. Apakah betul ini karena Try Sutrisno merupakan mertua Jenderal Ryamizard Ryacudu, yang kini KSAD?

Tak ada urusan dengan posisinya sebagai mertua Pak Ryamizard. Bukan karena itu. Saya berpikir kasus ini memang tak perlu melibatkan Pak Try.

Ancaman hukuman Anda berat. Punya persiapan menghadapi vonis?

Saya menyiapkan mental, juga pembelaan. Saya berharap hakim bisa bijaksana dan berpihak pada saya, ha-ha-ha. Yang penting, saya akan habis-habisan membela diri. Saya akan menempuh semua peluang hukum. Syukurlah, saya mendapat banyak dukungan, bahkan dari orang-orang Tanjung Priok. Ini luar biasa.

Anda membawa anggota Kopassus ke ruang sidang. Untuk apa? Mau menekan hakim?

Sidang terbuka untuk umum, siapa pun boleh datang. Kalau saya mau menggerakkan anggota Kopassus, jalanan di depan pengadilan bisa penuh. Saya cuma mengirim satu bus, 50 orang. Kodam juga mengirim pasukan. Mereka mendukung karena saya hanya menjalankan tugas.

Kehadiran pasukan mengganggu sidang. Bagaimana?

Saya kira kritik itu terlalu berlebihan. Mereka bisa mendengar dari luar. Ada halo-halonya (speaker). Lagi pula, kalau mau sepi, sidangnya di hutan saja.

Benarkah ada intimidasi terhadap saksi?

Itu laporan Kontras. Tanyakan saja ke mereka. Lagi pula saksi sudah disumpah. Tak mungkin ada intimidasi. Selain itu, mereka sudah dewasa. Kalau takut, ya, (masuk) di sidang anak-anak saja yang sifatnya tertutup.

Apa yang sebenarnya Anda alami dalam geger Priok?

Akhir Agustus 1984, saya menjadi Kepala Seksi Operasi Kodim Jakarta Utara. Kejadian Priok terjadi beberapa hari kemudian. Saat itu, sekitar pukul 10 malam, seorang yang mengaku bernama Amir Biki menelepon Markas Kodim. Suaranya berat. Saya yang menerima teleponnya. Dia hanya titip pesan untuk komandan: ” Empat orang tawanan yang ditahan di Polres/Kodim agar dikeluarkan pukul 11 malam. Hadapkan kepada massa yang ada di Jalan Sindang. Bila tidak, Cina Koja akan kami gorok. Pertokoan akan kami bakar.” Saya minta untuk negosiasi, tapi telepon langsung ditutup.

Apa reaksi Anda?

Saya segera mencari informasi. Ternyata massa sudah menumpuk di Jalan Sindang. Saya melapor ke Komandan Kodim, yang main tenis di Pluit, lewat handy talkie. Sekitar setengah sebelas, Dandim datang ke markas.

Tak lama kemudian, ada telepon lagi. Suaranya berbeda dari yang pertama. Isi ancamannya sama. Hanya ditambahkan, “Bila empat tawanan tak dikeluarkan, kami akan membuat perhitungan dengan Polres dan Kodim.” Dandim memerintahkan agar saya menggunakan satu peleton Arhanud yang baru tiba. Pasukan dibagi tiga regu: di Kodim, di Pertamina Plumpang, dan Polres.

Benarkah pasukan menggunakan peluru tajam?

Senjata yang digunakan jenis SKS, yang tak memiliki peluru karet. Saat itu gas air mata belum musim. Kami memang pernah dilatih menangani huru-hara, tapi bukan huru-hara malam hari dengan senjata celurit dan golok.

Anda sempat menemui pemimpin massa?

Setelah menyerahkan pasukan ke Polres, saya berjalan sendiri menemui pimpinan massa tanpa senjata. Saya cuma berbekal dua HT. Massa yang bersenjata golok, pedang, berteriak “Allahu Akbar”. Tiba-tiba ada yang mengayunkan celurit. Saya bisa mengelak, tapi dia mengejar sampai saya terpojok. Ketika orang ini akan mengayunkan celuritnya, anggota pasukan memberi tembakan peringatan ke atas. Karena tak ada reaksi, ia ditembak dan roboh.

Massa dan pasukan sudah membaur. Terdengar bunyi beberapa kali tembakan. Massa terpencar ke pelbagai arah, tapi masih ada yang sempat melempari batu.

Berapa jumlah korban yang tewas?

Ada 31 korban, termasuk Amir Biki. Menurut saya, tak semuanya mati. Ada yang setengah mati atau pura-pura mati. Mereka diangkut truk ke rumah sakit. Darah berceceran. Menjelang pagi, Wali Kota Jakarta Utara datang dan memerintahkan pemadam kebakaran membersihkan darah yang berceceran.

Saya menyayangkan banyaknya korban. Saya heran, kok ada orang yang tega menggerakkan massa. Kalau tak mengelak, barangkali saya juga sudah mati.

Abdul Qadir Djaelani, tokoh Priok, menyebut korban mencapai ratusan…?

Dalam konferensi pers keesokan harinya, Panglima ABRI menyebut 32 meninggal dan beberapa luka berat dan ringan. Komnas HAM menyebut 33 korban. Ternyata ada satu korban yang dikubur tanpa dilaporkan.

Kabarnya, banyak yang semula masih hidup akhirnya “tewas” di truk?

Saya tak tahu soal itu. Saya tak tahu mereka dibawa ke RSPAD Gatot Subroto. Mungkin karena ketololan saya.

Anda datang ke pemakaman?

Saya datang ke pemakaman Amir Biki. Saya memang tak berbicara dengan keluarganya. Suasananya sangat emosional, saya tak mau cari penyakit.

Anda bisa dijatuhi hukuman mati. Anda siap?

Saya ini tentara, siap mati dalam tugas. Jika dinyatakan bersalah, saya siap dihukum. Namun, menurut saya, kasus ini tak memenuhi tiga syarat pelanggaran HAM berat: genosida, terencana, dan sistematis. Jadi, mestinya tak layak diadili, apalagi sudah ada islah (perdamaian) antara kami dan kawan-kawan Tanjung Priok.

Saya minta keluarga menjunjung hukum. Saya minta mereka tak kaget jika saya dihukum. Saya disidang karena menjalankan tugas. Ini bisa melengkapi riwayat hidup. Saya bukan kriminal. Ka-lau dihukum karena korupsi, lebih baik saya bunuh diri.

Bukankah islah tak menghapus persoalan pidana?

Kalau begitu, besok bisa saja ada peraturan baru yang mengharuskan kendaraan harus lewat kanan jalan. Wah, negara ini bisa rusak, dong.

Sebenarnya kawan-kawan Priok yang pertama kali menginginkan islah. Setelah delapan kali bertemu Pak Try, diputuskan mencari tokoh agama yang mengerti islah. Kami sepakat menunjuk Nurcholish Madjid. Dua tahun lalu ditandatangani piagam islah, yang disaksikan Cak Nur dan Pangdam Jaya Mayjen Bibit Waluyo.

Apa kompensasi yang diterima korban?

Kami membuat Yayasan Penerus Bangsa. Pak Try, Pak Butar Butar (bekas Dandim Jakarta Utara), dan saya menjadi pembina. Saya minta seorang teman menyediakan motor Cina dengan harga termurah agar bisa dicicil untuk ojek. Selain itu, ada empat truk yang dikelola yayasan untuk usaha.

Apakah korban juga menerima uang ganti rugi?

Saya tak memberi uang. Daripada memberi ikan, lebih baik menyediakan kailnya.

Ini soal lain. Apakah tingkat kesejahteraan anggota Kopassus lebih baik dari prajurit lain?

Soal gaji, sama saja. Memang kami mendapat tambahan gizi berupa makan siang di kantor.

Bukankah Kopassus banyak berbisnis, misalnya memiliki Mal Cijantung?

Betul, kami memang punya Yayasan Mal Cijantung. Kami menyewakan ruko. Hasilnya, tiap bulan kami mendapat semir, susu, sabun. Dari prajurit sampai komandan, jatahnya sama. Yayasan juga memberikan dana operasional.

Kabarnya, seluruh anggota Kopassus diasuransikan?

Jika meninggal dalam tugas, mereka mendapat asuransi dari Bumi Putera. Jumlahnya tak perlu disebutkan. Yang penting, asuransi itu membuat saya pede (percaya diri) menemui keluarga yang ditinggalkan almarhum. Selama periode saya, ada 46 anggota yang gugur di Aceh, Papua, dan Ambon.

Dengan kesejahteraan yang lumayan, mengapa banyak anggota Kopassus yang ngobyek di luar, menjadi beking, seperti Edi Siyep yang tewas tertembak, misalnya?

Saya melarang anggota menjadi beking. Dalam apel, saya bilang beking sama dengan anjing herder. Kalau mau jadi anjing, silakan menjadi beking.

Omong-omong, Anda menikmati jabatan sebagai Danjen Kopassus?

Ha-ha-ha, saya cuma menjalaninya secara profesional. Memang ada fasilitas yang lebih baik dibandingkan dengan anggota, tapi tanggung jawabnya juga lebih besar. Gaji saya tak besar, mungkin sekitar Rp 5 juta. Kalau tanggal tua, sudah pasti habis. Namun, kepada para anggota, saya selalu mengatakan, kita masih mendapat banyak nikmat. Ada rumah dinas, beras, dan ada kebanggaan.

2 Responses

  1. Sy pnasaran apa bpk sriyanto ini…orng yg sy cari atau orang yg pling saya ingin temui n tatap wajahnya lngsung selama 28th ini. Jika mmng ini dia orngnya,sy berharap beliau masih bisa mengingat nama saya “ENI MARIA” setelah. 28th ini menelantarkan saya tnpa kabar berita kpd ibu saya. Jika Tuhan berkenan mampertemukan saya dg bliau,sy hnya ingin mengucapkan terimakasih krna beliau sy ada d dunia ini.

    • Ibu Eni Maria, bisa menemui Pak Sriyanto di kantor Indika Energy, di jalan Gatot Subroto.. Beliau saat ini berkantor disana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: