Saatnya Beralih ke Hidrogen

Deskripsi
Raksasa pabrik pesawat Boeing berhasil membuat pesawat berbahan bakar hidrogen. Dunia transportasi kian serius dengan bahan bakar gas itu.

“NO war for oil.” Begitulah bunyi pelbagai spanduk dari para penentang pendudukan Amerika atas Irak beberapa waktu lalu. Spanduk itu seperti menguliti alasan jahat Amerika Serikat atas sebuah perang yang tak masuk akal. Sayangnya, Presiden AS George W. Bush seakan tak sadar akan perkembangan teknologi energi alternatif. Bahan bakar minyak (BBM) kini bukanlah segalanya. Buktinya, pelbagai produsen transportasi massa kini gencar beralih ke hidrogen.

Tengoklah keberhasilan raksasa pabrik pesawat terbang Boeing. Pabrik yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat, itu dua pekan lalu sukses saat melakukan uji coba penerbangan pesawat berbahan bakar hidrogen. Ini adalah pesawat terbang pertama yang berhasil terbang dengan memanfaatkan energi dari unsur kimia hidrogen. Pesawat itu berhasil mengitari Atlanta\sebuah milestone dalam perkembangan teknologi energi alternatif. Selama ini, pesawat terbang komersial dan pesawat tempur selalu menggunakan hidrokarbon jenis avtur sebagai bahan bakar.

Untuk menerbangkan pesawat Boeing bermesin tunggal, pilot memanfaatkan energi listrik dari dua baterai (fuel cell). Yang paling sulit adalah saat pesawat berancang-ancang untuk lepas landas. Tarikan gaya gravitasi bumi (9,8 m/detik2) membuat pesawat harus memiliki energi yang jauh lebih besar. Boeing menggunakan dua baterai berkekuatan 50 kilowatt untuk pesawat yang dirancang hanya untuk satu awak itu. Kelak, “Industri penerbangan akan beralih ke penggunaan hidrogen,” ujar Judith Agar, Direktur Teknik Pabrik Pesawat Boeing.

Untuk mengembangkan sistem penyuplai energi, Boeing bekerja sama dengan Intelligent Energy. Perusahaan pemasok energi alternatif dari Inggris itu berhasil membuat desain fuel cell yang mendapat pasokan dari hidrogen. Hebatnya, hidrogen hanya diperoleh dari proses elektrolisis air (H2O) dalam “tangki bahan bakar” pesawat. Bila tak ada aral, “Kami akan benar-benar menerapkannya pada pesawat komersial pada 2010,” kata Agar.

Sebenarnya para produsen peralatan transportasi massa telah lama melirik kemungkinan penggunaan energi hidrogen. Di dunia otomotif, misalnya, mobil berbahan bakar hidrogen bukanlah barang yang asing. Inovasi di sana-sini memang masih terus dilakukan untuk mendapatkan performa mesin dan kecepatan yang memadai.

Ford Motor Corporation, misalnya. Pabrik mobil ternama di Amerika ini pada tahun 2000 berhasil membuat prototipe mobil dengan bahan bakar hidrogen. Mobil yang disebut Ford P2000 itu dalam uji coba mampu berlari dengan kecepatan hingga 65 mil per jam (104 kilometer per jam). Selama 24 jam nonstop, Ford P2000 berhasil mencapai jarak tempuh 1.390,75 mil. CEO Ford Motor, Alex Trotman, memastikan perusahaannya akan memproduksi mobil hidrogen secara massal. Soalnya, ujar Trotman, “Mobil hidrogen sesuai dengan tuntutan zaman.”

Dari Jepang, pelbagai pabrik mobil juga tak mau ketinggalan. Toyota Motor Corporation, misalnya, telah mengembangkan prototipe mobil FCHV yang mampu berlari hingga 95 mil per jam. Mobil mungil dengan bahan bakar fuel cell dari hidrogen ini bahkan telah beredar di California, Amerika Serikat. Untuk mencoba mobil keren ini, Toyota baru mencoba dengan sistem sewa. Sebuah mobil bisa didapat dengan tarif sewa US$ 10 ribu per bulan. Dengan kapasitas tangki 157 liter hidrogen yang dimampatkan, mobil itu mampu menempuh jarak hingga 350 kilometer tanpa harus mengisi bahan bakar.

Memang, untuk menerapkan teknologi energi hidrogen, dibutuhkan sistem penyimpanan yang memadai. Maklumlah, berbeda dengan BBM, yang hanya membutuhkan tangki penampung, gas hidrogen membutuhkan teknologi penyimpanan yang lebih canggih. Secara teknis, ada tiga pilihan untuk storage system: kompresi gas hidrogen, hidrogen cair, atau ikatan kimiawi hidrogen (hidrida).

Secara teoretis, kompresi gas hidrogen merupakan pilihan yang sulit dan berbahaya. Soalnya, hidrogen pada suhu kamar merupakan gas yang bersifat sangat eksplosif. Tak aneh, mobil dengan bahan bakar kompresi gas hidrogen seperti mengusung bom. Sedangkan penyimpanan hidrogen cair, meski terbilang sangat aman, juga bukanlah pilihan yang menarik. Soalnya, hidrogen baru mencair pada suhu minus 400 derajat Celsius. Untuk itu, dibutuhkan sistem pendingin yang canggih. Buntutnya, sistem ini akan menghabiskan biaya yang besar, jauh lebih mahal ketimbang menggunakan BBM biasa. Pilihan yang paling masuk akal adalah penggunaan sistem ikatan kimia. Konsepnya seperti spons yang menyerap dan menampung air. Kapasitas penyimpan dengan sistem ini besar dan tingkat keamanannya tinggi.

Bisa jadi peralihan ke energi hidrogen merupakan keharusan sejarah. Soalnya, tingkat pencemaran lingkungan akibat penggunaan BBM sungguh mengkhawatirkan. Departemen Energi (DOE) Amerika Serikat memprediksi penggunaan energi hidrogen untuk transportasi akan menghilangkan emisi karbon dioksida (CO2). Pada tahun 2050, emisi CO2 di Amerika yang bisa dihilangkan bisa mencapai 25 miliar ton. Buntutnya, pemerintah Amerika akan menghemat biaya kesehatan akibat polusi udara sebesar US$ 100 miliar setiap tahun.

Ada hal lain. BBM yang berasal dari hidrokarbon fosil-fosil berusia jutaan tahun merupakan sumber energi tak terbarukan (unrenewable resources). Artinya, suatu saat kelak, BBM akan habis akibat dikonsumsi oleh umat manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: