Susilo Bambang Yudhoyono: “Soal Pencalonan Presiden, Saya Sudah ‘Firm'”

SUSILO Bambang Yudhoyono, 55 tahun, akhirnya buka kartu. Kepada majalah ini, Yudhoyono memastikan kesediaannya maju ke pertarungan menduduki kursi tertinggi di Republik Indonesia. “Soal pencalonan presiden, Saya firm. Saya tidak ragu-ragu,” ujar Yudhoyono. Inilah pernyataan terbuka pertama Yudhoyono kepada pers soal kesiapannya menjadi presiden. Tak cuma itu, Yudhoyono akhirnya mengakui hubungannya dengan Partai Demokrat–partai yang akan mengusungnya dalam pemilu presiden 2004 mendatang.

Selama ini pensiunan jenderal yang bertubuh tinggi-besar itu terkesan seperti malu-malu. Pria yang akrab disapa SBY ini sebelumnya tak pernah menjawab tegas pertanyaan soal kesediaannya menjadi presiden. SBY juga hanya menjawab secara normatif terhadap pinangan partai-partai politik peserta pemilu. Padahal berbagai jajak pendapat menunjukkan posisi SBY, baik sebagai presiden maupun wakil presiden, selalu menempati urutan atas.

Untuk mengupas soal kesiapannya menjadi calon presiden dan perkiraan situasi politik dan keamanan menjelang pemilihan umum, wartawan TEMPO, Setiyardi, mewawancarai sang Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di kantornya, pekan lalu. Berikut adalah petikannya.

Banyak polling yang menjagokan Anda sebagai kandidat presiden. Mengapa Anda sangat hati-hati bicara soal pencalonan presiden?

Saya hanya mengikuti aturan main yang ada. Undang-undang menyebutkan bahwa pencalonan presiden dan wakil presiden dilakukan pada tanggal 1-7 Mei 2004. Selain itu, tata krama politik mengatakan seseorang dapat mencalonkan diri sebagai presiden apabila dicalonkan oleh partai politik tertentu. Proses tersebut harus terjadi. Ibu Mega dicalonkan oleh PDI Perjuangan. Pak Amien Rais dicalonkan oleh PAN. Nah, suatu saat nanti, kalau ada partai politik yang secara resmi mencalonkan saya sebagai calon presiden, saya akan memberikan respons. Dan kalau itu saat yang tepat untuk mendeklarasikan, ya, akan saya lakukan deklarasi.

Apakah deklarasi pencalonan Anda akan dilakukan pada Mei 2004?

Belum tentu Mei 2004. Saya akan melihat perkembangan keadaan. Tapi, kalau ada partai politik yang tiba-tiba mencalonkan saya, mungkin Maret, April, atau Mei, ya, akan saya respons pada saat itu. Publik barangkali melihat saya hati-hati atau ragu-ragu. Padahal, soal pencalonan presiden, saya firm. Saya tidak ragu-ragu.

Jadi, bisa disimpulkan Anda bersedia jadi presiden?

Ha-ha-ha…. Jawaban saya sebetulnya sudah sangat konklusif. Pernyataan itu memang berarti saya bersedia jadi presiden. Sebetulnya publik juga tahu saya bersedia jadi presiden.

Partai Demokrat dipastikan akan mengusung Anda. Mengapa Anda terkesan masih “menjaga jarak” dengan Partai Demokrat?

Gambar saya ada di Partai Demokrat. Itu berarti saya tak menjaga jarak. Saya engage dengan Partai Demokrat. Mereka juga menyebutkan SBY sebagai pendiri Partai Demokrat. Tapi, tema ini akan saya bicarakan di wawancara berikutnya. Jangan sekarang.

Partai politik banyak yang meminang Anda untuk kandidat wakil presiden. Bagaimana?

Saya akan mengikuti mekanisme yang ada.

Ada kekhawatiran Anda menggunakan Kantor Menko Polkam untuk kepentingan politik. Benarkah Anda membuat kuesioner tentang pemilu?

Saya memang sangat terganggu dengan pemberitaan di Majalah TEMPO soal kuesioner pemilu tersebut. Banyak yang tidak benar dan tidak akurat. Jika tidak saya luruskan, publik bisa memiliki informasi yang salah.

Tapi kami mendapat bukti Kantor Menko Polkam membuat kuisioner soal pemilu. Benarkah ada kuesioner tersebut?

Benar. Tapi yang tepat adalah pengecekan dan pendataan kesiapan Pemilu 2004, dari sisi politik dan keamanan. Hasil dari tim yang melakukan pengecekan ini akan dijadikan masukan dan pertimbangan agar pelaksanaan Pemilu 2004 dapat berlangsung secara langsung, umum, bebas dan rahasia, jujur, adil, aman, damai, dan demokratis. Tidak ada kandungan maksud dan tujuan lain.

Siapa saja anggota tim penyusun kuesioner tersebut?

Tim Koordinasi Monitoring, Evaluasi, dan Pengamanan Pemilu 2004 yang dipimpin Deputi I Menko Polkam Bidang Politik dalam Negeri, saudara M. Yassin. Saya sendiri tidak terlibat dalam penyusunan kuesioner. Menteri harus mempercayai dan memberdayakan stafnya.

Apa isi kuesioner tersebut?

Kuesioner tersebut ditujukan pada gubernur dan salah satu wali kota atau bupati di provinsi tersebut, Kapolda dan salah satu Kapolres di jajarannya, KPU provinsi dan KPU kabupaten atau kota di daerahnya. Substansi kuesioner untuk pemda, Polri, dan KPU berbeda. Untuk pemda, misalnya, ada pertanyaan tentang kehidupan sosial-politik di daerahnya dan bagaimana sosialisasi pemilu di daerahnya. Untuk kepolisian, misalnya, ada pertanyaan tentang gambaran kerawanan daerahnya dan konsep operasi dalam menanggulangi kerawanan tersebut. Sedangkan untuk KPU daerah, pertanyaan berkisar pada sosialisasi Pemilu 2004, pelaksanaan pendaftaran pemilih, dan alokasi jumlah kursi legislatif.

Benarkah ada pertanyaan soal kriteria dan nama kandidat presiden?

Tidak ada. Tolong digarisbawahi bahwa tidak ada pertanyaan menyangkut soal kriteria dan nama kandidat presiden. Saya sudah melakukan crosscheck kepada tim tersebut.

Benarkah kuesioner tersebut untuk mengukur peluang Anda dalam pertarungan pemilihan presiden mendatang?

Itu jelas tidak benar. Moral dan kepribadian saya tidak seburuk itu. Meskipun saya jauh dari sempurna, saya tidak berselingkuh ketika mengemban tugas negara dan pemerintahan. Saya ingin mendidik diri saya sendiri untuk menempuh jalan yang bersih dan terhormat, termasuk di dunia politik.

Benarkah, saat di Aceh, Anda disambut pejabat daerah dengan seragam Partai Demokrat?

Saya harus melakukan protes keras pada Majalah TEMPO, yang menurunkan artikel dan editorial yang bias. Berita itu berangkat dari data, fakta, dan sumber yang tidak kredibel. Itu merupakan character assassination terhadap institusi Polkam dan saya. Salah satu data atau keterangan yang tidak benar adalah artikel tentang kunjungan saya ke Aceh pada Desember 2003. Informasi dari Smita Notosusanto itu jelas tidak benar. Dikatakan bahwa, seusai pertemuan persiapan Pemilu 2004, saya bertemu dengan para pejabat daerah yang ramai-ramai memakai baju seragam biru Partai Demokrat. Ini sebuah kebohongan publik yang luar biasa. Selama tiga tahun lebih keluar-masuk Aceh, saya tidak pernah melakukan kegiatan politik–termasuk untuk Partai Demokrat. (Setelah mengadakan pengecekan ulang, termasuk hasil wawancara dengan saksi mata tambahan, informasi tentang pemakaian seragam Partai Demokrat itu tidak akurat. Yang dimaksudkan oleh Smita Notosusanto adalah bahwa beberapa penyambut itu mengenakan pin Partai Demokrat. Editorial ditulis dengan asumsi informasi tersebut benar. Kesalahan muncul karena terjadi miskomunikasi antara wartawan TEMPO dan Smita Notosusanto. Atas kekeliruan itu, kami mohon maaf–Red.)

Setelah Kantor Menko Polkam membuat survei tersebut, bagaimana perkiraan situasi politik dan keamanan menjelang, selama, dan sesudah Pemilu 2004?

Secara sederhana, ada tiga skenario. Skenario optimistis, skenario moderat, dan skenario pesimistis. Dikatakan optimistis bila segalanya berjalan aman, tertib, dan lancar, yang saya sebut skenario “bulan purnama”. Saya menduga tidak demikian situasi yang bakal terjadi. Sebaliknya, skenario pesimistis terjadi jika Pemilu 2004 ini gagal total. Insya Allah, ini pun tidak terjadi. Nah, yang paling mungkin adalah skenario moderat. Skenario ini menggambarkan bahwa kekerasan dan benturan antar-partai politik dan massa pendukungnya dalam skala tertentu akan terjadi. Stabilitas politik dan kehidupan sehari-hari masyarakat, utamanya masa kampanye, juga akan mengalami gangguan. Tetapi, secara nasional, kondisi politik dan keamanan akan tetap dapat kita kontrol.

Bagaimana antisipasi dan persiapan pengamanan pemilu secara nasional?

Dua pertiga kekuatan Polri, atau sekitar 200 ribu personel, dibantu oleh sekitar 50 ribu personel TNI dan puluhan ribu satuan keamanan pemda akan digelar dan ditugasi di seluruh wilayah Indonesia. Kekuatan pengamanan ini tidak termasuk satuan-satuan TNI dan Polri yang beroperasi di daerah-daerah konflik. Selain itu, pihak kepolisian juga terus menjalin kerja sama dengan parpol-parpol peserta pemilu agar satgas-satgas parpol juga ikut berpartisipasi dan berkontribusi, terutama untuk pengamanan internal mereka masing-masing.

Bagaimana dengan pelaksanaan pemilu di daerah konflik?

Keamanan dan kelancaran pemilu di daerah konflik, seperti di Aceh, Papua, dan Poso, juga tetap rawan. Karena itulah harus kita lakukan langkah-langkah yang optimal dan efektif agar pemilu di daerah-daerah itu tidak terancam. Khusus di Aceh, akan mendapat perhatian serius dan prioritas. Akan banyak masalah menyangkut pemilu di Aceh. Kita harus berbuat all out. Saya meminta Penguasa Darurat Militer Daerah melakukan langkah-langkah pengamanan yang optimal. Namun, belum ada rencana pemerintah untuk menambah kekuatan di Aceh. Saat ini ada sekitar 33 ribu pasukan TNI dan 15 ribu personel Polri di Aceh.

Dengan jumlah besar itu, mengapa TNI belum berhasil mengalahkan GAM?

Ini bukan perang konvensional. Ini perang gerilya yang secara doktrin membutuhkan kekuatan 10 : 1 untuk mengalahkannya. Soalnya, tidak semua kekuatan TNI dan Polri ditugasi untuk melakukan aksi-aksi serangan, pengejaran, dan penghancuran GAM. Sebagian besar justru untuk mengamankan seluruh wilayah Aceh. Saat ini kita mengasumsikan kekuatan bersenjata GAM sebanyak 6.000 orang.

Berapa biaya yang dihabiskan untuk operasi militer di Aceh?

Jumlahnya rasional dan tidak berlebihan. Jumlahnya sekitar Rp 1,4 triliun. Dibandingkan dengan biaya rekapitulasi BLBI dan sejumlah pengeluaran negara yang jumlahnya ratusan triliun, sebenarnya biaya operasi terpadu di Aceh pantas. Apabila dibandingkan dengan anggaran militer di negara-negara lain dalam mengelola keamanan negaranya, jumlah ini belum apa-apa.

Sebagian anggaran dari APBN untuk operasi militer di Aceh belum turun. Dari mana TNI dan Polri menutupnya?

Saya tidak mendengar permasalahan di bidang anggaran, baik dari TNI maupun Polri. Bahwa ada keterlambatan di sana-sini, itu kerap terjadi dalam sistem penganggaran kita berikut implementasinya.

Benarkah ada cukong-cukong yang menalangi operasi militer di Aceh?

Saya tidak mendengar hal itu. Negara yang bertanggung jawab membiayai, karena mereka melaksanakan tugas negara.

Bagaimana perkembangan hasil operasi militer di Aceh?

Kondisi Aceh makin baik. Ada dua ukuran. Pertama, membandingkan dengan situasi sebelum dilakukannya keadaan darurat militer berikut operasi terpadu yang dijalankan. Kedua, dengan melihat satu per satu kelima sasaran operasi terpadu, baik operasi pemulihan keamanan, operasi kemanusiaan, operasi penegakan hukum, operasi normalisasi pemerintah daerah, maupun operasi pemulihan ekonomi. Secara kuantitatif dan kualitatif, capaian dan progress-nya cukup baik.

Berarti status darurat militer dapat diakhiri?

Kita pasti akan mengarah pada penghentian status darurat militer. Kita akan kembalikan, pada saatnya, ke situasi tertib sipil. Namun, transisi harus kita lakukan. Prakondisi juga harus kita bangun. Kita tidak boleh gegabah. Dan satu hal yang pasti, meskipun kelak status darurat militer kita cabut, operasi pemulihan keamanan, dan hakikatnya operasi terpadu, akan tetap kita jalankan. Kekuatan TNI dan Polri akan tetap kita pertahankan agar pemulihan keamanan betul-betul tuntas dan separatis GAM tidak punya kemampuan lagi untuk mengancam keamanan dan kehidupan masyarakat Aceh.

Bagaimana dengan pembebasan sandera di markas GAM?

Pemerintah telah berbuat, dan akan terus berbuat. Jumlah sandera GAM selama darurat militer mencapai 322 orang. Dengan operasi militer, telah dapat dibebaskan 60 orang. Termasuk dua orang ibu istri perwira TNI yang dibebaskan tanggal 29 Januari 2004 yang lalu di Aceh Timur. Di tangan GAM masih ada 260 orang lebih, termasuk kamerawan RCTI, Ferry Santoro. Kita terus berupaya secara maksimal untuk membebaskan mereka.

Apa yang membuat perundingan dengan GAM menemui jalan buntu?

Negosiasi belum boleh dikatakan buntu. Masih ada peluang. Meskipun saya pastikan bahwa negosiasi bukan satu-satunya cara. Sebenarnya PMI dan ICRC, yang bertindak sebagai fasilitator, tahu banyak tentang dinamika negosiasi ini. Tetapi, karena kode etik yang dianutnya, mereka tidak bisa bicara. GAM selalu tidak bisa dipegang kata-katanya. Juru bicara GAM berkali-kali diubah. Keterlaluan. Permintaannya banyak yang tidak masuk akal, seperti, yang terakhir, minta pasukan TNI dan Polri ditarik ke pos-pos. Ini penipuan sempurna.

Komando tertinggi GAM seperti “dilindungi” pemerintah Swedia. Anda kecewa dengan Swedia?

Terus terang, sebagai orang yang mengelola persoalan Aceh, dan orang yang telah menempuh diplomasi dengan Swedia, saya memang kecewa. Soalnya, respons yang diberikan Swedia belum pada tingkat yang tepat. Apalagi penyanderaan orang tak berdosa oleh GAM, seperti dialami Ferry Santoro, itu menunjukkan bukti kuat. Jadi, bukti apa lagi yang dicari? Otoritas hukum sebetulnya bisa melakukan langkah-langkah proaktif. Sebagian besar petinggi GAM adalah warga negara Swedia. Swedia harus punya kepedulian demi menjaga hubungan baik dengan Indonesia.

Adakah keinginan untuk menggunakan institusi ketiga seperti Mahkamah Internasional?

Hal itu sudah kita diskusikan beberapa waktu yang lalu. Semua ada plus-minusnya. Kalau pintu masuknya tidak pas, malah akan menginternasionalkan masalah Aceh secara tidak proporsional. Kita ingin membatasi lingkupnya.

Sekarang, para pentolan GAM harus bertanggung jawab. Swedia juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Sulit diterima akal sehat bila Swedia membiarkan warga negaranya memimpin pemberontakan dan melakukan kejahatan terhadap keamanan negara lain. Kesan saya, otoritas Swedia kurang memiliki concern yang tinggi.

Ini soal lain. Terorisme masih menjadi ancaman serius. Bagaimana kondisinya?

Terorisme tetap menjadi ancaman nyata. Kita tidak boleh lengah. Secara historis dan empiris, paling tidak ada tiga kelompok yang melaksanakan aksi teror lima tahun terakhir ini. Pertama, kelompok yang berkaitan dengan separatis GAM. Kedua, kelompok garis keras lain, seperti sejumlah aksi pengeboman yang terjadi di Ambon tahun 2002 lalu oleh kelompok Kristen radikal. Dan ketiga, dari hasil investigasi dan pengadilan, memang ada yang berkaitan langsung dengan yang menamakan dirinya Jamaah Islamiyah.

Salah satu pentolan “teroris”, Hambali, hingga kini masih ditahan Amerika. Bagaimana perkembangan kasusnya?

Kita terus berupaya untuk dapat melakukan investigasi terhadap Hambali. Hambali tokoh penting dalam berbagai aksi teror di Indonesia. Kita juga harus mengetahui rencana Hambali untuk melakukan terorisme di Indonesia sebelum ia ditangkap.

Mengapa kita tak mendapat akses menyelidikinya?

Indonesia harus diberi akses. Sewaktu saya berkunjung ke Amerika Serikat pada September 2003 yang lalu, hal ini telah saya sampaikan kepada para petinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Colin Powell. Presiden Megawati juga mengulangi hal yang sama ketika bertemu Presiden Bush di Bali, Oktober yang lalu. Selain itu, saya baru saja menerima delegasi Amerika Serikat yang hadir dalam Regional Conference of Counter-Terrorism. Saya sudah menyatakan kembali bahwa Indonesia sangat ingin melakukan investigasi terhadap Hambali. Indonesia sangat berkepentingan untuk mendapat semua informasi yang mengalir dari Hambali. Bukan hanya untuk melihat masa lalu Hambali yang terlibat dalam sejumlah aksi terorisme, tapi juga yang sedang dipikirkan dan direncanakan.

Ada pihak yang curiga jangan-jangan Hambali sebenarnya seorang agen intelijen Amerika?

Yang saya tahu, Hambali adalah seorang tokoh teroris. Siapa sebenarnya Hambali, apa saja yang telah dilakukan, semuanya akan terungkap jika kita telah dapat melakukan investigasi terhadap yang bersangkutan. Sejauh ini, tidak ada kecurigaan bahwa Hambali merupakan agen Amerika Serikat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: