MELAJU DI JALUR CDMA

SORE itu, seperti biasa, kereta api di Tokyo penuh sesak. Kereta yang mengantar para pekerja pulang ke rumah itu tak berbeda dengan KRL Jabotabek di Jakarta. Padat dan tanpa ruang gerak. TEMPO, yang menyempatkan membaur di tengah aroma khas keringat warga Tokyo, melihat fenomena “aneh”. Meski tengah berdesak-desakan, hampir semua penumpang sibuk dengan telepon genggamnya. Ada yang mengirim surat elektronik, chatting, membaca berita, mendengar lagu, dan yang paling banyak adalah yang asyik bermain game. “Dulu, di kereta semua orang asyik membaca buku. Kini mereka sibuk dengan handphone,” ujar Richard Susilo, yang telah 12 tahun tinggal di Tokyo.

Perubahan budaya yang menerpa warga Jepang merupakan buah dari kemajuan teknologi telekomunikasi mereka. Sejak tahun 2000, Jepang telah menggunakan layanan telekomunikasi berbasis teknologi code division multiple access (CDMA). Implementasi teknologi yang pertama kali digunakan untuk kepentingan militer di Amerika Serikat ini (baca Dari Seorang Aktris Hollywood) masuk ke pelbagai bidang. Jangan heran bila teknologi CDMA telah digunakan oleh operator seluler, provider penunjuk jalan, penyedia game, hingga perusahaan jasa keamanan.

Yang paling fenomenal adalah sukses yang diraih operator telepon seluler KDDI Corporation. Meski terbilang pemain baru, KDDI mampu “mengalahkan” NTT DoCoMo, operator yang lebih dulu ada. Untuk meraih sukses, “Kami memilih teknologi yang tepat,” ujar Dr. Hideo Okinaka, Vice President KDDI. Kini, meski baru diluncurkan tahun 2000, pelanggan telepon seluler perusahaan yang berkantor di Garden Air Tower, Tokyo, itu mencapai 8,5 juta sambungan telepon. Angka ini merupakan bagian dari seluruh telepon seluler di Jepang, yang mencapai 78 juta subscriber. (Bandingkan dengan Indonesia, yang jumlah telepon selulernya “hanya” delapan juta subscriber.)

Tentu saja, keberhasilan KDDI tak lepas dari pelbagai fitur yang mereka tawarkan. Dengan sebuah handset telepon seluler, seorang pelanggan dijamin dapat melakukan pelbagai aktivitas penting\dari mengirim e-mail, menonton TV, mengirim foto dan video (semuanya adalah hal yang mungkin dalam komunikasi generasi ketiga atau 3G). Tentu saja, soal suara juga hampir tak pernah bermasalah.

Untuk melebarkan sayap, KDDI berencana mencuri pangsa pasar seluler di Jepang. Investasi yang dibutuhkan untuk tiap subscriber CDMA (KDDI memakai generasi CDMA 2000 1X) hanya US$ 500. Semua modal itu, “Dalam waktu tiga tahun bisa kembali,” ujar Hideo Okinaka.

Selain telepon seluler, CDMA juga digunakan oleh SECOM. Perusahaan penyedia jasa keamanan terbesar di Jepang ini memanfaatkan CDMA untuk pelbagai jasa yang mereka jual. Secara umum, CDMA dapat memantau posisi mobil, motor, orang lanjut usia, hingga anak-anak. Secara prinsip, obyek yang akan dikontrol diberi transmitter (pemancar) yang akan mampu melacak posisinya selama 24 jam. Teknologi CDMA yang dipadukan dengan konsep global positioning system (GPS) satelit dipastikan akan menangkap posisi obyek secara akurat. Tentu saja, agar sistem ini berjalan sempurna, dibutuhkan peta digital yang sangat detail.

Dulu, untuk teknologi pelacakan seperti itu, operator hanya mengandalkan GPS satelit. Hanya, meski memiliki wilayah cakupan (coverage area) yang luas, teknologi itu memiliki beberapa kelemahan. Sinyal frekuensi yang dipancarkan oleh GPS dipastikan tak akan mampu menembus metal atau terowongan bawah tanah. Alhasil, bila sebuah mobil yang dicuri langsung dimasukkan ke kontainer dari bahan metal, sistem pelacakan akan langsung lumpuh.

Untuk mengatasi keterbatasan teknologi GPS satelit, SECOM menggunakan jaringan telekomunikasi CDMA. Boleh dibilang, hampir tak ada celah yang bisa lolos dari “pantauan” teknologi CDMA. Soalnya, berbeda dengan sistem telekomunikasi yang berbasis sinyal frekuensi, CDMA tak memiliki persoalan saat berada di terowongan bawah tanah, basement gedung, atau dinding dari bahan metal. “Kami menjangkau seluruh wilayah Jepang,” ujar Nobuyuki Sasaki, Direktur Eksekutif SECOM.

Saat TEMPO berkunjung ke ruang kontrol SECOM di Shibuyaku, Tokyo, beberapa emergency call sempat masuk. Seorang ibu, misalnya, meminta operator SECOM melacak posisi anaknya yang belum pulang ke rumah. Setelah menyebut identitas pelanggan dan password, teknologi SECOM langsung melacak posisi sang anak. Hanya dalam tempo 30 detik, layar monitor di pusat kontrol berhasil mendapat sinyal yang menunjukkan posisi sang anak secara tepat. Monitor komputer bahkan mampu menampilkan peta Tokyo dalam pelbagai ukuran (dari 1: 10.000 hingga ukuran 1: 50).

Menariknya, meski merupakan perusahaan swasta, SECOM dapat menjalin kerja sama dengan kepolisian Jepang. Bila men- dapat laporan tindakan kejahatan dari SECOM\seperti pencurian mobil, kecelakaan, hingga penculikan anak\polisi langsung bergerak. Pelanggan tak perlu khawatir, tak perlu sogokan untuk tiap aksi oleh polisi.

Aplikasi lain dari teknologi CDMA di Jepang adalah untuk penunjuk jalan. Maklumlah, kota metropolis seperti Tokyo kerap membuat orang tersesat di tengah keramaian. Di Stasiun Kereta Api Tokyo, misalnya, jalur kereta bisa mencapai lima lantai. Setiap lantai terdiri atas beberapa jalur yang menuju arah berbeda. Untuk membantu orang mencapai tujuannya, warga Tokyo kerap bergantung pada Navitime, provider yang khusus memberi layanan penunjuk jalan. Semua kemudahan itu dapat diperoleh lewat sepucuk telepon genggam. Pelanggan tinggal memasukkan tempat dan tujuannya. Selanjutnya, “Kami yang memberi pelbagai alternatif jalannya,” ujar Dr. Keisuke Ohnishi, Direktur Navitime.

Pelbagai kemudahan yang dimiliki warga Jepang itu merupakan contoh keberhasilan teknologi CDMA. Jun Yamada, Vice President Qualcomm Jepang, memastikan teknologi yang dipasok perusahaannya memiliki pelbagai keunggulan. Dibandingkan dengan teknologi global system for mobile communication (GSM), kata Yamada, CDMA memiliki kecepatan akses yang jauh lebih cepat. Selain itu, ujar Yamada, “Aplikasi yang ditawarkan kepada pelanggan jauh lebih beragam.”

Boleh dibilang, saat ini merupakan pertempuran besar antara GSM dan CDMA. Sebagai pendahulu dalam pasar telekomunikasi seluler, GSM memang masih mendominasi pangsa pasar. Pelanggan GSM di seluruh dunia saat ini sekitar 540 juta subscriber. Itu berarti sekitar 70 persen dari seluruh pengguna telepon seluler. Namun, karena GSM merupakan teknologi digital berbasis frekuensi (4,5 hingga 6 gigahertz), GSM terbentur pada keterbatasan alam. Maklumlah, frekuensi merupakan sumber daya alam yang bersifat sangat terbatas. Hal ini pula yang membuat pertumbuhan GSM menjadi jenuh. Inilah peluang besar untuk teknologi CDMA.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Meski memiliki pelbagai keunggulan teknis, CDMA juga memiliki kelemahan. Soal jaringan, misalnya, CDMA masih kalah dalam soal penetrasi di lapangan. Tak aneh bila hingga kini operator CDMA belum bisa menawarkan fitur roaming internasional bagi pelanggannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: