MENGUJI JENIS KELAMIN OTAK

BAGAIMANA mungkin orang melupakan Margaret Thatcher, salah satu ikon perempuan perkasa di dunia itu? Kalangan pers menyebut Thatcher, Perdana Menteri Inggris 1979-1990, sebagai, Iron Lady, Wanita Besi. Tengok saja keputusannya untuk berperang melawan Argentina gara-gara pertikaian soal Kepulauan Falkland. Thatcher mengirim puluhan ribu balatentara untuk menghajar Argentina yang telah menduduki Falkland selama 10 minggu. Hanya dalam hitungan minggu, Inggris meraih kemenangan.

Fenomena kepemimpinan Thatcher rupanya menarik perhatian Simon Baron Cohen. Guru besar dari Universitas Cambridge, Inggris, ini menyebut otak Thatcher “berjenis kelamin” laki-laki\sebuah konsep baru dalam dunia medis dan psikologis. “Sikap hidup dan tindakan Margaret Thatcher menjadi indikasi yang sangat kuat,” ujar Cohen.

Jenis kelamin otak? Ya, selama sepuluh tahun Cohen melakukan riset soal kecenderungan sifat manusia. Hasilnya, otak manusia juga memiliki tiga “jenis kelamin”: laki-laki, perempuan, dan seimbang. Otak “berkelamin” laki-laki memiliki kecenderungan mengerti dan membangun sistem (systemizing, disimbolkan dengan “S”). Sedangkan pada otak yang “berkelamin” perempuan, sifat empati dan pengertian (empathizing, disimbolkan dengan “E”) justru akan lebih dominan. “Saya menyebutnya sebagai Teori Empathizing_Systemizing,” kata Cohen.

Cohen juga membuka peluang bagi kondisi lain. Pada sebagian orang, ditemukan keseimbangan dominasi faktor E dan S. Untuk otak jenis ini, Cohen menyebutnya sebagai “jenis kelamin” B (balanced alias seimbang). Tapi jangan bayangkan bahwa tipe otak seperti ini akan menghasilkan manusia-manusia banci.

Menariknya, dengan teori baru itu, Cohen mampu menjelaskan pencetus penyakit autisme\penyakit misterius yang membuat penderitanya bersikap antisosial. Maklumlah, selain menjadi psikolog, Profesor Cohen juga menjabat Direktur Pusat Riset Autisme di Universitas Cambridge, Inggris. Penyakit autisme, menurut Cohen, disebabkan otak penderita didominasi oleh faktor S. Dominasi yang terlalu ekstrem itu justru menghambat perkembangan faktor E.

Namun Cohen agak berseberangan dengan teori kuno yang menyebut pengidap autisme memiliki IQ (intelligence quotient) rendah. Dalam banyak kasus, pengidap autisme justru menjadi manusia cemerlang dalam bidang yang digelutinya. Soalnya, faktor E, S, atau B dianggap tak memiliki relevansi langsung dengan kemampuan kognitif manusia (baca Newton dan Einstein Pengidap Autisme?).

Dalam dunia psikologi dan kedokteran, sebelumnya telah berkembang beberapa teori tentang otak manusia. Yang paling populer adalah pembagian tugas antara otak bagian kiri dan kanan. Kedua bagian otak yang dihubungkan “jembatan” hemisphere itu juga memikul tanggung jawab yang berbeda. Otak bagian kiri umumnya disebut memiliki enam karakteristik: linear, sekuensial, simbolik, logis, verbal, dan realistis. Sedangkan otak kanan justru bersifat holistik, acak, konkret, intuitif, nonverbal, dan fantasi. Para ahli menyebut kaum laki-laki lebih gemar memanfaatkan otak kiri. Sebaliknya, kaum perempuan lebih menggantungkan pada otak kanan.

Untuk mengetahui “jenis kelamin” otak seseorang, Cohen menciptakan alat uji psikologis berupa E-test dan S-test. Masing-masing alat uji ini berisi 60 pertanyaan yang memiliki jawaban tertutup: sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Pernyataan dalam kertas uji E-test dan S-test sebenarnya mirip dengan pernyataan pada tes psikologi yang telah dikenal luas. Ada kalimat seperti “Saya menikmati saat-saat bersama orang lain”, “Saya tak pernah melanggar hukum”, atau “Saya selalu bermimpi tiap tidur malam”. Hasil tes ini akan menentukan tingkat E atau S seseorang dengan ketepatan yang tinggi.

Toh, hasil uji coba Cohen yang dilakukan terhadap 320 mahasiswa Universitas Cambridge tak menunjukkan kaitan langsung antara jenis kelamin fisik dan “jenis kelamin” otak manusia. Jadi, terbuka peluang bagi laki-laki dengan postur gagah perkasa untuk memiliki otak E atau B. Sebaliknya, Thatcher, ibu tiga orang anak, justru diidentifikasi memiliki otak S alias berjenis kelamin laki-laki.

Sejauh ini teori Cohen telah diterapkan pada mahasiswa Universitas Cambridge. Pengetahuan ini sangat membantu, misalnya, agar tak salah dalam menentukan pilihan profesi. “Tak ada yang lebih penting ketimbang mengenal diri sendiri,” ujar Cohen.

One Response

  1. saya semalam membuka-buka majalah tempo edisi 18 Mei 2003 dan menemukan artikel saudara setiyardi. kemudian saya menulis informasi tersebut kedalam blog saya. ternyata saudara juga memiliki blog, salam kenal dari saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: