Yang Tua, yang Bernyanyi

SYAHDAN, Orpheus, tokoh dalam mitologi Yunani kuno, menyanyi dengan suara menyayat. Ia mempersembahkan nyanyian itu untuk Eurydice, istrinya yang meninggal dipagut ular beracun. Rupanya, suara kesedihan Orpheus menggugah hati Hardes, dewa penguasa kehidupan manusia. “Berkat lagumu, kuberikan kembali kehidupan Eurydice,” titah Hardes. Dan Eurydice pun kembali ke dalam pelukan Orpheus.

Nyanyian, tak cuma bagi Orpheus dan Eurydice, memang telah menjadi sumber kehidupan. Tak percaya? Lihatlah betapa bersemangatnya orang-orang yang sudah berumur berlatih menyanyi. Pada saat telah memasuki “usia senja”, mereka justru menghidupkan hari-hari dengan bernyanyi dan bernyanyi. Hj. Emma M. Kahar, 64 tahun, misalnya, setiap pekan tak pernah absen berlatih vokal bersama belasan temannya. Sejak 1986, nenek dua cucu ini getol berlatih di Bina Vokalia, Jakarta.

Hasilnya? Meski tak sempat menjadi penyanyi ngetop, Emma lebih dari sekadar penyanyi di kamar mandi. Perempuan berkerudung ini sekarang berani tampil di muka umum. Dalam beberapa kali kesempatan, ia bahkan menambal kekosongan acara dengan menyanyikan lagu-lagu favoritnya. Pada acara pemilihan Mojang dan Jajaka Sunda di Kompleks Bidakara, Jakarta, bulan lalu, misalnya, Emma sempat menyanyikan beberapa lagu. “Pokoknya, saya jadi pede untuk tampil di acara apa pun,” ujarnya, sumringah.

Emma adalah contoh kegigihan orang-orang tua dalam berlatih vokal. Bagi penggila penyanyi mungil Yuni Shara ini, manfaat yang dipetik tak sebatas pada peningkatan kemampuan menyanyi. Kesehatan fisiknya pun kini meningkat. Padahal, sejak kecil ia menderita gangguan pernapasan berupa penyakit asmatis. Setiap terkena pencetus alergi asma, seperti debu atau keletihan, pernapasannya langsung dirundung masalah. Syukurlah, “Berkat latihan di Bina Vokalia, asma saya hampir tak pernah kambuh,” ujar Emma.

Lain ladang, lain belalang. Lain Emma, lain pula Wiyanarti Prastowo. Meski sama-sama berlatih di Bina Vokalia, Wiyanarti, 79 tahun, mengaku berlatih vokal untuk dapat menyanyikan lagu-lagu rohani. Nenek tiga orang cucu ini kini tengah giat-giatnya berlatih. Di sela-sela kesibukannya sebagai notaris di Kawasan Cinere, Jakarta Selatan, Wiyanarti selalu menyempatkan diri datang di tempat latihan. Hasilnya, Wiyanarti kerap tampil pada paduan suara di Gereja Mathius, Bintaro, Jakarta. “Kemampuan vokal dan napas saya sungguh membaik,” ujar alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.

Ada hal lain. Bernyanyi bersama teman-teman, bagi para lanjut usia, bisa menjadi ajang bersuka-cita. Pelbagai syair cinta, misalnya, membuat mereka kembali berbunga-bunga. Jangan heran bila menyaksikan para kakek-nenek itu rendezvous untuk sekadar bernyanyi bersama. Siang itu, misalnya, setelah selesai berlatih di Bina Vokalia, belasan “nenek” akan kongko di sebuah rumah di daerah Cipete, Jakarta Selatan. “Kami sudah menyewa pemain keyboard untuk berhura-hura,” ungkap Emma.

Tentu saja, aktivitas para lansia itu menjadi mungkin juga berkat hadirnya pelbagai tempat berlatih vokal dan alat musik. Di Jakarta, beberapa lembaga menjadi tumpuan untuk memperbaiki kualitas suara dan keterampilan musik. Bina Vokalia, misalnya, adalah nama besar yang telah menghasilkan banyak penyanyi kondang. Lembaga yang didirikan oleh Pranadjaja (samaran dari Pranowo Djojodinoto) pada Desember 1972 ini dikenal sebagai tempat persemaian bibit-bibit unggul penyanyi. AB Three, Titi D.J., dan penyanyi cilik Sherina adalah segelintir nama yang pernah menimba ilmu di Bina Vokalia.

Namun, Bina Vokalia tak membatasi kriteria murid. Juga tak ada batasan usia. Semua orang yang berkeinginan berlatih dan memiliki kemauan kuat bisa menjadi murid di Bina Vokalia. Tak aneh, halaman Sanggar Pusat Bina Vokalia di Jalan Radio, Jakarta Selatan (saat ini Bina Vokalia sudah memiliki sepuluh cabang di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya), selalu dipenuhi kendaraan para murid. Jangan kaget bila melihat puluhan murid Bina Vokalia adalah kakek-nenek yang rambutnya telah memutih. “Menyanyi adalah jalan menuju bahagia. Karenanya, tak ada batasan usia untuk menyanyi,” ujar Pranadjaja, suatu ketika.

Untuk memberikan umpan balik, para lansia yang berlatih di Bina Vokalia setiap semester mendapat rapor prestasi. Mereka dapat melihat kemajuan kemampuan menyanyi dari rapor yang dibuat secara obyektif. Rapor yang berisi antara lain musikalitas, kualitas suara, ketepatan nada, dan dukungan napas itu dapat menjadi patokan bagi para siswa untuk melakukan introspeksi diri.

Selain Bina Vokalia, ada beberapa lembaga yang juga menjadi tempat berlatih menyanyi. Sebut saja Bina Seni Suara di Jalan Gunawarman, Jakarta, dan Yayasan Kidung Senja di Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Lembaga-lembaga itu membuka pintu lebar-lebar bagi para orang yang sudah sepuh untuk berlatih bernyanyi.

Memang, tak mudah melatih para orang tua itu. Soal suara, misalnya, mereka telah memiliki suara dan kemampuan pernapasan yang terbentuk. Untuk mengolah bahan yang “sudah jadi” itu, butuh kesabaran ekstra. Belum lagi soal hambatan psikologis dalam menghadapi berbagai sikap para murid. Maklumlah, murid yang telah kakek-nenek itu umumnya berlatar belakang ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan yang lumayan. “Mereka tak bisa diperlakukan seperti murid yang masih kecil,” ujar Citra A. Pranadjaja, salah seorang pelatih vokal di Bina Vokalia.

Namun, para lansia ternyata tak hanya memiliki semangat berlatih vokal. Banyak pula orang tua yang justru baru memulai berlatih pelbagai alat musik\mulai dari gitar, piano, keyboard, hingga biola. Darmawan, misalnya, sejak dua tahun lalu mulai belajar bermain keyboard. Meski telah menginjak usia 40 tahun, pemilik toko retail di Jalan Batu Ceper, Jakarta Pusat, ini merasa tak perlu merasa terlambat. Tiap Kamis, Darmawan getol berlatih di Yayasan Kidung Senja di Jalan Gunung Sahari, juga Jakarta Pusat. Hasilnya? Darmawan kini kerap mengisi hari-harinya dengan bermain musik di rumah. “Meski ekonomi lagi susah, dengan bernyanyi, saya tak lagi sedih,” ujarnya.

Harus diakui, bernyanyi dan bermain musik merupakan salah satu pintu kebahagiaan. Dunia kedokteran pun kini tengah serius mengembangkan “terapi musik” untuk menyembuhkan pelbagai penyakit. Serangan penyakit stroke, darah tinggi, jantung, dan depresi terbukti dapat “ditolong” dengan terapi musik. Dalam sebuah seminar di Jakarta beberapa waktu lalu, Dr. Hermawan Suryadi dari Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi, Jakarta, menyatakan bahwa menyanyi dan bermain musik dapat memangkas pelbagai gejala penyakit. Bisa dipastikan, menyanyi juga dapat mempercepat proses penyembuhan. Jadi, kata Hermawan, “Menyanyilah agar hidup jadi lebih sehat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: