Robby Djohan: Skandal BNI dan BRI Sangat Menyakitkan

SKANDAL pembobolan triliunan rupiah dari Bank BNI dan Bank BRI membuat Robby Djohan, 66 tahun, kehilangan kata-kata. Robby, yang pernah mendapat gelar “bankir termahal”, tak habis pikir bagaimana mungkin segerombolan orang berhasil menggangsir bank milik pemerintah dengan mulus. Apalagi disebut-sebut aksi itu tanpa diketahui jajaran direksi bank. “Direksinya memang harus diganti,” ujar Robby Djohan, lirih.

Robby Djohan bukanlah orang yang gampang memberikan penilaian soal skandal Bank BNI dan BRI. Sebagai orang yang sudah berada di luar ring, Robby mengaku hanya menggunakan common sense dan pengalamannya di dunia perbankan. Pengalaman selama 10 tahun di Citibank, 18 tahun di Bank Niaga, dan hampir 2 tahun di Bank Mandiri telah membuat Robby matang dalam soal pengawasan perbankan.

Untuk mengupas soal megakorupsi di Bank BNI dan BRI, serta prospek dunia perbankan tahun 2004, wartawan TEMPO Setiyardi dua pekan lalu mewawancarai Robby Djohan di kantornya di Niaga Tower, Jakarta. Berikut kutipannya.

Bank BNI dan BRI dibobol triliunan rupiah. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Saya tidak bisa berbicara terlalu teknis tentang pembobolan Bank BNI dan BRI. Soalnya, saya tak mempunyai data yang mendukung. Dalam soal seperti ini, saya tak bisa melakukan spekulasi terlalu jauh. Yang bisa saya lakukan cuma menganalisis dari sistem pengawasan perbankan.

Anda dikenal sebagai orang yang sangat berpengalaman di dunia perbankan. Bagaimana mungkin sistem pengawasan bank bisa jebol?

Sistem pengawasan dalam dunia perbankan sangat ketat. Pengawasan banking system itu seperti jaring laba-laba. Sistem pengawasan ini sangat rumit untuk dijelaskan dalam wawancara ini. Kalau sistem tersebut dijalankan sebagaimana mestinya, skandal Bank BNI dan BRI tidak mungkin terjadi.

Apakah masuk akal bila Bank Indonesia tak mengetahui kasus tersebut?

Kalau sistem di BI bekerja, mereka seharusnya juga tahu. Memang, kalau orang dalam ngumpetin sesuatu, bisa jadi BI memang tidak tahu. Dalam hal ini, saya tak bisa menyatakan apakah BI seharusnya bertanggung jawab atau tidak.

Bukankah sebagai pengawas bank, pihak BI seharusnya mempunyai sistem yang memadai?

Kalau bicara tentang “seharusnya”, memang BI semestinya tahu sejak awal. Apalagi ini menyangkut jumlah uang yang sangat besar. Dengan uang itu, kita bisa membangun ribuan gedung sekolah dan puskesmas. Skandal BNI dan BRI ini sangat menyakitkan.

(Kepada Majalah TEMPO, Bank Indonesia menyatakan telah melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap Bank BNI. “Kami sudah mengirim 28 surat pembinaan kepada Bank BNI,” ujar Edhi Rahmanto H., pejabat Humas BI)

Toh, BNI dan BRI kebobolan….

Ada dua kemungkinan: kontrolnya tidak berjalan atau banyak orang yang terlibat. Kalau sistem kontrolnya tidak berjalan, supervisinya juga tak akan berfungsi. Sedangkan bila banyak yang terlibat, mereka dapat saling menutupi.

(Kepada Majalah TEMPO, Saifuddien Hasan, bekas Dirut Bank BNI, mengaku tak mengetahui pembobolan tersebut. “Kalau tahu, pasti kami stop sejak awal,” ujar Saifuddien Hasan)

Jadi, Anda setuju pergantian direksi di Bank BNI?

Begini… (Robby Djohan berhenti bicara dan mengambil napas panjang–Red.). Uang yang hilang dalam skandal Bank BNI sangat besar. Bahkan teramat besar. Kalau direksi mengaku tidak mengetahui pembobolannya, mestinya memang harus ada penggantian jajaran direksi.

Kalau Anda jadi Menteri Negara BUMN, apa yang akan Anda lakukan?

Saya akan lebih radikal. Saya akan minta semua orang yang terlibat langsung tinggal di rumah. Saya termasuk orang yang sangat ketat. Saya tak akan memberikan kesempatan ulang kepada bankir bermasalah. Kalau saya sudah tidak suka dengan suatu situasi, ya minggir saja.

Pemerintah akhirnya mengganti direksi Bank BNI. Apakah Anda yakin dengan kemampuan Sigit Pramono–Direktur Utama BNI yang baru?

Saya sangat mengenal Sigit Pramono. Saya ikut mendidik dia saat masih di Bank Mandiri dulu. Bagi saya, Sigit seorang pekerja yang sangat keras. Dia juga sangat jujur. Saya kira kejujurannya sangat bisa diandalkan. Waktu itu, saya mengangkatnya dari bawah sampai menjadi wakil kepala restrukturisasi kredit di Bank Mandiri. Ada lagi sisi positifnya, dia suka belajar. Dia suka bertanya sesuatu ke saya.

Anda yakin Sigit Pramono akan sukses memimpin BNI?

Tentu saja saya tidak akan menyatakan 100 persen yakin. Saya cuma bilang, kalau mau membuat masakan, bumbu-bumbu yang ada pada diri Sigit Pramono sudah cukup.

Apa saran Anda untuk direksi BNI yang baru?

Sigit harus bekerja dengan suatu organisasi manusia yang baru. Yang lama tinggalkan sajalah. Kalau dia masuk ke organisasi yang sudah established, lebih susah. Tentu saja, perombakan dapat dimulai dari level atas. Itu yang saya lakukan saat di Bank Mandiri. Saat itu saya tak mau terlalu banyak pertimbangan. Pokoknya, saya pakai orang-orang baru. Memang ada ancaman, tapi itu hal yang biasa. Saya ini preman, kok.

Langkah seperti ini akan menimbulkan resistensi. Bagaimana?

Biar saja. Sewaktu di Bank Mandiri saya juga melakukannya. Tapi, agar tidak timbul gonjang-ganjing, saya kasih duit yang banyak. Bahkan ada yang saya kasih Rp 1 miliar untuk PHK-nya. Saya percaya, uang itu memang sudah menjadi hak mereka. Toh, uang itu akan segera kembali ke Mandiri.

Ini soal lain. Mengapa perbankan kita seperti kekurangan tenaga?

Seharusnya, dunia perbankan pasca-rekapitalisasi sudah bisa berjalan. Artinya, perbankan sudah menjadi bagian dari sektor riil yang berkembang. Memang, faktanya saat ini perbankan belum berjalan sebagaimana harusnya.

Apa persoalan yang membuat perbankan mengalami stagnasi?

Ada problem besar dalam kepemimpinan perbankan kita. Dunia perbankan terlalu sering gonta-ganti pimpinan–mulai dari pimpinan cabang hingga direksi. Akibatnya, mereka tidak bisa langsung bekerja karena harus melakukan konsolidasi terlebih dahulu. Ini proses yang memakan waktu. Nah, dengan situasi seperti itu, bank-bank itu tidak mungkin akan berkembang. Sewaktu awal memimpin Bank Mandiri, saya juga melakukan konsolidasi terlebih dahulu. Awalnya tak ada kredit yang saya kucurkan. Satu setengah tahun hanya dihabiskan untuk membereskan persoalan di dalam terlebih dulu.

Berapa lama periode kepemimpinan di sebuah bank yang ideal?

Untuk jabatan presiden direktur, setidaknya butuh dua periode atau sekitar 10 tahun. Sejak awal harus sudah diketahui bahwa jabatan presiden direktur selama 10 tahun. Kita tidak bisa main gonta-ganti seenaknya. Bank bukanlah sebuah warung kopi. Ini big company yang banyak variabelnya. Saya bisa bicara begini karena saya pernah memimpin beberapa perusahaan besar. Nah, sekarang, kalau sebentar-sebentar diganti, mau berbuat apa?

Mengapa penyesuaian diri membutuhkan waktu yang lama?

Ini soal leadership. Ketika baru masuk, orang harus tahu kondisi dan visi perusahaan. Hal itu baru diketahui setelah duduk beberapa lama.

Apakah persoalannya cuma sesederhana itu?

Tentu saja tidak. Ada persoalan lain yang membuat perbankan tak berkembang. Kalau boleh jujur, atmosfer perbankan kita sekarang sedang dilanda ketakutan. Setelah krisis ekonomi, ada attitude dari pengusaha untuk tidak membayar utang atau bunga. Jadi, kalau pengusaha ngemplang itu sudah biasa. Situasi ini membuat kalangan perbankan jadi sangat takut. Kalau mau perbankan jalan, hal ini harus dibenahi terlebih dahulu. Jangan cuma menyalahkan bank.

Bagaimana dengan kondisi perbankan sendiri?

Kalau dilihat kemampuan finansialnya, perbankan sebenarnya sudah mampu. Rasio kecukupan modalnya (CAR) sudah di atas 12 persen. Dari sisi cash flow juga baik karena uangnya ada di sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tapi secara finansial tetap sulit berkembang karena kualitas asetnya tidak terlalu baik.

Apakah Anda mempunyai bukti?

Saya berani bertaruh, bank-bank milik pemerintah masih memiliki bad loan di atas 15 persen. Angka tersebut diperoleh bila dilakukan audit secara benar. Ini angka yang masih sangat tinggi. Dulu, ketika masih memimpin bank, bad loan di atas 1 persen saja membuat saya sangat deg-degan. Soalnya, margin perbankan sangat kecil. Bagi saya, yang sekarang terjadi itu sebenarnya sebuah malapetaka.

Bukankah kondisi buruk itu merupakan warisan rezim lama?

It doesn’t matter. Saya tidak (mau) bicara tentang warisan, tapi tentang masa depan. Kalau kita mau memperbaiki sesuatu, jangan bicara tentang warisan. Itu artinya kita hanya berusaha menyalahkan orang lain.

Bank swasta nasional kini banyak yang dimiliki asing. Apakah hal ini juga mempengaruhi kinerja perbankan?

Bank swasta–seperti BCA, BII, dan Danamon–memang sudah dimiliki asing. Artinya, standar yang mereka pakai sudah kriteria asing. Bukan lagi bank yang mengedepankan “pembangunan”. Jadi, sebelum ekspansi, mereka akan memperbaiki terlebih dahulu kriteria sesuai dengan standar asing. Kalau jumlah kredit di neraca mereka memang turun, kita tak bisa menyalahkan mereka.

Sektor riil dan perbankan seperti telur dan ayam. Mana yang harus lebih dulu berkembang?

Sama-sama. Saat ini sektor riil tidak berkembang. Buktinya, tidak ada investasi. Para pengusaha itu tidak mau menarik dananya yang diparkir di luar negeri. Bagaimana mungkin perbankan mau memberikan pinjaman modal bila mereka tak mau menarik dana mereka? Bagi bank asing, sikap seperti ini sama dengan bullshit.

Suku bunga sertifikat Bank Indonesia turun signifikan. Mengapa tak berimbas pada bunga bank?

Manusia tidak akan bertindak bila tidak ada keyakinan. Keyakinan dan niat adalah segala-galanya. Saat ini perbankan masih ketakutan. Mereka tidak comfortable. Perbandingan antara risiko yang ada dan peluang keuntungannya masih belum sebanding. Karena bangsa kita hidup dalam kultur haircut dan ngemplang utang.

Anda sepertinya terlalu skeptis terhadap dunia usaha kita….

Saya dibesarkan di dunia perbankan. Saya bekerja di Citibank 10 tahun, di Bank Niaga 18 tahun, dan di Bank Mandiri 1 tahun 8 bulan. Jadi, soal kredit saya sangat paham. Kalau bankir sudah takut, ya memang situasinya serem. Misalnya ada teman datang dan bilang akan meminjam uang dalam jumlah besar, kita pasti takut. Apalagi ini menyangkut uang triliunan rupiah dan bukan uang Anda.

Bagaimana perkiraan situasi perbankan tahun 2004?

Uang cash yang beredar di pasar cukup banyak. Tingkat suku bunga juga sudah relatif rendah. Sekarang ini masalahnya ketidakpastian. Seharusnya pemerintah tak perlu lagi menjamin deposit pihak ketiga di bank. Kalaupun masih dianggap perlu, yang dijamin cukup yang bernilai Rp 1 juta ke bawah. Itu milik rakyat kecil. Yang perlu dilakukan pemerintah justru menjamin kredit yang penting: ekspor, kredit usaha menengah, dan kredit yang menciptakan lapangan kerja.

Bagaimana kredit untuk perusahaan besar?

Tentu saja itu tetap perlu diberikan. Tapi tak usah dibantu oleh pemerintah. Biarkan mereka cari sendiri.

Pemerintah akan segera menutup Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Bagaimana kinerja lembaga tersebut?

Saya tidak bisa menilai kinerja BPPN. Tapi, sewaktu masih di Bank Mandiri, saya pernah bilang ke Menteri Keuangan Bambang Subianto dan Ketua BPPN Glenn Yusuf soal kredit macet. Bagi saya, kredit macet sebaiknya tetap diurus oleh bank masing-masing. Kalau usul itu yang dilakukan, saya yakin recovery rate BPPN akan jauh lebih tinggi. Soalnya, perbankan berpikir tentang cara menghidupkan kembali perusahaan-perusahaan ini, bukan sekadar menjualnya.

Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Menteri Keuangan Boediono menginginkan BPPN diperpanjang. Bagaimana?

Sebenarnya, kalau 80 persen tugas BPPN sudah dilakukan, ya sudah. Untuk sisanya, buat saja lembaga baru. Cara lain yang bisa ditempuh adalah menjual sisa aset ke Bank Mandiri atau Bank BNI. Lagi pula, dari sisi hukum BPPN memang harus ditutup pada Februari 2004. Ya sudah. Ini persoalan kecil yang tak perlu diributkan. Kalau Djatun dan Boediono mau memperpanjang, kan urusannya jadi repot. Mereka harus menjelaskan ke DPR. Lagi pula, BPPN memerlukan ongkos operasional yang sangat besar.

Mengapa sisa aset BBPN tak dilepas ke asing?

Kalau ada yang mau, ya, lebih baik dijual ke asing. Bilang saja ke mereka, “Ambil saja sampah-sampah ini.” Saya tidak akan ambil pusing dengan persoalan seperti itu. Itu masalah sepele.

Anda dikenal sebagai bankir yang sangat sukses. Apa resepnya?

Kerja keras dan bersikap profesional. Saya adalah orang Indonesia pertama yang mengikuti executive development program (EDP) di Citibank. Memang, ada orang yang bilang saya terlalu ambisius. Tapi, biarkan saja. Tak usah dimasukkan ke hati.

Mengapa Anda kemudian pindah ke Bank Niaga?

Setelah merasa cukup belajar di Citibank, pada usia 40 tahun saya pindah ke Bank Niaga. Ini merupakan keputusan strategis dalam kehidupan saya. Saya berhasil membesarkan Bank Niaga. Bahkan, pada 1980 Bank Niaga merupakan bank swasta pertama yang menerapkan teknologi automatic teller machine (ATM). Saya masih ingat, ATM pertama yang dibangun di Bank Niaga terletak di Jalan Falatehan. Meski memerlukan ongkos US$ 60 ribu per unit, ATM itu merupakan fashion yang mengangkat citra Bank Niaga.

Anda akhirnya diminta memimpin merger BDN, BBD, Bapindo, dan Bank Exim menjadi Bank Mandiri. Bagaimana ceritanya?

Itu terjadi begitu saja. Saya diminta oleh Menteri Negara BUMN Tanri Abeng memimpin Bank Mandiri. Tapi saya bilang kepada Tanri Abeng supaya tak ada intervensi. Kalau sampai ada intervensi, saya akan pensiun.

Tapi Presiden Abdurrahman Wahid akhirnya menghentikan langkah Anda….

Itu bukan persoalan. Yang penting, selama memimpin Bank Mandiri saya tak mau ada intervensi. Soal pemberhentian, itu masalah pemerintah yang menyangkut persoalan politik. Makanya, saat ini saya ingin para presiden direktur bank betul-betul terbebas dari persoalan politik. Jangan sekali-kali bermain politik. Semua akan menjadi kacau.

Apa intervensi politik selama menjadi Direktur Utama Bank Mandiri?

Mereka tahu karakter saya. Mana mungkin mereka berani melakukan intervensi. Memang ada yang coba-coba mendekati. Tapi itu cuma ” kucing kurap” yang tak perlu diladeni. Yang harus diingat, posisi saya bukan jabatan politik, tapi sebagai seorang profesional. Hal ini selalu saya sampaikan ke anak buah saya.

Sekarang bagaimana kalau Anda diminta mengurus perbankan?

Jangankan di perbankan, jadi menteri pun saya tak mau. Tapi kalau ada semacam dewan penasihat ekonomi, bolehlah. Pengalaman saya masih bisa dipergunakan oleh negara. Tak perlu digaji. Soalnya, negara pasti tak bisa memberi saya gaji yang pantas.

Untuk membagi ilmu dan pengalaman, tiga kali seminggu saya mengajar di Universitas Indonesia. Saya mengajar mata kuliah perbankan dan merger & akuisisi untuk S2 dan S3.

Masih sibuk dengan motor besar?

Ya, saya masih punya empat Harley Davidson (HD). Harganya tak terlalu mahal. Rp 300_400 juta per unit. Bagi saya, HD adalah kumpulan orang yang tidak rasional seperti saya. Ha-ha-ha….

One Response

  1. […] Robby Djohan: Skandal BNI dan BRI Sangat Menyakitkan Mantan dirut bank mandiri robby djohan tutup usia – bisnis, Robby djohan, mantan direktur utama pt mandiri tbk berpulang. pria kelahiran semarang 1 agustus 1938 meninggal jumat 13 mei 2016.. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: