Sebuah Dunia, tanpa Hantu

RCTI menghentikan semua tayangan misteri dan seksual. Tapi stasiun televisi swasta lain malah jorjoran.

ADA yang berubah pada layar RCTI. MOP (Mbikin Orang Panik), sebuah acara reality show, kini tinggal sejarah. MOP telah makan korban: dipecatnya seorang anggota Kepolisian Sektor Kebon Jeruk (perkembangan terakhirnya, ia hanya dimutasi). Tapi menghilangnya MOP bukan satu-satunya perubahan di wajah RCTI.

Sejak Juni 2004 lalu, stasiun televisi swasta tertua itu menghentikan tayangan berbau misteri dan seks. Pelbagai program “berselera rendah” yang sempat akrab dengan pemirsa, seperti Kisah-Kisah Misteri, Kesurupan, Bantal, dan Kelambu, lenyap dari layar. “Sesuai dengan keyakinan dan agama, acara itu harus dihindari,” ujar Hary Tanoesoedibyo, Direktur Utama RCTI.

Tanggung jawab moral, kata Hary. RCTI kini memperbanyak tayangan berkualitas–seperti siaran langsung Euro 2004, yang justru menyedot pemirsa dan iklan yang lebih besar. Untung lumayan besar, tapi stasiun itu terlepas dari aneka tayangan yang–menurut istilah Ade Armando, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)– “menabrak akal sehat dan moral”. Di mata Ade, tayangan misteri, misalnya, menimbulkan kesan seolah “dunia ilusi” berdampingan dengan “dunia nyata”. Akibatnya, “Pemirsa menjadi manusia yang tidak rasional,” katanya.

Sayang, langkah RCTI tak diikuti oleh stasiun televisi lain. TransTV, misalnya, masih gencar dengan tayangan misteri Dunia Lain. Acara yang dipandu oleh Hary Panca itu kini bahkan ditayangkan dua kali seminggu. Maklum, program ini mampu menduduki rating yang menggembirakan. Menurut survei Nielsen Media Research pada bulan Mei 2004, Dunia Lain mencapai rating 9,7–tertinggi untuk acara misteri di semua stasiun televisi.

Begitu juga soal tayangan seks. Bahkan stasiun televisi sekelas SCTV belakangan terjerumus pada tayangan “murahan”. Setiap Senin hingga Rabu tengah malam, stasiun Ngetop ini menayangkan Nah Ini Dia–program yang diangkat dari sebuah rubrik tetap di harian Pos Kota. Rubrik yang berkisah seputar “paha dan dada” itu berhasil menembus layar kaca SCTV. Budi Dharmawan, dari Bagian Humas SCTV, mengakui ada resistensi kuat dari kalangan internal SCTV. Soalnya, banyak adegan seronok dalam tayangan Nah Ini Dia. Tapi belakangan SCTV menganggap program tersebut sebagai acara komedi. Agar tak terlalu seronok, kata Budi Dharmawan, “Banyak adegan yang kami gunting.”

Memang sulit membuat kriteria acara berbau seksual. Program Nah Ini Dia, misalnya, meski seronok, tak bisa serta-merta disebut sebagai acara berbau pornografi. Tak mengherankan bila AC Nielsen Indonesia, lembaga survei media massa terkemuka, hingga kini tak memiliki kriteria acara seksual dalam hasil survei mereka. Tapi bukan tak ada jalan untuk menuntaskannya. Ade Armando, anggota KPI, berharap KPI dan semua praktisi televisi duduk bersama. “Agar tak tersesat, kita bisa menyepakati rambu-rambunya,” ujar Ade Armando.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: