Untuk Anak Muda Borjuis di Jakarta

DERETAN “kontainer raksasa” itu terlihat seolah sedang berputar kencang. “Kontainer” dengan warna menyala\hijau pupus, oranye, biru benhur, dan merah\tersebut langsung menyedot perhatian kita yang sedang melalui Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Di kawasan elite, di antara gedung kedutaan, bank-bank ternama, dan perkantoran multinasional, Anda akan menemukan tempat hiburan funky di bawah naungan nama Plasa X-Center.

Di plaza yang dibangun di atas lahan 20 ribu meter persegi itu, warga Jakarta berkocek tebal punya pilihan baru: nonton dan makan dengan nyaman. Berhubung “nyaman” itu identik dengan eksklusif\dan eksklusif identik dengan duit\apa boleh buat, apa yang ada di dalam gedung ini memang mahal.

Misalnya, salah satu bagian yang sudah beroperasi di plaza baru ini adalah Bioskop XXI, bagian mewah milik jaringan bioskop 21. Ia menyajikan dua screen dengan kelas premiere. Kelas ini masing-masing hanya berisi 60 kursi. Untuk menikmatinya, penonton harus membayar tiket masuk Rp 125 ribu. Ini merupakan tarif termahal untuk tiket film di Indonesia. Tapi, dengan tarif itu, penonton akan mendapat suasana yang serba wah. Soal kursi, misalnya, kelas premiere Bioskop XXI memakai kursi kulit model lazy boy yang khusus diimpor dari Amerika Serikat. Kursi ini dilengkapi dengan fasilitas reclining seat untuk punggung dan kaki. Teknologi ini membuat penonton dapat menikmati pertunjukan film sambil tiduran. Sebuah meja pemisah antarkursi dapat menjadi tempat makanan ringan atau barang-barang pribadi. “Studio film di Amerika bahkan belum memakai kursi model ini,” ujar Doddy Suhartono, General Manager Studio XXI. Bila embusan penyejuk ruangan terasa terlalu dingin, sebuah selimut yang dibungkus plastik tersedia di tiap laci meja penonton.

Untuk penonton yang mau sedikit berhemat, Bioskop XXI juga menyediakan empat studio kelas deluxe. Tiket masuk kelas ini “hanya” Rp 60 ribu. Saat nonton hemat (nomat) di hari Senin, tiketnya bahkan cuma Rp 40 ribu. Bedanya, meski tetap menggunakan kursi kulit, kelas ini tak menggunakan kursi model lazy boy dan fasilitas reclining seat. Selain itu, kapasitas tempat duduknya jauh lebih banyak. Jumlah kursi di studio 1 kelas deluxe, misalnya, mencapai 287 tempat duduk.

Sebenarnya, Bioskop XXI bukanlah bioskop mewah pertama di Indonesia. Setahun yang lalu, pengusaha Abdul Latief, Pontjo Sutowo, dan Raam Punjabi mengoperasikan Bioskop Grande. Bioskop yang terletak di lantai 9 Pasaraya Grande Blok M ini juga menawarkan kenyamanan dan kemewahan bagi penikmat film. Ada dua kelas yang ditawarkan: diamond dan multiplex. Kelas diamond, yang hanya memiliki 24 tempat duduk, bertarif Rp 125 ribu (sama dengan tarif kelas premiere Bioskop XXI). Di sini para penonton memiliki ruang tunggu dan kafe yang terpisah dari kelas muliplex. Bedanya, kursi yang digunakan, meski telah dilengkapi fasilitas reclining seat punggung dan kaki, terbuat dari bahan kain.

Untuk membuat sebuah bioskop mewah seperti XXI atau Grande bukan perkara mudah. Selain harus menyiapkan karyawan yang lebih baik, ongkos pembuatannya jauh lebih mahal. Jimmy Harianto, Direktur Operasional Kelompok 21, mengungkapkan besarnya biaya pembuatan Studio 21 yang biasa, seperti di Taman Ismail Marzuki dan Djakarta Theatre, mereka membutuhkan investasi Rp 2 miliar untuk satu studio. Sedangkan Bioskop XXI menelan investasi hingga Rp 35 miliar tiap studio. Tapi Jimmy yakin investasi tersebut akan mencapai titik impas dalam delapan tahun. Soalnya, “Anak muda borjuis Jakarta sangat membutuhkannya,” ujar Jimmy Harianto.

Sayangnya, meski telah menyajikan kenyamanan dan kemewahan bagi penikmat film, pihak 21 Cineplex tak membedakan jenis film yang diputar. Bisa dipastikan, film produksi Hollywood tetap akan mendominasi layar lebar di jaringan bioskop 21\termasuk di Bioskop XXI. Soalnya, meski pernah menayangkan Amelie (film Prancis produksi 2001) dan Run Lola Run (film Jerman produksi 1999), jaringan bioskop 21 mengaku film “alternatif” tersebut secara bisnis tak terlalu menjanjikan. Menurut Jimmy, produser film Eropa menerapkan konsep “jual putus” untuk penjualan karya mereka. Sistem ini, bagi pemilik bioskop, dipandang mengandung risiko bisnis yang besar. Sedangkan untuk film Hollywood, pola bisnis yang terapkan adalah bagi hasil. Selain lebih aman, pihak 21 Cineplex tinggal menerima pasokan film dari Hollywood. Pada umumnya, setelah dipotong pajak 20 persen, sisanya dibagi rata oleh pemilik film dan bioskop 21. “Konsep ini lebih menguntungkan kami,” ujar Jimmy Harianto. Artinya, untuk sementara, para anak borjuis yang berduit ini hanya akan dipasok film Hollywood (dengan harapan kami, mereka juga menambah referensinya dengan film-film Eropa dan Asia di DVD di rumahnya\Red.).

Tentu saja plaza ini tidak hanya menarik perhatian hanya karena bioskopnya, tetapi juga karena bentuk tampak luarnya. Arsitek Budiman Hendropurnomo sengaja mengambil desain dekonstruksi arsitektur ruang publik yang mencolok. “Ini memang pemberontakan terhadap konsep ruang publik,” ujarnya. Budiman mengaku konsep Plasa X-Center merupakan bagian integral dari aktivitas di Bundaran HI. Dalam bayangan Budiman, perputaran obyek di Bundaran HI menimbulkan gaya sentrifugal yang melemparkan pelbagai obyek ke areal sekitarnya. Nah, deretan “kontainer raksasa” itu pun menjadi obyek yang terlempar dari perputaran di Bundaran HI. Jadi, kata Budiman, “Plasa X-Center seperti kontainer yang bergerak ngepot.”

Sembari bergerak ngepot, anak-anak muda berduit ini, selain nonton, juga bisa menikmati permainan boling dengan 28 jalur, makan di Hardrock Café, atau mengolah tubuh di pusat kebugaran terbesar. Pokoknya, bukan cuma komplet, tapi funky, mewah, dan itu tadic, harus punya kocek yang luar biasa tebal.

One Response

  1. Ck ck ck aya aya wae ha ha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: