Tergiur Gemerencing Yen

Deskripsi
Bersama kawan-kawannya, Dewi dan Nurlela terjebak dalam bisnis prostitusi di Jepang. Inilah kisah mereka.

Dewi, 20 tahun

Kesedihan masih menggurat di wajahnya. Dewi (bukan nama sebenarnya), perempuan kelahiran Desa Sumber Pucung, Pogung Rejo, Blitar, menyimpan seribu luka di hati. Selama berbulan-bulan, ia dipaksa melayani pelbagai imajinasi seksual laki-laki Jepang. “Sampai sekarang, saya masih merasa trauma,” tuturnya kepada TEMPO belum lama ini.

Jalan hidupnya berbelok begitu cepat. Sekitar enam bulan silam, seorang calo mendatangi kampungnya, menawari Dewi bekerja di sebuah pabrik pulp (bubur kertas). Anak dari keluarga petani ini diberi janji akan mendapat gaji yang menggiurkan, 500 ribu yen atau sekitar Rp 35 juta setiap bulan. “Kamu akan segera jadi orang kaya,” kata si calo.

Tapi, untuk berangkat, Dewi harus meyetor Rp 5 juta. Menurut sang calo, itu merupakan biaya pembuatan paspor, visa, dan tiket ke Jepang. Karena tak punya uang, Dewi menyerahkan sertifikat rumah dan tanah seluas 800 meter persegi. Satu-satunya harta milik keluarga besarnya itu kini berpindah tangan.

Bersama sembilan calon tenaga kerja lain, Dewi terbang ke Jepang dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sesaat sebelum berangkat, ia diminta menandatangani surat perjanjian. Sang calo meminta Dewi, yang cuma lulusan SMP, langsung membubuhkan tanda tangan. “Sudahlah, ndak usah dibaca. Kamu ndak usah banyak pikiran,” ujar sang calo. Belakangan Dewi baru tahu bahwa surat tersebut membuatnya terjerat utang 5 juta yen atau sekitar Rp 350 juta. Menurut agen di Jepang, utang tersebut merupakan segala biaya untuk bisa bekerja di Negeri Sakura.

Setelah rombongan Dewi mendarat di Osaka pada 30 Maret 2003, anehnya, ia tidak ditempatkan di pabrik pulp seperti janji semula. Wanita ini dipaksa bekerja di Bar Hotaru Snac di kawasan Ibaraki\sekitar 100 kilometer dari Kota Tokyo. Di sana sudah ada empat perempuan Indonesia lainnya. Di bar itu, “Kami dipaksa melayani semua keinginan tamu,” ujar Dewi.

Dewi mulai memasuki hari-hari yang berat. Di bawah pengawasan seorang muncikari tua, dia dan teman-teman menjalani kehidupan sebagai pelacur. Agar lebih keren, nama mereka diganti. Dewi, misalnya, berganti nama menjadi Momo. Yang lain berubah menjadi Sachiko, Michiko, Yuri, dan Mi Hwa.

Setiap malam, Dewi melayani tak kurang dari lima orang tamu. Tapi, bila ada yang membawanya ke hotel, ia hanya melayani satu orang lelaki. Sialnya, Dewi tak mendapat sepeser pun uang hasil jerih payahnya. Padahal setiap tamu yang “memakai” Dewi dikenai tarif yang lumayan tinggi. Untuk short time, misalnya, seseorang harus membayar 10 ribu yen. “Kalau menginap, bisa sampai 30 ribu yen,” ungkap Dewi.

Karena tak tahan, pada 21 Mei 2003, Dewi sempat kabur. Ia disembunyikan seorang pekerja laki-laki asal Surabaya di sebuah kandang ayam. Tapi, lima hari kemudian, anggota Yakuza (organisasi preman di Jepang) berhasil menemukan Dewi. Sang muncikari, yang naik pitam, lantas memukul dan menginjak-injak tubuh Dewi. Selama beberapa hari Dewi sakit.

Untunglah, delapan hari kemudian, Dewi berhasil melarikan diri lagi. Ia langsung mendatangi kantor polisi di Ishioka. Dengan bantuan Departemen Luar Negeri RI, akhirnya Dewi melaporkan kasusnya ke kejaksaan Jepang.

Nurlela, 23 tahun

Wajah manis Nurlela (bukan nama sebenarnya) muncul di keremangan Bar Somaru, Akasaka, Kota Tokyo. Perempuan asal Desa Johar Sari, Kadugede, Kabupaten Kuningan, ini malam itu mengenakan blus ketat dan rok pendek berwarna merah muda. “Wah, saya senang bertemu dengan orang Indonesia,” ujar Nurlela kepada TEMPO beberapa waktu lalu.

Seperti Dewi, perempuan yang mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMU ini mengaku tercebur ke dunia kelam karena terpaksa. Bersama sepuluh kawannya, ia berangkat ke Jepang pada September 2001. Oleh calo, mereka diberi janji bekerja sebagai penari dengan gaji 200 ribu yen atau sekitar Rp 14 juta per bulan.

Sesampai di Tokyo, Nurlela langsung ditempatkan di sebuah bar di kawasan Akasaka. Awalnya Nurlela sempat memprotes karena tak pernah ada kegiatan menari. Tapi ia malah diminta meladeni aneka rupa keinginan lelaki yang menjadi tamu bar. Bila ia menolak bekerja, seorang lelaki yang disebut “Papa San” akan menghajarnya habis-habisan. Bahkan, kata Nurlela, “Kepala saya pernah dibenturkan ke dinding bar.”

Belakangan Nurlela lebih bersikap pragmatis dan menerima “takdir”. Namanya pun telah diganti oleh “Papa San” menjadi Mokito. Bersama belasan perempuan lain asal Indonesia, kini ia menjalani hari-harinya di kawasan Akasaka\salah satu daerah esek-esek di Kota Tokyo. Nurlela mengaku mengirim uang setiap bulan ke orang tuanya di Kuningan. Besarnya, “Sekitar Rp 2 juta per bulan,” ujarnya bangga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: