Napi Necis di Penjara Cipinang

MENGENAKAN setelan kemeja Polo Ralph Lauren biru tua dan celana jins kasual, Harnoko Dewanto alias Oki, 38 tahun, terlihat gagah. Wajahnya bersih. Kumis dan jenggotnya tercukur rapi. Tubuhnya menebarkan aroma parfum yang segar. Sambil menebar senyum, terpidana mati di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang ini menyalami saya dengan hangat. “Kalau mau ke sini, SMS saja dulu. Nanti saya jemput di depan,” ujarnya.

Pagi sudah lewat di Penjara Cipinang. Para pembesuk dan petugas penjara sibuk lalu-lalang. Oki tenggelam bersama keramaian itu. Di rautnya tak sedikit pun tampak tanda-tanda bahwa ia adalah lelaki yang sedang menanti ajal.

Meski berstatus terpidana mati, penyandang sabuk dan-I taekwondo ini terlihat menikmati kehidupan di Penjara Cipinang. Ia bebas mengakses berita di televisi dan radio. Pria yang sempat dijuluki “pembunuh berdarah dingin” ini selalu mengantongi telepon genggam agar tak terputus dengan dunia luar.

Kisah Oki sempat menggegerkan publik Indonesia. Pria flamboyan ini dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan atas tiga nyawa: Suresh Gobin Mirchandani, Gina Sutan Aswar, dan Eri Triharto Dharmawan, antara Agustus 1991 dan Desember 1992, di Los Angeles, AS. Gina adalah pacar Oki dan Eri adalah adik kandungnya sendiri. Jasad ketiganya baru ditemukan pada 10 Agustus 1994 di sebuah gudang di Los Angeles. Januari 1995, Oki dideportasi ke Indonesia.

Motif pembunuhan itu adalah perebutan uang US$ 180 ribu milik Gina. Di pengadilan, Oki membantah membunuh Suresh. Menurut dia, Suresh tewas ditembak Eri. Ia mengaku membunuh Gina dan Eri. Tapi, “Saya tak sengaja membunuh Eri. Dia mati di pelukan saya,” katanya.

Aksi brutal ini sempat mendominasi pemberitaan pers AS dan Indonesia. Los Angeles Police Department berhasil menemukan sidik jari Oki pada ketiga jasad korban. Oki diekstradisi. Dan berdasarkan bukti-bukti itu, ketua majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, I G.K. Sukarata, mengganjar Oki dengan hukuman mati. “Itu hukuman yang pantas untuk pembunuh seperti dia,” ujar Sukarata seusai menjatuhkan vonis pada 13 Mei 1997.

Kini, enam setengah tahun setelah vonis dijatuhkan, Oki masih menebar senyumnya yang khas. Ia punya kesibukan seabrek. Pada bulan Ramadan ini, misalnya, Oki mengaku sibuk mengurusi pesantren kilat di LP Cipinang. Beberapa penceramah ia datangkan untuk memberikan siraman rohani kepada ratusan penghuni LP Cipinang. “Kelak”, ujar Oki, “saya ingin Aa Gym mau mampir ke sini.”

Tiga kali seminggu Oki dibesuk Sekarwati, 70 tahun, ibunya. Ditemani seorang sopir pribadi, Nyonya Sekarwati yang pensiunan karyawan Bank Bumi Daya itu mengantar makanan dan pakaian bersih buat Oki.

Selama di Cipinang, Oki mengaku menjalani kehidupan agama secara ketat. Tembok angkuh penjara membuatnya tak punya banyak pilihan. Apalagi malaikat maut terasa begitu dekat. “Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah berdoa kepada Allah,” ujarnya. Dengan doa itulah ayah seorang anak ini hasil perkawinannya dengan Anggia Hesti Bunyamin menghilangkan rasa takutnya pada kematian. Hukuman mati sudah tak menjadi momok lagi. Oki terlihat begitu santai dalam mengisi hari-hari di LP Cipinang. “Awalnya saya begitu takut dengan vonis hukuman mati,” ujar Oki, yang kini tengah menanti grasi dari Presiden.

Oki adalah pria yang supel. Ia mudah bersahabat dengan sesama penghuni penjara. Mulai pencoleng jalanan hingga tahanan politik menjadi karib Oki. Bahkan semua sipir dan petugas keamanan LP Cipinang menganggapnya pegawai resmi penjara itu. Inilah yang membuat Oki leluasa bergerak dan mendapatkan banyak kemudahan. Kepada TEMPO, Oki mengaku melakukan pelbagai pekerjaan administratif di LP Cipinang: dari urusan absen petugas hingga memperbaiki komputer ngadat. “Saya punya skill. Sayang kalau tak dimanfaatkan,” ujarnya.

Bisik-bisik menyebutkan Oki bisa mengatur jika narapidana lain ingin mendapat kemudahan di hotel prodeo, misalnya memperoleh telepon genggam atau ingin mendapat sel yang aman. Tapi Oki membantah tuduhan miring itu. Meski mengaku dekat dengan semua penjaga, “Saya tak memanfaatkannya untuk cari keuntungan,” ujarnya.

Berbagai cara dilakukan terpidana mati untuk melupakan sang maut. Di Cipinang, Oki melakukannya dengan menjadi narapidana necis yang mengurus berbagai hal.

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: