Pidato Si Bung dalam Karung

EMPAT lembar kertas itu terlihat kusam. Warna putih telah berubah menjadi cokelat muda. Lapisan debu tipis menyelimuti dokumen berkop “Sekretariat Negara Kabinet Presiden”. Isinya: naskah pidato Bung Karno di depan sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada 22 Juni 1966. Naskah pidato yang diketik dalam bahasa Inggris tersebut penuh dengan coretan tangan. Rupanya, seorang korektor, mungkin juga Bung Karno, mencoba memperbaiki naskah penting itu.

Kini, dokumen itu, bersama sekitar seribu naskah pidato Bung Karno lainnya, tersimpan rapi di depot penyimpanan kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan. “Naskah itu adalah tumpukan harta karun yang penting,” ujar Sri Handayani, Kepala Bagian Layanan Informasi ANRI.

Sejak awal 1970-an, tumpukan naskah pidato Bung Karno itu berada di gudang ANRI. Semuanya disimpan dalam kotak-kotak yang dibungkus karung. Karena banyaknya dokumen yang harus diurus, selain juga karena keterbatasan dana, ANRI baru mengolah naskah tersebut pada akhir tahun 1994.

Lembaga yang berada di bawah kontrol presiden tersebut menugasi empat arsiparis (tenaga ahli bidang arsip) untuk “merawat” bukti sejarah itu. Mereka membaca satu per satu naskah pidato tersebut, lalu menyusunnya berdasarkan tema dan tanggal pembuatan. Proses katalogisasi itu memakan waktu enam bulan. Sekarang, publik bisa melihat atau mengkopi dokumen tersebut.

Menurut seorang petugas arsip di sana, tiap enam bulan, dokumen itu diberi zat kimia (fumigasi) agar tak berjamur. Suhu udara juga dipertahankan pada kisaran 22-24 derajat Celsius agar kelembapan udara terjaga. “AC kami bekerja 24 jam,” ujar Soleh, petugas yang merawat dokumen penting di ANRI.

Meski mereka berusaha keras memelihara, toh tak semua dokumen “selamat”. Beberapa naskah pidato Bung Karno, misalnya, meski telah tersimpan rapi dalam map khusus, kondisinya menyedihkan. Naskah pidato Bung Karno pada penutupan Sidang Umum IV MPRS pada 6 Juli 1966, misalnya, terlihat rusak. Beberapa bagian naskah itu sudah bolong-bolong dimakan rayap.

Idealnya, semua naskah penting tersebut dibuatkan back-up yang memadai. Sri Handayani menyebut pembuatan mikrofilm sebagai alternatif terbaik. Tapi, untuk setiap 400 halaman dokumen, dibutuhkan biaya produksi Rp 700 ribu. “Kami belum memiliki anggaran untuk itu,” ujar Handayani. Di tengah krisis keuangan negara yang parah, pelestarian dokumen sejarah menjadi prioritas nomor buntut. “Tapi, saat ini setidaknya kami telah ikut menjaga agar sejarah tak hilang,” ujar Rinta Kurniati, arsiparis yang ikut mengerjakan proyek tersebut, menghibur diri.

Beruntung sebagian naskah pidato Bung Karno kini telah didokumentasi dalam dua edisi buku Revolusi Belum Selesai. Tapi itu pun sebetulnya bukan proyek yang disengaja untuk menjaga ribuan halaman dokumen tersebut. Bonnie Triyana, salah seorang editor buku Revolusi, misalnya, secara tak sengaja “menemukan” naskah penting tersebut ketika ia mengumpulkan bahan untuk menyusun skripsi pada Februari 2003. Semula ia hanya diizinkan meminjam naskah pidato itu lima buah per hari. Belakangan, karena seringnya bolak-balik ke Arsip Nasional, petugas di sana memberi kemudahan meminjam lebih banyak dari seharusnya.

Bersama Budi Setiyono dari Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah (Mesiass), Bonnie lalu menerbitkannya dalam bentuk buku. Mereka lalu dibantu Jaap Erkelens, bekas Ketua Lembaga Kebudayaan Belanda (KITLV), untuk mengindonesiakan sejumlah kata Belanda yang kerap dipakai Presiden Sukarno.

Hasilnya lumayan. Hanya dalam beberapa bulan, buku yang dicetak 1.500 eksemplar itu laris manis dan kini sedang memasuki cetakan kedua. Tak cuma itu, menurut Bonnie, di Cilacap, Jawa Tengah, beberapa Sukarnois tua punya cara tersendiri untuk “mengawetkan” ingatan mereka pada Bung Karno. Mereka meminta seorang anak muda membacakan seluruh naskah dalam buku itu, lalu merekamnya dalam 21 kaset. Untuk melepas kangen, “Mereka kerap mendengarkan kaset rekaman itu beramai-ramai,” ujar Bonnie terkekeh.

Sebanyak 61 pidato Bung Karno yang terekam dalam buku Revolusi Belum Selesai adalah harta karun yang terselamatkan. Seribu naskah lainnya kini teronggok. Mungkin selamat, bisa juga remuk dimakan rayap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: