Newton dan Einstein Pengidap Autisme?

KISAH Isaac Newton dan Albert Einstein, dua manusia paling jenius yang pernah ada, seperti sumur yang tak pernah kering. Cerita yang terbaru pekan lalu datang dari Profesor Simon Baron-Cohen. Menurut peneliti dari Pusat Riset Autisme Universitas Cambridge, Inggris, ini, Newton (1642-1727) dan Einstein (1879-1955) adalah penderita penyakit autisme.

Tentu saja “tudingan” Simon Baron-Cohen langsung mengundang perhatian. Maklumlah, selama ini autisme merupakan penyakit yang masih misterius. Gejala penyakit yang ditemukan pada 1943 oleh Leo Kanner, dokter ahli jiwa di Baltimore, Amerika Serikat, ini sungguh aneh. Si pengidap autisme selalu kesulitan berkomunikasi verbal, temperamental, soliter, dan antisosial. Bahkan, dalam sebagian besar kasus, orang autistik juga memiliki tingkat intelligence quotient (IQ) di bawah rata-rata orang normal.

Kesimpulan Baron-Cohen memang tak mengada-ada. Newton, misalnya, dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki kesulitan berbicara, penyendiri, dan bermasalah dalam hubungan sosial. Bila sedang bekerja di laboratoriumnya, Newton kerap lupa segala hal\termasuk lupa mandi dan makan. Penemu teori gravitasi dan mekanika klasik ini, ujar Baron-Cohen, dipastikan mengidap sindrom asperger, salah satu bentuk autisme.

Einstein, ilmuwan terkemuka abad modern, juga memiliki ciri-ciri autisme yang pekat. Penemu teori relativitas (dan formula pamungkas E = mc2 yang menggetarkan dunia) itu tak dapat melakukan interaksi sosial dengan baik. Einstein juga kerap gagap saat menghadapi publik untuk menjelaskan teori-teori cemerlangnya. Bahkan Einstein mendapat seorang istri tanpa bujuk rayu verbal. Mileva Maric, juga seorang ahli fisika, “jatuh cinta” dan bersedia menjadi istri Einstein karena terpukau dengan pelbagai teori sang pencipta bom atom.

Tak pelak, kesimpulan berani Profesor Simon Baron-Cohen, yang mempertaruhkan reputasi internasionalnya, mulai mengubah paradigma tentang autisme. Pelbagai cap buruk pada penderita autisme bisa jadi akan bergeser. Soalnya, dua orang pengidap autisme justru telah menjadi pendekar ilmu pengetahuan tanpa tanding. Newton dan Einstein dipastikan memiliki IQ jauh di atas rata-rata. “Seperti dalam film Rain Man yang diperankan Dustin Hoffman, pengidap autisme punya potensi luar biasa,” ujar Baron-Cohen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: